Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 6



Perkenalan kami pun berlanjut.Semenjak dari pesta itu aku pun sering bertemu dengan Arsen.


Seperti hari ini,Arsen menelfonku dan memintaku untuk datang disebuah kafe dibilangan Kaliurang jam tujuh malam.Dia mengatakan ada hal penting yang ingin dia sampaikan padaku.Aku pun penasaran akan hal penting apa yang ingin dia sampaikan padaku.


Pukul tujuh malam aku pun pergi ke kafe itu.Setiba disana aku bingung kenapa kafe ini sangat sepi,kemudian seorang waitres datang menghampiriku.


"Apakah Anda yang bernama Nona Kania...?" tanya waitres itu.


"Iya saya sendiri!" jawabku.


"Mari Nona ikut dengan saya ...." ujarnya lagi sambil tersenyum ramah.


Aku pun mengikuti langkah waitres itu.


"Silahkan masuk Nona Tuan Arsen sudah menunggu anda didalam"


Aku pun segera masuk kedalam.


Tampak ruangan itu dihias dengan sangat indah.bunga-bunga beraneka warna,lampu yang bersinar temaram,juga ada karpet merah yang langsung menuju kemeja yang berada ditengah-tengah ruangan.


Disepanjang karpet berjejer lilin-lilin kecil di kanan dan kiri,alunan musik nan merdu semakin menambah kesan romantis.


Nampak Arsen telah menungguku disana,aku pun segera datang menghampirinya.


Melihat kedatanganku dia pun berdiri untuk menyambutku.Dia sedikit membungkukkan badan sambil mengulurkan sebelah tangannya,aku pun menyambut uluran tangan itu.Lalu dikecupnya punggung tanganku dengan penuh mesrah.Kemudian dia menarik salah satu kursi dan mempersilahkan aku untuk duduk.Hatiku berbunga-bunga menerima perlakuan lembutnya.


"Kania...." kata Arsen membuka suara.


"Ya....." sahutku.


"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu!".


Apa...?"


Dia lalu berdiri dan mengambil sesuatu dari saku celananya,kemudian berlutut di hadapanku.


"Kania Larasati.....maukah kau menjadi kekasihku?" ujarnya sambil mengulurkan sebuah kotak cincin padaku.


Aku tercekat tak sanggup untuk berkata.


"Kumohon maukah kau menjadi kekasihku....?"dia mengulangi lagi pertanyaannya.


Mataku berkaca-kaca mendengar pernyataan cintanya.Ternyata cintaku tak bertepuk sebelah tangan,selama ini ternyata dia juga merasakan hal yang sama denganku.Aku pun mengangguk mengiyakan.


"Iya sen...aku mau menjadi kekasihmu!" jawabku sambil tersenyum.


Dia pun tersenyum gembira.Dipasangkannya cincin itu dijari manisku serta dikecupnya punggung tanganku berulang-ulang.


"Terima kasih Kania aku janji tidak akan pernah mengecewakanmu,aku mencintaimu" ucapnya sambil memeluk tubuhku serta mengecup keningku.


"Aku juga mencintaimu....."balasku sambil menangis bahagia.


Kami pun duduk kembali.


Para waitres datang menyajikan hidangan diatas meja.kami pun menikmati hidangan itu.sesekali dia menyuapiku dengan makanannya.


Sungguh aku merasa seperti seorang putri dibuatnya.Tanpa aku sadari ini adalah awal dari kehancuranku.


...****************...


Aku sibuk dengan aktivitas perkuliahanku.Ya,aku telah melanjutkan studiku di Universitas Brawijaya,salah satu universitas dengan fakultas botani terfavorit dikota Malang.Dan saat ini aku sedang mengadakan sebuah penelitian,itulah sebabnya aku jarang bertemu dengan Arsen.


Sedangkan Arsen sendiri sibuk dengan perusahaannya.Dia sedang mengembangkan bisnis yang bergerak di bidang properti,dibantu oleh teman yang ia temui ketika pertama kali kita bertemu.


kami hanya berhubungan lewat telepon.


Semenjak perusahaan Arsen menjalin kerjasama dengan perusahaan Papa,perusahaan Arsen pun semakin maju pesat,tentu saja itu tak luput dari campur tanganku,akulah yang membujuk Papa hingga ia bisa bekerjasama dengan Papa.


Lama tak bertemu membuatku sangat merindukannya.Aku ingin mendatangi kantornya dan membuat kejutan kecil untuknya,kebetulan hari ini adalah hari ulang tahunnya.Aku telah lama mempersiapkan sebuah kado istimewa untuknya.


Aku segera bersiap-siap untuk pergi kesana.Kurias wajahku dan ku poles bibirku dengan lipstik berwarna pink tipis-tipis,kubiarkan rambutku tergerai.Kukenakan gaun berwarna peach, sepatu high heels berwarna senada dan juga tas tangan,terakhir kusemprotkan parfum kesekujur tubuhku dan aku pun telah siap.


Aku bergegas menuju basement dan kukemudikan mobilku menuju perusahaannya.


Ditengah jalan aku berhenti disebuah toko roti,aku ingin membeli sebuah kue ulang tahun untuk Arsen sebelum aku kesana.Saat aku hendak masuk kedalam seorang lelaki tiba-tiba menabrakku.


brukkk!!


"Auch ...sakit" rintihku kesakitan.


"eh maaf mbak saya nggak sengaja tadi saya buru-buru!" ujarnya sambil membantuku berdiri.


Lelaki itu mengenakan kemeja dan celana panjang yang agak lusuh,penampilannya sangat sederhana tapi ia tetap terlihat tampan.


"Mbak nggak kenapa-napa?" tanyanya lagi setelah aku berdiri.


"Nggak mas....cuma lecet dikit!"jawabku sambil menunjuk lenganku yang lecet.


"Saya obati dulu ya..." tawarnya.


"Nggak usah mas,makasih!" tolakku halus.


"Sekali lagi saya minta maaf ya mbak!"


"Iya nggak pa pa,lain kali kalau jalan hati-hati ya mas...."ujarku sambil tersenyum.


"Oh ya kenalkan nama saya Abimana..." katanya sambil mengulurkan tangan.


"Saya Kania"jawabku sambil menerima jabat tangannya.


"Nama yang sangat cantik,sama seperti orangnya"pujinya.


"Ah mas bisa aja...."kataku sambil tersipu malu.


"Kalau begitu saya permisi dulu ya mbak..."pamitnya


aku pun hanya menjawab dengan anggukan kecil.


Lelaki itu pun telah berlalu,aku sendiri segera membeli kue yang aku inginkan dan bergegas melanjutkan perjalananku


Tak berselang lama mobil pun telah sampai di kantor Arsen.Dari resepsionis aku tahu bahwa Ia berada diruangannya.


Ruangan Arsen berada dilantai paling atas,aku pun langsung menuju ke ruangannya dengan menaiki lift.


Sebenarnya ada sebuah lift khusus yang langsung menuju kelantai paling atas,tetapi hanya boleh digunakan oleh orang tertentu seperti pemilik atau asisten.Karena aku belum pernah kesini maka aku pun tidak berani menggunakannya dan jadilah aku hanya menggunakan lift untuk karyawan.