Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 16



Sesampainya di villa itu aku sedikit bingung dengan kondisinya,villa itu sangat terpencil dan tampak tidak terurus.


Banyak semak belukar tumbuh subur disekitarnya, pohon-pohon tinggi menjulang hingga atap dengan dahan yang tidak pernah dipangkas,serta dedaunan kering yang berserakan dihalaman.


Suasana nampak sunyi mencekam dengan cahaya lampu yang bersinar temaram.Aku merinding ketakutan dan memutuskan untuk pergi dari sana.


Aku pun masuk kembali kedalam mobil,tapi sejurus kemudian kuurungkan niatku,bagaimana jika Arsen telah menungguku didalam pikirku.Aku pun bergegas melangkahkan kakiku kembali memasuki halaman villa itu.


Kucoba menekan bel rumah berkali-kali tapi tidak ada jawaban,kutarik handle pintu dan ternyata pintu itu tidak dikunci,kucoba untuk memberanikan diri masuk kedalam.


Kondisi didalam rumah berbanding terbalik dengan kondisi diluar,didalam semua tertata rapi dan bersih,perabot dan furniturnya pun nampak masih baru dan aroma bunga menyeruak menusuk hidungku sesampainya aku didalam.


Aku memanggil-manggil nama Arsen berulangkali,tetap tidak ada jawaban.


Tiba-tiba pintu tertutup dan dikunci seseorang,aku kembali teringat akan kejadian saat Arsen ingin melamarku dulu,apa mungkin ini perbuatannya lagi,sekarang apa lagi yang ingin dia lakukan.


"Arsen apa itu kamu? kamu dimana? keluarlah,tolong hentikan semua ini.kau sudah membuat aku takut sayang!" teriakku.


tetap tidak ada jawaban hanya kesunyian yang menyapa.


Tiba-tiba sebuah lengan kekar memeluk tubuhku dari arah belakang hingga aku terkejut dan ketakutan dibuatnya.


Aku mencoba melepaskan pelukan itu,tapi semakin aku mencoba melepaskan diri semakin eratlah pelukan itu.


Hembusan nafasnya menerpa ceruk leherku, aroma tubuhnya sangat familiar di hidungku,aku pun kembali tenang karena kutahu ini adalah aroma tubuh Arsen.


"Arsen apa ini kau sayang?"kataku melembut.


"Tolong tenanglah,jangan memberontak lagi!"


Arsen pun membalik tubuhku hingga kini kami saling berhadapan.Arsen menatapku penuh damba,sejurus kemudian ia menciumi bibirku.


Ciuman itu semakin dalam dan berubah menjadi pagutan,aku pun terbuai dengan ciumannya.


Aku mulai membalas pagutannya,lidahnya menerobos masuk kedalam mulutku menari dan mengabsen tiap deretan gigiku,terdengar suara cecapan saat lidah kami saling beradu bertukar Saliva.


Melihatku membalas ciumannya,ia semakin menggelora,ia semakin memperdalam ciumannya.


Ciuman itu pun beralih menuju leherku yang jenjang,disesapnya dan digigit kecil ceruk leherku hingga meninggalkan bekas merah disana.


Aku tersentak kaget saat tangannya mulai meremas payudaraku,kutepis tangannya dan aku mundur beberapa langkah menjauhkan diriku darinya,aku tak ingin kami berbuat lebih.


"Arsen hentikan semua ini,tolong jangan lakukan ini padaku!"


"Aku tak ingin mendengar penolakan darimu!" jawab Arsen sambil merangsek maju dan menarik tanganku.


"Malam ini juga kau akan menjadi milikku seutuhnya" seringainya.


kutarik tanganku dan segera berlari menjauhinya,tapi ia terus mengejar ku hingga aku terpojok disudut rumah.Ia kembali mencengkeram lenganku dengan sangat kuat.


"Auch sakit....kumohon lepaskan tanganku Arsen,kau telah menyakitiku!" ratapku dengan air mata mulai mengalir di pipiku,aku sangat ketakutan melihat wajahnya saat ini.


"Tidak,aku tidak akan melepaskanmu,kau harus melayaniku!"


ia kembali menciumi leherku sambil tangannya meremas payudaraku,aku mencoba memberontak tapi tenagaku kalah dengannya.


Ditariknya dressku dengan sekali sentakan hingga kancingnya terlepas dan dilemparkannya kesembarang arah,terlihatlah kedua payudaraku yang tertutup bra,aku mencoba menutupi tubuhku dengan kedua tanganku.


Ia memandangi diriku sejenak dan kemudian merebahkan tubuhku diatas sofa dan menindih tubuhku,ia kembali melakukan aksinya hingga meninggalkan bekas merah di tubuhku yang putih bersih.


Arsen semakin bersemangat saat menyadari tak ada perlawanan lagi dariku,dan malam itu kehormatanku pun terenggut dariku.


Arsen terkulai lemas disampingku sambil tangannya memeluk tubuhku setelah ia menanamkan benihnya didalam rahimku dan dia pun tertidur karena kelelahan.


Kusingkirkan lengannya dari tubuhku dan aku beranjak mengambil selimut untuk menutupi tubuhku.


Aku terduduk disudut ruangan sambil mataku terus meneteskan air mata,sungguh aku tak menyangka kehormatanku yang kujaga selama ini telah terenggut dariku bahkan oleh kekasihku sendiri.


Aku tak menduga kepulangan ku akan membawa bencana besar bagiku,ternyata inilah arti senyumannya waktu itu,ternyata cintanya tidaklah tulus,aku merutuki kebodohanku sendiri setelah menyadari semuanya.


Aku segera menghapus air mataku dan bergegas memakai pakaianku yang berserakan dilantai kembali,kucari kunci pintu dibalik saku pakaian Arsen dan akhirnya aku menemukannya.


Aku berjalan tertatih-tatih menahan rasa sakit disekujur tubuhku,aku tak ingin berlama-lama disini,aku harus segera pergi sebelum Arsen terbangun.


Sesampainya dimobil aku segera memacu mobilku dengan kecepatan tinggi agar segera sampai dirumah, aku tak perduli lagi dengan omelan orang dijalan saat mobilku tidak sengaja menyerempet mobil mereka,yang kutahu aku harus secepatnya sampai dirumah. Air mataku terus berjatuhan membasahi pipi disepanjang perjalanan.


Sesampainya dirumah malam sudah semakin larut,aku segera berlari masuk kedalam kamarku dan menguncinya rapat-rapat.


Kuhidupkan shower dan aku mengguyur tubuhku sambil terduduk memegangi kedua lututku dibawahnya.


Aku kembali menangis sambil memukuli tubuhku sendiri,aku merasa sangat kotor dengan tubuhku sekarang,aku terus meratapi diriku hingga aku menggigil kedinginan dan tak sadarkan diri.


Tak berselang lama Papa datang mengetuk pintu kamarku,dia ingin bertanya kenapa aku pulang selarut ini, tadi Papa sempat mendengar suara deru mobilku saat aku datang.


Papa merasa curiga setelah sekian lama mengetuk pintu tapi tak juga mendengar sautan dariku,dengan sangat terpaksa akhirnya Papa mendobrak pintu kamarku dan mencari keberadaanku disekeliling kamar.


Papa sangat kaget dan cemas saat menemukanku tergeletak tak sadarkan diri dilantai kamar mandi.


Papa segera mematikan shower dan mengangkat tubuhku,ia merebahkan tubuhku diatas ranjang dan mengganti pakaianku yang basah lalu menyelimuti tubuhku, kemudian ia mengambil ponselnya dan menelepon dokter Faruq, dokter keluarga kami.


"Maafkan saya dokter karena sudah menelepon Anda malam-malam begini!"


"Tidak apa-apa tuan,apa ada yang bisa saya bantu?" terdengar sahutan dari seberang.


"Putri saya tadi tergeletak tak sadarkan diri dikamar mandi tubuhnya menggigil kedinginan,bisakah anda datang sekarang ke rumah saya? saya sangat khawatir dengan kondisinya saat ini!"


"Baik saya akan segera datang!"


"Terimakasih banyak dokter" jawab Papa kemudian mematikan sambungan telepon.


Setelah menelepon dokter Faruq Papa kembali menghampiriku,ia mengambil minyak angin dan menggosokkannya dikakiku dengan kedua tangannya,ia melakukannya berulang kali agar kakiku tidak terlalu dingin,kemudian Papa membangunkan bik Ijah dan memintanya untuk membuatkan ku minuman hangat.


Papa pun kembali menuju kamarku dan terus menggosok-gosok kakiku sambil menunggu dokter Faruq datang.


Tak berselang lama dokter Faruq pun datang,ia segera menuju kamarku setelah diberitahu oleh bik Ijah.


"Permisi tuan!" kata dokter Faruq sambil mengetuk pintu kamarku.


"Ah dokter,akhirnya dokter sampai juga silahkan masuk dok!"


"Tolong segera diperiksa keadaanya dok,saya sangat khawatir!" kata Papa lagi dengan cemas.


"Tenang tuan biar saya periksa dulu keadaanya!"


dokter pun segera mengeluarkan peralatannya dari tas dan mulai memeriksa kondisiku,Papa hanya bisa melihat sambil harap-harap cemas.