
"Baiklah!,biar Papa yang mencari tahu siapa sebenarnya Abhimana" ujar Papa.
"Tapi Papa harus hati-hati ya!,jangan sampai Mas Abhi tahu dan marah lagi sama Kania" ujarku sedikit khawatir.
"Kamu nggak usah khawatir!, Papa sudah punya rencana untuk itu" ujar Papa menenangkan kekhawatiran ku.
Aku pun sedikit bernafas lega mendengar ucapan Papa.
hening,
"Emh, Pa!" panggilku.
"Ya!" sahut Papa.
"Masakin Kania dong!,Kania kangen nih sama masakan Papa.Kan udah lama juga Kania nggak ngerasain masakan Papa" ujarku sambil bergelayut manja dilengan Papa.
Papa pun menoleh kearahku dan tersenyum padaku.
"Emangnya kamu mau dimasakin apa?" tanya Papa.
Sejenak aku berpikir menu masakan apa yang ingin aku makan,kemudian aku teringat pada makanan Nusantara yang pernah kami makan setelah nonton bioskop dulu.
"Ayam bakar Manokwari aja, Pa!,makanan yang pernah kita makan setelah nonton bioskop dulu!" ujarku.
Papa pun mencoba mengingat-ingat makanan yang kumaksud.
"Oh yang itu, Ok!" jawab Papa.
"Makasih banyak ya, Pa!" ujarku sambil tersenyum lebar.
"Kamu itu emang anak Papa yang paling manja" ujar Papa sambil mencubit kecil hidungku.
"Kan emang anak Papa cuma Kania doang!" ujarku.
"Oh iya ya, papa sampai lupa" ujar Papa sambil menepuk dahinya sendiri.
"Papa ini gimana sih!,masak sama anak sendiri lupa" ujarku dengan muka cemberut.
Papa pun tertawa melihat tingkahku.
"Maaf!, Papa tadi cuma bercanda kok.Masak iya Papa lupa sama anak Papa yang cantik ini" ujar Papa sambil mencubit pipiku gemas.
"ish,sakit Pa!" ujarku sambil mengusap pipiku yang terkena cubitan Papa,mukaku semakin cemberut dibuatnya.
tawa Papa pun semakin meledak melihat tingkahku.
"Udah ah,dari tadi tertawa terus!,jadi dimasakin apa enggak nih?" ujar papa setelah ia puas tertawa.
"Ya jadi dong,masak enggak!" jawabku.
"Ya udah,kalau gitu Papa ke dapur dulu ya!" ujar Papa seraya bangkit dari tempat duduknya.
"Kania bantuin ya,pa!" ujarku seraya ikutan bangkit.
"Nggak usah!,nanti kamu malah kecapekan" ujar Papa melarangku.
"Tapi aku bosen kalau cuma duduk-duduk doang,pa!" ujarku memaksa.
"Ya udah,terserah kamu,tapi ingat!,jangan angkat yang berat-berat"ujar Papa memperingatkan ku.
"Ok, Pa!" ujarku bersorak gembira.
"Ya udah,yuk!" ajak Papa.
Aku pun mengikuti langkah Papa menuju kearah dapur,dan sesampainya disana kami segera berkutat dengan bahan-bahan masakan.
"Tolong cuci dulu daging ayamnya,ya!" ujar Papa sambil menyodorkan sebuah baskom berisi daging ayam padaku.
"Siap,pa!" ujarku sambil menerima baskom tersebut dan segera mencuci daging ayamnya.
Papa pun mulai sibuk meracik bumbu-bumbu yang dibutuhkan.
"Ini Pa daging ayamnya sudah selesai dicuci" ujarku sambil menenteng baskom tadi.
"Kamu taruh aja disitu!" ujar Papa sambil menunjuk kearah depannya.
Aku pun meletakkan baskom tersebut sesuai perintah Papa.
"Sekarang apa lagi yang harus Kania kerjakan, Pa?" tanyaku.
"Nggak ada, sekarang kamu duduk aja disitu lihatin Papa masak!,ok" ujar Papa.
"Baik, Pa!" jawabku.
Aku pun menarik sebuah kursi dan duduk diatasnya.
"Usia kandunganmu sudah berapa bulan?" tanya Papa sambil tetap meneruskan aktivitas memasaknya.
Papa pun meletakkan pisau yang dipegangnya dan berjalan mendekatiku, kemudian ia meletakkan tangannya diatas perutku dan mengusapnya lembut.
"Cucu Opa apa kabar? Opa harap kau baik-baik saja .disana,ya!" ujar Papa mencoba mengajak bicara janin dalam perutku.
Terjadi pergerakan dalam perutku, sepertinya anak dalam kandunganku merespon ucapan Papa.
"Pa,lihat deh,dia gerak-gerak.Sepertinya dia merespon ucapan Papa!" ujarku sambil tersenyum dan menunjuk kearah perutku.
Papa pun tersenyum melihat pergerakan di perutku.
"Cucu Opa mau ngajakin main,ya!" ujar Papa lagi.
"Kalau kamu udah lahir, Opa akan ngajakin kamu main sepuasnya,tapi sekarang Opa mau masakin Bundamu dulu ya!".
"Apa kau sudah tahu jenis kelaminnya?" ujar Papa bertanya padaku.
"Belum, Pa,aku dan Mas Abhi sepakat untuk tidak mencari tahu jenis kelaminnya dulu,biarlah itu menjadi kejutan buat kita saat dia lahir nanti" ujarku.
"Ya sudah,itu sih terserah kalian saja, laki-laki ataupun perempuan bagi Papa itu sama saja,yang terpenting kalian berdua sehat-sehat selalu sampai waktu persalinan nanti" ujar Papa
"Papa harap saat persalinanmu nanti kau diberikan kelancaran".
"Amin!" ujarku mengaminkan doa Papa.
"Ya udah Papa lanjutin lagi masaknya,ya!" ujar Papa.
"Iya, Pa!" sahutku.
Papa pun kembali melanjutkan aktivitas memasaknya,dan tak butuh waktu lama harum masakan Papa pun mulai tercium.
"Hemh aromanya enak banget, Pa!.Kania jadi nggak sabar pengen nyobain" ujarku.
Papa pun tersenyum mendengar ucapanku.
"Tunggu dulu sebentar,ya.Tinggal dikit lagi kok!" ujar Papa.
Papa pun menyajikan makanan tersebut diatas piring dan memberikan sentuhan akhir diatasnya.
"Nah udah jadi deh!,Tara ...ayam bakar Manokwari ala Papa siap disantap!" ujar Papa.
"Kita makan sekarang yuk, pa!, Kania udah lapar nih!" ujarku.
"Yuk!, kita kemeja makan sekarang" ujar papa mengajakku.
Kami pun berjalan beriringan menuju meja makan,dan sesampainya disana kami segera menyantap makanan tersebut.Kami makan sambil diselingi obrolan ringan.
"Masakan Papa dari dulu emang yang paling enak!" ujarku memuji masakan Papa.
Papa pun tersenyum mendengar pujian dariku.
"Bagi resepnya dong Pa, biar Kania bisa masakin kayak gini juga Mas Abhi!"
lanjutku.
"Iya,nanti Papa kasih tahu resepnya sama kamu!" jawab Papa.
"Oh ya, usaha toko bunga kamu gimana?".
"Toko bungaku semakin hari semakin ramai, Pa,tapi untuk saat ini Kania tidak turun tangan langsung.Mas Abhi melarang Kania buat kerja selama Kania hamil.Jadi Kania serahin semua urusan toko bunga ke teman Kania!" jawabku.
"Bagus deh kalau begitu!" tukas Papa.
"Oh ya, kapan-kapan ajak temanmu itu main kesini, Papa ingin mengucapkan terimakasih padanya".
"Iya Pa!,Kania janji, lain kali Kania pasti ajak Dinda main kesini" ujarku.
"Oh ya, Pa,Kania pengen cerita sedikit nih soal Dinda!".
"Cerita apa? kamu ngomong aja langsung!" jawab Papa.
Aku pun meletakkan peralatan makanku sebelum bercerita tentang Dinda.
"Papa ingat nggak sama sahabat Papa waktu kuliah dulu? yang pernah main kesini dulu itu, Pa!" ujarku memulai ceritaku dengan bertanya terlebih dahulu.
"Maksudmu temen Papa yang bernama Doni Irawan?" ujar Papa bertanya balik.
"Iya, Pa, benar! Papa ingat kan?" tanyaku lagi.
"Iya ingat!,tapi apa hubungannya Doni dengan temen kamu itu?" ujar Papa bertanya balik padaku.
"Tentu saja ada, Pa!, karena sebenarnya Dinda itu adalah anak satu-satunya pak Doni irawan" terangku.
Papa nampak sangat terkejut mendengar penuturan ku.
"Jangan bercanda kamu!,mana mungkin dia itu anaknya Doni.Seingat Papa wajah anaknya bukan seperti itu" ujar Papa.