
Sementara itu Dinda baru saja tiba di rumahku. Ia langsung meluncur ke rumahku setelah mendapatkan telepon dari Naila.
Melihat kedatangan Tasya, Naila merasa akan terjadi sesuatu yang buruk. Ia takut saat melihat kami saling berteriak. ia mengira kami bertengkar. Untuk itulah dia langsung menghubungi Dinda dan memintanya untuk kesini.
"Abhi, kalian ada masalah apa? Naila tadi menelpon, katanya kalian sedang bertengkar?" tanya Dinda, memberondong Mas Abhi dengan beberapa pertanyaan setelah ia sampai di dalam.
"Siapa lagi penyebab pertengkaran ini kalau bukan wanita ular itu!" ujar Mas Abhi geram.
"Apalagi yang dia perbuat sekarang?".
"Dia mengaku sedang hamil, dan mengatakan kalau itu adalah anakku. Kania sangat marah, dan dia ingin menuntut cerai dari aku" jawab Mas Abhi lirih, mukanya tertekuk, tak sanggup membayangkan andai ia benar bercerai denganku.
"Astaga!, fitnah apa lagi yang kau buat sekarang?" ujar Dinda terkejut.
Sejenak ia terperangah saat mengetahui penyebab pertengkaran kami, tapi tak lama kemudian ia kembali menguasai diri. "Kita lupakan sejenak permasalahan ini. Kau berhutang penjelasan padaku. Sekarang katakan, dimana Naila? kasihan dia. Dia pasti sangat ketakutan sekarang".
Mas Abhi baru tersadar jika Naila masih berada di rumah. " Ya Tuhan, aku sampai lupa dengan Naila. Mungkin sekarang dia ada di kamarnya. Tadi kami sedang sarapan bersama sebelum wanita ular ini datang dan membuat kekacauan."
Dinda tak perduli lagi dengan semua, yang dia pikirkan saat ini hanyalah Naila. Ia gegas berlari menuju kamarnya. Dia takut Naila trauma setelah mengetahui kejadian tadi.
Dinda membuka pintu kamar Naila. Dan benar saja, dia memang ada disana. Dia sedang meringkuk dilantai sambil memeluk kedua lututnya disudut ruangan. Ia menangis sesenggukan.
"Naila!!!" ujar Dinda, ia terkejut melihat kondisinya. Ia segera berlari menghampirinya.
Naila mendongakkan kepala. Melihat kehadiran Dinda, ia segera berhambur ke dalam pelukannya. " Tante Dinda!" teriaknya, menangis sesenggukan.
Dinda merengkuh Naila dalam pelukannya, mengusap kepalanya, dan mencoba menenangkan anak berusia lima tahun itu. "Naila kenapa nangis? terus kenapa tadi duduk di lantai?".
"Tante, apa benar Ayah sama Bunda mau bercerai?" tanya Naila ditengah Isak tangisnya.
"Kata siapa mereka mau bercerai?" tanya Dinda.
"Naila tahu semuanya, Tante. Naila mendengarnya sendiri mereka berkata seperti itu".
"Tenanglah, nak. Semua akan baik-baik saja. Ayah dan Bunda pasti tidak benar-benar akan bercerai".
Naila masih tergugu dalam Isak tangisnya. Perlahan ia mulai mengendurkan pelukan Dinda. Ia memandang penuh arti kearahnya. "Tante, bercerai itu maksudnya berpisah kan?".
"Naila tahu dari mana arti kata itu?".
"Teman Naila yang bilang. Ke dua orangtuanya bercerai, dan dia hanya tinggal bersama ibunya saja. Ayahnya tidak pernah datang menemuinya lagi setelah itu".
"Tante, Naila nggak ingin seperti teman Naila. Naila nggak mau tinggal sama Bunda atau Ayah saja. Naila maunya tinggal sama keduanya, bersama-sama seperti dulu".
Dinda merasakan sakit yang teramat sangat mendengar ucapan Naila. Ia tak menyangka diusianya yang sekecil itu sudah mengetahui makna dari perceraian. Ia tak tega melihatnya.
Dinda kembali membawa Naila ke dalam dekapannya, menyalurkan ketenangan padanya. "Kamu tenang saja, nak. Masih ada Tante disini. Tante tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi".
Setelah Naila sedikit tenang, ia mengendurkan pelukannya. Dihapusnya air mata yang meleleh di pipi Naila. "Sekarang Naila berhenti menangis ya, nanti hilang cantiknya kalau menangis terus".
Naila pun menuruti ucapan Dinda. Dihapusnya air mata yang masih tersisa di pelupuk matanya.
"Nah, gitu kan cantik!" pujinya.
"Sekarang Naila pergi ke sekolah, ya. Biar Tante yang antar. Naila mau, kan?".
Naila menjawab dengan menganggukkan kepala. Ia gegas bangkit dari duduknya. Dinda membantu merapikan pakaiannya kembali. Setelah itu ia menggandeng tangan Naila.
"Abhi, aku mau antar Naila ke sekolah dulu. Kamu urus wanita ini, nanti aku akan kesini lagi" ujar Dinda saat tiba di hadapan Mas Abhi.
Mas Abhi menjawab dengan menganggukkan kepala. Dinda gegas membawa Naila meninggalkan rumah. Ia melewati Tasya tanpa memandang ke arahnya, atau berkata sepatah kata pun.
Dinda memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. tak butuh waktu lama ia pun sampai di sekolah Naila.
"Naila, kamu sekolah yang baik, ya. Jangan berpikiran macam-macam, biar Tante yang urus semuanya. Nanti pulangnya Tante yang akan jemput kamu" ujar Dinda sambil membantu melepas sabuk pengaman di tubuh Naila.
"Anak pintar" puji Dinda, mengusap kepala Naila.
Naila mencium punggung tangan Dinda dan gegas turun dari mobil. Kemudian ia masuk ke dalam sekolahan.
Setelah Naila hilang dari pandangan, Dinda gegas memacu mobilnya lagi, kembali ke rumahku untuk menyelesaikan masalah tadi.
Setelah beberapa lama, ia pun sampai juga. Ia gegas masuk ke dalam dan menghampiri Tasya. " Apa kau sudah gila! Kenapa kau membuat keributan di depan Naila? Apa kau tidak pernah berpikir bagaimana perasaannya? Dia sangat trauma tadi!" maki Dinda, ia langsung meluapkan emosi yang sedari tadi ia tahan karena masih ada Naila.
"Aku tidak perduli!" jawab Tasya santai.
Dinda mendengus kesal, ia mengusap wajahnya kasar. " Kau memang wanita paling tak berperasaan yang pernah aku temui".
Tasya menanggapi ucapan Dinda dengan menyunggingkan senyuman sinis.
"Ok, kita lupakan masalah itu. Sekarang jelaskan bagaimana mungkin kau bisa hamil" tanya Dinda.
"Karena Abhimana sudah menghamiliku!" jawab Tasya, tetap santai.
"Jangan bergurau kamu!. Aku tidak pernah sekalipun menyentuhmu" berang Mas Abhi.
"Tenang dulu, Abhi. Biar dia menjelaskan semuanya" ujar Dinda.
"Mana mungkin aku bisa tenang? gara-gara masalah ini Kania meminta cerai dariku!" ujar Mas Abhi masih emosi.
"Aku tahu itu. Biarkan aku mencoba menyelesaikan masalah ini dulu" jawab Dinda.
Mas Abhi menghempaskan tubuhnya diatas sofa. ia terlihat masih kesal.
Dinda tak menggubris lagi, ia kembali menatap Tasya. "Sekarang katakan sejujurnya padaku. Kau pasti hanya pura-pura hamil, kan? ayo ngaku?".
"Kalau aku bilang aku memang beneran hamil kamu mau apa?" tantang Tasya.
"Jangan coba-coba memancing kemarahan ku. Kalau sampai itu terjadi, aku tidak tahu apakah aku masih bisa menahan diri untuk tidak menyakitimu" geram Dinda, memperingatkan.
Tasya kembali menanggapi ucapan Dinda dengan senyum mengejek. Ia mengulurkan hasil USG tadi padanya. "Kau pasti bisa membaca, kan? jadi silahkan lihat sendiri!".
Dinda menerima foto USG tersebut dengan kasar. Ia melihat dengan teliti. Alangkah terkejutnya ia setelah melihatnya sendiri. Disana tertulis dengan jelas bahwa hasil foto USG tersebut adalah milik Tasya, dan usia kandungannya sudah empat bulan. "Kau beneran hamil?".
"Kau sudah lihat sendiri, kan jadinya bagaimana?" ujar Tasya bertanya balik.
"Cepat katakan, siapa Ayah dari bayi yang kau kandung?" cecar Dinda.
"Bukankah tadi aku sudah bilang, ini anak abhimana" jawab Tasya.
"Tidak mungkin!. Kau pasti bohong, kan" ujar Dinda.
"Ssst... jangan keras-keras, nanti Kania dengar" ujar Tasya sambil menaruh jari telunjuknya dibibir.
"Cepat katakan!!" bentak Dinda.
Tasya tertawa kecil mendengar bentakan Dinda. "Kasih tahu nggak, ya..." ujarnya dengan ekspresi menjengkelkan.
Dinda semakin naik darah ia mengangkat tangannya, hendak melayangkan sebuah tamparan pada Tasya.
Dengan cepat Tasya menangkap tangan Dinda sebelum mendarat di pipinya. "Cukup! jangan coba-coba menyentuh kulitku!".
Dinda menarik tangannya dari genggaman Tasya. Ia terlihat sangat emosi.
"Aku rasa urusanku disini sudah selesai. Aku nggak mau meladeni wanita bar-bar kayak kamu!" hina Tasya.
Tasya melenggang dengan santai, meninggalkan Dinda yang semakin merah padam.