Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 88



Hari ini dokter sudah memperbolehkan ku untuk pulang. Mas Abhi mengemasi barang-barangku dan bersiap untuk pulang, tapi tiba-tiba Papa datang dan menghentikan kami.


"Kalian mau pulang kemana?," tanya Papa.


"Kemana lagi, Pa?, tentu saja ke rumah kami" jawab Mas Abhi sedikit bingung.


"Tidak!, Papa tidak mengizinkan kalian tinggal sendiri lagi!" ujar Papa.


"Tapi kenapa, Pa? kami kan sudah punya rumah sendiri?" tanyaku.


"Papa tahu kalian sudah punya rumah sendiri, tapi Papa tetap tak mengizinkan kalian tinggal sendiri" bersikukuh dengan perkataannya.


"Bukankah selama ini kita tinggal sendiri, Pa?" tanya Mas Abhi.


"Ya, tapi sekarang tidak lagi. Papa tidak ingin kejadian kemarin terulang kembali. Kalian harus tinggal bersama Papa supaya Papa bisa ikut menjaga kania" jawab Papa.


"Tapi aku bisa menambah jumlah pengawal untuk memperketat penjagaan kan, Pa" Mas Abhi bersikukuh menolak untuk tinggal bersama Papa.


"Itu tidak akan menjamin Kania selamat" jawab Papa.


Sejenak aku berpikir mengenai ucapan Papa, menurutku itu ada benarnya juga.


"Sudahlah, Mas, kita ikutin kemauan Papa aja. Lagipula aku akan lebih aman bersama Papa saat kau tidak ada kan. Setidaknya kita lakukan ini sampai anak kita lahir,ya!" ujarku sambil memegang tangan Mas Abhi mencoba membujuknya.


Mas Abhi menghela napas panjang, sejenak ia berpikir mengenai ucapanku.


"Baiklah, aku setuju denganmu" ujar Mas Abhi.


"Makasih ya, Mas!" ujarku berhambur ke pelukan Mas Abhi.


Dan hari itu pun kami tinggal dirumah Papa.


...****************...


Kandunganku sekarang memasuki usia sembilan bulan, tidak lama lagi aku akan melahirkan. Aku semakin sering melakukan yoga hamil. Selain untuk mengisi waktu, juga agar proses persalinanku nanti berjalan lancar.


Papa sengaja mendatangkan seorang instruktur yoga ternama untuk mengajariku yoga. Tiap tiga hari sekali ia datang kerumah Papa untuk melatihku. Dan hari ini adalah waktunya ia mengajariku.


Aku sudah bersiap sedari tadi dan menunggu kedatangan instruktur itu, tapi dia tidak jua kunjung datang. Tiba-tiba perutku terasa mulas. Awalnya aku mengira hanya mulas biasa, tapi semakin lama perutku semakin melilit, dan aku tak kuasa lagi menahannya.


Aku berjalan tertatih-tatih mencari seseorang untuk membantuku, entah kenapa hari ini rumah sangat sepi.


Aku pun berjalan menuju dapur untuk mencari keberadaan bik Ijah, tapi belum sampai disana aku sudah tak kuat lagi. Aku terduduk dilantai sambil memegangi perutku.


"Bik, bik Ijah. Tolong..." rintihku mengerang kesakitan.


Sayup-sayup bik Ijah mendengar rintihan ku, dia segera keluar dan mencari keberadaanku.


Betapa terkejutnya dia saat melihatku ada dilantai.


"Astaga, Non. Kenapa Non bisa ada disini?" berjongkok dihadapanku.


"Tolongin saya, bik. Perutku sakit sekali" rintihku.


Bik Ijah pun melihat kearah selangkanganku, terlihat ada rembesan air disana.


"Ya Tuhan, non mau melahirkan. Lihat, air ketubannya sudah pecah" berteriak panik.


"Bantu saya kerumah sakit sekarang,bik. Saya sudah tidak kuat lagi" ujarku meringis kesakitan.


"Baik, Non, runggu sebentar. Saya akan memanggilkan supir untuk membantu Non" ujar bik Ijah


Bik Ijah segera berlari keluar dan memanggil sopir, tak berselang lama sopir pun datang dan membantu membopongku ke mobil.


"Tolong hubungi Mas Abhi dan Papa, bik. Bilang kalau saya mau melahirkan" ujarku sebelum mobil berangkat.


"Baik, Non!" jawab bik Ijah.


Sopir pun segera meluncur membawaku ke rumah sakit. Sementara itu bik Ijah segera menghubungi Mas Abhi.


"Halo den Abhi, ini saya bik Ijah. Tolong kerumah sakit sekarang, den. Non Kania mau melahirkan!" ujar bik Ijah panik.


"Apa?, Kania mau melahirkan. Baik, saya kesana sekarang" jawab Mas Abhi dari seberang.


Mendengar kabar dari bik Ijah, Mas Abhi yang saat itu sedang mengadakan rapat penting langsung meninggalkannya begitu saja. Ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai dirumah sakit.


"Honey, kamu yang kuat,ya. Kamu harus berjuang demi anak kita" ujar Mas Abhi sambil mengusap keringat di dahiku.


Mas Abhi terus menggenggam tanganku, menyalurkan semua kekuatannya padaku. Perawat segera mempersiapkan perlengkapan persalinan. Dokter memeriksaku dan memang sudah waktunya untuk melahirkan.


Dokter mulai memberi instruksi untuk menarik napas lalu menghembuskannya. Dan menyuruhku untuk mengejan. Aku terengah-engah. Mas Abhi terus menyemangati ku agar aku kuat.


"Ayo,honey. Aku yakin kamu pasti bisa!".


"A...aku tidak kuat" dengan nafas terengah-engah karena kelelahan.


"Tidak, honey. Kamu harus kuat!" ujar Mas Abhi mengecup tanganku dan menghapus bulir-bulir keringat di keningku.


"Ayo dorong terus, Nyonya. Sedikit lagi" ucap dokter.


Aku menggeleng lemah. Rasanya aku sudah tidak kuat lagi." Aku tidak bisa".


"Tidak, honey. kamu pasti bisa" ujar Mas Abhi menyemangati ku.


Dengan tarikan nafas panjang, aku mengerahkan seluruh tenagaku. Aku mendorong agar bayiku segera lahir. Suara tangis pun terdengar. Mas Abhi tersenyum bahagia. Namun pegangan tanganku terlepas, mataku tertutup.


"Tidak, honey" teriak Mas Abhi histeris.


Suster pun menyuruh Mas Abhi untuk segera keluar.


"Tolong keluar, Pak!. Biar kami yang menangani pasien" ucap suster mendorong tubuh Mas Abhi.


"Tidak, suster. Saya ingin melihat istri saya" ujar Mas Abhi bersikukuh.


"Tolong kerjasamanya, Pak. Percayakan semuanya pada kami" ucap dokter.


Suster segera menutup pintu. Mas Abhi ingin rasanya mendobrak pintu itu, tapi kemudian ia urungkan. Ia percayakan semuanya pada dokter.


Mas Abhi menangis sesenggukan di depan pintu," Tuhan, tolong selamatkan nyawa istriku".


Tak berselang lama Papa datang dengan tergopoh-gopoh.


"Bagaimana keadaan Kania, Bhi?" tanya Papa.


"Kania tidak sadarkan diri, Pa. Aku takut dia kenapa-napa" menangis sesenggukan memeluk Papa.


"Tenanglah, Abhi, mungkin dia hanya pingsan saja.Kania ltu wanita yang kuat. Papa yakin dia pasti baik-baik saja" ujar papa mengusap punggung menantunya menenangkan.


"Entahlah, Pa. Aku tidak tahu".


"Kita do'akan saja semoga dia baik-baik saja".


Suster datang sambil menggendong seorang bayi." Tuan Abhimana, tolong ikut dengan kami".


Mas Abhi memandang kearah Papa.


"Pergilah,nak. Biar Papa yang menunggu disini" ujar Papa.


Mas Abhi mengikuti langkah suster menuju ruang bayi.


"Selamat Tuan. Anak anda perempuan. Dia lahir dengan sempurna" ujar suster sambil menyerahkan bayi itu.


"Terimakasih, Sus" menerima bayi itu.


Mas Abhi pun mengumandangkan adzan ditelinga kanan dan iqomat ditelinga kirinya. Dikecupnya kening bayi mungil itu. Sejenak ia memandangi wajahnya.


"Do'akan Bundamu,nak. Semoga dia cepat membuka matanya" ujar Mas Abhi menitikkan air mata.


Mas Abhi menyerahkan kembali bayi itu dan kembali menuju ruang bersalin.


"Bagaimana, Pa? apa dokter sudah keluar?" tanya Mas Abhi.


"Belum,nak. Dokter belum keluar dari tadi" jawab Papa.


Mas Abhi semakin sedih dan khawatir mendengar hal itu.


Tak berselang lama pintu terbuka dan keluarlah dokter. Mas Abhi menghampiri dokter.


"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" tanya Mas Abhi.