
Hai reader tersayang, diawal tahun baru ini author mau ucapin selamat tahun baru untuk semuanya,semoga di tahun 2022 nanti segala apa yang kita inginkan yang belum terwujud akan segera terwujud.
author juga mau minta maaf kesemuanya karena author belum bisa memenuhi keinginan reader semua,maklumlah author adalah seorang ibu rumah tangga dengan dua orang anak yang masih kecil dan butuh perhatian,belum lagi author harus kerja untuk memenuhi kebutuhan.
(he he he author jadi curhat nih,udah kayak acara mamah dan AA aja.curhat dong mah....iya dong... wkwkwk 🤣)
terus dukung author ya biar author makin semangat nerusin ceritanya,apalah arti author tanpa reader tersayang,hanya seorang manusia yang tak berarti....(hiks hiks hiks terus dukung author ya...ðŸ˜ðŸ˜)
udah ah kelamaan author ngomongnya,para reader pasti udah nggak sabar mau tau kelanjutan ceritanya.
langsung aja,cekidot ......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tunggu sebentar,aku ada sesuatu untuk kamu!" kata Dona sambil tangannya menunjuk kearahku.
Dona segera membuka mobil dan mengambil sesuatu disana.
"Nih undangan buat kamu,kalau kamu masih punya muka kamu bisa datang ke acara pernikahan kami nanti!" kata Dona sambil menyerahkan sebuah undangan padaku dengan senyum mengejek.
aku pun menerima undangan itu dengan rasa sakit dihati,tapi sebisa mungkin aku tutupi agar mereka tak melihatnya.Aku pun mengulas sebuah senyum getir untuk menutupi perasaanku.
Sedangkan Dinda,melihatku dihina seperti itu dia pun makin marah.
"Kau!!!!" pekik Dinda tertahan.
Dona tak memperdulikan teriakan marah Dinda,dengan santainya ia melenggang masuk kedalam mobil dan mereka berdua pun segara berlalu dari hadapan kami.
"Kamu ini kenapa sih Nia? kenapa kamu biarkan mereka menginjak-injak harga dirimu kayak tadi?" kata Dinda dengan muka yang masih merah padam karena menahan amarah.
"Sudahlah Din jangan marah-marah terus,nanti cepat tua loh,cepat lowbat!" kataku mencoba menenangkan Dinda.
"Gimana aku nggak marah melihatmu dihina kayak tadi,kamu juga ngapain nggak membalas mereka tadi?" kata Dinda.
"amarah itu ibarat api, kalau kita siram api itu dengan bensin maka kobaran apinya akan semakin besar,lebih baik kita siram api itu dengan air es biar apinya cepat padam" jawabku sambil tersenyum semanis mungkin.
"Dan lagi,kalau kita balas menghina mereka maka kita tidak jauh beda dengan mereka" kataku lagi.
"Tapi tetap saja kamu yang boleh membiarkan mereka menghina dirimu!" kata Dinda.
"Iya deh aku nggak akan ngebiarin mereka menghinaku lagi" jawabku.
"Udah dong jangan marah terus,jadi hilang kan cantiknya,senyum dikit napa?" kataku menggoda Dinda.
Dinda pun akhirnya tersenyum juga.
"Nah gitu dong,kalau senyum gini kan cantik" kataku sambil menyenggol bahu Dinda.
"Apaan sih kamu nih!" kata Dinda.
"Udah ah ngobrolnya,kita beresin lagi tempat ini yuk!" ajakku.
Kami pun segera membereskan toko bunga kami lagi.
Aku mengambil pot-pot bunga yang sudah pecah dan membuangnya ketempat sampah,sedangkan Dinda memunguti bunga-bunga yang masih bagus dan menaruhnya dalam sebuah wadah dan nantinya akan kami tanam kembali dalam pot yang baru.
Saat kami tengah membereskan semua kerusakan tadi tiba-tiba Abhimana datang,dia tampak terkejut melihat keadaan toko bunga kami.
"Ada apa ini? kenapa semuanya berantakan begini?" kata Abhimana dengan kebingungan.
Kami pun refleks menoleh kearah sumber suara.
"Eh Abhi,iya nih tadi ada sedikit masalah" kataku sambil tersenyum tipis.
"Memangnya ada masalah apa? kenapa bisa sampai berantakan begini?" tanya Abhimana.
"Bukan masalah besar kok,cuma sedikit kesalah pahaman aja" jawabku mencoba menutupi kejadian tadi.
"Kesalah pahaman apanya? ini semua tuh ulah si cowok brengsek itu, tadi dia bikin ulah disini sama kekasih barunya!" kata Dinda sambil tersungut-sungut.
"Cowok brengsek? siapa?" tanya Abhimana masih tak mengerti dengan maksud Dinda.
"Siapa lagi kalau bukan Arsen,pria yang sudah menghancurkan hidup kania!" kata Dinda dengan kesal.
"Kau juga, kenapa kau tak menghubungiku saat dia bikin keributan tadi?" kata Abhimana pada Dinda dengan emosi yang membuncah.
"Mana sempat,kejadiannya saja begitu cepat!" jawab Dinda tak mau disalahkan.
"Aku harus kasih dia pelajaran,biar dia nggak gangguin kamu terus!" kata Abhimana hendak melangkah pergi.
cepat-cepat kuhentikan langkah Abhimana, sebelum dia berbuat nekat.
"Sudahlah Abhi,jangan diperpanjang lagi masalah ini,lagian aku juga nggak kenapa-napa kok" kataku sambil tersenyum.
"Beneran nih kamu nggak kenapa-napa?" kata Abhimana tak percaya.
"Iya Abhi, beneran deh!" jawabku mencoba meyakinkannya.
"Ya sudah,tapi kain kali kalau dia bikin ulah lagi kamu harus cepat-cepat hubungi aku!" kata Abhimana.
"Siap pak,laksanakan!" kataku sambil menghormat layaknya seorang tentara pada atasannya.
"Kamu ini,ya sudah ayo kita bereskan lagi!" kata Abhimana sambil tersenyum.
kami pun kembali membereskan pot-pot yang masih berantakan.
Aku sangat bersyukur sekali,setidaknya ketika kejadian tadi Emir sedang tidur dikamar belakang,sehingga dia tidak melihatnya.
Oh ya,dibagian belakang ruko ini kami sengaja membuat sebuah kamar kecil untuk beristirahat,agar kami tak kerepotan kalau Emir sedang tidur seperti sekarang ini.
"Oh ya Abhi,kenapa jam segini kamu baru datang kesini?" tanyaku sambil berberes.
"Oh ya aku minta maaf karena tak mengabari kalian,tadi aku lagi ada urusan sedikit!" jawab Abhimana.
"Ya udah nggak pa pa!" kataku.
Tiba-tiba terdengar suara tangis Emir
"Eh Nia,itu kayaknya suara tangis Emir,coba deh kamu tengok,mungkin dia sudah bangun" kata Dinda.
"Iya kayaknya itu suara tangis Emir,ya sudah aku tinggal dulu ya!" kataku.
"Ya sudah sana buruan!" kata Dinda.
Ku pun segera berlari ke kamar belakang untuk melihat Emir,dan ternyata memang benar dia sudah bangun.
"Cup cup cup anak pinter,jagoannya bunda kenapa nangis?" kataku mencoba menghentikan tangisan Emir.
"Hiks hiks hiks tadi pas Emil bangun bundanya nggak ada,Emil takut sendilian bunda!" kata Emir sambil sesenggukan.
"Jagoan bunda kenapa takut? bukan jagoan lagi dong namanya kalau Emir penakut!" kataku lembut.
"Tapi Emil nggak mau ditinggal bunda" kata Emir.
"Ya sudah sekarang Emir berhenti nangis ya,kan sekarang bunda sudah ada disini!" kataku.
"Emil sudah nggak nangis lagi kok bunda!" jawab Emir cepat sambil menyeka air matanya.
"Nah gitu dong,ini baru jagoannya bunda" kata ku sambil memeluk Emir.
"Oh ya Emir laper nggak?" tanyaku setelah melepas pelukanku.
"Iya bunda,tapi Emil mau makan disuapin sama bunda" kata Emir.
"Ya sudah,bunda ambilkan makanannya dulu ya!" kataku.
"Iya bunda" jawab Emir.
aku pun segera berlalu mengambil kotak bekal yang kubawa dari rumah dan segera menyuapi Emir.
Setiap hari aku memang sengaja membawa bekal dari rumah,selain untuk menghemat pengeluaran, juga karena Emir lebih suka makan masakanku.
Tak terasa hari sudah sore,kami segera menutup toko dan kembali pulang kerumah.