
Dengan gerakan secepat kilat, ia mengambilnya. Entah bagaimana pisau itu kini sudah berada ditangannya. Dan sebelum kami menyadari semuanya, ia sudah menarik tubuh Mama, menjadikannya sebagai sandera. Pisau ia letakkan didepan leher Mama. "Serahkan semua surat-surat rumah ini dan barang berharga lainnya, atau aku akan membunuh Mama mu!" ancamnya.
"Mama!!!" pekik ku tertahan. Aku hendak melangkah maju, tapi Tasya langsung menghentikan langkahku.
"Jangan mendekat! Atau pisau ini akan menggores leher Mama mu!" bentaknya, semakin mendekatkan pisau ke leher Mama.
Mama meringis kesakitan saat pisau tersebut sedikit menggores lehernya. "Auch...sakit!. Kania, tolongin Mama!".
"Mama!!" teriakku, aku sangat cemas dengan kondisi Mama.
"Jangan nekat, Tasya, lepaskan Mama. Aku mohon, jangan lakukan ini padanya" ucapku memohon.
"Aku tidak perduli. Aku tidak punya pilihan lain lagi. Ambil semua yang ku minta dan cepat serahkan padaku".
"Jangan berikan apa yang dia minta, Kania, abaikan saja dia. Mama lebih baik mati daripada membiarkannya mendapatkan apa yang dia inginkan" ucap Mama.
"Tidak, Ma, jangan berkata seperti itu. Aku tidak ingin kehilangan Mama" ujarku.
"Diam, kau wanita tua! Atau kau memang sudah bosan hidup" bentaknya pada Mama.
"Jangan lakukan itu, Tasya. Tolong, jangan sakiti Mama!" pintaku. Aku semakin khawatir dengannya, karena Tasya sangatlah nekat. Aku takut dia benar-benar menyakiti Mama.
"Kalau begitu turuti kemauanku. Cepat, lakukan. Jangan banyak bicara lagi" ucapnya tak sabar.
Aku tidak punya pilihan lain lagi. Saat ini nyawa Mama sedang dalam bahaya. Dia lebih berarti dari apa yang Tasya inginkan. Aku sangat takut kehilangan dirinya. "Ok ok, aku akan turuti semua kemauan mu. Tapi tolong, jangan sakiti Mama!".
"Bagus!. Aku beri kau waktu tiga puluh menit untuk mengambilnya. Setelah itu cepat kembali lagi kesini, atau kau akan mendapati Mama mu tidak bernyawa lagi!" ancamnya, ia benar-benar serius dengan perkataannya.
"Baik baik, tunggu sebentar!" ucapku.
Gegas aku meninggalkan kamar Tasya. Berlari menuju kamarku untuk mengambil surat-surat rumah dan barang berharga lainnya. Saat melintas diruang tengah, aku berpapasan dengan Mas Abhi. Sepertinya dia baru saja datang.
Melihat kepanikan di wajahku, juga ketergesa-gesaan ku,Mas Abhi memutuskan untuk mengikutiku. Apalagi aku tak mengatakan sepatah katapun untuk menyambutnya tadi.
"Ada apa, Kania? kenapa kau terlihat sangat panik?" tanya Mas Abhi saat ia berhasil mensejajari langkahku.
"Nyawa Mama berada dalam bahaya, Mas. Tasya menjadikannya sebagai sandera" jawabku cepat, sejenak aku menghentikan langkah.
"Apa??" bagaimana bisa?" teriak Mas Abhi terkejut. Ia tak percaya dengan apa yang baru didengar.
"Ceritanya panjang, Mas. Aku tidak punya waktu untuk menjelaskan. Aku harus segera memberikan apa yang dia minta".
"Memang apa yang dia inginkan?".
"Dia menginginkan surat rumah ini, Mas. Juga barang berharga lainnya".
"Lalu kau mau menuruti apa yang dia inginkan?".
Aku hanya menjawab dengan menganggukkan kepala.
"Tidak, jangan kau lakukan itu!. Itu sama saja dengan melakukan kebodohan".
"Tapi nyawa Mama sebagai taruhannya, Mas. Aku tidak ingin dia kenapa-kenapa".
"Aku tahu itu, tapi bukan begini caranya".
"Lalu aku harus bagaimana, Mas? aku tidak ingin kehilangan Mama" teriakku histeris. Aku tidak bisa membendung air mataku lagi yang sedari tadi terus memaksa untuk keluar. Aku tak sanggup membayangkan jika harus kehilangan Mama, satu-satunya orang tuaku yang masih tersisa.
Mas Abhi merengkuh tubuh. membawaku ke dalam pelukannya. "Kamu tenang dulu, Kania. Aku juga tidak ingin hal itu terjadi. Aku tidak akan membiarkan Tasya menyakiti Mama. Aku akan mencari cara untuk menyelamatkannya".
"Biar aku berpikir sebentar!" ujar Mas Abhi.
Sejenak Mas Abhi diam, berpikir bagaimana cara untuk menyelamatkan Mama dari tangan Tasya.
Waktu terus bergulir, tapi Mas Abhi belum juga mendapatkan ide. Aku semakin khawatir karenanya.
"Cepat, Mas, bagaimana caranya? Tasya hanya memberiku waktu tiga puluh menit, dan sekarang waktu kita tinggal sedikit lagi. Aku tidak mau dia benar-benar menyakiti Mama" ucapku tak sabar.
"Sabar sedikit, Kania. Aku masih berpikir".
Aku kembali diam, membiarkan Mas Abhi untuk berpikir.
Setelah beberapa saat, akhirnya Mas Abhi mendapatkan ide juga. "Aku tahu bagaimana caranya!" ucapnya.
"Cepat katakan, Mas. Bagaimana caranya?" ucapku tak sabar.
Mas Abhi pun membisikkan rencananya di telingaku. Aku memasang telinga lebar-lebar, mendengarkan apa yang ingin dia sampaikan..
"Jadi gitu rencananya. Bagaimana? kamu setuju?" tanya Mas Abhi setelah ia selesai mengatakan semua rencananya.
Aku mengangguk-angguk tanda setuju. "Iya, Mas. Aku setuju dengan rencana mu!".
"Bagus!. Sekarang mari kita lakukan!" ucap Mas Abhi lagi.
Kami mulai menjalankan rencana yang telah kami sepakati tadi. Untung saat itu Naila tidak ada di rumah. Ia belum pulang dari lesnya. Jadi kami tidak perlu mengkhawatirkan dirinya juga.
Aku berjalan menuju kamar Tasya kembali, sedang Mas Abhi segera menghubungi polisi untuk meminta bantuan, berjaga-jaga jika ada hal-hal yang tidak diinginkan.
Sesampainya dikamar, kulihat Tasya dan Mama masih berada di posisi yang sama seperti saat aku tinggalkan tadi. Melihat kedatanganku, Tasya segera angkat bicara. "Mana surat-surat dan barang berharga lainnya? kenapa kau kembali dengan tangan kosong?" bicara dengan dingin.
Aku menghela napas pelan, mencoba menetralisir debaran jantung. Saat ini aku merasa sedikit lebih tenang dalam menghadapi Tasya, karena ada Mas Abhi yang menyertaiku. Aku percaya sepenuhnya padanya.
"Maafkan aku, Tasya, aku tidak bisa memberikan apa yang kamu minta. Aku sudah berusaha mencari ke semua tempat, tapi aku tak berhasil menemukannya. Sepertinya Mas Abhi telah menitipkan semua dokumen penting pada pengacara kami tanpa sepengetahuanku, salah satunya adalah surat-surat rumah ini".
"Jangan bohong kamu!" bentak Tasya marah.
"Untuk apa aku berbohong? bukankah saat ini Mama ada di tanganmu? mana mungkin aku mengambil resiko kehilangan Mama" jawabku tegas.
Sejenak Tasya terdiam, menimbang benar tidaknya perkataanku. Setelah beberapa saat, ia kembali bersuara, "Ok, kali ini aku percaya padamu. Tapi ingat, jangan pernah macam-macam. Kamu tahu sendiri kan, apa resikonya?".
"Iya, aku memgerti!" ucapku. Aku mencoba untuk tetap tenang, berharap Mas Abhi akan segera melakukan rencana selanjutnya.
"Sekarang, panggil pengacara itu. Suruh dia untuk membawa surat-surat itu kesini!" perintahnya.
"Tapi aku tidak menyimpan nomor teleponnya. Mungkin tersimpan di buku telepon. Aku akan ke ruang tamu untuk mencari nomornya".
"Kau ingin membohongiku?".
"Kau boleh mengikutiku kalau tidak percaya. Bahkan kalau kamu mau, kamu bisa mendengarkan percakapan kami nanti!".
"Baiklah!. Sekarang, ayo cepat jalan!".
Kami pun melangkah keluar kamar, menuju ke ruang tamu.
Ini memang salah satu bagian dari rencana kami. Aku sengaja menggiring Tasya untuk keluar dari kamar, agar mudahkan Mas Abhi untuk melumpuhkannya nanti. Terlebih Tasya belum tahu jika Mas Abhi sudah ada di rumah.