
Ditengah jalan saat kami dalam perjalanan pulang,kulihat seorang wanita tua dipinggir jalan,ia nampak kerepotan membawa barang belanjaannya.Aku merasa seakan pernah mengenal wanita itu.
"Sepertinya aku pernah mengenal wanita tua itu deh, Mas!" ujarku sambil mencoba mengingat-ingat siapa wanita itu.
"Oh ya,itu adalah bik Ijah,Mas!" pekikku setelah aku mengingat siapa wanita itu.
"Siapa itu bik Ijah?" tanya Mas Abhi.
"Bik Ijah itu asisten rumah tangga dirumah papa," jelasku.
"Oh...".
"Stop stop, berhenti dulu Mas!,aku mau bicara sebentar sama dia" ujarku.
Mas Abhi pun segera menepikan mobilnya dipinggir jalan,dan aku pun segera turun dan menghampiri wanita tersebut, Mas Abhi pun ikutan turun dari mobil dan menyusulku dibelakang.
"Permisi Bu!,ibu ini namanya Ijah, kan?" tanyaku pada ibu itu setelah aku sampai dihadapannya.
"Iya neng!,nama saya Ijah.Neng ini siapa ya? kok bisa tahu nama saya?" ujar bik Ijah,dipandanginya diriku lekat-lekat.
"Bik Ijah ini saya bik, Kania!" ujarku memperkenalkan diriku.
"Kania? ini non Kania?" tanya bik Ijah masih tak percaya.
"Iya bik,ini saya, Kania" ujarku lagi meyakinkannya kalau dia tidak salah.
"Ya Allah,non,bik Ijah sampai pangling lihat penampilan non!.Non Kania semakin cantik sekarang" ujar bik Ijah,ada binar kebahagiaan dimatanya melihatku ada didepannya saat ini.
Aku pun tersenyum mendengar ucapan bik Ijah.
"Bik Ijah apa kabar?" tanyaku.
"Bibik baik non,non Kania sendiri apa kabar?" ujar bik Ijah bertanya balik.
"Kania baik bik,oh ya bik kenalin ini suami Kania, namanya Abhimana!" ujarku memperkenalkan Mas Abhi yang berdiri di sampingku pada bik Ijah.
"Mas Abhi,ini bik Ijah,asisten rumah tangga Papa!" ujarku pada Mas Abhi.
Mas Abhi pun menjabat tangan bik Ijah.
"Abhimana!" ucap Mas Abhi memperkenalkan namanya.
"Saya bik Ijah,den,asisten rumah tangganya Papanya non Kania!" ujar bik Ijah balik memperkenalkan dirinya.
"Suami non Kania sangat tampan,mana sopan lagi orangnya!" ujar bik Ijah memuji Mas Abhi.
Aku pun tersenyum mendengar ucapan bik Ijah.
"Kita duduk disana aja yuk,Kania mau ngobrol sebentar saja bibik!" ujarku.
"Baik,non!" jawab bik Ijah.
Kami pun segera melangkah menuju bangku yang berada tidak jauh dari sana.
"Gimana keadaan Papa,bik?" tanyaku setelah kami duduk disana.
Wajah bik Ijah berubah muram saat mendengar pertanyaanku.
"Semenjak non pergi dari rumah, Tuan sering melamun sendirian.Sepertinya beliau sangat menyesal sudah mengusir non dari rumah" jawab bik Ijah.
Aku pun tersenyum tipis mendengar penjelasan bik Ijah.
"Pulanglah non,kembalilah ke rumah!" pinta bik Ijah padaku.
"Maafkan Kania,bik, Kania tidak bisa!" ujarku menolak permintaan bik Ijah.
"Kasihan Tuan,non!.Semenjak non pergi dari rumah,tuan jarang makan,beliau juga sering sakit-sakitan sekarang" ujar bik Ijah menjelaskan kondisi Papa.
"Terus kondisi Papa sekarang gimana,bik? apa dia sudah ke rumah sakit?" tanyaku khawatir setelah mendengar ucapan bik Ijah tadi.Aku takut penyakit papa kambuh lagi.
"Tuan selalu menolak untuk dirawat di rumah sakit,non.Tuan hanya mau dirawat dirumah oleh dokter Faruq saja.Sesekali dokter datang kerumah untuk memeriksa keadaan Tuan" ujar bik Ijah.
"Non Kania tahu nggak!,selama ini Tuan selalu memperhatikan non dari jauh,setiap non mengalami masalah Tuan pasti membantu non,tapi tuan selalu melakukan semua itu secara diam-diam" ujar bik Ijah lagi.
Aku terdiam mendengar ucapan bik Ijah, tiba-tiba aku teringat dengan beberapa kejadian aneh yang terjadi padaku akhir-akhir ini.
"Emh bik,Kania mau nanya sesuatu yang penting,bik Ijah tolong jawab yang jujur ya!" ujarku,wajahku berubah serius seketika.
"Mau nanya apa non?" kata bik Ijah,dia ikutan tegang melihat perubahan wajahku.
"Dulu Kania pernah mengalami koma selama beberapa hari di rumah sakit akibat benturan keras diperutku waktu Kania hamil tua,waktu itu temen Kania pernah bilang kalau ada seseorang yang membantu membayarkan biaya rumah sakit.Apakah itu Papa,bik?" iya non,itu memang Papa non yang bayarin.
"Terus pernah ada kejadian sebuah bar tempat Kania dulu bekerja tiba-tiba ditutup tanpa ada alasan yang jelas.Temen Kania bilang kalau manager itu pernah berkata kalau Kania tidak mau kembali bekerja disana ,maka semua yang bekerja di bar akan mengalami masalah,apakah itu ulah Papa juga bik?" tanyaku lagi.
"Benar,non, Tuan marah besar saat tahu kejadian yang menimpa non disana, seketika itu juga beliau menutup bar itu" jawab bik Ijah lagi.
"Satu lagi bik,ini terjadi belum lama ini,ada seseorang yang tiba-tiba mengantarkan sebuah mobil pada temen Kania,dia bilang itu atas perintah seseorang sebagai ganti mobil temen Kania yang dijual untuk modal membuka usaha toko bunga,apa itu Papa juga yang melakukan, bik?" tanyaku lagi.
"Benar ,non,semua itu memang tuan yang melakukannya!" jawab bik Ijah lagi.
Aku terdiam mendengar ucapan bik Ijah, tubuhku lemas seketika setelah mengetahui hal yang sebenarnya.
Ternyata selama ini orang yang selalu membantuku tidak lain dan tidak bukan adalah Papaku sendiri,orang yang kukira sudah tidak perduli lagi padaku.
Aku menangis tersedu-sedu mendengar kenyataan ini, Mas Abhi pun memelukku dan mencoba menenangkanku.
"Sudahlah, honey!, berhentilah menangis" ujar Mas Abhi sambil mengusap kepalaku.
"Aku sudah salah sangka dengan Papa,mas,aku ini anak yang durhaka!" ujarku merutuki diri sendiri sambil terus menangis di pelukan Mas Abhi.
"Ini semua bukan kesalahanmu, honey,kau hanya tidak tahu yang sebenarnya!" ujar Mas Abhi.
Aku pun melepaskan diri dari pelukan Mas Abhi.
"Antarkan aku kerumah Papa,mas!, aku ingin ketemu dia sekarang" ujarku dengan sedikit memaksa.
"Baiklah, Mas akan antarkan kamu kesana sekarang!,tapi kamu harus berhenti menangis dulu" ujar Mas Abhi.
Aku pun berhenti menangis dan menghapus air mata yang meleleh di pipiku.
"Aku tidak menangis lagi,mas!,antarkan aku kesana sekarang" pintaku lagi.
"Baiklah,ayo!" ujar Mas Abhi seraya bangkit dari tempat duduk.
aku pun ikut bangkit dari tempat duduk, sejenak aku menoleh kearah bik Ijah.
"Bibik tadi perginya naik apa?" tanyaku pada bik Ijah.
"Bibik tadi naik taksi non, kebetulan tadi bibik lagi nungguin taksi lewat waktu ketemu sama non" jawab bik Ijah.
"Kalau begitu sekarang bibik ikut mobil kita aja bik!,kita pulang kerumah Papa bersama-sama" ajakku pada bik Ijah.
"Baik non" jawab bik Ijah.
Aku pun meminta Mas Abhi untuk membantu membawakan barang belanjaan bik Ijah ke mobil,dan kami pun segera meluncur menuju rumah papa.
*
*
*
Hai reader semua bantuin author dong dengan memberikan like, koment,favorit dan vote sebanyak-banyaknya biar author semangat terus buat ngelanjutin ceritanya.
Kalau like nya sedikit author jadi sedih nih.....ðŸ˜ðŸ˜
buat yang mau bantuin,author doain semoga rezekinya makin lancar,amin....
udah dulu ya....bye👋