
Papa nampak sangat terkejut mendengar penuturan ku.
"Jangan bercanda kamu!.Mana mungkin dia adalah anak Doni,seingat Papa wajah anaknya bukan seperti itu" ujar Papa.
"Itulah yang tidak Papa ketahui!".
"Sebenarnya itu memang bukan wajah aslinya. Dia melakukan operasi penggantian wajah untuk menghilangkan jati diri dia sebenarnya agar memudahkannya dalam mencari bukti-bukti pembunuhan kedua orangtuanya!" terangku.
"Maksudmu?" tanya Papa masih tak mengerti.
"Jadi gini, Pa!, ini terjadi saat dia masih duduk di bangku SMA. Waktu itu dia diculik dan diperkosa oleh orang yang tidak ia kenal atas suruhan pamannya. Dan yang lebih sadis lagi, Pa!, kedua orangtuanya dibunuh didepan matanya, lalu kemudian harta peninggalan orangtuanya dikuasai seluruhnya oleh pamannya itu" ujarku panjang lebar.
"Astaga!, pantas selama ini Papa tidak pernah bisa menghubunginya, ternyata ini yang terjadi."
"Lalu, apa dia tidak melaporkan kejadian ini ke polisi?" tanya Papa lagi.
"Sudah, Pa!. Dinda sudah pernah mencoba melaporkan hal ini ke polisi. Tapi dikarenakan kurangnya bukti-bukti, maka pamannya itu dibebaskan kembali. Dan sebagai balasan atas tindakannya itu, Dinda pun dikurung diruang bawah tanah" jawabku.
"Lalu, bagaimana dia bisa bebas?" tanya Papa.
"Waktu itu ada salah satu pelayan setia Papanya yang merasa kasihan dan membantunya melarikan diri. sejak itulah Dinda memutuskan untuk merubah wajah dan juga identitas aslinya, kemudian ia bekerja di salah satu bar milik pamannya untuk mengumpulkan bukti-bukti kejahatannya itu".
"Dan asal Papa tahu!, bar yang kumaksudkan disini adalah bar yang Papa tutup beberapa waktu itu" ujarku.
"Astaga!, jadi....".
"Iya, Pa, benar sekali. Saat tahu kalau bar itu tiba-tiba ditutup, Dinda pun merasa kecewa, karena satu-satunya kesempatan untuknya mencari bukti sudah tidak ada" ujarku lagi.
Sejenak Papa tertegun mendengar penuturanku, sepertinya ia merasa bahwa tindakannya waktu itu menimbulkan masalah lagi bagi orang lain.
"Kau tenang saja!, Papa akan membantu mencari bukti-bukti itu. kau ajak saja dia kemari, nanti biar Papa bicara dulu dengannya. Biar bagaimanapun, dia adalah putri sahabat Papa. Papa merasa, Papa berkewajiban untuk membantunya" tukas Papa akhirnya.
"Beneran, Pa?, Papa mau membantu Dinda?" tanyaku seolah tak yakin dengan keputusan Papa.
"Tentu saja itu benar. Papa tidak akan mengatakannya kalau itu tidak benar!" ujar Papa mempertegas ucapannya tadi.
"Wah, makasih banyak ya, Pa. Dinda pasti sangat senang mendengar hal ini, ini tuh sangat berarti untuk dia. Secepatnya Kania akan membawa Dinda kesini dan mempertemukannya dengan Papa," ujarku dengan binar-binar kebahagiaan di mataku.
Papa pun mengangguk, setuju dengan perkataanku.
"Ya sudah!, ayo dilanjut lagi makannya" ujar Papa.
Kami pun melanjutkan makan kami yang sempat terhenti karena obrolan kita tadi. Dan setelah beberapa saat, aku pun selesai makan.
"Pa, Kania udah selesai makannya. Kania mau istirahat dulu ya!" pamitku.
"Iya,nak!. Kamu istirahat saja di kamarmu dulu, kemarin Papa sudah meminta bik Ijah untuk membersihkannya" ujar bik Ijah.
"Baik, Pa! aku ke kamar dulu ya!" pamitku lagi.
Papa pun mengangguk mengiyakan. Kemudian aku pun segera masuk ke kamarku dulu dan mengistirahatkan tubuhku.
...****************...
Sore hari Mas Abhi datang untuk menjemputku dirumah Papa.
"Sore, Pa!" sapa Mas Abhi pada Papa, kebetulan waktu itu Papa sedang bersantai diruang tengah.
Papa pun menoleh kearah Mas Abhi.
"Eh kamu, Bhi. Ayo sini!, duduk dulu sama Papa" ajak Papa.
Mas Abhi pun duduk didepan Papa.
"Mau minum?" tawar Papa.
"Boleh, Pa!, teh hangat aja" jawab Mas Abhi.
Papa pun memanggil bik Ijah dan memintanya untuk membuatkan teh hangat untuk Mas Abhi.
"Oh ya Pa, Kanianya mana? kok dari tadi nggak kelihatan!" tanya Mas Abhi sambil mengedarkan pandangan mencari keberadaanku.
"Kalau gitu Abhi ke kamar Kania dulu ya, Pa!" pamit Mas Abhi seraya bangkit dari tempat duduk.
Papa pun langsung menghentikan langkah Mas Abhi.
"Tunggu dulu!, biarkan saja Kania beristirahat. Kamu duduk aja disini dulu, ada hal penting yang ingin Papa tanyakan sama kamu!" ujar Papa.
Mas Abhi pun menghentikan langkahnya dan kembali duduk ditempatnya tadi.
"Ada apa, Pa?, hal penting apa yang ingin Papa tanyakan padaku?" tanya Mas Abhi.
"Sebelumnya Papa minta kamu menjawab pertanyaan Papa nanti dengan jujur!".
"Siapa namamu yang sebenarnya?" tanya Papa tiba-tiba.
Mas Abhi tampak terkejut mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Papa.
"Maksud Papa apa bertanya begitu padaku?, namaku memang Abhimana!" jawab Mas Abhi.
"Hanya Abhimana atau ada nama belakang lagi?" tanya Papa lagi.
"Namaku memang Abhimana, hanya Abhimana!" ujar Mas Abhi mempertegas jawabannya tadi.
"Apa kau yakin kalau kau sudah berkata juju?" tanya Papa untuk yang kesekian kalinya.
"Aku sangat yakin dengan jawabanku tadi!" tukas Mas Abhi.
"Lalu, bagaiman kau menjelaskan tentang foto ini?" tanya Papa sambil menunjukkan sebuah foto pada Mas Abhi.
Dalam foto tersebut, tampak seorang lelaki paruh baya tengah berdiri berdampingan dengan istrinya, wajahnya sama persis dengan wajah Mas Abhi. ditengah-tengah meraka ada seorang anak kecil yang tengah tersenyum ceria sambil mengapit kedua tangan mereka.
Mas Abhi sangat terkejut melihat foto yang ditunjukkan Papa tersebut.
"Dari mana Papa mendapatkan foto itu?" tanya Mas Abhi.
"Dari mana Papa mendapatkan foto ini itu tidak penting!. Yang terpenting adalah katakan siapa dirimu yang sebenarnya, atau Papa akan mencari tahu sendiri kebenarannya."
"Kau pasti tahu kan, mendapatkan informasi seperti ini tidaklah sulit bagi Papa!" ujar Papa tegas.
Mas Abhi pun menghela napas panjang mendengar perkataan Papa.
"Baiklah, Pa!. Aku akan mengatakan yang sebenarnya ke Papa" ujar Mas Abhi akhirnya.
"Bagus!, sekarang ayo cepat katakan!"
ujar Papa.
"Kedua orang dalam foto tersebut adalah kedua orangtuaku. Mereka berdua tewas dalam sebuah kecelakaan tragis, hanya akulah yang selamat dalam kecelakaan tersebut."
Mas Abhi menjeda ucapannya.
"Aku menduga ada salah satu lawan bisnis Papa yang menyabotase mobil yang kami tumpangi tersebut. Ia sengaja melakukannya untuk menghabisi seluruh keluarga kami dan merebut perusahaan Papa. untuk itulah aku sengaja menyembunyikan jati diriku sebenarnya untuk melindungi diriku sendiri sampai aku menemukan siapa pelaku sebenarnya" terang Mas Abhi panjang lebar.
Papa nampak manggut-manggut mendengar penuturan Mas Abhi.
"Baiklah!, Papa akan membantumu mengungkap kebenarannya!" ujar Papa.
"Terimakasih banyak, Pa!" jawab Mas Abhi.
"Tapi aku ada satu permintaan ke Papa!" lanjut Mas Abhi.
"Apa itu?" tanya Papa.
"Tolong jangan beritahukan hal ini pada Kania!. Aku tak ingin dia tahu dan nantinya malah membahayakan keselamatannya" ujar Mas Abhi.
"Baiklah!, Papa janji, papa tidak akan memberitahukan hal ini pada kania" ujar Papa berjanji.
"Hal apa yang tidak boleh diberitahukan padaku?" tanyaku tiba-tiba.