Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 108



Setelah perdebatan kecil yang terjadi diantara mereka, akhirnya Mas Abhi setuju. Ia mengalah dan membiarkan Dinda yang menyetir. Mereka masuk kedalam mobil dan bergegas meninggalkan rumah itu.


Dinda melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Didalam mobil, mereka sama-sama terdiam. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Setelah beberapa lama, akhirnya Mas Abhi mulai membuka suara. "Dinda, aku ada sebuah permohonan untukmu. Aku harap kau bersedia membantuku".


"Katakan, Abhi. Kalau aku bisa, aku pasti akan membantumu" jawab Dinda, tersenyum tipis.


"Aku harap kau mau membantuku untuk menjelaskan semuanya pada Kania. Selama ini dia sangat percaya denganmu. Saat ini hanya kaulah harapanku satu-satunya" berkata penuh harap.


"Entahlah, Abhi. Saat ini aku juga tidak yakin apakah Kania masih mau mendengarkan perkataanku" berkata lirih.


"Kenapa tidak, Din? bukankah kau sahabat baiknya?" mengernyitkan dahi tak mengerti.


"Itu memang benar, Bhi. Tapi saat ini Kania sudah sangat berubah. Semenjak kehadiran Tasya, dia bukan lagi menjadi Kania yang dulu ku kenal. Tasya sudah membuat Kania dipenuhi dengan amarah, sehingga dia tidak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar".


Mas Abhi tertunduk lesu mendengar ucapan Dinda. Ia semakin pesimis untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.


Melihat hal itu, Dinda menjadi iba. Ia mencoba memberi kekuatan pada Mas Abhi.


"Kau jangan putus asa dulu, Abhi. Kebenaran itu ibarat air yang mengalir. Berapapun banyaknya batu karang yang mengepungya, ia akan tetap menemukan celah untuk mendapatkan jalan keluar".


"Begitu juga dengan masalah ini. Cepat atau lambat kebenaran pasti kan terungkap. Aku yakin suatu hari Kania pasti mengetahuinya juga".


Mas Abhi tersenyum tipis menanggapi ucapan Dinda.


"Kita akan sama-sama berjuang untuk menegakkan kebenaran. Aku akan terus berusaha untuk meyakinkan kania jika kau tidak bersalah. Kau juga harus berusaha untuk mendapatkan bukti-bukti itu".


Mas Abhi mengangkat kepalanya, sepertinya ucapan Dinda tadi mampu membangkitkan kepercayaan dirinya kembali.


"Kau benar, Dinda. Aku akan terus berusaha membuktikan bahwa diriku tidaklah bersalah".


"Aku senang melihatmu tidak patah semangat!" tersenyum kecil.


Mas Abhi ikut tersenyum melihat senyuman Dinda. "Terimakasih banyak, Dinda. Kau memang sahabat yang paling baik. Kau selalu membantu kami disaat kami terpuruk".


"Itu sudah menjadi tugasku untuk membantu kalian. Kalian berdua adalah sahabatku yang paling berharga. Tentu saja aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada kalian".


Tak terasa mereka telah sampai dirumah. Mas Abhi segera turun dari mobil dan mengajak Dinda untuk masuk. "Ayo, Din, masuk dulu".


"Tidak Abhi, aku mau langsung pulang saja!".


"Tapi ini sudah sangat malam, Dinda. Apa tidak sebaiknya malam ini kau menginap dulu disini?".


"Tidak, Abhi. Aku tidak ingin semakin memperkeruh keadaan".


"Maksudmu?" masih tak mengerti.


"Kau tahu sendiri kan bagaimana sifat Tasya. Aku tidak ingin dia menggunakan kesempatan ini untuk memfitnah kita berdua".


Mas Abhi terdiam memikirkan perkataan Dinda. Agaknya dia juga setuju dengannya, tapi dia masih ragu untuk membiarkan Dinda pergi sendiri.


"Ini sudah sangat malam, Dinda. Apa kau yakin akan pulang sendiri? Atau aku suruh supir aja untuk mengantarmu pulang?" menawarkan.


"Tidak perlu, Abhi. Kau tenang saja, aku bisa jaga diri kok!".


Sejenak Mas Abhi menimbang ucapan Dinda, akhirnya ia membiarkan Dinda pulang sendiri.


"Baiklah kalau itu maumu. Tapi kalau ada apa-apa kau harus segera menghubunguku!".


"Iya, Abhi. Aku pasti baik-baik saja. Kau tidak usah terlalu khawatir begitu padaku. Lebih baik sekarang kau segera beristirahat. Kau pasti sangat capek!" tersenyum kecil.


Mas Abhi mengangguk mengiyakan dan ikut tersenyum.


"Oh, ya, satu lagi. Segera kau obati luka di kepalamu itu. Aku lihat, tadi ada bekas darah disana. Jika perlu kau memeriksakan diri juga ke dokter, hanya untuk memastikan bahwa kau baik-baik saja".


"Kalau begitu, aku permisi dulu!".


"Iya".


Dinda pun segera menginjak pedal gas dan berlalu dari rumahku. Sedang Mas Abhi segera masuk ke rumah setelah memastikan Dinda sudah pergi.


Sesampainya di dalam, suasana rumah sangat sunyi. Ia bergegas mencari keberadaanku, tapi tak jua dia temukan.


Mas Abhi menghela napas berat. "Sepertinya Kania serius dengan ucapannya tadi. Agaknya dia sudah pergi meninggalkan rumah ini".


Mas kembali mengitari ruangan. Kali ini dia mencari keberadaan Naila, tapi dia juga tak mampu menemukan keberadaannya. "Sepertinya Kania juga membawa Naila bersamanya".


"Sudahlah, lebih baik malam ini aku biarkan dulu seperti ini. Besok pagi saja aku menjemputnya di rumah Papa. Mungkin besok dia mau merubah keputusannya".


Mas Abhi masuk ke kamar kami dan merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Kepenatan yang menderanya sedari tadi membuatnya langsung terlelap. Ia bahkan tidak sempat membersihkan tubuh terlebih dahulu.


...****************...


Sementara disisi lain....


Aku sangat marah dan kecewa melihat kenyataan yang ada di depan mataku. Rasanya aku tak kuat melihat hal itu lebih lama lagi. Aku memutuskan untuk segera pergi dari sana.


Aku pergi begitu saja meninggalkan Dinda yang masih terpaku disana. Dia masih mencoba memahami apa yang sudah terjadi.


Aku menghentikan taksi yang kebetulan lewat. Aku memintanya untuk mengantarku pulang kerumah. Air mataku terus mengalir. Luka yang baru saja kudapat membuatku tak mampu berpikir jernih.


Sesampainya dirumah aku segera turun. Aku meminta supir untuk menungguku sebentar,dan sopir pun mengangguk mengiyakan.


Aku segera berlari masuk ke dalam. Kuambil koper yang ada diatas lemari dan memasukkan beberapa bajuku disana. Kulakukan itu semua dengan tidak sabar. Keputusanku sudah bulat, aku akan pisah ranjang dengan Mas Abhi untuk sementara waktu.


Kuhempaskan pintu kamar dengan kasar. Agaknya suara yang ditimbulkannya membuat Naila terbangun. Ia bangkit dan berjalan menghampiriku.


"Bunda, suara apa tadi?" tanya Naila, mengucek matanya yang masih mengantuk.


Aku berhenti dan berbalik menghadap Naila. Aku baru sadar jika ada dia juga dirumah ini.


Naila terkejut melihat wajahku yang dipenuhi dengan lelehan air mata. Ia semakin terkejut melihat tanganku menenteng sebuah koper.


"Bunda mau kemana malam-malam begini? dan kenapa bunda menangis?" menghapus air mata yang mengalir di pipiku.


Kupandangi wajah Naila lekat-lekat. "Bunda mau pergi dari rumah ini. Naila mau kan ikut sama Bunda?".


"Tapi kita mau kemana, Bunda?" tanya Naila kebingungan.


"Kita ke rumah kakek!" jawabku singkat.


"Malam-malam begini, Bunda?".


Aku hanya menjawab dengan menganggukkan kepala.


"Lalu Ayah bagaimana?".


"Nanti Ayah akan menyusul kita!" jawabku. Aku terpaksa berbohong padanya, tidak mungkin aku menceritakan kejadian yang sebenarnya.


"Bunda tidak sedang bertengkar dengan Ayah kan?" tanya Naila curiga, dipandanginya wajahku lekat-lekat.


Aku memalingkan wajahku darinya, sejujurnya aku tidak bisa berbohong padanya. "Sudahlah, Naila. Jangan banyak tanya lagi. Kita pergi sekarang juga".


"Baik, Bunda. Maaf!" ujar Naila menundukkan kepala.


Singkat cerita, aku membawa Naila untuk ikut bersamaku. Dan tak berselang lama kami sampai di rumah Papa.