
"Sebenarnya ada sedikit rasa sedih dalam hatiku saat ini, Din!" ujarku,wajahku berubah sendu seketika.
"Loh emangnya kenapa? kamu lagi ada masalah?" tanya Dinda.
"Aku bukan sedang ada masalah Din,tapi aku merindukan Emir!" jawabku.
"Begitu banyak kebahagiaan yang menghampiriku akhir-akhir ini.Tapi sayangnya aku tidak bisa membagi kebahagiaanku itu pada Emir,ia sudah tidak ada di sampingku lagi" ujarku mengungkapkan kesedihanku.
"Kenapa kau sedih? bukankah kau bisa mengunjungi makamnya untuk berbagi kebahagiaan dengannya? lagi pula aku rasa saat ini Emir pun pasti juga ikut bahagia karena melihatmu bahagia" ujar Dinda.
"Aku tahu itu, Din!,tapi bertemu langsung dan hanya bicara dengan makamnya itu berbeda!" ujarku.
"Mungkin itu memang tidak sama,tapi tidak akan mengurangi nilainya!" jawab Dinda.
"Kau itu patutnya bersyukur karena masih dipercaya untuk hamil lagi!".
"Sekarang coba kau pikir!,banyak wanita di luaran sana yang belum punya anak,dan bahkan memang tidak bisa punya anak!".
Sejenak Dinda terdiam sebelum akhirnya ia meneruskan ucapannya.
"Kau pasti ingat kejadian saat Emir akan lahir dulu kan?" tanya Dinda.
"Iya,ingat!" jawabku.
"Dan kau pasti juga tahu kan apa vonis dokter waktu itu?" tanya Dinda lagi.
"Emh sebenarnya aku nggak tahu Din," ucapku sambil menggaruk tengkukku yang tidak gatal.
"Ya udah,biar aku kasih tahu kamu sekarang!" ujar Dinda.
Sejenak Dinda terdiam sebelum akhirnya ia mulai bercerita.
"Waktu itu kamu mengalami benturan yang sangat hebat diperutku hingga membuat rahimmu robek.Dokter memang sudah menjahitnya,tapi dokter menvonis kalau kamu akan sulit untuk hamil lagi!" ujar Dinda bercerita singkat.
Aku terdiam mendengar cerita Dinda tentangku,aku tak menyangka bahwa kejadian itu berdampak sangat buruk untukku.
"Sekarang kau tahu kan maksudku apa?" tanya Dinda setelah beberapa saat.
"Iya Din,sekarang aku mengerti!,dan kau memang benar, sepatutnya aku memang bersyukur karena Allah masih mempercayakan aku untuk hamil lagi" ucapku.
"Aku senang kalau kau sadar!" ujar Dinda sambil tersenyum padaku.
"Anggap saja anak ini adalah pengganti Emir dari Allah".
"Aku harap kau akan menjaga kandunganmu kali ini dengan sebaik-baiknya!.Jadikan yang lalu sebagai pelajaran untukmu, jangan sampai kejadian yang dulu terjadi saat Emir akan lahir terulang kembali" nasihat Dinda.
"Kau memang benar Din!,aku janji,aku akan menjaga kehamilanku kali ini dengan sebaik-baiknya" ucapku.
"Nah gitu dong!,itu baru ibu yang baik" ujar Dinda sambil menepuk bahuku.
Aku pun tersenyum mendengar ucapan Dinda.
"Udah ah,jangan sedih-sedih gitu,nggak baik juga kan buat kandunganmu!,ntar anakmu jadi ikutan baperan loh kayak Bundanya" ujar Dinda dengan sedikit bercanda.
"Belum lagi kalau si Abhimana tahu!,uh....aku bisa kena omel lagi nanti,ntar dikiranya aku yang bikin kamu mewek kayak gini" ujar Dinda lagi dengan muka cemberut.
aku pun tertawa melihat muka Dinda.
"Nah,kalau tertawa gitu kan lebih enak dilihatnya!" ujar Dinda sambil memandang kearahku.
"Kamu ini memang sahabatku yang paling baik,kamu punya seribu satu cara untuk menghiburku!" ujarku sambil tersenyum.
"Tentu saja!,aku jamin,kamu nggak bakalan nemuin sahabat yang lebih baik dariku lagi!" ujar Dinda berbangga diri.
"Hu dasar asar sok kamu ya!" ujarku menyoraki Dinda.
"Jadi orang tuh harus bangga sama diri sendiri,jadi orang lain nggak akan memandang kita dengan sebelah mata!" ujar Dinda.
"Iya juga sih kata kamu,tapi aku akui kamu memang sahabat terbaik didunia!" ucapku.
"Itu kamu tahu!" jawab Dinda.
"Emh mulai lagi nih narsisnya!" ujarku sambil memajukan sedikit bibirku.
Kami pun lalu tertawa bersama.
"Eh iya Nia,aku pamit pulang dulu ya!" ujar Dinda setelah kami berhenti tertawa.
"Loh kok buru-buru!" ucapku.
"Iya nih,aku lupa kalau habis ini aku ada urusan penting!" ujar Dinda.
"Urusan penting apa?" tanyaku penasaran.
"Kepo!" ujar Dinda singkat.
"Oh, jadi sekarang kamu mau main rahasia-rahasiaan ya sama aku!" ucapku sambil cemberut.
"Ntar aja deh aku ceritain sama kamu!, kalau aku ngobrol terus sama kamu kapan pulangnya?" ujar Dinda.
"Iya Din,makasih banyak nasehatnya!" ucapku.
Dinda pun segera bangkit dari dari sofa dan hendak menuju pintu depan.
"Kamu sudah mau pulang, Din?" tegur Mas Abhi mengagetkan kami karena tiba-tiba ia sudah ada di sampingku.
Dinda pun menoleh ke arah Mas Abhi.
"Iya nih, Bhi,aku ada urusan penting!" ujar Dinda.
"Oh gitu,ya udah kamu hati-hati di jalan ya!" ujar Mas Abhi.
"Iya Bhi,pasti!" sahut Dinda.
Dinda pun berjalan keluar rumah dan aku pun mengikutinya sampai pintu depan.
"Dah Kania!" ujar Dinda sambil melambaikan tangan kearahku.
"Dah juga Dinda!" ujarku membalas lambaian tangan Dinda.
dan Dinda pun segera berlalu meninggalkan rumahku.
"Sekarang kamu istirahat dulu dikamar ya ,honey!.Dari tadi kan kamu ngobrol terus sambil duduk,ntar kamu capek!" ujar Mas Abhi.
"Iya Mas!" sahutku.
Mas Abhi pun menuntunku menuju kamar dan aku pun mengistirahatkan tubuhku diatas ranjang.
...****************...
Di kehamilanku kali ini aku begitu manja pada Mas Abhi,selain itu aku juga menjadi begitu sensitif.Kalau ada sedikit saja yang tidak sesuai dengan keinginanku,maka aku pasti langsung menangis.
Seperti halnya kali ini, tiba-tiba aku ingin makan kerak telor dimalam hari.
"Mas tolong beliin aku kerak telor dong, aku lagi pengen makan itu sekarang" ujarku sambil bergelayut manja dilengan Mas Abhi saat kami hendak bersiap tidur.
"Kerak telor?" tanya Mas Abhi.
"Heem!" jawabku.
"Malam-malam begini?" tanya Mas Abhi.
"Iya Mas,kenapa? Mas nggak mau ya beliin buat aku?" tanyaku,wajahku berubah sedih seketika.
"Bukannya gitu,tapi ini udah malem banget ,honey!" ujar Mas Abhi mencoba memberi pengertian padaku.
"Hiks hiks Mas Abhi emang jahat!, Mas udah nggak sayang lagi sama aku!" teriakku,air mataku tumpah seketika.
Mas Abhi pun kelabakan melihatku menangis.
"Aduh honey,jangan nangis gitu dong!,cup cup udahan ya nangisnya!" ujar Mas Abhi mencoba menghentikan tangisanku.
Bukannya berhenti,tangisanku malah bertambah kencang.
"Udah dong,honey,jangan nangis terus!,ya udah Mas beliin kerak telor sekarang!,tapi kamu jangan nangis lagi ya" ujar Mas Abhi membujukku.
"Nah gitu dong, Mas!" ujarku sambil menghapus air mataku,senyumku terbit seketika.
"Ya udah cepetan sana berangkat!,jangan lama-lama ya!" ujarku.
Mas Abhi pun menghela napas panjang,ia segera bangkit dan berganti pakaian.
Setelah lama berputar-putar mencari penjual kerak telor,akhirnya Mas Abhi pun mendapatkannya juga,ia pun segera kembali kerumah secepatnya.
Tapi sesampainya dirumah ternyata aku sudah tidur.Mas Abhi pun mencoba untuk membangunkanku.
"Honey,bangun yuk!" ujar Mas Abhi sambil menepuk pipiku pelan.
"Apaan sih Mas!,gangguin orang lagi tidur aja!" ujarku tak suka.
"Tadi katanya pengen makan kerak telor,nih Mas sudah bawain!" ujar Mas Abhi sambil menunjukkan sebuah bungkusan padaku.
"Nggak jadi!" ujarku sambil berpaling.
"Loh kok nggak jadi? emangnya kenapa?" tanya Mas Abhi.
"Abisnya nungguin Mas Abhi kelamaan,sekarang aku udah nggak pengen lagi!"ujarku.
Mas Abhi pun menghela napas panjang mendengar jawabanku.
"Terus ini gimana?" tanya Mas Abhi.
"Ya Mas Abhi makan aja sendiri!" jawabku.
Mas Abhi pun kembali menghela napas panjang mendengar jawabanku,dengan terpaksa akhirnya ia memakan kerak telor yang sudah dibelinya tadi.