
"Aku mendengar dengan telingaku sendiri dia berkata seperti itu" jawabku mantap.
Selanjutnya Aku menceritakan semua yang kudengar tanpa aku kurangi atau tambahi. Dinda terlihat mengangguk-anggukkan kepala, sesekali ia menggeleng juga saat aku menceritakan semua.
"Tasya emang wanita psikopat. Bisa-bisanya dia merencanakan hal sekeji ini pada orang yang selalu membantunya. Apalagi kalian sudah berteman sejak lama" komentar Dinda saat aku menyudahi ceritaku.
"Tapi aku tak begitu terkejut juga sih, mengingat dia pernah melakukan hal yang sama padamu juga. Yang aku sesalkan adalah kenapa kau tak mengambil pelajaran dari apa yang menimpamu dulu. Seharusnya kau lebih berhati-hati lagi padanya, bukan percaya secara membabi buta seperti kemarin."
Ucapan Dinda sangat menohok hati. Aku menundukkan kepala, terdiam mendengar semua. Bukan karena marah, tapi lebih pada malu. Semua yang dikatakannya sangatlah benar. Aku begitu percaya pada Tasya tanpa mengetahui kebenarannya. "Aku sungguh menyesal, Dinda" ujarku sambil menitikkan air mata penyesalan.
Dinda mengela napas panjang. "Sudahlah, semua yang terjadi biarlah terjadi, kita tidak bisa mengembalikan apa yang sudah terlanjur. Tidak usah disesali lagi, tapi perbaiki untuk kedepannya lagi". ucap Dinda. Dia memang sahabatku yang paling bijak.
"Iya,Din. Aku berjanji, tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi" ujarku, mengangkat kepala sambil tersenyum.
"Aku sungguh malu padamu, karena telah mengecewakan sahabat sebaik dirimu. Kau selalu ada untuk mendukung setiap langkahku. Bukan hanya saat senang, tapi saat susah pun kau tetap setia mendukungku. Aku berjanji, aku tidak akan mengecewakanmu lagi".
"Aku senang mendengar kau menyadari kesalahanmu. Aku tidak mengharapkan apa-apa darimu, karena aku menganggap mu lebih dari seorang teman, kau adalah saudaraku" ucap Dinda tersenyum.
"Satu hal yang patut kita syukuri, kau mengetahui kebenarannya sebelum semuanya semakin hancur".
"Iya, Din. Aku juga sangat bersyukur untuk itu".
kemudian kami pun saling berpelukan, melupakan semua kesalahpahaman yang pernah terjadi diantara kita. "Aku sangat beruntung mempunyai sahabat seperti dirimu. Aku tidak akan menyia-nyiakan mu lagi".
"Aku juga bersyukur bisa bertemu dan mengenal dirimu" ucap Dinda.
"Aku ikut senang melihat kesalahpahaman yang terjadi diantara kalian telah terselesaikan, dan kalian kembali akur" ucap Mas Abhi sambil tersenyum.
Kami sama-sama tersenyum mendengar ucapan Mas Abhi. Setelah cukup lama, kami pun mulai melepas pelukan.
Sesaat suasana menjadi hening karena tidak ada yang ingin kami katakan lagi. Tapi kemudian Dinda memecah keheningan dengan kembali bersuara. " ngomong-ngomong, apa kalian tidak ingin memberikan seorang adik untuk Naila. Aku rasa dia sudah pantas untuk memiliki seorang adik".
Aku dan Mas Abhi saling berpandangan mendengar pertanyaan Dinda, tapi kemudian kami sama-sama tersenyum. "Tentu saja!. Kami sedang mengusahakan untuk itu. Kamu tunggu saja kabar baik dari kami" ucap Mas Abhi.
Dinda mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. "Semoga keinginan kalian segera terkabul" doa tulus terucap dari bibir Dinda.
"Amin!" ucap kami bersamaan.
"Kamu sendiri kapan akan memperkenalkan kekasihmu pada kami?" tanyaku.
"Secepatnya!. Aku akan memperkenalkan dia pada kalian secepat mungkin" jawab Dinda mantap.
"Lalu, kapan kalian akan menikah? apa kamu tidak bosan terus-terusan hidup sendiri?" tanyaku lagi.
"Tenang saja. Kamu tunggu saja tanggal mainnya. Do'akan saja yang terbaik untuk kami, semoga kami bisa segera menyusul kalian".
"Tentu saja. Kami akan mendoakan yang terbaik untuk kalian. Aku tidak sabar mendengar kabar bahagia darimu. Aku akan memberikan kado istimewa di hati bahagiamu nanti".
"Emang kamu mau kasih aku kado istimewa apa?".
"Adalah, yang pasti kado itu akan menjadi kado paling istimewa untukmu."
"Apaan sih kadonya? aku jadi penasaran pengen tahu!".
"Enak aja!" ujar Dinda dengan wajah cemberut, membuatku semakin tertawa karenanya.
"Kalau begitu kami pamit pulang dulu, ya" ucapku setelah puas tertawa.
"Kamu nggak mau makan malam disini dulu?" tawar Dinda, sebenarnya dia hanya beralasan saja karena ingin menahan kami lebih lama lagi
"Mungkin lain kali saja. Ini udah malam, kasihan Naila. Nanti dia nyariin kita lagi" ucapku memberi penjelasan.
"Oh gitu, ya udah nggak pa pa!".
Kami pun segera bangkit dari duduk kami, berjalan menuju pintu, diikuti Dinda dibelakang untuk mengantar kami.
"Aku sangat menanti surat undangan darimu" ucapku saat kami sampai di pintu depan.
"Sabar aja. Do'akan saja semoga hal itu segera terjadi" jawab Dinda.
Aku tersenyum mendengar jawaban Dinda. "Kalau gitu kamu pulang dulu!".
"Iya, hati-hati dijalan!".
Aku menjawab dengan menganggukkan kepala.
Kami segera masuk ke dalam mobil, dan kemudian kami segera diluncurkan meninggalkan rumah Dinda.
...****************...
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Kami kembali pada rutinitas sehari-hari, disibukkan dengan peran masing-masing. Kami tidak pernah membahas peristiwa tentang Tasya itu lagi, bahkan cenderung melupakannya.
Kebahagiaan kembali menghampiri. Hari-hari dipenuhi dengan tawa riang, tanpa ada sikap saling menghakimi. Perusahaan Papa yang kini ku pimpin semakin maju pesat, begitu juga dengan perusahaan Mas Abhi.
Kebahagian semakin bertambah dengan kehadiran anak kedua kami. Ia lahir setahun kemudian. Dia berjenis kelamin laki-laki, dan kami memberinya nama Muhammad Umar Al Faruq. Sesuai dengan namanya, kami berharap kelak dia menjadi pemimpin yang tangguh dan tak terkalahkan, tapi memiliki hati yang lemah lembut seperti sahabat Umar bin Khattab.
Jangan ditanya bagaimana perasaan Mas Abhi, dia tentu sangat bahagia miliki anak laki-laki. Bahkan dia menggadang-gadang untuk menjadikannya sebagai penerus perusahaannya.
Kebahagian juga tengah menaungi Dinda. Dia menepati janjinya untuk memperkenalkan kekasihnya pada kami tidak lama setelah malam itu.
Ternyata dugaan ku benar, pria yang menjadi kekasih Dinda adalah orang yang sama dengan orang yang dulu kukenal. Dia adalah asisten Arsen.
Aku sangar terkejut dan tidak suka dengannya pada saat Dinda pertama kali mempertemukan kami. Mengingat dulu ia pernah menjadi asisten pribadi Arsen. Aku takut dia masih berpihak padanya dan ingin membalas dendam padaku dengan cara mendekati Dinda.
Dinda juga terlihat sangat terkejut mendapati kenyataan itu, tapi David meyakinkan kami bahwa kedekatannya dengan Dinda tidak ada sangkut pautnya dengan Arsen. Dia mengaku bahwa ia sudah mengundurkan diri sebelum perusahaan Arsen bangkrut karena tidak tahan dengan sikapnya selama ini.
Awalanya aku masih tak percaya dengan ucapannya, tapi melihat kesungguhan dan sikap yang ia tunjukkan, membuatku percaya bahwa ia memang tidak ada hubungannya dengan Arsen.
Tak berselang lama kemudian mereka pun menggelar pernikahan. Aku turut bahagia mendapati sahabatku bahagia. Akhirnya dia menemukan orang yang bisa menjadi teman hidupnya. Aku hanya berharap semoga David tidak pernah mengecewakan hati sahabatku itu.
Kebahagian Dinda juga semakin bertambah, karena kini dia telah mengandung buah cinta mereka.
Semoga kebahagiaan ini senantiasa menaungi kami, dan takkan ada niat jahat yang mendekati kami lagi.