Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 39



Hari ini aku memulai aktivitas dirumah.Pagi-pagi aku sudah direpotkan dengan Emir, pasalnya ia terus saja menolak dan berlari kesana-kemari saat hendak kumandikan.Dinda yang melihatku terus berteriak dan ikut berlari mengejar Emir pun hanya tertawa terbahak-bahak.


"Ha ha ha ayo Kania kejar terus Emirnya!" teriak Dinda sambil terus tertawa.


"Ish kamu nih, bukannya bantuin malah terus saja ngeledekin aku!" kataku sewot.


"Yang semangat dong ngejarnya,masak kalah sih sama anak kecil!" teriak Dinda lagi tanpa memperdulikan omelanku.


aku pun hanya bisa mendengus kesal dan melanjutkan mengejar Emir.


Setelah lama membujuknya dan berjanji akan membelikannya es krim akhirnya dia mau juga untuk mandi,aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini.Segera kulepas bajunya dan menggendongnya menuju kamar mandi.


Saat mandi pun ia masih tak mau diam,dia terus saja asik bermain air dan berakhirlah dengan bajuku yang basah kuyup terkena cipratan air karena ulahnya.


Selesai mandi Dinda segera meminta Emir dari tanganku untuk memakaikannya baju dan memintaku untuk berganti baju pula.


Aku pun menyerahkan Emir pada Dinda dan segera masuk ke kamarku untuk berganti baju, setelah selesai aku segera keluar dari kamarku dan berniat menuju dapur untuk segera membuat sarapan.


Saat aku hendak menuju dapur terdengar suara seseorang tengah menyanyikan lagu anak-anak,aku pun menghentikan langkahku dan berbalik menuju sumber suara.


Tampak Dinda tengah asik bernyanyi lagu anak-anak sembari memakaikan baju pada Emir, ajaibnya Emir tampak tenang saat didandani oleh Dinda,aku pun segera berjalan menghampirinya.


"Din kok bisa sih Emir setenang ini sama kamu?" tanyaku setelah aku sampai didekat Dinda.


Dinda pun menghentikan nyanyiannya dan menoleh ke arahku.


"Eh Kania,sini duduk!" kata Dinda sambil menepuk tempat disebelahnya dan menyuruhku untuk duduk.


aku pun mengikuti perintah Dinda untuk duduk disampingnya.


"Kok bisa Emir setenang ini sama kamu?" tanyaku lagi setelah duduk.


"Oh itu,Emir itu paling suka dengan lagu anak-anak apalagi kalau lagu flaminggo,begitu mendengarnya dia pasti langsung tenang dan nggak rewel lagi!" kata Dinda menjelaskan padaku.


"Oh begitu!" kataku sambil manggut-manggut.


"Apa Emir selalu seperti ini setiap harinya?" tanyaku lagi.


"Ya gitu deh!" jawab Dinda sambil tersenyum dan mengedikkan bahu.


"Selama ini kamu pasti merasa kewalahan menghadapi tingkah Emir!" kataku lagi.


"Nggak juga kok aku malah merasa senang dengan tingkah Emir yang aktif,itu seperti sebuah hiburan tersendiri bagiku ditengah kesibukanku," jawab Dinda.


"Kau cobalah habiskan waktumu bersama Emir maka kau akan merasakan hal yang sama denganku!" kata Dinda lagi.


"Ya kau memang benar!" jawabku.


"Emir itu sedang dalam masa pertumbuhan, sedang aktif-aktifnya bereksplorasi,makanya dia itu nggak bisa diam" kata Dinda lagi.


"Kamu ternyata tahu banyak ya tentang Emir!" kataku.


"Ya sudah tentu iyalah,kan selama ini aku yang merawat Emir!" jawab Dinda.


"oh iya ya!" kataku sambil menepuk jidatku,aku merasa seperti orang bodoh dengan ucapanku barusan.


"Ya sudah aku tinggal ke dapur dulu ya,aku mau bikinin sarapan dulu buat kita" kataku sambil beranjak berdiri.


"Bagus deh kalo gitu,dah lama juga nggak ngerasain masakanmu he he he" jawab Dinda sambil nyengir kuda.


"Hu...." jawabku sambil berlalu dari hadapan Dinda menuju ke arah dapur.


Sesampainya di dapur aku segera berkutat dengan bahan-bahan masakan,dan dengan terampil aku mulai memainkan beberapa alat masak,rencananya hari ini aku ingin membuat sarapan dengan menu andalanku.


Setelah beberapa lama akhirnya aku selesai juga memasak,segera kubawa hasil masakanku keruang tamu dan menghidangkannya dihadapan Dinda dan Emir.


Tak butuh waktu lama semua makanan pun telah ludes tak bersisa.Dinda nampak kekenyangan setelah selesai makan begitu juga dengan Emir,tadi saat makan ia terlihat sangat lahap menyantap makanannya.


Aku sengaja membuat makanan yang tak pedas untuk Emir agar dia bisa ikut menikmati masakanku,dan aku merasa sangat senang karena Emir sangat suka dengan masakanku.


Selesai makan aku segera membereskan sisa makanan kami dan membawa semua piring kotor ke dapur untuk dicuci.


Tak butuh waktu lama semua pun telah bersih kembali,aku langsung bergabung dengan Dinda yang tengah menemani Emir yang sedang asik bermain.


"Emir mau beli es krim sekarang nggak?" kataku setelah beberapa lama.


"Cekalang bun?" tanya Emir.


"He em!" jawabku sambil menganggukkan kepala.


"Hole" teriak Emir kegirangan.


Selesai bersiap aku segera menggandeng tangan Emir menuju mobil Dinda,rencananya aku akan membawa Emir ke taman sambil nantinya menikmati es krim disana.


Tak berselang lama kami pun sampai juga di taman, kami segera turun dan mencari bangku yang kosong disekitar taman.


Di taman tampak banyak kupu-kupu beraneka warna yang beterbangan dan hinggap disalah satu bunga yang tengah bermekaran.


Emir terlihat asik kesana kemari mengejar kupu-kupu sambil tertawa,aku pun ikut berlarian bersama Emir mengejar kupu-kupu.


"Bunda tangkap itu" teriak Emir sambil menunjuk kearah kupu-kupu yang hinggap dibelakangku.


aku pun segera memutar badanku dan mengambil ancang-ancang untuk menangkap kupu-kupu dibelakangku, dan hap aku pun berhasil menangkap kupu-kupu itu.


"Hole bunda belhasil" teriak Emir kegirangan saat melihatku berhasil menangkap kupu-kupu.


aku segera menghampiri Emir dan memberikan kupu-kupu itu padanya.


"Sekarang kupu-kupunya dilepas lagi ya,kasian kupu-kupunya sayang!" kataku pada Emir setelah beberapa saat.


Emir pun mengangguk dan melepaskan kupu-kupu itu.


"Emir terusin mainnya sendiri ya,bunda mau istirahat dulu,bunda capek" kataku.


"Iya bunda, bunda istilahat saja" jawab Emir.


Kubiarkan Emir bermain sesuka hatinya selama beberapa saat sedangkan aku duduk disamping Dinda yang dari tadi hanya memandangi kami yang tengah asik mengejar kupu-kupu.


"Kau memang benar Din,bermain dengan Emir sangatlah menyenangkan!" kataku sambil memandang Emir.


Dinda hanya tersenyum kecil mendengar ucapanku.


"Aku titip Emir sebentar ya Din,aku mau beli es krim dulu!" kataku setelah beberapa saat sambil beranjak berdiri.


"Iya nggak pa pa,Saba gih kamu tinggal" kata Dinda.


Aku pun segera berlalu dan melangkah menuju penjual es krim yang berada tidak jauh dari sana.


Tak berselang lama aku segera kembali sambil membawa tiga cup es krim di tanganku dan memanggil Emir untuk mendekat sambil menunjukkan es krim ditanganku.


Emir pun segera berlari kearah kami dengan gembira,setelah ia sampai segera kuberikan es krim itu satu untuk Emir, satu untuk Dinda,dan satu untukku sendiri.


"Makasih bunda, Emil sayang bun!da" kata Emir setelah ia menerima es krim dari tanganku sembari mencium pipiku.


"Bunda juga sayang Emir" jawabku sembari balik mencium pipinya.


"Mentang-mentang sekarang sudah ada bunda Tante jadi nggak disayang lagi nih sama emir" Rajuk Dinda sambil memajukan sedikit bibirnya berpura-pura marah.


aku yang melihat tingkah Dinda pun tertawa kecil.


"Sepertinya ada yang ngiri nih!" kataku sambil melirik kearah Dinda.


"Siapa yang ngiri,nggak kok biasa saja!" tukas Dinda sambil memalingkan wajahnya.


aku pun semakin terpingkal-pingkal melihat tingkah Dinda.


"Sama mir cium juga Tante Dindanya" kataku setelah puas tertawa.


Emir pun segera menghampiri Dinda dan mencium pipinya


"Maapin Emil ya Tante, Tante jangan malah lagi Emil sayang Tante juga kok" kata Emir dengan lucunya.


Dinda pun merangkul Emir dan mendudukkannya diatas pangkuannya.


"Tante nggak marah kok sama Emir,tadi tuh Tante cuma pura-pura saja" kata Dinda.


"Gitu ya Tante,belalti Tante bo'ong dong" kata Emir.


"Nggak bukannya gitu,Tante cuma...." kata Dinda sambil kebingungan untuk menjawab perkataan Emir.


"Cuma apa tante" kata Emir terus mendesak Dinda.


"Emh itu anu...." kata Dinda sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sudah sudah ayo buruan dimakan es krimnya,nanti keburu mencair loh!" kataku mencoba mengalihkan pembicaraan mereka agar Emir tak lagi bertanya.


Emir pun segera memakan es krimnya begitu pula dengan aku dan Dinda.Aku tersenyum saat melihat mulut Emir yang belepotan karena terkena es krim.


Tak terasa hari sudah sore,kami memutuskan untuk segera kembali kerumah karena Dinda akan segera bersiap untuk pergi bekerja nanti malam.