Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 96



"Sebenarnya aku adalah seorang wanita simpanan, dan wanita yang memukuli ku tadi adalah istri sah dari lelaki yang aku kencani" ujar Tasya, menundukkan kepala.


"Apa???" teriakku terkejut.


"Benar Kania, aku adalah seorang wanita simpanan!" ujar Tasya lagi.


"Apa kau sudah tidak waras!, Kenapa kau melakukan hal serendah itu?" teriakku marah.


"Tolong pelankan suaramu, Kania. Lihat, semua orang memandang kearah kita" ujar Tasya menyadarkanku.


Aku pun memandang ke sekeliling. Dan benar saja, semua mata memandang ke arahku. Sepertinya mereka terganggu dengan suara teriakan ku tadi.


Aku mengangkat kedua tanganku di depan dada sebagai tanda permohonan maaf kepada mereka. Mereka pun kembali fokus dengan urusan mereka masing-masing.


"Kenapa kau memilih untuk menjadi wanita simpanan Tasya?" tanyaku mengulang kembali pertanyaanku tadi.


"Aku terpaksa Nia!" jawab Tasya.


"Apapun alasannya, itu tidak bisa membenarkan apa yang sudah kau lakukan" ujarku.


"Aku tahu aku salah. Tapi dengarkan dulu penjelasanku" ujar Tasya, mendongakkan kepala.


"Lalu Apa alasannya? ayo cepat katakan!" ucapku menuntut jawaban.


Sejenak Tasya terdiam, tapi tak berselang lama ia bicara kembali.


"Sebenarnya setelah terakhir kali kita bertemu, aku dikejar-kejar oleh para rentenir" jawab Tasya.


"Bagaimana bisa?" tanyaku tak mengerti.


"Aku terpaksa mengambil pinjaman dari rentenir untuk memenuhi gaya hidupku yang mewah. Aku bahkan tidak sadar dengan resikonya. Aku semakin ketakutan saat mereka mengancam akan memasukkan ku ke penjara".


"Kemudian aku bertemu dengan lelaki yang kini aku kencani. Dia mau membantu melunasi semua hutang-hutang ku, tapi dengan satu syarat. Aku harus bersedia menjadi wanita simpanannya. Karena tidak ada jalan lain, akhirnya aku setuju dengan tawarannya".


"Awalnya semua baik-baik saja. Dia benar-benar melunasi semua hutangku. Dia sangat memanjakan ku. Dia juga memenuhi semua kebutuhan ku. Dia bahkan memberikan aku sebuah rumah yang mewah untuk aku tinggali".


"Tapi kemudian istrinya mulai curiga. iya membuntuti suaminya untuk mencari tahu. Dan akhirnya dia pun mengetahui hubungan kami saat kami sedang jalan berdua".


"Dia sangat marah dan melabrak ku habis-habisan. Kemudian ia memaksa suaminya untuk memilih antara aku dan dirinya. Dan jika suaminya memilih aku, maka suaminya harus meninggalkan rumah. Suaminya pun memilih untuk kembali padanya. Karena dia takut jika dia tetap mempertahankan ku, maka dia akan kehilangan seluruh harta yang merupakan milik istrinya".


"Aku pun terusir dari rumah itu. Kemudian aku terkatung-katung di jalanan. Kami tak sengaja bertemu lagi di jalan. Dia pun kembali meluapkan kemarahannya dan memukuliku habis-habisan, hingga akhirnya kau datang dan menolongku tadi" ujar Tasya mengakhiri ceritanya dengan menitikkan air mata.


"Aku tak menyangka kau bisa melakukan hal serendah itu, Tasya. Kau sudah menghancurkan kebahagiaan orang lain" ujarku berkomentar.


"Aku tahu aku sudah salah. Tapi tolong jangan membenciku. Bukankah tadi kau sudah berjanji tidak akan membenciku setelah aku menceritakan semuanya?" tukas Tasya.


"Aku tidak membencimu. Aku hanya ikut merasakan bagaimana sakitnya hati wanita yang suaminya sudah kau rebut" ujarku.


Hening.....


"Sekarang aku tidak tahu harus kemana. Kumohon tolonglah aku, Kania. Aku tidak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi selain kau" ujar Tasya.


Sejenak aku terdiam untuk mempertimbangkan masalah ini, dan akhirnya aku memutuskan untuk membantunya.


"Baiklah, aku akan menolongmu, kebetulan aku punya rumah yang sudah lama tidak aku tempati. Kau bisa tinggal disana sekaligus merawat rumah itu" ujarku.


"Terimakasih banyak, Kania. Kau memang berhati mulia" ujar Tasya dengan mata berbinar-binar.


Aku tersenyum tipis menanggapi pujiannya. "Ayo kita pergi. Aku akan mengantarmu ke rumah itu sekarang".


Kami pun bangkit dan keluar dari cafe setelah membayar semua pesanan kami.


Aku segera mengemudikan mobil menuju arah rumah lama ku, dan tak butuh waktu lama kami pun sampai di sana. Aku pun memutar kunci pintu dan membukanya. Kemudian aku mempersilahkan Tasya untuk masuk.


"Ayo kita masuk!" ajakku.


Kami pun segera masuk ke dalam.


"Inilah rumah yang kumaksud tadi. Kau bisa tinggal di sini. Tapi maaf, rumahnya agak kotor. Maklum, rumah ini sudah lama tidak aku tempati" ujarku.


"Tidak apa, ini sudah lebih dari cukup bagiku. Nanti biar aku sendiri yang membersihkannya" jawab Tasya.


"Benarkah!!" tanya Tasya.


"Tentu!. Nanti aku akan mengabari Dinda agar kau bisa langsung bekerja disana" jawab ku.


"Siapa itu Dinda?" tanya Tasya.


"Dia adalah sahabatku. Dialah yang mengurus toko itu" jawabku.


Tasya pun menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Terima kasih banyak, Kania. Kau sangat baik hati. Aku tidak akan melupakan semua kebaikanmu ini" ujar Tasya.


"Sama-sama!" jawabku tersenyum.


"Kalau begitu aku tinggal dulu ya. Aku harus segera ke kantor. Ini sudah sangat terlambat".


"Tidak apa, Kania, pergilah. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih banyak untuk semua kebaikanmu" ujar Tasya.


Aku pun menanggapi dengan senyuman tipis.


Aku meninggalkan Tasya di rumah tersebut dan menuju ke kantor ku. Tanpa kusadari, keputusanku ini bukanlah keputusan yang benar. Karena ternyata keputusan ku hari ini mengundang masalah baru untuk rumah tanggaku.


...****************...


Siang hari saat jam istirahat kantor, aku mengunjungi Dinda di toko bunga. Sudah lama aku tidak mengunjunginya, selain itu aku juga ingin memberitahukan perihal Tasya padanya.


"Bagaimana kabarmu, Din. Sudah lama kita tidak bertemu" ujarku berbasa-basi.


"Itu karena sekarang kau sudah berubah menjadi sombong. Kau tidak ingat lagi dengan sahabat ini" ujar Dinda memanyunkan bibirnya.


Aku pun tertawa kecil mendengar ucapan Dinda. Aku tahu dia tidak bermaksud seperti itu.


"Bukannya gitu, Din. Aku hanya sedang sibuk saja" ujarku.


"Ngomong-ngomong ada perlu apa kau kemari?" tanya Dinda.


"Sebenarnya aku ingin ngomong sesuatu yang penting padamu" ujarku.


"Hal penting apa?" tanya Dinda memasang muka serius.


"Besok akan ada ada seseorang yang yang ikut bekerja disini, dia bernama Tasya. Dia adalah temanku dulu" jawab ku.


"Tasya? Kenapa kau tidak pernah bercerita tentangnya? tanya Dinda.


"Aku hanya tidak ingin mengingat tentangnya. Dia pernah menyakiti hatiku dulu" ujarku.


"Coba kau ceritakan sedikit tentang Tasya padaku!" ujar Dinda.


Aku pun menceritakan semua hal tentang Tasya, dari bagaimana kami pertama kali bertemu dulu, sampai dia meninggalkanku. Tak lupa aku juga menceritakan tentang kondisinya saat ini.


"Itulah sebabnya aku membantunya, Din" ujarku mengakhiri


cerita.


"Apa kau yakin dengan keputusanmu ini, Kania?" tanya Dinda.


"Memangnya ada apa, Din?" tanyaku.


"Dari ceritamu tadi, sepertinya dia bukan orang yang baik. Aku hanya tidak ingin dia menyakitimu lagi" ujar Dinda.


"Semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, Din. Lagipula aku lihat dia sudah menyesali perbuatannya" jawab ku.


"Baiklah kalau itu keputusanmu. Besok kau bisa membawanya ke sini dan langsung bekerja" jawab Dinda.


"Makasih banyak ya, Din. Kalau gitu aku balik lagi ke kantor. Jam istirahat mau habis" ujarku.


Aku segera pergi dari toko bunga dan kembali lagi ke kantorku.