
Tak terasa sudah dua bulan toko bunga kami resmi dibuka,banyak sudah pembeli yang mendatangi toko bunga kami.
Terkadang toko kami ramai pembeli, terkadang juga hanya beberapa orang saja yang datang.
Tapi entah kenapa selama seminggu ini toko bunga kami begitu sepi,bahkan kemarin saja dari pagi sampai sore tak satupun pembeli yang datang.
Aku tertunduk lesu dan hampir saja putus asa,tapi kemudian aku teringat pada nasihat Ning Zahra waktu aku masih di pesantren dulu.
Dulu Ning Zahra pernah bilang bahwa sholat Dhuha mampu membuka pintu rezeki kita yang tertutup.
Aku pun segera bangkit dan bergegas mengambil air wudhu.Kuhamparkan sajadahku diatas lantai dan mulai melakukan sholat sunah dua rakaat, selesai sholat kulanjutkan dengan doa dan membaca surat al-waqi'ah.
Allah senantiasa teringat pada setiap hamba-nya yang bertaburan mimpi, Allah berkata" Kemana kau pergi wahai hamba-Ku uang yang Ku-cinta".
Perjalanan sunyi tanpa-Ku yang sekarang tengah kau tempuh sendiri,kuatkanlah hatimu wahai hamba-Ku yang Ku-cinta.
Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja yang selalu menemanimu disaat sholat malammu, serta dua raka'at subuh berjamaahmu dulu sebelum cahaya wahai hamba-Ku yang Ku-cinta.
Ingatkah engkau kepada suara adzan yang berhembus mesrah laksana angin,bukankah disitu AKU selalu membelaimu untuk membangunkanmu dan menunggumu untuk melaksanakan sholat wahai hamba-Ku yang Ku-cinta.
Kekuatan hati yang senantiasa berpegang teguh pada janji Allah dalam Al-Qur'an,Ku akan selalu menggenggam tanganmu wahai hamba-Ku,Ku kan selalu ada untukmu wahai hamba-Ku yang Ku-cinta.
Ku tak akan pergi meninggalkanmu sendiri untuk menempuh segala cobaan ,Ku kan selalu ada untuk menemanimu dan menyembuhkan luka hatimu wahai hamba-Ku yang Ku-cinta.
Allah selalu teringat pada hati setiap hamba-Nya yang selalu bertabur mimpi. Allah berkata"Dulu engkau sering mencurahkan isi hatimu pada-Ku disetiap sholatmu, Kemana engkau pergi sekarang duhai hamba-Ku?Aku rindu,tidakkah engkau rindu pada-Ku?".
Ingatkah engkau kepada dzikirmu yang berhembus mesrah bagaikan angin kepada-Ku hamba-Ku,bukankah Ku selalu disitu,tersenyum dan membelaimu dengan rahmat-Ku wahai hamba-Ku yang Ku-cinta.
Selesai membaca Alquran hatiku pun mulai tenang, dan rasanya kepercayaan diriku kembali lagi.
Tiba-tiba terdengar ada keributan dari arah luar,aku segera melepas mukenahku dan melipatnya,kemudian aku bergegas menuju kedepan untuk melihat apa yang terjadi.
Sesampainya aku didepan aku sangat terkejut dengan keadaan toko bungaku.Tampak pot-pot bunga yang hancur berantakan, bunga-bunga yang patah berserakan,serta tanah dan pupuk yang berceceran dimana-mana.
"Ada apa ini? kenapa ribut-ribut? dan kenapa semuanya berantakan begini?" tanyaku bertubi-tubi.
"Lihat Nia,ini semua ulah pria tak tahu diri itu,Arsen!" kata Dinda sambil menunjuk kearah Arsen.
aku segera berjalan menuju Arsen dan mencoba menghentikannya agar tak berbuat lebih jauh lagi.
"Apa yang kau lakukan Arsen? kenapa kau merusak semua tanamanku? kumohon hentikan semua ini" kataku sambil menarik lengan Arsen.
Arsen pun menghempaskan tanganku dan kemudian berbalik menghadapku.
"Keluar juga kau akhirnya!" kata Arsen sinis.
"Ada perlu apa kau mencariku?" tanyaku
"Tidak ada,aku hanya ingin menunjukkan cincin yang kini melingkar di jari manisku!" kata Arsen.
"Lihat,sekarang aku dan Dona sudah resmi menjadi sepasang suami-istri!" kata Arsen lagi sambil menunjukkan cincin yang melingkar dihari manisnya.
"Selamat atas pernikahan kalian!" jawabku setenang mungkin.
"Mulai sekarang kau tidak bisa lagi untuk mendekati aku,karena sekarang aku sudah menjadi milik dona!" kata Arsen.
"Aku bahkan tak berniat sedikitpun untuk kembali padamu!" jawabku.
"Oh ya, bukannya kau itu rindu dengan sentuhanku dan ingin mengulang kejadian malam itu lagi!" kata Arsen sambil memegang daguku.
"Jangan berani kurang ajar lagi padaku!" teriakku marah sambil menepis tangannya dari daguku.
"Jangan sok jual mahal,akui saja kalau kau memang ingin!" kata Arsen.
"Kau sudah selesai kan dengan urusanmu, sekarang pergi dari sini,dan ingat jangan pernah ganggu aku lagi!" usirku.
"Kalau aku nggak mau lalu kamu mau apa?" tanya Arsen menantang ku.
"Karena aku tak suka melihatmu bahagia,ini adalah pembalasanku karena kau sudah menolak untuk menikah denganku dulu!" seringai Arsen.
"Kumohon Arsen jangan ganggu hidupku lagi,bukankah sekarang kau juga sudah punya kehidupan lain!" kataku mengiba.
"Jalani lah hidupmu sendiri dan biarkan aku menjalani hidupku sendiri dengan tenang!" kataku lagi.
"Ha ha ha membiarkanmu hidup tenang? jangan mimpi!" kata Arsen sambil tertawa terbahak-bahak.
"Aku kan tadi sudah bilang kalau aku tidak akan membiarkanmu hidup bahagia,aku akan membuat hidupmu seperti di neraka!" seringai Arsen menakutkan sambil mencengkeram wajahku.
"Auch sakit!" rintihku.
"Kumohon lepaskan tanganmu Arsen,sakit!" kataku mengiba.
"Ha ha ha teruslah mengiba,aku suka dengan suara rintihanmu,itu seperti sebuah lagu merdu di telingaku!" kata Arsen.
Tiba-tiba cengkeraman tangan Arsen terlepas dari wajahku dan berganti dengan sebuah bogem mentah yang melayang diwajahnya.
bugh!
darah segar pun mengalir dari sudut bibir Arsen.
"Kau tidak apa-apa kan Nia?" tanya Abhimana sambil memegangi pundakku.
"Tidak Abhi,aku tidak apa-apa!" jawabku.
Ya, ternyata pria yang melayangkan tinjunya pada Arsen tadi adalah Abhimana.
"Kurang ajar,siapa kau? berani-beraninya kau ikut campur urusanku?" teriak Arsen marah sambil menyeka darah disudut bibirnya.
"Aku adalah calon suami Kania!" kata Abhimana tegas.
Arsen tampak terkejut dengan pengakuan Abhimana,begitu juga dengan aku dan Dinda.
"Oh jadi kau calon suaminya,asal kau tahu dia itu bekasku,kau akan menyesal kalau kau menikah dengannya!" kata Arsen mencoba menghasut Abhimana seraya menghinaku.
"Bagiku Kania lebih berharga dari berlian!" kata Abhimana.
"Cih kau terlalu tinggi menyanjungnya!" kata Arsen sambil meludah.
"Kuperingatkan padamu,jangan pernah ganggu Kania lagi atau kau" kata Abhimana.
"Atau apa ha? Ayo cepat katakan!" kata Arsen memotong perkataan Abhimana.
"Atau aku akan memberimu pelajaran!" kata Abhimana melanjutkan perkataannya tadi.
"Ha ha ha coba saja kalau kau berani!" tantang Arsen.
"Kurang ajar,dasar laki-laki tidak tahu diri!"teriak Abhimana marah sambil mengepalkan tangannya.
aku segera menarik tangan Abhimana dan mencoba menghentikannya.
"Lepaskan tanganku Kania,aku harus memberi pelajaran pada laki-laki tidak tahu diri ini!" kata Abhimana.
"Tidak Abhi,jangan lakukan ini!" kataku sambil mengeratkan peganganku pada lengan Abhimana.
"Dan kau Arsen,cepat pergi dari sini atau aku akan melaporkanmu pada polisi atas kasus pengerusakan!" kataku pada Arsen.
"Baik,sekarang aku akan pergi,tapi nanti aku pasti akan kembali lagi!" kata Arsen.
"Ingatlah kata-kataku ini Arsen,roda pasti akan berputar,suatu hari kau akan menyesali semua perbuatanmu, lalu kau akan memohon dan bertekuk lutut dihadapan ku untuk meminta maaf padaku!" kataku.
"Kita lihat saja nanti,siapa yang akan hancur lebih dulu!" kata Arsen dengan angkuhnya.
Setelah berkata begitu Arsen pun berlalu pergi dari toko bunga kami.