
Aku melihat Tasya membuka baju atasnya. Ia mengeluarkan sebuah bantal dari balik perutnya.
'Jadi selama ini dia hanya pura-pura hamil? lalu, bagaimana dengan foto USG kemarin? apa itu hasil rekayasa juga?' gumamku dalam hati.
'Tapi itu tidak mungkin! Foto USG kemarin benar-benar nyata. Lalu bagaimana cara dia mendapatkannya? Kenapa namanya bisa tertera di hasil USG itu?'.
'Yang jadi pertanyaan besar, kenapa Tasya melakukan ini padaku? Kenapa dia berpura-pura hamil didepan kami? apa sebenarnya yang dia inginkan? atau jangan-jangan, apa yang dibilang oleh Mas Abhi dan Dinda padaku selama ini itu benar?'.
Berjuta pertanyaan terus bermunculan di kepalaku. Ingin rasanya langsung masuk dan meminta penjelasan pada Tasya atas semua pertanyaanku. Tapi itu tidak mungkin, dia pasti tidak akan mengaku semudah itu. Lalu bagaiman caraku menjawab semua teka-teki ini.
Saat aku terus bergumul dengan pikiranku, Tasya mulai bersuara. Cepat-cepat aku bersembunyi, mencari tempat yang aman agar dia tak mengetahui keberadaanku.
Aku memasang telinga lebar-lebar, mencoba mendengarkan apa yang akan dia katakan. Mungkin aku akan mendapatkan jawaban dari semua pertanyaanku tadi, atau mungkin aku akan mengetahui hal-hal yang lebih mengejutkan lainnya.
"Akhirnya, sebentar lagi aku akan menjadi istri Abhimana. Tinggal selangkah lagi, dan semua rencana ku akan berhasil" ujar Tasya sambil menghempaskan tubuh dipinggiran tempat tidur dengan posisi duduk.
"Kania itu memang bodoh. Mudah sekali ditipu. Dia percaya begitu saja dengan hasil USG itu. Hasil USG itu memang asli, tapi bukan nama pemiliknya. Dia tidak tahu saja, kalau aku sudah membayar wanita hamil dan memintanya untuk mengganti namanya dengan namaku".
"Tapi kebodohan Kania membawa keuntungan bagiku, semakin mempermudah dalam menjalankan semua rencanaku".
"Yang lebih lucu lagi, dia bahkan memaksa suaminya sendiri untuk menikahi ku. Mana ada wanita yang rela berbagi suami dengan wanita lain".
Tasya terus tertawa, mengingat betapa mudahnya ia menipuku. Tanpa dia sadari, sedari tadi aku telah mendengar semua perkataannya.
"Aku sudah tidak sabar menyandang status sebagai Nyonya Abhimana, dan menikmati semua kekayaan yang dimilikinya".
"Setelah kami resmi menikah, aku akan membuat Abhimana membenci Kania, dan membuatnya benar-benar menceraikannya. Dan setelah itu, aku akan menjadi satu-satunya istri dari Abhimana" tersenyum menyeringai.
"Dan mengenai anak mereka, emh... siapa itu namanya" mengingat-ingat nama anakku.
"Oh ya, aku ingat sekarang, namanya Naila" menjentikkan jari. "Aku akan membuat Abhimana membuang anaknya sendiri. Ke panti asuhan, kek. Ke jalanan, kek, aku tak perduli! Yang terpenting dia tidak ada di rumah ini lagi" merebahkan tubuh diatas ranjang. Matanya menerawang ke langit-langit kamar.
Aku benar-benar marah mendengar ucapan Tasya. Aku tidak menyangka dia akan sekejam itu padaku dan anakku. Padahal selama ini aku sudah begitu baik padanya, tapi dia malah ingin membalas semua kebaikan ku dengan kejahatan. Bak kata pepatah, air susu dibalas dengan air tuba. Itulah kata-kata yang bisa menggambarkan perbuatannya padaku saat ini.
Ingin rasanya aku masuk dan langsung memakinya habis-habisan. Tapi ku urungkan kembali niatku itu. Sepertinya dia masih ingin menyusun rencana lain lagi. Aku harus mengetahui lebih jauh semua rencana jahatnya.
Aku semakin mempertajam pendengaran. Mencoba mendengarkan apa lagi yang ingin dia katakan. Hatiku dag dig dug, tak sabar ingin tahu lebih jauh.
Ditengah-tengah ketegangan, tiba-tiba Mama datang. Ia menghampiriku dan menepuk pundak ku. Membuatku sangat terkejut dibuatnya.
"Kamu sedang apa?" tanya Mama.
Cepat-cepat aku menaruh jari telunjuk di bibir Mama, memintanya agar tak bersuara. "Ssst, jangan bicara keras-keras, Ma. Nanti kedengeran Tasya". Aku pun menarik tubuh Mama ke sampingku, mengajaknya untuk sembunyi juga.
Mama masih bingung dengan apa yang kulakukan, tapi tak urung dia melakukan juga apa yang ku minta. Ia ingin bertanya lagi padaku, tapi dengan nada suara sekecil mungkin. "Memangnya ada apa?".
"Apa???" pekik Mama terkejut, sampai-sampai tidak sadar jika suaranya sedikit keras.
Cepat-cepat aku membekap mulut Mama dengan telapak tangan. "Ma, jangan keras-keras. Nanti kedengeran".
"Maaf-maaf! Mama nggak sengaja. Tapi lepasin tangan kamu dari mulut Mama. Mama nggak bisa nafas ini!" ujar Mama dengan suara kurang jelas karena terhalang oleh tanganku.
Cepat-cepat aku melepas bekapan ku, sehingga Mama bisa kembali bernafas dengan lega. Aku pun turut bernafas lega, pasalnya Tasya tak mendengar suara pekikan mama tadi.
"Nggak sopan banget sih jadi anak! Masak Mamanya sendiri dibekap kayak tadi" omel Mama dengan muka masam.
"He he he maaf, Ma! Kania refleks tadi" ujarku cengengesan.
"Huh!" cebik Mama kesal.
"Abisnya Mama sih! dibilangin jangan bicara keras-keras, malah memekik tadi!" ujarku mengomel balik, tak terima disalahkan.
"Itu karena saking terkejutnya Mama dengan penuturanmu tadi. Makanya Mama memekik!" ujar Mama tak mau kalah.
"Udah udah, nggak usah diperpanjang lagi!" ucapku menengahi.
Kami pun sama-sama diam. Tapi kemudian Mama kembali bertanya. "Kalau kamu sudah tahu, terus kenapa masih ada disini? kenapa kamu nggak langsung marahi si Tasya?".
"Dia lagi nyusun rencana baru untuk mengusirku dan Naila dari rumah ini, Ma. Karena itu Kania menguping. Kania ingin tahu, apalagi rencana jahatnya kali ini" terangku.
"Oh gitu!" ucap Mama manggut-manggut. "Si Tasya itu memang wanita jahat. Selama ini Mama juga nggak pernah percaya dengannya. Untungnya sekarang kamu sudah tahu siapa dia sebenarnya" kembali berkomentar.
"Iya, Ma, Kania juga sangat bersyukur. Untung saja semua belum terlanjur" ujarku.
"Kita harus memberi dia pelajaran. Biar dia kapok, dan tidak berbuat jahat pada orang lain lagi" ucap Mama lagi.
"Iya, Ma, Kania juga setuju dengan Mama. Tapi tolong, sekarang Mama diam dulu. Kalau Mama terus bicara, nanti Tasya bisa curiga. Bisa-bisa kita gagal mengetahui semua rencana jahatnya" ujarku sebal. Lama-lama kesal juga menghadapi Mama yang terus bicara.
"Ok ok, maaf!" ucap Mama.
Kami pun kembali memasang telinga lebar-lebar, mencoba mendengarkan apalagi rencananya selanjutnya.
"Lama-lama capek juga berpura-pura hamil seperti ini terus. Tapi tidak mungkin aku membongkar kebohonganku sendiri. Bisa-bisa aku tidak jadi menikah nanti!" ucap Tasya, kembali bersuara.
"Apa aku harus membuat rencana baru supaya tidak perlu berpura-pura hamil lagi?".
"Kalau dipikir-pikir, terus berpura-pura hamil seperti ini bisa membuat semua curiga. Apalagi kalau sudah saatnya melahirkan nanti. Dari mana aku bisa mendapatkan bayi? lagi pula, aku juga tidak mau mengurusnya. Bisa-bisa kecantikanku hilang nanti".
Tiba-tiba Tasya bangkit kembali dari rebahannya. "Aha!, aku mendapat sebuah ide yang sangat bagus" menjentikkan jari.