Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 55



Keesokan hari aku segera menghubungi Abhimana.


Tut...


Tut...


"Halo, assalamualaikum" terdengar suara sahutan dari seberang.


"Waalaikum salam,Abhi hari ini kamu sibuk nggak?" tanyaku.


"Nggak,ada apa ya Nia?" kata Abhimana bertanya balik.


"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu!" jawabku.


"Ya udah kamu ngomong langsung aja!" kata Abhimana.


"Nggak bisa Abhi,aku ingin membicarakan hal ini secara langsung,ini sangat penting!" kataku.


"Baiklah kalau begitu aku akan menemuimu di toko bunga" jawab Abhimana.


"Jangan disana Abhi,kita ketemu di kafe yang biasanya aja nanti siang" kataku.


"Baiklah,nanti siang aku akan kesana" jawab Abhimana.


"Kalau begitu aku tutup dulu ya teleponnya" kataku.


dan telepon pun terputus.


Setelah menelepon Abhimana aku segera bersiap untuk pergi ke toko bunga,sementara Abhimana ia nampak berpikir dengan ajakanku tadi.


'Ada apa ya kira-kira Kania mau mengajakku bertemu,tadi dia bilang ada sesuatu yang penting yang ingin dia sampaikan padaku' gumam Abhimana.


'Ah sudahlah,toh nanti aku akan tahu sendiri' gumam Abhimana lagi.


Abhimana pun kembali melanjutkan aktivitasnya.


...****************...


Siang hari aku pun segera meluncur menuju ke kafe yang sudah kami sepakati ditelepon tadi.


Sesampainya aku disana ternyata Abhimana belum datang,aku pun segera mencari kursi yang masih kosong dan memesan sebuah minuman sembari menunggu Abhimana datang.


Tak berselang lama setelah minuman yang kupesan tadi datang Abhimana pun telah datang pula.


Aku segera melambaikan tanganku untuk memberitahukan keberadaanku pada Abhimana.


"Maaf sudah membuatmu menunggu lama!" kata Abhimana setelah ia sampai didekatku dan menghempaskan tubuhnya diatas kursi di depanku.


"Nggak pa pa aku juga baru datang kok" jawabku sambil tersenyum.


"Jadi ada hal penting apa yang ingin kamu sampaikan padaku?" tanya Abhimana.


"Kamu nggak ingin pesan minuman dulu?" tanyaku balik.


"Oh iya aku pesan minuman dulu ya,pelayan...." kata Abhimana sambil melambaikan tangannya memanggil salah satu pelayan.


Seorang pelayan pun menghampiri meja kami dan Abhimana pun menyebutkan minuman yang ingin dipesannya.


Tak butuh waktu lama pelayan itu pun kembali lagi sambil membawa minuman pesanan Abhimana tadi.


"Silahkan dinikmati!" kata pelayan itu setelah meletakkan minuman diatas meja.


"Terimakasih" ucap Abhimana.


dan pelayan itu pun berlalu dari hadapan kami.


"Jadi gimana? hal penting apa yang ingin kamu sampaikan padaku?" tanya Abhimana mengulang pertanyaannya tadi.


"Sebelumnya ada satu hal yang ingin aku tanyakan dulu padamu!" kataku.


"Katakanlah!" ujar Abhimana.


"Apa kau benar-benar tulus mencintaiku dan ingin menikah denganku? tanyaku.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Abhimana balik.


seketika suasana menjadi tegang.


"Jawablah saja pertanyaanku tadi!" kataku.


"Tentu saja,aku tulus mencintaimu dan benar-benar ingin menikah denganmu!" jawab Abhimana meyakinkanku.


"Kau tahu sendiri kan,kau bukanlah yang pertama buatku,aku juga sudah tak suci lagi,apa kau mau menerima semua itu?" tanyaku lagi.


"Bagiku kau tetaplah wanita yang suci,dan aku tak pernah mempersoalkan tentang semua itu!" jawab Abhimana penuh keyakinan.


"Kalau begitu menikahlah denganku!" kataku.


"Maksudmu?" tanya Abhimana sambil mengerutkan dahinya tak mengerti,ia nampak terkejut dengan ucapanku tadi.


"Aku menerima lamaranmu dan aku bersedia untuk menjadi istrimu!" jawabku menjelaskan ucapanku tadi.


"Ya,aku sangat bersungguh-sungguh dengan ucapanku tadi!" jawabku mempertegas ucapanku tadi.


"Alhamdulillah!" ucap Abhimana dengan mata yang berbinar-binar.


"Terimakasih banyak Kania karena kau sudah bersedia menerimaku untuk menjadi suamimu" ujar Abhimana dengan raut wajah bahagia.


"Aku harap kau tidak akan pernah mengecewakanku!" kataku.


"Aku janji aku tidak akan pernah mengecewakanmu!" sahut Abhimana.


"Aku tidak butuh semua janjimu, yang kubutuhkan adalah pembuktian darimu!" kataku.


"Tentu saja,aku akan membuktikan semua ucapanku tadi,kau bisa pegang kata-kataku ini!" kata Abhimana meyakinkanku.


aku pun kembali bernapas lega setelah mendengar ucapan Abhimana tadi.


"Terimakasih banyak Abhi" kataku sambil tersenyum.


"Ayo silahkan diminum" kataku lagi


dan kami pun mulai menikmati minuman yang kami pesan tadi.


"Oh ya, ngomongnya apa kau sudah memberitahukan keputusanmu ini pada Emir?" tanya Abhimana.


"Belum,nanti sepulang dari sini aku akan memberitahunya!" jawabku.


"Emir pasti sangat senang mendengar keputusanmu ini" kata Abhimana.


aku pun hanya menjawab dengan sebuah senyuman.


Obrolan kami pun berlanjut seputar rencana pernikahan kami,dan kami berdua sepakat untuk sesegera mungkin melangsungkan pernikahan kami.


...****************...


Setelah mendapat persetujuan dariku,Abhimana pun mulai menyiapkan pernikahan kami,aku meminta agar acaranya dibuat sesederhana saja dan dilangsungkan dimasjid,rencananya bulan depan kami berdua akan melangsungkan pernikahan.


Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu itu pun tiba,aku segera bersiap dan merias diri dibantu oleh Dinda.


Kukenakan kebaya sederhana berwarna putih yang menutupi seluruh tubuhku,tak lupa pula dengan kerudung berwarna senada yang semakin menambah keanggunan ku.


Tak butuh waktu lama aku pun telah selesai bersiap.Aku, Dinda,dan Emir anakku segera menuju masjid tempat kami akan melangsungkan akad nikah.


Sesampainya kami disana ternyata Abhimana sudah menunggu kedatangan kami,dan tak butuh waktu lama acara


pun segera dimulai.


Seorang penghulu pun menjabat tangan Abhimana


"Saudara Abhimana,saya nikahkan dan saya kawinkan anda dengan saudara Kania Larasati binti Pramono Sudirja dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat sepuluh gram dibayar tunai!" kata penghulu.


dan dengan satu tarikan napas Abhimana pun menjawab


"Saya terima nikah dan kawinnya saudara Kania Larasati binti Pramono Sudirja dengan mas kawin tersebut diatas dibayar tunai!" jawab


Abhimana dengan suara lantang.


"Bagaimana para saksi?"


"SAH!" sahut semua saksi berbarengan.


"Barokalloh wabaroka alaikuma wajama'a bainakuma fii khoir...."


doa pun dipanjatkan untuk mendoakan pernikahan kami berdua.


"Sekarang kalian berdua sudah resmi menjadi sepasang suami istri!" kata penghulu.


Selesai doa aku pun merengkuh tangan Abhimana dan mencium punggung tangannya sebagai tanda hormatku pada imam keluargaku,yang dibalas Abhimana dengan mengecup keningku.


"Terimakasih banyak mas Abhi,aku senang karena sekarang telah menjadi istrimu!" kataku,air mataku pun mengalir karena bahagia.


"Akulah yang berterimakasih padamu karena kamu sudah bersedia menjadi pendamping hidupku!" jawab Abhimana.


"Ngomong-ngomong kau tadi memanggilku dengan sebutan mas?" tanya Abhimana.


"Iya,itu sebagai tanda hormatku ke kamu karena sekarang kamu sudah resmi menjadi imam keluargaku" jawabku sambil tersenyum.


Abhimana pun membawaku kedalam pelukannya,mendekapku dengan penuh cinta.


Acara pernikahan kami berlangsung dengan lancar,walau sederhana tapi tak mengurangi kekhidmatan acara.


Tanpa kami sadari seseorang disudut sana tengah menangis karena bahagia melihat pernikahan kami.


Orang itu mengenakan pakaian serba hitam dan kacamata hitam pula,tak lupa ia juga mengenakan masker agar tak ada orang lain yang mengenalinya.


"Selamat atas pernikahan kalian berdua, aku doakan semoga kalian berdua selalu bahagia,aku merestui pernikahan kalian" ujar orang itu lirih.


Setelah berkata begitu orang itu pun mulai bangkit dan meninggalkan tempat acara tadi sebelum ada orang lain yang menyadari kehadirannya.