Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 90



" Karena minuman ini sudah diberi racun olehnya" jawab Papa menunjuk ke orang tersebut.


Sontak kami pun terkejut mendengar jawaban Papa. Kami beralih memandang kearah orang tersebut meminta jawaban darinya..


"Ti.. tidak, itu semua tidak benar. Saya tidak melakukan apa-apa" ujar orang itu terbata-bata.


"Bohong!!!. Kalau begitu ini apa?" bentak Papa, mengambil bungkusan dibalik saku orang tersebut.


"Bukankah ini yang kau campurkan dalam minuman itu tadi? ayo cepat, jelaskan pada kami!" mencecarnya dengan banyak pertanyaan.


"I...itu bukan apa-apa, Tuan. Itu hanya gula bubuk biasa" jawabnya gugup, mencoba berkilah.


"Kau yakin ini cuma gula bubuk biasa?" tanya Papa sinis.


"I...iya Tuan. Saya sangat yakin" jawabnya, terlihat sekali jika saat ini ia tengah ketakutan.


"Kalau begitu minumlah minuman ini" ujar Papa menyodorkan minuman tersebut pada orang itu.


Orang itu pun menerima gelas tersebut dari tangan Papa dengan gemetaran, wajahnya semakin pucat pasi karenanya. Ia terlihat sangat ragu untuk meminumnya.


"Tunggu apalagi, ayo cepat minum!" bentak Papa memaksa.


Perlahan pria itu mulai mendekatkan bibir gelas ke mulutnya, namun tiba-tiba ia membuang gelas tersebut dan berlari kearahku lalu menyanderaku dengan cara menodongkan sebuah pistol ke kepalaku.


"Kania" pekik semua berbarengan. Mereka sangat terkejut melihat kejadian itu, semua terjadi begitu cepat. Seketika suasana berubah menjadi kepanikan.


"Ha ha ha itu benar sekali. Aku memang sudah mencampurkan racun dalam minuman itu" tertawa terbahak-bahak dan mengakui perbuatannya.


Semua semakin terkejut mendengar pengakuannya.


"Lepaskan putriku sekarang!" teriak Papa merangsek maju.


"Diam!!. Semuanya mundur, atau aku akan menembak kepalanya" hardiknya.


"Baiklah, kami akan mundur, tapi tolong jangan sakiti istriku" ujar Mas Abhi.


"Pa, lebih baik kita turuti ucapannya, jangan sampai dia berbuat nekat".


Mereka mundur perlahan.


"Kenapa kau melakukan ini padaku?" tanyaku.


"Karena aku ingin kau mati ditanganku. Kau harus membayar perbuatanmu karena Sudah membuatku mendekam di penjara" jawabnya.


"Tapi apa kesalahanku sebenarnya? aku bahkan tidak mengenalmu?" mengernyitkan dahi tak mengerti.


"Benarkah?. Jadi kau tidak


mengenali suaraku. Baik, aku akan memberitahukan siapa diriku" jawabnya


Perlahan ia mulai membuka topi dan masker yang menutupi wajahnya dengan menggunakan sebelah tangannya.Semua sangat terkejut setelah melihat wajah orang tersebut.


"Arsen!!!" pekik semua bersamaan.


Melihat situasi semakin tidak mengenakkan Dinda membawa Naila pergi menjauh dari sana, dan segera menghubungi polisi untuk berjaga-jaga dari hal-hal yang tidak diinginkan.


"Bagaimana kau bisa ada disini? bukankah polisi sudah mengurungmu di penjara?" tanya Mas Abhi.


"Kalian mungkin sudah mengirimku ke penjara. Tapi lihatlah, sekarang aku berada dihadapan kalian. Aku berhasil kabur dari penjara" tersenyum sinis.


"Kau masuk penjara itu karena kesalahanmu sendiri. Kau sudah menculik Emir!" ucapku.


"Itu kulakukan karena kau menolak menikah denganku. Sekarang kau harus membayar perbuatanmu dengan nyawamu" tersenyum menyeringai.


"Kenapa kau masih belum sadar juga dengan kesalahanmu, Arsen. Kau tahu, karena perbuatanmu itu, nyawa Emir harus menjadi korbannya" berteriak marah, air mata meleleh dari kedua kelopak mataku


"Oh, jadi anak itu sudah mati. Baguslah kalau begitu" ucap Arsen tanpa sedikitpun rasa bersalah.


"Kau memang laki-laki kejam, Arsen. Kau bahkan tidak menyesal sedikitpun setelah membuat Emir meninggal" ujarku lirih.


"Diam, kau!!. Sekarang aku akan membuatmu menyusul anak itu juga" bentak Arsen.


antara aku dengan Arsen sudah membuatnya lengah. Melihat kesempatan itu, Mas Abhi pun tidak menyia-nyiakannya. Ia memukul tangan Arsen dan menarikku menjauh darinya.


Pistol pun terlempar ke sudut ruangan. Sejenak Papa, Mas Abhi, dan Arsen saling berpandangan. Mereka lalu berlari untuk mengambil pistol itu.


Terjadilah saling rebut diantara mereka. Tiba-tiba terdengar suara tembakan.


Dorrr..,


Aku terkejut mendengar suara itu. Sontak aku menutup telingaku dengan kedua tanganku.


Seketika tubuh Papa ambruk ke lantai dengan tangan memegangi bagian perutnya. Darah segar keluar dari sana. Ternyata tembakan itu telah mengenai dirinya.


"Papa!!!" pekikku tertahan.


Saat itu polisi pun datang." Angkat tangan. Letakkan senjata itu dibawah".


Arsen berlari keluar untuk menyelamatkan diri saat melihat kedatangan polisi. Dengan sigap polisi pun mengejarnya.


Terjadilah aksi kejar-kejaran antara polisi dan Arsen. Ia terus berlari tanpa menyadari ada sebuah truk yang melintas didepannya. Dan ia pun tertabrak truk tersebut.


Brakkkk....


argkkk....


Arsen terpental jauh dan jatuh menimpa potongan dahan pohon yang baru ditebang. Tubuhnya menancap di dahan yang runcing, dan ia pun mati seketika.


Sementara itu aku segera berlari menghampiri Papa. Kuletakkan kepalanya diatas pangkuanku.


"Pa, Papa yang kuat. Papa harus bertahan. Demi aku, Pa!" ujarku dengan berderai air mata.


"Mas Abhi, ayo cepat!. Bawa Papa ke rumah sakit sekarang, Mas!" paksa ku pada Mas Abhi.


"I....iya" ucap Mas Abhi panik. Ia segera bangkit dan hendak mengangkat tubuh Papa, tapi Papa malah menahan lengan Mas Abhi.


"Tidak, nak. Itu tidak perlu" ujar Papa lirih.


"Pa, kumohon. Kita harus ke rumah sakit sekarang, Pa" ujarku terus menangis.


"Tidak, nak. Papa rasa umur Papa tidak akan lama lagi" jawab Papa.


"Jangan bicara seperti itu, Pa. Kumohon, Papa harus kuat. Aku yakin Papa pasti selamat" ujarku dengan berderai air mata.


"Tidak, nak. Papa tidak akan selamat" jawab Papa. Suaranya semakin melemah


"Tidak, Pa. Papa tidak boleh meninggalkanku seperti ini. Kita baru saja berkumpul kembali. Tolong jangan tinggalkan Kania, Pa" ujarku, air mataku semakin tak terbendung.


Sungguh hatiku sangat hancur melihat keadaan Papa seperti ini, aku tak ingin kehilangan orang yang kusayangi untuk kedua kali.


"Ini semua salahku. Harusnya aku yang berada diposisi Papa".


"Kenapa kau menyalahkan dirimu sendiri, nak. Papa rela mati untuk menyelamatkan dirimu. Papa bangga bisa melakukan hal itu untukmu. Setidaknya itu sebagai penebus kesalahan Papa dulu padamu. Sekarang tidak ada lagi penyesalan dihati Papa" ujar Papa. Nafasnya mulai tersengal-sengal.


"Tidak, Pa. Papa harus kuat. Kumohon jangan bicara seperti itu" ujarku semakin histeris. Aku panik melihat kondisi Papa.


"Mas Abhi, kenapa kau malah diam saja?. Cepat, bawa Papa ke rumah sakit".


"Iya" jawab Mas Abhi cepat


Mas Abhi beranjak hendak mengangkat tubuh Papa, tapi tiba-tiba tangan Papa terlepas dari genggamanku. Papa menutup mata untuk selamanya.


"Tidak!!!!!" teriakku histeris, air mataku tumpah ruah tak terhingga.


"Pa, bangun, Pa. Buka mata Papa. Tolong jangan lakukan hal ini padaku" teriakku. Kuguncang tubuh Papa keras-keras, berusaha untuk membangunkannya. Aku tidak percaya Papa telah tiada.


Mas Abhi memeluk tubuhku untuk menenangkanku." Tenanglah, Kania. Ikhlaskan kepergian Papa".


"Tidak, Mas. Papa tidak boleh meninggalkanku seperti ini" ratapku. Air mataku tak henti mengalir hingga akhirnya aku pun pingsan.