Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 104



"Aku bilang, cukup!!!" bentak ku.


Dinda terkesiap melihatku. Sepanjang dia mengenalku, baru kali ini aku membentaknya.


"Kau membentak ku hanya demi membela wanita ular ini. Kau bahkan tidak memberiku kesempatan sedikitpun untuk menjelaskan apa-apa" ujar Dinda kecewa.


Dinda menghampiri Tasya yang sedari tadi hanya diam disampingmu. Tiba-tiba ia menjambak rambut Tasya dan menariknya kuat-kuat.


"Apalagi yang kau katakan pada Kania? kau pasti sudah membuat Kania membenciku juga kan. Kenapa kau ubah kebohongan menjadi sebuah kebenaran?" teriak Dinda marah.


"Auch, sakit. Kania, tolong aku" ringis Tasya kesakitan, memegangi rambutnya yang terkena jambakan Dinda


Aku segera menghampiri mereka dan melepaskan tangan Dinda dari rambut Tasya.


"Hentikan, Dinda. Jangan berani kau menyakiti Tasya" teriakku.


Dinda melepaskan cengkeramannya dan mundur beberapa langkah. Sementara Tasya langsung bersembunyi dibelakang ku.


"Kau lihat sendiri kan, Kania. Dinda memang tidak pernah suka denganku" ujar Tasya dengan raut wajah sedih, memegang lenganku.


"Jangan berpura-pura sedih, wanita ular. Aku tahu kalau saat ini dalam hatimu kau tengah mentertawakan kami" teriak Dinda.


Tasya semakin mengeratkan genggaman pada lenganku. Dia terlihat ketakutan melihat kemarahan Dinda.


"Kau tenang saja. Aku tidak akan membiarkan Dinda menyakitimu" ujarku menenangkannya.


"Cukup, Dinda. Aku sudah muak melihat sikap aroganmu" ujarku.


"Satu hal lagi. Aku peringatkan padamu, berhenti memanggil Tasya dengan sebutan wanita ular. Dia adalah temanku juga, dan aku tidak suka kau memanggilnya dengan sebutan itu" tegas ku.


"Aku sangat kecewa denganmu, Kania. Kau lebih membela wanita ular ini dari pada aku. Padahal apa yang aku lakukan adalah untuk melindungi mu. Kau pasti akan menyesal setelah mengetahui yang sebenarnya" ujar Dinda sedih, terlihat sangat kekecewaan di kedua matanya.


"Aku tidak ingin berdebat terus denganmu!" ujarku memalingkan wajah.


"Baiklah kalau itu keputusanmu, aku akan menerimanya. Tapi mulai sekarang, aku mengundurkan diri dari tempat ini. Aku tidak mau bekerja bersama orang licik seperti dia" ujar Dinda, menuding ke arah Tasya.


"Aku terima keputusanmu. Silahkan kau angkat kaki dari toko bunga ini" ujarku datar, Aku belum menyadari bahwa perkataanku ini sangat menyakitinya.


"Ok, fine!!" ujar Dinda, menghentakkan kakinya kelantai keras-keras dan berlalu pergi.


Setelah kepergian Dinda, aku duduk di kursi. Aku termenung memikirkan kejadian barusan. Terbersit sedikit penyesalan dihatiku.


Tasya datang menghampiriku dan duduk di sampingku. "Maafkan aku, Kania. Gara-gara aku, kau sampai bertengkar dengan Dinda," menggenggam tanganku.


"Jangan pernah menyalahkan dirimu atas kejadian tadi, ini bukan kesalahanmu" ujarku tersenyum tipis.


Tasya pun ikut tersenyum bersamaku.


"Tapi sekarang aku bingung. Kalau Dinda tidak ada, lalu siapa yang


akan mengelola toko bunga ini? aku tidak mungkin turun tangan langsung. Semuanya pasti keteteran" keluhku.


"Emh.,..gimana kalau aku aja yang menghandle toko ini?" ujar Tasya mengajukan diri.


Sejenak aku berpikir untuk menerima usulannya, dan melalui berbagai pertimbangan akhirnya aku menyetujuinya.


"Apa kau yakin bisa melakukannya?" tanyaku memastikan.


"Aku sangat yakin kalau aku bisa!" ujar Tasya meyakinkanku.


"Baiklah, aku serahkan toko ini padamu" ujarku.


"Terimakasih karena kau sudah percaya


denganku!" ujar Tasya senang.


"Kalau begitu aku pergi dulu. Aku harus kembali lagi ke kantor!" ujarku, bangkit dari duduk.


"Tolong kamu jaga toko ini sebaik mungkin!" ujarku berpesan.


Aku pun berlalu pergi meninggalkan toko bunga. Sementara Tasya, setelah kepergianku ia tertawa puas sekaligus bahagia karena rencananya berjalan dengan sempurna.


"Luar biasa. Sekali tepuk dua lalat pun mati. Aku tidak menyangka kejadiannya akan seluar biasa ini!".


"Kau memang sangat bodoh, Kania. Kau mudah sekali untuk ditipu. Bahkan kau sendiri yang menyerahkan toko bunga ini padaku tanpa aku harus bersusah-payah merebutnya darimu".


"Permainan belum berakhir. Besok akan ada kejutan yang lebih menyenangkan untukmu" tersenyum menyeringai.


Tasya pun kembali melakukan rencana berikutnya.


...****************...


"Apa kalian mau tambahan uang jajan?" tanya Tasya pada dua orang preman.


Sepulang dari toko bunga, Tasya mendapati dua orang preman tengah memalak seorang pedagang karena mereka ingin membeli minuman. Melihat hal itu terbersit sebuah ide dibenaknya untuk menyuruh preman tersebut menjalankan rencananya. Tasya pun menghampiri para preman itu dan mengajaknya ke tempat sepi.


"Siapa kau? berani sekali menggangu kesenangan kami!" tanya salah satu preman.


"Siapa aku itu tidak penting. Yang terpenting adalah aku bisa memberikan kalian uang jika kalian mau melakukan apa yang akan aku perintahkan!" ujar Tasya melipat tangan didepan dada.


"Apa yang harus kami kerjakan?" tanya preman.


"Aku ingin kalian menculik seseorang dan membawanya ke suatu tempat. Aku ingin menjebaknya" ujar Tasya menyeringai.


"Siapa orang yang kau maksud?" tanya preman.


Tasya mengeluarkan selembar foto dari dalam tasnya dan menunjukkan pada preman itu. "Inilah orang yang kumaksud!".


Tasya pun memberikan informasi mengenai orang dalam foto tersebut dan menjelaskan apa rencananya. Para preman itu mengangguk-angguk tanda mengerti.


"Baik, kami akan melakukan apa yang kau perintahkan!" jawab preman setuju untuk menjalankan rencana itu.


"Bagus. Ini bayaran buat kalian. Sisanya akan aku transfer setelah kalian berhasil melakukannya" ujar Tasya, menyerahkan sebuah amplop berisi uang pada preman.


Seorang preman memeriksa amplop tersebut dan melihat isi didalamnya.


"Ok, kami setuju. Kami akan segera melakukan perintahmu!" ujar salah satu preman, menjabat tangan Tasya tanda setuju.


Kedua preman tersebut meninggalkan Tasya untuk segera melaksanakan perintahnya.


"Kalian lihat saja. Permainan akan semakin menarik" ujar Tasya menyeringai.


Today berlalu meninggalkan tempat itu, menunggu kabar selanjutnya dari kedua preman suruhannya itu.


...****************...


Jam pulang kantor berlalu satu jam lalu. Mas Abhi baru usai merapikan pekerjaannya. Ia berniat kembali pulang.


Mas Abhi berjalan menuju pelataran parkir dan melajukan kendaraannya. Ia keluar dari kantor tanpa ada firasat apapun.


Mas Abhi berjalan dijalan yang biasa ia lalui untuk pulang. Tanpa ia sadari sedari tadi ada sebuah mobil yang terus mengikutinya. Saat ia berhenti di lampu merah, ia baru menyadari hal itu.


"Sepertinya mobil di belakangku dari tadi terus mengikutiku" gumam Mas Abhi, menengok ke kaca spion didepannya.


Lampu berganti warna hijau, Mas Abhi segera memacu mobilnya. Melihat hal itu, mobil dibelakangnya turut memacu kecepatannya juga.


Terjadilah aksi kejar-kejaran dijalan raya. Saat berada dijalan yang sepi, mobil tersebut menambah kecepatannya dan memotong jalan Mas Abhi.


Mas Abhi pun mengerem mobilnya secara mendadak. Hampir saja ia menjambak mobil didepannya.


"Mereka itu maunya apa sih? siapa mereka?" gumam Mas Abhi.


Mas Abhi membuka pintu mobilnya dan berjalan menghampiri mobil yang ada didepannya. Ia menggedor kaca mobil dan berteriak menyuruh mereka keluar.


"Buka pintunya. keluar kalian. kenapa kalian terus mengikutiku?".