
"Dan apakah kau tahu siapa alex?" tanya Papa.
"Tidak!. Siapa dia, Pa?" ujar Mas Abhi bertanya balik sambil menggelengkan kepala.
"Dia adalah pamannya Dinda!, saudara tiri Papanya" jawab Papa dengan muka datar.
Mas Abhi sangat terkejut mendengar jawaban Papa.
"Apa???" ujar Mas Abhi terperanjat, ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Benar!, dia adalah pamannya Dinda. Tapi kau jangan salah paham dulu dengannya, karena apa yang menimpa Dinda jauh lebih tragis lagi, dan semua itu adalah ulah dari pamannya itu juga!" ujar Papa.
"Maksud Papa apa?" tanya Mas Abhi tak mengerti.
"Lihatlah dulu video ini!" ujar Papa sambil menunjukkan video lain pada Mas Abhi.
Mas Abhi pun kembali melihat video tersebut.
Video itu memperlihatkan bagaimana Alex menyuruh seseorang untuk menculik dan memperkosa Dinda. Selain itu, Papa juga menunjukkan sebuah video bagaimana kedua orangtua Dinda dibunuh secara sadis olehnya didepan kedua mata Dinda, juga ada video lain yang memperlihatkan bagaimana Dinda dulu dikurung dan disiksa di ruang bawah tanah hingga dia berhasil melarikan diri dari sana.
"Dasar biadab!" raung Mas Abhi, kali ini tembok disebelahnya lah yang menjadi sasaran amukannya. Ia melayangkan tinjunya ditembok tersebut hingga membuat tembok itu bergetar, tak ayal darah segar pun kembali mengalir dari luka yang belum mengering.
"Kau tenanglah dulu!, kendalikan emosimu itu" ujar papa mencoba menenangkan kemarahan Mas Abhi.
Mas Abhi pun mengatur deru nafasnya yang memburu untuk mengendalikan emosinya yang memuncak, dan setelah ia tenang, ia pun kembali duduk di depan Papa.
"Aku harus menuntut balas semua perbuatan mereka!" ujar Mas Abhi, tangannya masih terkepal erat menahan kemarahannya.
"Tentu saja!, tapi sebelum kau menuntut balas perbuatan mereka, Papa ingin memberitahumu hal yang lebih penting lagi!" ujar Papa.
"Apa itu Pa?" tanya Mas Abhi.
"Kau lihatlah video ini dulu!" jawab Papa sambil menunjukkan sebuah video lain lagi.
Mas Abhi pun kembali melihat video tersebut. Hanya satu kata yang bisa ia gambarkan atas video tersebut, yaitu 'mengerikan'.
Video itu memperlihatkan bagaimana seorang wanita paruh baya menyuruh seseorang untuk menyiksa orang lain dengan sangat kejamnya, sedangkan ia hanya menonton kejadian itu sambil tertawa kegirangan.
Ia begitu menikmati seluruh adegan penyiksaan dihadapannya. Rintihan dan tangis kesakitan dari orang yang menjadi korbannya seolah sebuah nyanyian merdu di telinganya, ia bahkan menghisap dan meminum darah yang keluar dari sekujur tubuh korbannya.
Bukan hanya manusia saja yang ia siksa, ia juga melakukan hal biadab itu pada hewan-hewan. Ia bahkan rela membayar orang yang dia suruh dengan bayaran yang sangat fantastis hanya demi kesenangannya itu.
Mas Abhi pun mengerutkan dahinya setelah melihat video itu, karena ia tidak mengenal siapa wanita dalam video tersebut. Ia tak mengerti kenapa Papa menunjukkan video tersebut padanya.
"Kenapa Papa menunjukkan video ini padaku? siapa wanita dalam video itu? dan apa hubungannya dengan kejadian yang menimpaku dan juga Dinda?" tanya Mas Abhi beruntun.
"Tentu saja video ini ada kaitannya!, karena wanita dalam video tersebut adalah ibu dari Alex, istri kedua opanya Dinda!. Dialah otak dan juga dalang dari semua kejadian ini, dan dia jugalah orang yang menghasut Alex untuk melakukan perbuatan keji itu" jawab Papa sambil melipat kedua tangannya didepan dada, satu kakinya ia silangkan ke kaki lainnya lagi.
Mas Abhi semakin terkejut mendengar penuturan Papa.
"Astaga!" ujar Mas Abhi sambil menutup mulutnya.
"Apakah Alex tidak menghentikan perbuatan ibunya itu, Pa?" tanya Mas Abhi.
"Dia sangat menyayangi ibunya itu, dan dia juga selalu menuruti apa yang diinginkannya, karena itulah dia tidak menghentikan perbuatan ibunya itu. lagi pula ia punya cukup banyak uang untuk menuruti semua keinginan ibunya itu" ujar Papa memberi penjelasan.
"Ini semua tidak boleh dibiarkan!. Aku akan membalas semua perbuatan mereka" ujar Mas Abhi geram.
"Sekarang apa yang akan kau lakukan?" tanya Papa.
"Apalagi!, tentu saja aku akan menghabisi nyawa mereka!" jawab mas Abhi seraya bangkit dari tempat duduknya, ia bahkan siap untuk melakukannya saat itu juga.
"Jangan!, jangan kau lakukan itu!" ujar Papa menghentikan Mas Abhi sambil menarik lengannya dan menyuruhnya duduk kembali.
"Kenapa sekarang Papa malah menghentikanku?" tanya Mas Abhi marah sambil menatap Papa tak suka.
"Papa bukannya menghentikanmu, tapi Papa tidak setuju jika kau langsung menghabisi nyawanya!" jawab Papa.
Mas Abhi mengerutkan dahinya tanda bahwa ia masih tak mengerti.
"Kematian bukan hukuman yang setimpal untuk mereka, itu tidak sebanding dengan apa yang mereka perbuat selama ini. jika mereka langsung mati, maka mereka tidak akan merasakan apa yang dinamakan dengan penderitaan. Hukuman yang pantas untuk mereka adalah penyiksaan dan kemiskinan!" ujar Papa mengungkapkan pendapatnya.
Mas Abhi tampak berpikir mendengar ucapan Papa, ia merasa apa yang dikatakannya ada benarnya juga.
"Jadi sekarang apa yang harus kita lakukan? bagaiman cara kita membuatnya merasakan hal itu? bukankah mereka sangat kaya?" tanya
Mas Abhi tak mengerti.
"Kau ini bodoh sekali!, tentu saja dengan menggunakan uang dan kekuasaan, lagi pula Papa jauh lebih kaya daripada mereka" jawab Papa sambil tertawa renyah.
"Maksud Papa?" tanya Mas Abhi masih tak mengerti.
"Kita harus menghasut para pemegang saham di perusahaannya untuk menarik saham mereka, sebagai gantinya kita menawarkan pada mereka saham di perusahaan Papa. Dan saat perusahaan itu mulai goyah, kita akan membuka semua kejahatan mereka selama ini untuk menjatuhkan mereka. Papa sangat yakin, mereka pasti langsung jatuh miskin saat itu juga!" ujar Papa menerangkan rencananya.
"Kau benar sekali, Pa!. Dan setelah mereka jatuh miskin, kita akan membalas perbuatan mereka" ujar Mas Abhi sambil tertawa menyeringai.
"Oh ya, ada satu hal lagi yang ingin Papa sampaikan padamu!" ujar Papa.
"Apa itu, Pa?" tanya Mas Abhi.
"Kau tahu!, ternyata bar tempat Dinda bekerja yang Papa tutup beberapa waktu lalu itu digunakan Alex sebagai tempat ia melakukan transaksi narkoba selama ini!" ujar Papa.
"Apa???" ujar Mas Abhi terperangah, untuk kesekian kalinya dalam satu hari ini ia kembali dikejutkan dengan semua kebenaran yang diungkapkan Papa padanya.
"Ya, itu memang benar!. Ternyata tindakan Papa untuk menutup bar itu sudah tepat!" ujar Papa.
"Ini mengejutkan sekali, Pa!. Tapi kita juga bisa menggunakan hal ini sebagai senjata untuk menjatuhkan mereka" ujar Mas Abhi ikut menimpali rencana Papa.
"Benar sekali!, kau memang cerdas" ujar Papa, kali ini dia memujinya.
Akhirnya mereka berdua pun sepakat untuk melakukan rencana tersebut. Dan tanpa mereka sadari, ada seseorang dari balik pintu yang mendengar semua pembicaraan mereka tadi.