
Tak terasa dua bulan sudah Emir bersekolah.Setiap hari sepulang sekolah ada saja yang dia ceritakan,dia selalu menceritakan semua kejadian yang dia alami disekolah dengan riang gembira.
Tapi entah kenapa hari ini dia nampak berbeda,sepulang dari sekolah dia terlihat murung dan tak banyak bicara.
"Emir kenapa nak,kok dari tadi bunda perhatiin Emir murung terus? Emir lagi ada masalah ya disekolah?" tanyaku mencoba mencari tahu.
"Emir nggak kenapa-napa kok bunda,Emir cuma lagi capek aja" kata Emir sambil menyembunyikan wajah sedihnya.
"Emir ke kamar dulu ya bunda,Emir mau istirahat!" kata Emir sambil berlalu dari hadapanku.
"Tunggu dulu Emir,bunda masih ingin bicara sama emir!" kataku mencoba menghentikan langkah Emir,tapi dia seakan tidak mendengarkan ku dan segera masuk ke kamarnya seraya mengunci pintunya rapat-rapat.
Aku pun segera bangkit dan berjalan menuju kamarnya serta mengetuk kamarnya.
tok tok tok
"Emir bukain pintunya dong sayang,bunda mau bicara nak!" kataku selembut mungkin.
"Tolong jangan ganggu Emir dulu bunda,biarin Emir sendiri!" kata Emir.
"Tapi nak!" kataku lagi.
"Emir mohon bunda,tinggalin Emir sendiri!" kata Emir memotong ucapanku tadi.
aku pun menghela napas panjang dan memilih untuk mengalah.
"Ya sudah bunda tinggal,tapi nanti Emir jangan lupa makan ya!" kataku.
Tak terdengar sahutan dari dalam, sepertinya Emir memang ingin sendiri.
Aku pun berlalu dari depan kamar Emir dengan harapan kalau dia akan baik-baik saja.
...****************...
Ternyata harapanku hanya tinggal harapan,karena selama seminggu ini sepulang sekolah Emir masih saja murung.
Aku sudah berulang kali bertanya padanya,tapi dia senantiasa menjawab kalau dia tidak kenapa-napa.
Berulangkali pula aku mencoba membujuknya agar dia mau menceritakan masalahnya,tapi dia senantiasa menghindar dan memilih segera masuk serta mengunci kamarnya.
Rasanya aku sudah putus asa untuk membujuknya,tapi aku merasa dia memang sedang ada masalah yang tidak ingin dia bagi denganku.
Akhirnya aku memutuskan untuk meminta bantuan Abhimana,mungkin saja kalau dengan Abhimana Emir bisa terbuka dan mau menceritakan masalahnya,secara kutahu selama ini mereka begitu dekat.
Aku pun segera menghubungi Abhimana dan menceritakan perihal tingkah Emir akhir-akhir ini,dan Abhimana pun berjanji akan membantuku untuk mencaritahu penyebab perubahan sikap Emir.
...****************...
Hari ini sedang libur akhir pekan, pagi-pagi sekali Abhimana telah mendatangi rumahku dan mengajak kami untuk liburan bareng.
Emir terlihat sangat senang saat tahu bahwa Abhimana akan mengajak kita untuk naik balon udara seperti yang dia inginkan selama ini.
Aku segera menghubungi Dinda dan mengajaknya untuk ikut serta,tapi ternyata dia tidak bisa,dia lagi ada urusan yang penting.
Kami pun segera bersiap, dan setelah sarapan bareng kami pun segera berangkat ke tempat tujuan.
Kami memilih untuk naik balon terbang di Taman Nasional Gunung Bromo Tengger Semeru,yang terletak diantara wilayah administrasi kabupaten Malang dan kabupaten Lumajang.
Kami sengaja memilih tempat itu karena selain tempatnya dekat juga karena pemandangan yang ditawarkan disana sangat menarik.
Sesampainya kami disana Abhimana segera menyewa sebuah balon udara,dan tak butuh waktu lama balon udara pun mulai mengudara.
Emir bersorak kegirangan saat balon udara telah terbang,dan saat kami sampai diketinggian lima puluh meter kami melihat pemandangan yang sangat indah.
Dibawah tampak lautan pasir yang membentang luas disekitar gunung dengan luas sepuluh kilometer persegi,selain itu kami juga bisa melihat kawah dan panorama Gunung Bromo.
Satu hal yang aku sesalkan,kenapa tadi kita tak berangkat pagi-pagi sekali.Karena kalau kita bisa sampai ditempat ini sebelum matahari terbit,maka kita bisa melihat keindahan sunrise terbaik disini.
"Gimana emir? Emir suka nggak naik balon terbang?" tanya Abhimana pada Emir.
"Suka Om,suka banget!" kata Emir.
Emir pun mulai mengambil ancang-ancang dan bersiap untuk berteriak mengikuti saran dari Abhimana.
a.......
teriak Emir sekencang-kencangnya.
"Gimana emir?" tanya Abhimana.
"Seru banget om,om Abhi ikutan teriak juga dong!" kata Emir.
"Ya udah, sekarang kita teriak bareng ya!" kata Abhimana.
dan mereka berdua pun berteriak sekencang-kencangnya.
Setelah puas berteriak mereka pun tertawa bersama, aku pun ikut tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah mereka berdua.
Setelah beberapa lama kami pun turun,aku pun mengajak mereka berdua untuk masuk kesalah satu kafe disini.Mendadak wajah Emir berubah murung lagi.
"Emir kenapa? kok tiba-tiba murung begitu!" tanya Abhimana.
Emir pun hanya menjawab dengan gelengan.
"Atau mungkin Emir mau mencoba menaiki kuda,nanti kita bisa melihat kawah Gunung Bromo dari dekat!" kata Abhimana lagi mencoba menawarkan hal lain.
Emir pun kembali menjawab dengan gelengan kepala.
"Kalau Emir nggak kenapa-napa terus kenapa Emir sedih,kalau Emir begini kan om jadi ikutan sedih!" kata Abhimana sambil berpura-pura sedih.
"Ya udah Emir cerita,tapi janji ya jangan marah sama emir!" kata Emir.
"Janji!" jawab Abhimana.
Emir pun menghela napas panjang,sejenak dia memandangi diriku.
"Ada apa nak? ayo cepat cerita!" kataku mendesak Emir untuk bicara.
"Apa benar Emir anak haram, bunda?" tanya Emir tiba-tiba.
Aku terperanjat mendengar pertanyaan yang diajukan Emir,aku tak mengira dia akan bertanya seperti itu.
"Kenapa Emir nanyanya seperti itu nak?" tanyaku pada Emir.
"Sebenarnya bunda,selama ini teman-teman Emir selalu menghina Emir karena Emir nggak punya ayah,mereka bilang Emir anak haram,makanya Emir nggak punya ayah,apa benar begitu bunda?" tanya Emir dengan sendu.
Aku terdiam mendengar penuturan Emir,ternyata inilah alasan dibalik kesedihannya selama ini.
Oh Tuhan,kenapa kau mengujiku seperti ini.Diusianya yang masih kecil, kenapa Emir harus menanggung kesalahan yang tak pernah diperbuatnya.Bagaimana caraku untuk menjelaskan hal yang sebenarnya padanya.
Aku pun merengkuh Emir dan membawanya kedalam pelukanku,kubelai rambutnya dengan lembut seraya air mataku yang mengalir deras membasahi pipiku.
"Bunda kenapa nangis? ucapan Emir tadi melukai hati bunda ya,Emir minta maaf ya bunda" kata Emir seraya melepas pelukanku.
"Nggak kok nak,bunda nangis bukan karena ucapan Emir!" kataku sambil menyeka air mataku.
"Maafin bunda ya Emir,bunda nggak bisa ngasih tahu hal yang sebenarnya sama Emir sekarang!" kataku lagi.
"Tapi kenapa bunda?" tanya Emir.
"Tolong mengertilah nak,bunda janji suatu saat nanti bunda akan menceritakan semuanya sama Emir!" kataku.
"Baiklah kalau begitu!" kata Emir sambil menunduk sedih.
"Hey, kenapa Emir jadi sedih lagi?" kata Abhimana.
"Nggak pa pa kok om!" jawab Emir lirih.
"Emir pingin punya ayah kan,gimana kalau om Abhi yang menjadi ayahnya Emir?" kata Abhimana.