Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 58



"Berhenti!, hentikan pernikahan ini sekarang!" ujar suara itu.


Seketika kami pun menoleh ke sumber suara, ternyata itu adalah suara Abhimana,ia datang bersama dua orang polisi.


"Kurang ajar!, ternyata kau telah membohongiku" teriak Arsen marah setelah ia melihat kedatangan polisi.


Arsen pun segera bangkit dan menarik tubuh Emir dari kedua orang tadi,tangannya menodongkan pistol kearah kepala Emir.


"Diam!, semuanya diam ditempat.Jangan ada satu orang pun yang bergerak atau aku akan menembak kepala Emir!," ancam Arsen.


Semua orang pun terdiam, tak ada satupun yang berani bergerak.


"Kumohon lepaskan Emir,arsen!, jangan sakiti dia!" ujarku seraya bergerak sedikit mendekatinya.


"Diam kau!," hardik Arsen.


"Ini semua adalah salahmu, sekarang kau tanggung sendiri akibatnya!".


Saat Arsen terlihat sedikit lengah, Mas Abhi pun segera merebut pistol itu dari tangan Arsen.


Arsen pun semakin marah, ia segera berlari keluar sambil membawa Emir bersamanya.


Aku,Mas Abhi, dan kedua polisi itu pun ikut berlari keluar, mencoba untuk mengejar Arsen.


Terjadilah kejar-kejaran di jalanan.Saat itu Dinda pun datang dan langsung ikut mengejar arsen.


"Lepaskan Emir, Arsen!, kau jangan nekat" teriak Abhimana.


"Diam kau!, ini semua gara-gara kamu" teriak Arsen marah.


Arsen pun terus berlari,menghindar dari kejaran kami.


"Berhenti saudara Arsen!, atau kami terpaksa melepaskan tembakan," ujar salah satu polisi.


Arsen tak menggubris gertakan polisi,ia malah terus berlari.


Dengan terpaksa polisi pun melepaskan tembakannya yang ditujukan kearah kakinya.


Arsen pun terjatuh, tapi naas.Saat Arsen terjatuh, Emir terlepas dari genggamannya dan terlempar ke tengah jalan.


Bertepatan dengan itu, ada sebuah mobil bak terbuka yang sedang melintas dan menabrak tubuh Emir hingga terpental ke seberang jalan.


"Tidak!!!" pekikku tertahan


Aku segera berlari menuju seberang dan menghampiri tubuh Emir yang tergeletak disana.


Aku pun semakin histeris saat menyaksikan tubuh Emir yang bersimbah darah.Kurengkuh tubuh ringkih itu dan membawanya keatas pangkuanku.


"Emir, buka matamu nak!.Lihat, sekarang Bunda ada disini," ujarku sambil menepuk pipi Emir mencoba menyadarkannya.


Perlahan Emir pun mulai membuka matanya.


"Bunda...." ujar Emir lirih.


"Iya nak, ini Bunda!," sahutku sambil terisak.


"Emir sayang sama Bunda.Sekarang Bunda jangan sedih lagi ya!," ujar Emir, tangannya terulur menyentuh pipiku dan menghapus air mataku.


Air mataku mengalir semakin deras saat mendengar ucapan Emir.


"Bunda juga sayang sama kamu nak,Emir yang kuat ya!" ujarku sambil menggenggam tangannya.


"Bunda tenang aja, Emir nggak pa pa kok, kan Emir jagoannya Bunda!" ujar Emir sambil tersenyum.


Aku pun ikut tersenyum melihat senyum di wajah Emir.


Tiba-tiba, mata Emir kembali terpejam dan ia kehilangan kesadarannya.


Aku pun kembali histeris, kutepuk lagi pipinya dan kugoncang tubuhnya agar ia kembali sadar.


Saat itulah Mas Abhi datang menghampiriku dan diikuti oleh Dinda.


"Mas Abhi,Emir Mas!," ujarku dengan air mata yang berderai.


"Tenanglah dulu Kania!, sebaiknya kita segera bawa Emir ke rumah sakit!" ujar Abhimana.


"Iya mas!," jawabku sambil mengangguk mengiyakan.


"Kita gunakan mobilku saja!" ucap Dinda.


Kami pun setuju dengan usulan Dinda, Mas Abhi segera mengangkat tubuh Emir dan membawanya ke mobil Dinda yang berada tidak jauh dari sana.


Aku pun segera membuka pintu mobil dan duduk di kursi belakang.


"Taruh kepala Emir dipangkuanku Mas!" ujarku sambil menepuk pahaku.


Mas Abhi pun merebahkan tubuh Emir di kursi belakang dan menggunakan pahaku sebagai bantal.Dinda dan mas Abhi pun segera masuk juga kedalam mobil.


Tak butuh waktu lama mobil pun segera meluncur menuju rumah sakit terdekat dengan mas Abhi yang mengemudikannya.


Sementara itu polisi segera meringkus Arsen dan menjebloskannya kedalam penjara.


...****************...


"Suster suster!," teriak Mas Abhi memanggil suster sambil menggendong tubuh Emir.


Seorang suster pun tergopoh-gopoh mendatangi kami.


"Ada apa ini?," tanya suster itu.


"Tolongin anak saya sus,dia baru saja ketabrak mobil!," jawab Mas Abhi.


"Silahkan taruh pasien disini!," ujar suster itu sambil meraih sebuah brangkar yang berada tidak jauh dari sana.


Mas Abhi pun merebahkan tubuh Emir diatas brangkar,kemudian suster pun membawanya menuju ruang gawat darurat.


"Silahkan tunggu diluar!, biar dokter yang menangani pasien!" cegah suster itu saat kami hendak ikut masuk.


Suster pun segera menutup pintu,dan kami pun menunggu diluar dengan harap-harap cemas.


Tak berselang lama dokter pun keluar,aku segera bangkit dan menghampiri dokter itu


"Bagaimana keadaan anak saya dok?," tanyaku.


"Putra anda mengalami pendarahan di otak,keadaannya sangat kritis,kami harus segera melakukan operasi untuk menyelamatkan nyawanya!," jelas dokter itu.


bruk!


Aku terduduk diatas lantai, air mataku pun ikut mengalir deras.


Dinda pun segera merengkuh tubuhku dan menenangkanku.


"Tenangkanlah dirimu kania!, kuatkanlah hatimu!" ujar Dinda mencoba memberiku kekuatan.


"Lakukan apapun yang terbaik untuk menyelamatkan nyawa anak saya,dok!" ujar Mas Abhi.


"Baik,saya akan segera membawa pasien keruang operasi!" jawab dokter itu.


"Suster,tolong siapkan ruang operasi sekarang!" ujar dokter itu pada suster.


"Baik dok!," jawab suster itu.


"Kalau begitu saya permisi dulu!" ujar dokter itu pada kami.


dan dokter pun segera berlalu pergi dari hadapan kami.


...****************...


Operasi Emir berjalan selama empat belas jam.Kami pun menunggu dengan harap-harap cemas.


Aku terus mondar mandir didepan ruang operasi, satu menit serasa satu tahun bagiku, aku tak sabar menunggu operasi Emir selesai.


"Duduklah dulu Kania, tenangkanlah dirimu!," ujar Mas Abhi mencoba membuatku tenang.


"Mana mungkin aku bisa tenang Mas,ini menyangkut nyawa anakku!," jawabku sedikit keras.


"Aku tahu itu Nia, kita semua juga cemas!" ujar Mas Abhi.


"Ini semua salahku!, seharusnya aku nggak berbuat sesuatu yang bisa membahayakan nyawa anakku,aku memang ibu yang nggak becus!," ujarku menyalahkan diriku sendiri sambil tanganku terus memukuli diriku.


Mas Abhi segera menangkap tanganku dan membawaku kedalam pelukannya.


"Kumohon tenangkan dirimu Nia, ini semua sudah kehendak Yang Kuasa, jangan pernah kau menyalahkan dirimu sendiri!" ucap Mas Abhi.


Aku pun menangis sesenggukan dalam pelukan Mas Abhi.


Setelah sekian lama menunggu akhirnya dokter pun keluar dari ruang operasi.


"Keluarga pasien emir," panggil dokter itu.


"Iya,kami dok!" sahutku.


Aku pun segera maju dan bertanya pada dokter itu.


"Bagaimana keadaan anak saya dok?, apakah operasinya berjalan lancar?" tanyaku tak sabar.


"Operasinya berjalan dengan lancar dan pasien juga sudah melewati masa kritis" kata dokter itu menjelaskan


"Syukurlah!" jawab kami bersamaan.


aku pun sedikit bernapas lega mendengar ucapan dokter tadi.


"Tapi ada satu hal penting lagi yang ingin saya sampaikan!" kata dokter itu.


"Apa itu dok?" tanya Dinda,kami kembali tegang saat itu.


"Saat ini pasien mengalami koma akibat dari benturan di kepalanya!" ujar dokter itu.


pias!!


Wajahku pun pucat pasi, tubuhku ambruk seketika.