Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 30



...Hai reader tersayang bantu vote author dong biar author makin semangat nerusin ceritanya....


...buat yang mau kasih vote author doain biar rezekinya makin banyak🤗🤗...


...happy reading...


*


*


*


Selama beberapa hari setelah aku sadar Abhimana terus menemaniku,ia terlihat begitu perhatian padaku.


Sedangkan Dinda ia tak bisa lagi menemaniku karena di bar sedang ada masalah dan lagi selama beberapa hari ini ia sudah tidak masuk kerja karena menjagaku,dia terancam akan dipecat bila tidak masuk kerja lagi.


"Abhi kenapa kau begitu perhatian padaku?" tanyaku suatu hari.


"Karena aku ingin!" jawab Abhimana singkat.


"Maksudmu?" tanyaku masih tak mengerti dengan jawabannya.


"Tidak,tidak apa sudah jangan dipikirkan lagi!" kata Abhimana sambil tersenyum padaku.


aku pun tak lagi meneruskan pertanyaanku walau dalam hati aku masih ingin bertanya.


...****************...


Hari ini aku sudah diperbolehkan untuk pulang,aku sudah memberitahukan pada Dinda dan dia bilang akan segera datang untuk menjemput ku dan menyelesaikan biaya rumah sakit ku.


Sebelumnya Dinda pernah bilang jam tanganku itu laku sebesar enam puluh juta dan aku menyuruhnya untuk membawanya saja uang hasil penjualan jam tangan itu.


Aku segera mengemas barang-barangku dibantu oleh Abhimana.


"Apa semuanya sudah beres?" tanya Abhimana.


"Bentar tinggal dikit lagi!" kataku sambil memasukkan barang terakhirku kedalam tas besar.


"Nah semua sudah beres!" kataku sambil menutup resleting tasku.


"Oh ya kok Dinda belum juga datang" tanya Abhimana setelah kami selesai berkemas.


"Entahlah mungkin dia masih ada dijalan" jawabku sambil mengangkat sebelah bahuku tanda tak mengerti.


"Atau aku telepon lagi saja dia!" lanjut ku lagi.


"Tidak usah kita tunggu saja mungkin sebentar lagi dia datang" jawab Abhimana.


Aku pun memutuskan untuk bersandar ditembok dan memainkan handphoneku sambil menunggu kedatangan Dinda sedang Abhimana memilih untuk rebahan diatas sofa.


...****************...


Sementara itu Dinda langsung menuju bagian administrasi sesampainya ia dirumah sakit.


"Permisi mbak" kata Dinda


"Oh ya ada yang bisa kamu bantu!"


"Saya mau menyelesaikan administrasi atas nama Kania Larasati!"


"Baik tunggu dulu sebentar ya mbak,kami akan periksa dulu!"


dan petugas pun segera memeriksa data dikomputernya.


"Pasien Kania Larasati semua biayanya sudah lunas mbak!" kata petugas setelah selesai memeriksa.


"Lunas?,apa mbak nggak salah lihat,coba dicek lagi deh mbak !" kata Dinda sambil mengernyitkan dahi.


petugas pun mengecek data kembali


"Memang benar mbak biaya pasien Kania Larasati semua sudah lunas,bahkan masih ada kelebihannya" kata petugas kembali.


" tapi waktu itu saya baru ngasih DP saja mbak,bahkan saya meninggalkan KTP saya sebagai jaminan coba deh dicek lagi!" jawab Dinda masih tak mengerti.


"Ini menang. sudah benar mbak, semuanya sudah lunas!" jawab petugas kembali meyakinkan Dinda.


"Kalau begitu saya boleh tahu nggak mbak siapa yang sudah ngelunasin?" tanya Dinda akhirnya.


"Maaf mbak beliau tidak ingin disebutkan namanya!"


"Ya udah deh mbak makasih"


"Tunggu dulu mbak ini KTP mbak dan uang yang mbak bayarkan dulu!" kata petugas sambil menyerahkan KTP dan sejumlah uang.


Dinda pun menerima kembali KTP serta uangnya


"Tolong tanda tangan dulu disini mbak!" kata petugas sambil menyodorkan sebuah berkas.


Dinda pun membubuhkan tandatangan diatas berkas itu.


"Baik mbak terimakasih dan ini bukti pembayarannya" kata petugas sambil menyerahkan bukti pembayaran.


"Terimakasih mbak saya permisi dulu" kata Dinda.


Sesampainya didepan ruang rawatku Dinda langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.Aku pun menengok kearah pintu saat aku mendengar suara pintu yang dibuka.


"Dinda kau sudah datang,kenapa tidak mengetuk pintu dulu?" tanyaku terkejut melihat Dinda yang langsung masuk begitu saja.


"Eh maaf tadi aku tidak sadar kalau aku sudah ada didepan ruanganmu sampai


aku masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu lebih dulu!" jawab Dinda.


"Sudahlah tidak usah dipikirkan lagi,oh ya kenapa kau baru nyampek?"


"Tadi aku langsung menuju bagian administrasi untuk menyelesaikan pembayaran baru kesini"


"Oh begitu" kataku sambil manggut-manggut.


"Apa kau sudah selesai berkemas?" tanya Dinda.


"Aku sudah selesai berkemas dari tadi dibantu sama Abhimana,tuh lihat" kataku sambil menunjuk kearah tas besarku.


Dinda pun menengok kearah yang ditunjuk oleh jariku dan tersenyum tipis


"Kania ada hal penting yang ingin aku katakan!" kata Dinda dengan nada serius.


"Apa? katakan saja!"


"Sebenarnya tadi saat aku ......"


belum selesai Dinda meneruskan ucapannya terdengar pintu diketuk dan masuklah seorang suster sambil mendorong sebuah box bayi.


"Maaf permisi ini bayi anda nona" kata suster sambil menyerahkan bayi itu padaku.


"Dinda tolong kau saja yang gendong bayi itu!"kataku menolak untuk menerima bayi itu dari suster.


Dinda pun mengernyitkan dahi mendengar ucapanku,lalu dengan segera ia mengambil bayiku dari tangan suster.


"Sini sus biar aku saja yang menggendongnya!" kata Dinda.


suster pun menyerahkan bayi itu pada Dinda.


"Kania lihatlah apa kau tak ingin melihat wajah bayimu?" tanya Dinda sambil memperlihatkan wajah bayi itu padaku.


"Tidak,aku tak ingin melihat bayi itu!" kataku sambil membuang muka.


"Tapi Kania ini kan anakmu sendiri!" sahut Dinda sambil tetap berusaha menunjukkan wajah bayi itu padaku.


"Dinda aku tak ingin melihat bayi itu,jangan memaksaku!" kataku dengan sedikit kesal melihat Dinda yang terus memaksaku.


"Tapi....."


"Sudahlah, lebih baik sekarang kita cepat pulang!" kataku cepat memotong ucapan Dinda sambil melangkah meninggalkan mereka berdua.


Abhimana dan Dinda pun tercengang melihatku yang pergi begitu saja tanpa memperdulikan mereka.Setelah sadar dengan ketercengangannya mereka pun bergegas menyusul langkah kakiku.


Kami bertiga pun melangkah menuju parkiran yang berada dibelakang rumah sakit.


"Abhimana bisakah kau saja yang mengemudikan mobil,aku tidak bisa karena harus menggendong bayi ini" tanya Dinda sesampainya kami diparkiran.


"Baik biar aku yang mengemudikan mobilnya,mana kuncinya?" jawab Abhimana sambil menadahkan tangannya.


"Ini!" jawab Dinda sambil menyerahkan kunci mobil pada Abhimana.


Kami bertiga pun segera masuk kedalam mobil Dinda dengan aku duduk di samping Abhimana sedangkan Dinda duduk dibelakang sambil menggendong bayiku.


Abhimana pun segera mengemudikan mobil membelah jalanan kota.


Sekitar empat puluh menit mobil pun sampai didepan rumah,kami pun segera turun dan masuk kedalam rumah.


"Dinda aku mau istirahat dulu,tolong kau jaga bayi itu!" kataku sesampainya didalam rumah.


"Tapi Kan...."


aku pun segera masuk kedalam kamarku tanpa memperdulikan ucapan Dinda.


"Dari gelagatnya sepertinya Kania tidak menginginkan bayi ini" kata Abhimana sesaat setelah aku masuk ke kamar.


"Sepertinya memang begitu,tapi bagaimana pun ini kan anaknya sendiri!" tukas Dinda.


"Biarkan saja dulu,mungkin saja dia sedang mengalami baby blues secara ini kan kelahiran anak pertamanya" jawab Abhimana.


"Iya benar mungkin saja memang begitu" jawab Dinda sambil mengangguk-anggukkan kepala.


"Semoga saja dia bisa mengatasi kecemasannya sendiri dan mau menerima kehadiran anaknya!" lanjut Dinda.


"Iya semoga saja,kalau begitu aku pamit pulang dulu ya!"


"Eh iya makasih ya Bhi sudah menjaga Kania selama dirumah sakit"


"Tidak usah berterima kasih aku senang kok bisa membantu!" jawab Abhimana sambil tersenyum.


"Aku pergi dulu!"


dan Abhimana pun pergi meninggalkan rumah kami.