
Sejak makan malam itu Papa terus mendesakku agar menerima permintaannya untuk melanjutkan studiku di university of Cambridge,aku pun hanya terus menjawab akan memikirkan hal tersebut.
Aku tahu Papa hanya ingin yang terbaik untukku dan sejujurnya aku memang ingin melanjutkan studiku,tapi bukan diluar negeri melainkan di Indonesia saja.Rasanya berat meninggalkan Papa sendirian disini,dan lagi aku ingin lebih banyak menghabiskan waktuku bersamanya.
Setelah sekian lama Papa bersikap dingin padaku,akhirnya kini ia telah berubah.Ia menjadi hangat terhadapku,dan itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa aku ingin melanjutkan studi di Indonesia saja.
Akan tetapi hari ini Papa mengancamku untuk segera mengambil keputusan dan dengan sangat terpaksa aku pun menyetujui permintaannya.
...****************...
Pagi-pagi sekali David,asisten pribadi Arsen menghubungiku,ia mengatakan bahwa Arsen sedang dalam masalah besar dan memintaku untuk segera datang kesebuah rumah yang ada dipinggir kota.
Aku sungguh panik saat mendengarnya.Aku bergegas mencuci muka dan berganti pakaian,aku tidak punya banyak waktu untuk sekedar membersihkan diri karena dari nada suaranya, asisten itu terdengar sangat khawatir,aku tak ingin terjadi hal-hal yang buruk pada Arsen.
Kusambar kunci mobilku diatas nakas dan bergegas menuju ke basement, kupacu mobilku dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya di tempat yang telah ditunjukkan oleh David aku sungguh bingung karena suasana disana tampak lengang dan tak menunjukkan bahwa telah terjadi sesuatu.Aku pun bergegas masuk kedalam rumah untuk mencari tahu.
Sesampainya didalam rumah itu aku semakin dibuat bingung,rumah itu sangat gelap dan tak menunjukkan tanda-tanda adanya orang didalamnya.
Ditengah kebingunganku tiba-tiba pintu ditutup dari arah luar,aku sangat terkejut.
Kugedor pintu berulang-ulang kali untuk meminta bantuan,tapi tetap tidak ada sahutan,aku sungguh sangat takut,semua hal-hal buruk tiba-tiba terlintas dipikiranku.
Sekelebat bayangan pun datang melintas,membuatku semakin ketakutan.
Tiba-tiba lampu menyala dan tampak Arsen tengah berdiri di depanku.Aku segera memeluk dirinya dan mengecek kondisinya.
"Arsen bagaimana kondisimu,kamu baik-baik saja kan? aku tadi sungguh takut sekali tiba-tiba pintu ditutup dari luar!" ujarku.
"Kamu yang tenang dulu ya sayang,aku nggak pa pa kok,semuanya baik-baik saja" Kata Arsen menenangkanku.
"Tapi tadi kata David kamu sedang dalam masalah besar!" kataku lagi.
"Aku nggak pa pa,sebelumnya aku minta maaf karena sudah membuatmu cemas,tadi memang aku yang menyuruh David untuk memintamu datang kesini!" kata Arsen memberi penjelasan.
mendengar penjelasan Arsen aku pun bernafas lega. Tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jasnya dan berlutut di depanku.
"Kania Larasati maukah kau menjadi istriku serta ibu dari anak-anakku kelak?" kata Arsen sambil mempersembahkan sebuah cincin padaku.
Sejenak aku terdiam tenggorokanku tercekat tak bisa berkata apa-apa,aku bingung harus menjawab apa.
"Maafkan aku Arsen,aku tak bisa" jawabku lirih.
"Tapi kenapa? apakah kau tak ingin menikah denganku?" tanya Arsen.
"Bukan begitu,aku mencintaimu dan sungguh ingin menikah denganmu,tapi untuk saat ini aku belum bisa" jawabku.
"Kenapa kita tidak bisa menikah?bukankah sekarang kau sudah lulus kuliah?" tanya Arsen lagi.
"Itu memang benar,tapi Papa memintaku untuk mengambil program Pascasarjana ke Inggris dan aku sudah menyetujuinya" kataku memberi penjelasan.
"Baiklah kalau itu keinginanmu!" jawab Arsen lirih.
Arsen tertunduk lesu,ia nampak sangat kecewa dengan jawabanku.
"kumohon jangan marah padaku mengertilah akan kondisiku saat ini,aku janji aku akan menyelesaikan studiku secepatnya setelah itu kita akan menikah" ujarku sambil menggenggam tangan Arsen.
"Aku tak marah,ini keputusanmu dan aku menghargainya" jawab Arsen.
"Kalau begitu kita makan dulu,kamu pasti belum makan tadi kan? ayo kemari aku sudah menyiapkan makanan untuk kita" ajaknya sambil menggandeng tanganku
aku pun berjalan mengikuti langkah Arsen menuju ke meja makan yang terletak tidak jauh dari sini.
Disana nampak meja telah ditata dengan sangat indah.Terdapat lilin-lilin serta bunga yang memberi kesan romantis,hidangan pun telah tersaji diatas meja.
Arsen benar-benar mempersiapkan semua ini untuk melamarku,aku semakin merasa bersalah karena sudah menolaknya.
Ketika makan Arsen lebih banyak diam dan hanya menanggapi seperlunya saja saat aku mencoba mengajaknya bicara.
Sorot matanya menyiratkan kekecewaan yang mendalam,membuatku menjadi goyah dengan keputusanku tadi.
Aku bergegas menyelesaikan makanku dan segera berpamitan untuk pulang,aku tak kuasa melihat wajah sedih Arsen lebih lama lagi.
Arsen pun melepas kepergianku dengan senyum yang dipaksakan,tanpa ia memelukku terlebih dulu seperti biasanya.
...****************...
Aku sungguh dilema saat ini,aku bingung harus memilih yang mana. Disatu sisi aku tak ingin melihat kesedihan diwajah Arsen karena menolak lamarannya waktu itu,disisi lain aku juga tak ingin mengecewakan hati Papa karena menolak permintaannya untuk melanjutkan studi di Inggris.
Keduanya begitu berarti untukku dan aku tak ingin menyakiti hati keduanya.Aku pun memutuskan untuk pergi ke taman kota untuk melepas beban pikiranku sejenak.
Aku segera berganti pakaian dan menyambar kunci mobilku diatas nakas,kemudian bergegas menuju ke basement.
Mobil pun melesat membelah jalanan kota yang ramai,kupacu mobilku dengan kecepatan sedang.
Sesampainya di taman kota aku duduk termenung sambil menatap ikan-ikan di kolam yang ada ditengah-tengah taman.
Sayup-sayup kudengar suara seorang wanita yang sedang menangis,aku penasaran dengan apa yang terjadi dan memutuskan untuk menghampiri wanita tersebut untuk mencari tahu.
"Maaf mbak boleh ikutan duduk disini" ujarku sesampainya didekat wanita itu.
"Oh ya silahkan!" kata wanita itu sambil menyeka air matanya.
"Mbak habis menangis ya,kalau boleh tahu ada masalah apa mbak?" tanyaku.
wanita itu tak menjawab dan hanya tertunduk lesu.
"Eh maaf mbak kalau saya ikut campur,mbak nggak usah menjawab pertanyaan saya tadi kok!" kataku merasa bersalah.
"Nggak pa pa kok,aku akan ceritakan!" jawabnya sambil tersenyum kecil.
sejenak dia mengambil nafas dan membuangnya pelan-pelan,kemudian dia memulai ceritanya
"Papaku ingin aku melanjutkan studiku diluar negeri tapi aku menolak permintaannya,dan karena penolakanku itu Papa jadi sakit dan akhirnya meninggal dunia!" ceritanya singkat.
deg!!!
hatiku tertohok dengan penuturan wanita itu,ternyata masalah yang kami hadapi hampir sama.
"Saya juga mengalami masalah yang sama dengan yang mbak alami,hanya saja aku belum memutuskan!" jawabku.
wanita itu mulai tertarik dengan penuturanku.
"Coba mbak cerita barangkali saya bisa bantu!" ujar wanita itu.
"Sama seperti yang dialami mbak tadi Papa juga memintaku untuk melanjutkan studi di Inggris,tapi dilain sisi kekasihku juga mengajakku untuk menikah,sekarang aku bingung harus memutuskan yang mana?" ujarku menceritakan masalahku.
"Kalau saya boleh saranin lebih baik mbak menerima permintaan Papa mbak saja untuk melanjutkan studi di Inggris,jangan sampai mbak menyesal seperti saya karena sudah menolak permintaanya,dan lagi itu juga kan buat masa depan mbak sendiri!" katanya sambil tersenyum.
"Dan untuk kekasih mbak,kalau dia memang benar-benar mencintai mbak dia pasti akan mendukung setiap keputusan yang mbak ambil,ingat mbak jodoh nggak akan kemana.kalau memang kalian sudah ditakdirkan untuk bersama pasti akan ada jalan untuk itu!" nasehatnya panjang lebar.
aku pun tersenyum mendengar penuturannya,hatiku menjadi lega. Sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan.
"Makasih ya mbak atas nasehatnya,sekarang saya tahu apa yang harus saya lakukan.Oh ya ngomong-ngomong dari tadi kita ngobrol tapi belum tahu nama satu sama lain,kenalkan nama saya Kania" kataku sambil tersenyum dan mengulurkan tangan mengajak berjabat tangan.
"Nama saya Reina,senang bisa berkenalan dengan mbak!" jawabnya sambil membalas jabat tanganku.
Kami pun melanjutkan obrolan kami,tak terasa hari mulai gelap aku pun berpamitan untuk kembali kerumah.
sesampainya di rumah aku segera masuk kamar dan merebahkan tubuhku diatas ranjang,hatiku terasa ringan setelah mengobrol dengan Reina tadi,aku pun segera masuk ke alam mimpi dengan tersenyum.