Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 49



"Emir pingin punya ayah kan? gimana kalau om Abhi yang menjadi ayahnya Emir?" kata Abhimana tiba-tiba.


uhuk uhuk


Aku yang saat itu sedang meminum minumanku pun tersedak karena mendengar ucapan Abhimana.


"Ada apa Kania? pelan-pelan aja minumnya!" kata Abhimana sambil menepuk-nepuk punggungku.


"Nggak nggak, aku nggak pa pa kok!" kataku setelah sedikit tenang.


"Om Abhi beneran mau jadi ayahnya emir?" tanya Emir pada Abhimana.


Abhimana pun hanya menjawab dengan anggukan kepala sembari tersenyum.


"Hore Emir bakalan punya ayah juga!" teriak Emir kegirangan.


"Sekarang teman-teman Emir nggak akan mengejek Emir lagi,karena Emir bakalan punya ayah juga!" kata Emir lagi.


aku pun hanya tersenyum menanggapi ucapan Emir.


"Jadi kapan om Abhi mau menikahi bunda?" tanya Emir tiba-tiba.


aku yang mendengar pertanyaan yang diajukan Emir barusan pun kembali tersedak karena terkejut.


"Bunda kenapa sih dari tadi kok tersedak mulu? makanya hati-hati dong!" omel Emir.


aku pun hanya membalas dengan senyuman.


"Jadi gimana om? kapan om Abhi mau menikahi bunda?" kata Emir mengulang kembali pertanyaannya tadi.


"Emh kalau itu sih apa kata bunda,bunda mau atau tidak menikah dengan Om Abhi!" kata Abhimana sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Gimana bunda,bunda setuju kan kalau om Abhi menjadi ayahnya Emir? bunda mau kan menikah dengan Om Abhi?" tanya Emir yang kali ini ditujukan padaku.


"Kita bicarakan hal ini lagi nanti ya,sekarang Emir main dulu disitu,bunda mau bicara serius sama om abhi!" kataku.


"Baik bunda!" jawab Emir.


Emir pun segera berlalu meninggalkan kami berdua.


"Apa maksudmu bicara seperti itu sama Emir tadi? jangan bilang kalau kau hanya ingin menghiburnya,kenapa kau memberikannya harapan palsu?" kataku memberondong Abhimana dengan pertanyaan setelah Emir pergi.


"Kau tenanglah dulu Kania jangan marah-marah,dengarkan dulu penjelasan ku!" kata Abhimana.


.


Aku pun menghela napas panjang untuk meredam emosiku yang sempat naik.


"Ok aku tenang, sekarang cepat jelaskan padaku apa maksud perkataanmu tadi!" kataku lagi.


"Sebelumnya aku mau minta maaf ke kamu kalau ucapanku tadi sudah membuatmu marah,tapi aku tak bisa lagi menyembunyikan perasaanku padamu,apa yang yang kukatakan tadi memang murni dari dalam lubuk hatiku" kata Abhimana.


"Sebenarnya aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita bertemu dulu,tapi segera kutepis perasaan itu ketika aku tahu kau sudah punya kekasih" kata Abhimana lagi.


"Tapi saat kita bertemu kembali dan aku tahu kalau kau tidak lagi bersama kekasihmu,maka perasaan itu pun muncul kembali,dan sekarang aku mau melamarmu!" kata Abhimana menjeda ucapannya.


"Maaf kalau waktunya tidak tepat,tapi bolehkah aku menjadi rekan hidupmu sampai akhir serta ayah bagi anakmu?" kata Abhimana sambil menggenggam kedua tanganku.


Aku tercekat mendengar penjelasan Abhimana,aku tak tahu harus menjawab apa.


"Maafkan aku Abhi, tapi untuk saat ini aku belum bisa membuka hatiku lagi untuk pria manapun" jawabku akhirnya sambil melepaskan tanganku dari genggaman tangannya.


"Baiklah aku mengerti,aku tidak akan memaksamu untuk menerimaku,aku akan menunggu sampai kau


siap untuk membuka hatimu untukku" kata Abhimana.


"Terimakasih atas pengertianmu Abhi!" kataku lirih.


"Aku harap sikapmu tidak akan berubah padaku, dan kau tidak akan menghindariku setelah tahu perasaanku padamu" kata Abhimana.


"Ya sudah kita pulang sekarang yuk,udah sore juga, kasihan emir, kan besok dia juga harus masuk sekolah!" ajak Abhimana.


"Ya sudah kita balik sekarang,tapi biar aku bayar dulu ya makanannya!" kataku sambil beranjak berdiri.


"Nggak usah, biar aku aja yang bayar, kan aku yang ngajakin kalian kesini!" kata Abhimana menghentikanku.


"Ya sudah,kalau gitu aku tunggu kamu dimobil ya!" kataku.


"Oke!" jawab Abhimana singkat.


Aku pun segera berlalu menghampiri Emir yang tengah asik bermain di wahana permainan anak yang disediakan kafe ini,dan mengajaknya untuk segera naik mobil karena kita akan segera pulang.


Tak berselang lama Abhimana pun menyusul kami ke mobil,dan kami pun segera kembali pulang ke rumah.


...****************...


Setelah liburan bersama kami di Gunung Bromo tempo hari Emir terus saja mendesakku untuk segera menikah dengan Abhimana, aku sampai kebingungan untuk mencari alasan.


Emir bilang dia ingin segera menunjukkan siapa ayahnya pada teman-temannya agar dia tak lagi diejek oleh mereka.


Akhirnya aku memutuskan untuk menceritakan kejadian di Gunung Bromo waktu itu pada Dinda dan meminta pendapat darinya.


Aku pun segera menghubungi Dinda dan mengajaknya untuk bertemu disalah satu kafe.


"Menurutku sebaiknya kau terima saja lamaran Abhimana,ini adalah yang terbaik untuk kau dan Emir!" kata Dinda berpendapat setelah ia mendengar semua yang terjadi.


"Tapi mengapa kau bicara seperti itu? apa alasanmu sehingga kau memintaku untuk menerima lamaran Abhimana? kau tahu sendiri kan bagaimana masa laluku? aku tak ingin terluka untuk yang kedua kali karena seorang pria!" kataku.


"Justru karena itu aku memintamu untuk menerima lamarannya, menurutku dia adalah pria yang baik, aku yakin dia pasti bisa menjagamu dan Emir, dan aku yakin dia juga pasti bisa menyembuhkan luka hatimu!" kata Dinda menjelaskan padaku.


"Coba kau lihat seberapa dekat dan sayangnya Abhimana pada Emir, pikirkan juga tentang kebahagiaan Emir, dia itu masih kecil,dia juga butuh sosok seorang ayah, dan menurutku Abhimana lah yang cocok untuk itu!" jelas Dinda lagi panjang lebar.


"Entahlah Din,aku tidak tahu!" jawabku.


"Kalau kau masih ragu cobalah kau sholat malam,emh sholat apa ya itu namanya?" kata Dinda sambil mencoba mengingat-ingat nama sholat yang dimaksudnya.


"Sholat istikharah naksudmu" jawabku.


"Nah iya itu, sholat istikharah!" sahut Dinda sambil menjentikkan jarinya.


"Coba kau sholat istikharah dulu dan minta petunjuk dari-Nya,Dia pasti akan menunjukkan jalan yang terbaik untukmu!" nasihat Dinda.


"Iya Din,nanti aku akan coba lakukan!" jawabku.


"Semua keputusan ada ditanganmu,ini hidupmu, dan kaulah yang berhak untuk menentukan jalan hidupmu sendiri!" kata Dinda.


"Ingatlah satu hal, apapun keputusanmu nanti aku akan selalu mendukungmu!" kata Dinda lagi.


"Terimakasih banyak atas semua saran mu Din" kataku sambil tersenyum.


"Sama-sama" jawab Dinda.


"Kamu itu memang sahabat aku yang paling baik sedunia!" kataku lagi.


"Hemh mulai deh lebay nya!" jawab Dinda sambil melengos.


"Tapi kamu memang bener sih, aku tuh memang sahabat yang paling baik sedunia" kata Dinda sambil cengengesan.


"Hu dasar narsis,sekarang siapa yang lebay" kataku sambil menimpuk kepalanya dengan sedikit makanan yang ada di hadapanku


"Ih kamu jorok ah,rambut indahku yang seperti Cinderella jadi kotor kan" protes Dinda dengan mimik muka lucu.


Aku pun tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah Dinda.


Tak terasa hari pun mulai senja,aku pun mengajak Dinda untuk segera pulang.