
Pandangan ibu tersebut beralih padaku. Aku tersenyum tipis, beringsut mendekatinya. "Bagaimana keadaan ibu?" tanyaku berbasa-basi.
Wanita tersebut nampak terpana melihat kehadiranku. "Ka...kau Kania, kan?" tanyanya ragu.
"Iya, ibu mengenal saya?" jawabku, mengernyitkan dahi karena bingung.
"Aku sangat mengenal siapa dirimu. Terimakasih karena sudah menjengukku. Kau boleh pulang sekarang" ucapnya datar sambil berbaring membelakangi ku, serta menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Aku semakin bingung mendengar dia mengusirku, walaupun itu secara halus. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana dia bisa mengenal namaku, sementara aku merasa tidak pernah mengenalnya.
Aku tak ingin berpikir lebih jauh, aku memutuskan untuk pulang saja. "Kalau begitu aku permisi dulu. Maaf sudah mengganggu" ujarku, beranjak menuju pintu.
"Tunggu dulu, Tante. Tante jangan langsung pulang. Maafkan ucapan ibu tadi. Dia tidak bermaksud mengusir Tante" cegah Langit. Ia merasa tidak enak padaku karena ibunya telah mengusirku tadi.
"Tidak apa, nak. Mungkin ibumu butuh istirahat" ujarku sambil tersenyum kecil. menghilangkan ketidakenakan diwajahnya.
"Langit sungguh-sungguh minta maaf, Tante" ujarnya lagi sambil menundukkan kepala.
"Sudah, tidak perlu dipikirkan lagi. Tante tidak merasa tersinggung sama sekali" ucapku, mengusap kepalanya. Langit tersenyum lega memdengar ucapanku.
Kemudian aku membuka dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dan menyerahkan padanya. "Oh ya, ini Tante ada sedikit uang untukmu. Kau bisa menggunakannya untuk membeli obat ibumu" ujarku.
"Terimakasih banyak, Tante. Tante benar-benar orang yang sangat baik. Semoga Allah membalas semua kebaikan Tante".
"Amin!" jawabku. "Kalau boleh tahu, siapa nama ibumu, nak?".
"Nama ibuku Tasya, Tante!".
"A....apa. Tasya?" terkejut mendengar nama yang diucapkan oleh Langit. Aku bahkan tak bisa berkata apa-apa setelah itu.
"I...iya, benar. Nama ibuku, Tasya. Ada apa memangnya, Tante? Apa Tante mengenal ibuku?" tanya Langit bingung.
Aku langsung berlari, kembali menghampiri Tasya. Tak kuperdulikan Langit yang menatap penuh keheranan. Aku hanya ingin memastikan kalau dia benar-benar Tasya yang dulu kukenal.
Aku menyibak selimut yang menutupi tubuh Tasya, kemudian aku mengguncang tubuhnya yang ringkih. "Tasya, apa benar kau adalah Tasya temanku dulu?".
"Kau benar. Aku memang Tasya, teman mu dulu" jawabnya lirih, menatap dengan pandangan sendu.
"Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal? dan kenapa kau malah mengusirku tadi?" teriakku setengah marah.
"A...aku malu denganmu. Aku bahkan tidak berani untuk menunjukkan wajahku padamu" jawabnya setengah terbata-bata.
"Ya Allah, kenapa keadaanmu jadi begini? lalu kemana suamimu? kenapa dia membiarkanmu dalam kondisi seperti ini?" tanyaku beruntun. Aku tidak tega melihat kondisinya sekarang. Dia lebih seperti mayat hidup.
"Aku tidak mempunyai suami, karena aku belum menikah!" jawab Tasya sambil tertawa sumbang, ada kesedihan dibalik tawanya.
"Apa maksudmu dengan belum menikah? lalu bagaimana kau bisa mempunyai anak? jangan bilang kalau kau menjual diri lagi".
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan, Kania. Aku tidak pernah menjual diri lagi".
"Lalu bagaimana kau bisa mempunyai anak?" teriakku semakin emosi.
Ku lepaskan cengkeraman tanganku dari kedua bahunya, menghela napas untuk meredakan emosi yang sempat hinggap. "Baiklah, sekarang jelaskan semua sejelas-jelasnya!".
Tasya menghela napas panjang. Untuk sesaat ia belum juga bicara. Mungkin ia masih bingung bagaimana cara untuk menjelaskan semua.
"Setelah aku pergi dari rumah mu, aku mabuk berat di sebuah bar. Aku marah karena semua rencana yang sudah ku susun hancur berantakan. Aku tidak tahu lagi sudah berapa banyak minuman yang sudah ku minum".
Sejenak Tasya diam untuk menjeda ceritanya, tapi kemudian dia kembali bercerita, "Dalam keadaan setengah sadar ada tiga orang laki-laki yang mendekatiku. Kemudian mereka membawaku ke sebuah rumah kosong. Lalu mereka memperkosaku secara bergilir. Akibat kejadian itu, aku pun hamil". Tasya mengakhiri ceritanya dengan Isak tangis. Ia terlihat sangat terpukul dengan kejadian itu.
Aku menutup mulutku dengan kedua telapak tangan, terkejut mendengar pengakuannya. "Astaga!. Jangan bilang kalau Langit adalah..."
"Kau benar!. Langit adalah anak yang ku kandung karena kejadian itu".
Langit yang dari tadi mendengar percakapan kami berdua pun terkejut mendengar kebenaran tentang dirinya. "Jadi selama ini ibu tidak pernah mengatakan siapa Ayahku itu karena hal ini. Aku hanya anak yang tidak pernah ibu harapkan, karena aku hanyalah anak yang lahir dari peristiwa buruk yang menimpa ibu".
Kami sangat terkejut mendengar ucapan Langit. Kami tak mengira kalau dia mendengar semuanya. "Jangan berkata seperti itu, nak. Ibu tidak pernah menganggap mu seperti itu. Ibu bahkan sangat bersyukur karena memilikimu dalam hidup ibu. Ibu sengaja menutupi semua ini darimu karena ibu tidak ingin kau sedih mendapati kenyataan ini" jawab Tasya cepat, ia tidak ingin Langit salah paham dengannya.
"Aku tidak marah denganmu, ibu. Aku bahkan berterima kasih karena ibu sudah mau merawat ku selama ini".
"Kemarilah, nak. Biarkan ibu memeluk dirimu" ucap Tasya, merenggangkan kedua tangannya.
Langit pun berlari, masuk kedalam pelukan Tasya. " Aku sayang sama ibu. Tolong, jangan pernah tinggalkan Langit!" ujarnya sambil berurai air mata.
"Ibu lebih menyayangi mu, nak. Kau adalah harta paling berharga untuk ibu".
Mereka saling berpelukan, tenggelam dalam Isak tangis. Aku yang memandang mereka berdua pun turut meneteskan air mata.Setelah beberapa saat, mereka pun saling melepas pelukan.
"Lalu bagaimana kau bisa seperti ini? apa yang sudah terjadi padamu?" tanyaku kembali setelah mereka puas menumpahkan semua perasaan mereka.
"Sepertinya salah satu dari pria yang memperkosaku dulu mengidap penyakit HIV/Aids. Dan sekarang aku tertular karenanya" jawab Tasya sambil tersenyum tipis. Ada guratan kesedihan didalamnya, tapi ia mencoba untuk menutupinya dariku.
"Ya Tuhan, kenapa semua jadi seperti ini" pekikku tertahan. Aku mengusap wajahku, kasihan mendengar apa yang sudah menimpanya.
"Mungkin ini adalah hukuman untukku karena selalu berbuat jahat padamu" jawab Tasya lirih.
Hening. Hanya Isak tangis yang terdengar.
"Kania, aku sungguh-sungguh minta maaf padamu. Kau mau kan memaafkan ku?" ucap Tasya.
Aku memandang kedua mata Tasya, mencari kesungguhan disana, dan yang ku dapati memanglah suatu ketulusan. Apa yang ia ucapkan memang berasal dari dalam hatinya. "Aku sudah memaafkan mu" jawabku tulus.
"Terimakasih banyak, Kania. Hanya itulah yang ingin aku dengar darimu sebelum aku meninggal" ucap Tasya sambil tersenyum tipis.
"Kau ini berkata apa? kau harus hidup demi anakmu" ucapku sedikit marah karena mendengar ucapannya tadi.
Tasya tertawa kecil mendengar ucapanku. Kau tidak perlu membesarkan hatiku. Kau tahu sendiri kan, HIV/Aids adalah penyakit mematikan. Aku tidak mungkin bertahan hidup lebih lama lagi".
"Tidak, kau harus bertahan. Setidaknya lakukan itu demi anakmu. Siapa yang akan menjaganya kalau kau tiada".