Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 33



"Kau ingat nggak waktu terakhir kali kau dirumah sakit,waktu itu aku pernah bilang ingin mengatakan hal penting padamu tapi belum sempat karena keburu ada perawat yang datang" kata Dinda.


aku mencoba mengingat-ingat kembali saat terakhir kali aku berada dirumah sakit.


"Iya sekarang aku ingat" kataku akhirnya.


"Tapi apa hubungannya hal yang ingin kau bicarakan denganku dulu dengan biaya hidup anakku?" tanyaku tak mengerti.


"Tentu saja ada,makanya dengerin dulu aku ngomong!" jawab Dinda.


Dinda pun mengambil posisi duduk berhadapan denganku.


"Waktu itu aku ingin membayar biaya rumah sakitmu dengan uang hasil dari penjualan jam tanganmu waktu itu,tapi saat aku menuju bagian administrasi ternyata semua biayanya sudah dibayar lunas" ujar Dinda.


"Sudah dibayar lunas,tapi siapa orang yang sudah membayarnya?" tanyaku sambil mengernyitkan dahi.


"Entahlah aku juga tidak tahu siapa orangnya,petugas bilang orang itu tidak ingin disebutkan namanya" jawab Dinda.


"Dan bukan hanya itu saja Nia,orang itu bahkan mengembalikan uang yang sempat aku bayarkan sebagai uang muka dulu!" kata Dinda lagi.


"Siapa ya kira-kira orang yang sudah membayar biaya rumah sakitku?" kataku sambil berpikir.


"Aku masih menyimpan uang dari hasil penjualan jam tanganmu itu didalam almari dan aku juga minta maaf karena aku sibuk mengurus bayimu sampai aku lupa mengatakan hal ini padamu" ujar Dinda.


"Tidak apa,memang sebaiknya kau saja yang menyimpan uang itu!" jawabku.


"Tapi hal yang masih tidak aku mengerti adalah siapa orang yang sudah membayar biaya rumah sakitku,dan kenapa dia mau melakukannya!" kataku masih tak mengerti.


"Sudahlah jangan terlalu kau pikirkan, mungkin ini memang sudah rezeki untukmu dan juga anakmu!" kata Abhimana.


"Iya,anggap saja memang seperti itu!" Dinda ikut menimpali.


"Siapapun orangnya aku sangat berterima kasih padanya!" ujarku akhirnya.


"Kalau begitu aku mau pamit pulang dulu,aku masih ada urusan lagi setelah ini!" kata Abhimana.


"Aku akan mencarikan tempat rehabilitasi yang cocok untukmu nanti!" lanjut Abhimana.


"Terimakasih sebelumnya Abhimana" kataku tulus.


"Sama-sama, aku akan mengabarimu secepatnya kalau aku sudah mendapatkan tempat yang bagus dan satu lagi kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk meminta bantuanku!" jawab Abhimana sambil tersenyum.


"Baiklah,sekali lagi aku ucapkan terima kasih!"


"Ya sudah aku permisi dulu!"


dan Abhimana pun berlalu dari rumah kami.


...****************...


Tengah malam saat aku tengah terlelap dalam tidurku aku bermimpi sesuatu yang sangat mengerikan,aku bermimpi dunia telah kiamat.


Dalam mimpi itu aku melihat bumi mengalami gempa yang sangat hebat, banyak gedung-gedung tinggi yang roboh, pohon-pohon bertumbangan dan longsor yang terjadi dimana-mana.


Terdengar teriakan panik orang-orang dan jerit tangis anak-anak yang terpisah dari orangtuanya.Semua orang berlarian untuk menyelamatkan diri mereka sendiri tanpa memperdulikan anak atau keluarga mereka lagi.


Begitu juga dengan aku,aku terus berlari mencari tempat yang aman untuk berlindung.


Tak berselang lama gempa pun mulai reda, semua orang yang selamat pun bernapas lega.


Keadaan sangat mencekam selepas gempa bumi itu usai,langit juga sangat gelap tanpa ada kerlip bintang.Akan tetapi keadaan itu tak berlangsung lama.


Tiba-tiba dari arah barat muncul sebuah cahaya merah yang sangat pekat dan ternyata itu adalah lahar panas.


Banjir lahar itu terus mendekat menerjang dan menghancurkan setiap benda yang ia temui.


Kami pun kembali berlarian menyelamatkan diri, beberapa orang tampak mencoba memanjat reruntuhan gedung yang masih agak tinggi.


Tak berselang lama banjir lahar pun mulai surut akan tetapi hawa panas masih menyelimuti bumi.


Perlahan keadaan mulai membaik,kami pun kembali bernapas lega dan memutuskan untuk turun dari sana.Akan tetapi saat kami mulai turun tiba-tiba turunlah hujan api.


Hujan itu berbentuk sebuah bola api yang sangat besar dengan api yang menyala-nyala,ia terus menghantam dan menghujani kami tanpa ampun.


Aku pun berteriak keras saat sebuah bola api hampir mengenai tubuhku,tiba-tiba sebuah tangan menarikku dan menyelamatkanku dari sana.


Aku mencoba mengenali wajah orang yang sudah menyelamatkanku tadi,tapi tiba-tiba tubuhku terguncang dengan keras dan aku pun terbangun.


Saat aku membuka mata kulihat Dinda tengah duduk di sampingku,dia terus memandang wajahku dengan kebingungan.


Dinda terbangun dan langsung berlari menuju kamarku saat mendengar teriakkan ku tadi.


Perlahan aku pun mulai mengatur deru nafasku yang masih memburu dan menghapus peluh yang membasahi keningku.


"Ada apa Kania? kenapa kau tadi berteriak kencang?" tanya Dinda dengan cemas setelah melihatku sedikit tenang.


aku tak menjawab pertanyaan yang diajukan Dinda dan malah memeluknya erat.


Dinda pun membalas pelukanku dan mengelus punggungku memberikan ketenangan padaku.


"Ada apa Kania? coba kau ceritakan padaku!" kata Dinda lagi setelah aku melepas pelukanku.


"Aku tadi mengalami mimpi yang sangat mengerikan,ak - aku...." jawabku sambil terbata-bata.


"Minumlah air putih ini dulu!" kata Dinda sambil menyodorkan segelas air putih padaku.


aku pun meminum habis air putih yang disodorkan oleh Dinda dan menyerahkannya kembali gelas itu pada Dinda.


"Sudah jangan dipikirkan lagi itu hanya mimpi anggap saja itu bunga tidur!" kata Dinda setelah aku selesai minum.


"Tidurlah kembali,ini masih malam!" lanjut Dinda sambil menyelimuti tubuhku.


Aku pun mengangguk dan menuruti ucapan Dinda.


"Kalau begitu aku kembali dulu ke kamarku!" kata Dinda lagi.


Dinda pun bangkit dari tempat tidurku dan kembali menuju kamarnya,sedangkan aku mencoba memejamkan mataku kembali.


...****************...


Siang hari aku masih terus memikirkan tentang mimpi itu,aku merasa mimpi itu bukan hanya sekedar bunga tidur karena mimpi itu terlihat sangat nyata.


Mimpi itu terus terngiang dan mengganggu pikiranku,aku ingin menceritakan mimpi ini pada Dinda tapi kurasa ia takkan percaya.


Ditengah kebingunganku aku teringat dengan Abhimana,aku rasa mungkin ia mau mendengar ceritaku dan membantuku.


Aku pun segera menghubungi Abhimana dan mengajaknya untuk bertemu dan dia pun menyetujui ajakanku karena kebetulan ia juga sedang tidak sibuk,kami sepakat untuk bertemu disebuah kafe yang berada tidak jauh dari rumahku.


Aku segera bersiap dan mengambil tas tanganku lalu segera menuju kafe itu.


Sesampainya disana tampak Abhimana sudah menungguku,aku pun segera menghampirinya.


"Abhimana aku minta maaf karena sudah mengganggu waktumu" kataku setelah aku sampai di depannya.


"Tidak apa,duduklah dulu!" kata Abhimana.


aku pun menarik sebuah kursi dan duduk diatasnya,kami duduk dengan posisi saling berhadapan.


"Ada masalah apa? kenapa kau memintaku untuk bertemu?" kata Abhimana setelah aku duduk.


"Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan padamu!"


"Katakan ada apa!" kata Abhimana.