Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 101



"Berhenti, Kania. Kamu tidak boleh meninggalkan kamar ini!" ujar Mas Abhi, menghadang didepan pintu, mencegahku.


"Minggir, Mas, biarkan aku lewat!" ujarku mendorong tubuhnya.


"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu keluar dari kamar ini. Beri aku kesempatan untuk bicara. Aku bisa jelaskan semuanya" ujar Mas Abhi.


"Apalagi yang perlu dibicarakan, Mas. Semuanya sudah jelas. Bukti ada didepan mata, masih juga kau ingin mengelak?" ujarku sengit.


"Kumohon percayalah padaku, Kania. Aku tidak berselingkuh. Aku tidak pernah sedikitpun mengkhianatimu" ujar Mas Abhi meraih tanganku dan menggenggamnya.


"Jangan sentuh aku, Mas. Aku tidak bisa lagi percaya padamu. Aku bahkan tidak tahu, apakah aku masih bisa bertahan dengan pernikahan ini!" ujarku tegas, melepaskan genggaman tangannya.


Tes...


Setitik air mata Mas Abhi menetes.


"Semudah itukah kau menyerah denganku? kau bahkan tidak ingin mencari tahu kebenarannya dulu" ujar Mas Abhi, suaranya bergetar saat mengatakannya karena merasa terluka oleh ucapanku.


"Minggir, Mas. Aku tidak ingin berdebat lagi denganmu!" ujarku, mendorong tubuh Mas Abhi dan berlari keluar, masuk ke kamar yang lain.


Kuhempaskan tubuhku diatas ranjang dan kutumpahkan semua air mataku. Rasanya sangat menyakitkan melihat kenyataan ini.


"Kamu jahat, Mas. Kamu ternyata sama saja dengan pria yang lain. Setelah kau mendapatkan apa yang kau inginkan dan sudah bosan dengannya, kau mencari pengganti yang baru".


"Akulah yang bodoh karena percaya begitu saja denganmu".


Aku berteriak sejadi-jadinya, meluapkan semua sakit hati yang kurasakan. Aku terus menangis hingga tanpa sadar aku telah terlelap karena lelah menangis.


Sementara itu, Mas Abhi berteriak frustasi setelah aku keluar dari kamar.


"Argkkk... kenapa semuanya jadi begini? Kenapa bisa ada noda lipstik di bajuku?" mengusap wajahnya kasar.


Mas Abhi mengambil bajunya yang berserakan diatas lantai dan menghempaskan pantatnya diatas ranjang. Diamatinya bekas lipstik yang menpel itu lekat-lekat dan mencoba mengingat semua yang dilakukannya seharian.


Tiba-tiba Mas Abhi teringat dengan kejadian waktu Tasya hampir terjatuh dan dia menolongnya tadi. Sontak ia bangkit dan berteriak marah.


"Kurang ajar!. Ini pasti ulah wanita licik itu. Atau jangan-jangan, dia juga yang sudah menaruh jepit rambut itu di mobilku. Ini tidak boleh dibiarin. Aku harus segera mencari bukti kalau ini adalah perbuatannya" ujar Mas Abhi geram.


Malam itu Mas Abhi tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dia tidak sabar menanti pagi tiba. Dia ingin segera menemukan bukti-bukti itu, dan menyudahi semua kesalahpahaman diantara kami.


...****************...


Hari ini Mas Abhi berangkat kekantor pagi-pagi sekali. Dia bahkan tidak sempat sarapan. Dia pergi begitu saja tanpa berpamitan dulu denganku seperti biasa. Hatiku semakin terluka melihat sikapnya ini.


"Aku kecewa denganmu, Mas. Kau bahkan tidak ingin meminta maaf atas semua kesalahanmu kemarin" ujarku lirih, air mata menetes di pipi.


Aku memilih melanjutkan aktivitas seperti biasa. Aku tidak ingin Naila curiga dengan pertengkaran kami


Sementara itu sesampainya di kantor, Mas Abhi segera menuju bagian operasional untuk mengecek kamera cctc. Dia meminta pada operator untuk memutarkan rekaman cctc selama dua hari kemaren.


Operator pun melakukan apa yang diminta oleh Mas Abhi. Mas Abhi pun mengamati rekaman tersebut dengan seksama, tapi sayangnya dia tidak menemukan hal yang mencurigakan dari rekaman tersebut, karena secara diam-diam ternyata Tasya sudah menghapus bagian saat dia meletakkan jepit rambut itu dimobil Mas Abhi.


Mas Abhi mengusap wajahnya gusar karena tidak berhasil mendapatkan bukti itu. Dia keluar kembali dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tujuannya hanya satu, yaitu menemui Tasya.


Taka berselang lama mobil Mas Abhi sampai di toko bungaku. Dia sengaja langsung kesana karena dia yakin pada jam segini Tasya pasti sudah ada di toko bunga.


Mas Abhi langsung masuk dan berteriak memanggil Tasya.


Dinda datang dengan tergopoh-gopoh karena mendengar suara teriakan Mas Abhi yang tengah marah.


"Ada apa Abhi? kenapa kau berteriak kesetanan seperti itu?" tanya Dinda.


"Cepat katakan, dimana Tasya?" tanya Mas Abhi langsung.


"Ada apa Abhi? kenapa kau mencari tasya?" tanya Dinda bingung.


"Jangan banyak tanya!, katakan saja dimana Tasya. Aku harus membuat perhitungan dengannya!" ujar Mas Abhi, tampak kilatan amarah di kedua matanya.


"Di...dia ada dibelakang sedang mengurus tanaman" jawab Dinda terbata-bata.


Mas Abhi bergegas ke belakang untuk mencari keberadaan Tasya.


"Tunggu, Abhi. Katakan dulu ada apa? kenapa kau terlihat sangat marah?" teriak Dinda, mengejar Mas Abhi.


Mas Abhi tak memperdulikan teriakan Dinda dan tetap mencari keberadaan Tasya. Saat ia menemukannya, dia segera mencengkeram pergelangan tangan Tasya, berniat membawanya keluar.


"Auch ...sakit!" ringis Tasya, memegangi pergelangan tangannya.


Mas Abhi tak memperdulikan Tasya yang meringis kesakitan dan tetap menyeretnya keluar. Dengan terpaksa Tasya pun mengikuti langkah lebar Mas Abhi sambil terus memegangi pergelangan tangannya.


"Lepaskan tanganku, Abhi. Kau sudah menyakitiku!" ujar Tasya mengiba.


Dinda pun datang dan melepaskan tangan Tasya dari cengkeraman Mas Abhi.


"Ada apa, Abhi. Kenapa kau menyakitinya?" tanya Dinda.


"Kau tanyakan sendiri padanya. Tanyakan kenapa dia menciptakan pertengkaran antara aku dengan kania" ujar Mas Abhi dingin.


Dinda pun memandang Tasya dan bertanya padanya.


"Apalagi yang kau lakukan sekarang? Apa belum cukup kau menyakiti hati kania?" tanya Dinda.


"Aku tidak melakukan apa-apa. Aku tidak mengerti apa yang kalian berdua maksudkan" ujar Tasya sok polos.


"Bohong!. Pasti kamu kan yang meninggalkan bekas lipstik di bajuku. Tidak ada seorang pun yang menyentuhku kecuali kau kemarin" bentak Mas Abhi.


"Ak...aku tidak mengerti apa maksudmu" ujar Tasya tetap berpura-pura.


"Apa maksudmu bicara seperti itu, Bhi? dan kenapa kau bisa bersentuhan dengannya?" tanya Dinda.


"Kemarin dia mendatangiku di kantor untuk mengajakku makan siang bersama, tapi aku menolak ajakannya dan pergi meninggalkannya. Kemudian dia mengejarku dan hampir terjatuh karena tersandung. Aku pun menolongnya dengan menahan tubuhnya sebelum dia terjatuh, tapi rupanya dia menggunakan kesempatan itu dan menciptakan noda lipstik di bajuku. Karena hal itu Kania menjadi salah paham denganku dan menuduhku telah berselingkuh" ujar Mas Abhi menceritakan kronologi yang terjadi kemarin.


"Apa benar kau melakukannya?" tanya Dinda dengan pandangan penuh selidik terhadap Tasya.


"Kalau iya memangnya kenapa!" jawab Tasya enteng tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Dasar wanita ular. Ternyata selama ini kecurigaan ku memang benar. Kau tidak akan pernah bisa berubah" teriak Dinda emosi.


Dinda hendak menarik rambut Tasya untuk meluapkan kemarahannya. Tapi dengan segera Tasya berkelit, sehingga Dinda hanya menangkap angin saja.


"Sayang sekali kau tidak bisa menyakitiku!" ujar Tasya dengan senyum mengejek.


"Kurang ajar!" teriak Dinda semakin marah. Dia hendak melayangkan sebuah tamparan pada Tasya tapi terhenti karena suara dering telepon dari handphone Tasya.