Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 37



Hai reader tersayang author minta maaf ya beberapa hari kemarin author nggak bisa up karena author lagi sakit,matanya nggak bisa dipake buat natap layar handphone terlalu lama 🙏🙏


dan sebagai gantinya hari ini author dobel up


makasih buat reader yang terus setia menanti kelanjutan ceritanya dan juga terus mendukung author untuk up....,🤗🤗🤗


salam hangat buat semuanya dan happy reading...💞💞💞


*


*


*


Aku berangkat ke masjid bersama dengan penghuni inaba lainnya karena aku belum tahu dimana letak masjid itu berada.


Sesampainya di masjid tampak beberapa orang yang sudah berada disana,mereka tengah berdzikir sembari menunggu adzan magrib berkumandang.


Aku segera mencari tempat yang kosong dan menghamparkan sajadahku diatasnya, kemudian aku duduk dan ikut berdzikir bersama mereka.


Tak berselang lama seseorang bangkit dan mulai mengumandangkan adzan magrib,hatiku tiba-tiba bergetar tatkala mendengar suara adzan ini.


Aku sering mendengar suara adzan berkumandang kebetulan rumahku dulu terletak tidak jauh dari masjid,tapi entah kenapa saat mendengarnya kali ini ada sesuatu yang berbeda,aku merasa begitu tersentuh juga damai dengan suara adzan kali ini.


Mungkin saat itu aku tak terlalu peduli dengan suara adzan yang berkumandang dan mendengarkan sambil lalu saja,atau mungkin juga karena saat ini aku begitu meresapi suara adzan ini.


Entahlah aku pun tak tahu pasti apa alasannya,tapi hatiku memang merasa ada yang lain dari suara adzan ini,seperti ada sebuah kekuatan yang menyadarkanku dari semua kesalahanku hingga membuatku menitikkan air mata.


Setelah beberapa saat seusai suara adzan dikumandangkan terdengar puji-pujian disenandungkan,dan setelah beberapa saat kami semua pun lekas berdiri dan memulai sholat Maghrib dengan Abah kyai yang bertindak sebagai imam sholat.


Usai sholat kami berdzikir bersama dan berdo'a, kemudian dilanjutkan dengan tausiyah seperti yang disampaikan oleh Ning Zahra tadi.


Abah kyai menyampaikan tausiyah dengan mengambil tema mengupas makna surat Ar-rohman,cara penyampaiannya begitu santun tapi mengena,bahasa yang digunakan juga mudah untuk dipahami.


Dalam tausiyahnya Abah kyai mengatakan tentang kewajiban kita untuk senantiasa bersyukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT pada kita.


Beliau menerangkan bahwa dalam surat Ar-rohman telah disebutkan secara berulang-ulang ayat yang sama,yaitu 'fabiayyi ala irob bikuma tukaddiban' yang memiliki makna 'maka nikmat tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan'.


Beliau juga berkata barang siapa yang selalu bersyukur atas nikmat Allah maka Allah akan menambah nikmatnya,dan barang siapa yang mengingkari nikmatnya maka baginya adalah azab yang pedih.


Tausiyah ditutup dengan sholat isya berjamaah dan setelah semua kegiatan usai kami segera kembali ke inaba masing-masing karena malam semakin larut.


Ada beberapa orang yang masih betah berada di masjid karena mereka masih ingin melakukan beberapa sholat sunah,aku sendiri memutuskan untuk segera kembali ke inaba dan beristirahat.


sesampainya di inaba aku segera merebahkan tubuhku diatas ranjang,mataku menerawang menatap langit-langit kamar kembali mengingat dan merenungi tausiyah yang disampaikan Abah kyai tadi, makna ayat yang disampaikan Abah kyai tadi terus terngiang di kepalaku.


Kini aku merasa mungkin apa yang kualami saat ini adalah cara Allah untuk menegurku agar aku segera kembali kejalan-Nya.


Tak terasa kantuk pun datang menyerang,aku segera menutup mataku dan masuk kedalam mimpi indahku.


...****************...


Keesokan hari aku mulai menjalani seluruh rangkaian peyembuhan.Seperti yang dijelaskan oleh Abah kyai sebelumnya pertama-tama aku diajak untuk mandi besar,mandi yang dalam agama Islam dianggap mampu mensucikan diri dari hadas besar.


Selesai mandi aku diajak untuk sholat taubat dan rangkaian sholat sunah lainnya,setelah selesai aku diajak untuk berzikir dan memperbanyak istighfar.


Seluruh rangkaian penyembuhan aku jalani dengan sepenuh hati dan juga dengan kesungguhan,disamping menjalani seluruh proses penyembuhan aku juga meminta pada Ning Zahra untuk mengajarkanku tentang agama.


Ning Zahra sendiri masih seumuran denganku,tapi wawasannya mengenai agama begitu luas dan dalam,ditambah lagi ia adalah alumni dari universitas Al-Azhar Kairo,Mesir.


Dengan telaten dan penuh kesabaran Ning Zahra mengajarkanku tentang agama,selain itu darinya pula aku banyak belajar tentang makna kehidupan.


Setelah beberapa Minggu berada disini aku tak lagi mengalami sakaw,mungkin karena kesungguhanku untuk segera sembuh yang membuatku begitu cepat lepas dari jerat narkoba.


Kala malam datang aku sering melakukan sholat taubat dan sholat tahajud,aku ingin bertaubat dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi,selain itu aku juga sering mengkaji dan mendalami makna Al-Qur'an.


Seringkali dalam kesendirianku kala malam menjelma aku merenung tentang makna hidup.


Selama ini aku telah melihat berbagai macam kehidupan dunia,dan aku tersadar semuanya adalah anugerah cinta-Nya yang harus selalu diterima apa adanya,bukan dengan keluh kesah tapi dengan rasa syukur dan juga terimakasih.


Kehidupan adalah sebuah anugerah yang telah telah diberikan pada manusia,jangan pernah menyesali apa yang terjadi dan jangan pernah membenci segala yang diberi, tapi selalu mencari.Makna hidup adalah sebuah pencarian


'Apa yang kucari dalam hidup?',itulah sebuah pertanyaan besar yang harus kita cari jawabannya.


Kita sering merasa ada sesuatu yang telah lama hilang dalam hati kita,dan kita juga merasa ada sebuah lubang dalam hati kita,sesuatu itulah yang harus kita tanyakan pada sang nurani.


Cinta adalah rasa yang harus dimiliki,cita keinginan yang selalu ada,keduanya haruslah ada.Baik cinta ataupun cita adalah perjalanan yang harus dilalui oleh manusia untuk mengisi kekosongan hati.


Siapa Dia yang menjadi penawar kerinduan,apakah kekasih hati yang telah lama pergi ataukah rasa sayang yang bersemayam dalam sanubari seorang manusia.Walaupun semuanya telah dicapai tapi pencarian tidak akan pernah berhenti.


Hidup adalah sebuah pencarian,hidup ibarat seseorang yang melakukan sebuah perjalanan panjang.Memang sangat melelahkan dan juga jenuh,tapi pencarian tidak akan pernah berhenti,dan Dia yang kita cari juga tidak ingin kita berhenti.


Kita terus mencari sesuatu yang mampu mengisi lubang dalam hati kita, sesuatu itu mungkin adalah cinta atau mungkin juga cita.Bisa jadi sesuatu itu adalah keluarga,teman atau sahabat kita.


Apapun itu, itu adalah sebuah ilusi yang mungkin sudah menutupi mata hati kita dari diri kita yang sejati.


Cinta dan cita adalah sebuah tahapan dalam mencari pengisi lubang hati,tapi hanya satu yang mampu menutup lubang itu, yaitu Dia lah yang sejati sang pemilik seluruh kehidupan, Allah SWT.