
Dan benar saja, Mas Abhi benar-benar marah saat mengetahui hal ini. Ia kecewa dengan keputusan yang kuambil. Kami bertengkar hebat karenanya.
"Apa kau sudah tidak waras!. Kau mengizinkan wanita lain untuk masuk kedalam rumah tangga kita. Itu sama halnya dengan memelihara ular, yang sewaktu-waktu bisa mematuk kita" berang Mas Abhi.
"Dia bukan orang lain, Mas. Dia ibu dari calon anakmu. Dan mungkin sebentar lagi juga menjadi istrimu" bantahku.
"Siapa bilang dia akan menjadi istriku. Bagiku, hanya kaulah satu-satunya istriku".
"Jangan egois, Mas. kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu sendiri. Dia sedang mengandung anakmu".
Mas Abhi menghela nafas gusar, ia mengusap wajahnya kasar. "Apa kau masih tidak percaya dengaku? Aku tidak pernah menyentuh Tasya sedikitpun".
"Kalau kau tidak pernah menyentuhnya, lalu bagaimana Tasya bisa hamil?".
"Mana aku tahu? aku juga tidak mengerti. Mungkin dia menjual tubuhnya pada lelaki hidung belang. Dia kan sudah pernah melakukannya".
plak!!!
Sebuah tamparan mendarat dengan mulus di pipi. Menciptakan bekas lima jari disana.
"Jangan pernah menghina Tasya lagi, Mas. Dia sudah berubah. Dia bukan lagi Tasya yang dulu".
Mas Abhi mengusap pipinya yang baru saja terkena tamparan. Ia menatap dengan mulut menganga, tak percaya dengan tindakanku tadi. "Kau berani menampa suamimu hanya demi membela wanita seperti dia?".
Aku memalingkan wajah, menghindari tatapan matanya. Sejujurnya hati
ini juga merasakan perih yang teramat sangat.
"Bukalah matamu lebar-lebar, kania!. Apa kau tidak bisa melihat kebenaran dihadapamu?. Semua ini hanya akal liciknya. Dia sengaja melakukannya untuk memisahkan kita berdua".
"Cukup, Mas! jangan berkata apa-apa lagi. Tasya tak seburuk yang kau tuduhkan!".
"Matamu memang sudah tertutup, Kania. Kau tidak bisa membedakan mana yang berkata jujur, dan mana yang dusta. Aku sangat kecewa padamu".
Hening....
"Sekarang terserah padamu. Aku capek membuktikan diri padamu" menghempaskan tubuh di kursi, berkata dengan wajah tertunduk.
"Yang kuinginkan hanya satu, Mas. Nikahi. Tasya, dan akui anak dalam kandungannya" ucapku lirih, air mata menetes saat aku mengatakan hal itu.
"Tidak akan! Aku tidak sudi menikahi wanita licik seperti dia. Sampai kapanpun aku tidak akan mau menikah dengannya" sergah Mas Abhi cepat, mendongakkan kepala.
"Kalau begitu aku yang akan pergi!".
"Maksudmu apa?".
"Kau tinggal pilih saja. Mau menikah dengan Tasya, atau aku yang akan pergi!".
"Apa kau sudah gila!. Kenapa kau menempatkanku pada pilihan yang sulit?" ujar Mas Abhi meradang.
"Aku tidak punya pilihan lain, Mas. Hanya inilah satu-satunya jalan agar kau bersedia menikahi Tasya".
"Ini bukan solusi, Kania. Kau hanya akan menghancurkan pernikahan kita!".
"Sejujurnya hatiku pun merasa sakit, Mas, meminta suamiku sendiri untuk menikahi wanita lain. Siapapun di dunia ini, pasti tidak akan rela berbagi suami " menghapus air mata yang meleleh di pipi. "Tapi seperti kataku tadi, hanya ini satu-satunya cara agar kau mau menikahi Tasya. Sekarang aku ikhlas untuk dimadu. Jadi jangan sia-siakan pengorbananku ini. Menikahlah dengan Tasya, dan akui anak dalam kandungannya" ucapku dengan suara bergetar.
"Aku tidak habis pikir denganmu, Kania. Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu? Kenapa kau tidak mencoba memahami situasi ini? Apa kau tidak sadar, keputusanmu ini hanya akan membuat kita saling melukai. Kita akan sama-sama hancur nantinya".
Mas Abhi menghela napas berat sebelum ia mulai berucap. "Kalau itu yang kau inginkan, maka baiklah. Aku akan menuruti permintaanmu. Aku akan menikahi Tasya. Segera!".
Air mataku menetes mendengar keputusannya. Ada perasaan senang sekaligus sedih. Aku lega, akhirnya Mas Abhi mau menikahinya juga. Tapi dibalik itu, ada kepedihan dalam hati yang terus kucoba untuk menekan sekuat-kuatnya.
"Aku akan memastikan semua berjalan lancar. Aku sendiri yang akan mempersiapkan semuanya, Mas!" ucapku lirih.
"Bagus! lakukan segera. Lebih cepat, lebih baik". Ucap Mas Abhi dingin.
"Satu hal lagi! Setelah aku menikahi Tasya, mungkin aku tidak bisa bersikap lembut lagi padamu. Kau yang memaksaku untuk melakukannya, maka jangan salahkan aku kalau nanti aku berubah".
"Aku akan menerima semua konsekuensinya!".
"Aku hanya bisa berharap, semoga kebenaran segera terungkap, sebelum semuanya terlanjur. Dan semoga kau tidak menyesal ketika saat itu tiba".
"Aku akan ingat baik-baik perkataanmu!" ucapku sendu.
Tidak ada lagi kehangatan dalam nada bicaranya. Wajahnya pun tak menunjukkan ekspresi apapun. Sepertinya dia sangat terluka. Ia benar-benar kecewa denganku.
Aku memang bodoh. Bagaimana bisa aku meminta suamiku sendiri untuk menikah dengan wanita lain. Dan yang lebih gila lagi, aku sendiri yang mempersiapkan semuanya.
Walau sakit, tapi ini memang harus terjadi. Mungkin inilah jalan yang terbaik untuk saat ini. Aku akan mencoba bertahan demi Naila. Dia tidak akan bisa menerima jika kami sampai berpisah.
Mas Abhi melangkahkan kaki, meninggalkanku yang masih tergugu. Merutuki nasib diri.
...****************...
Mas Abhi meminta Tasya untuk bertemu. Ada hal penting yang ingin dia sampaikan. Mereka sepakat bertemu di kafe. Ia segera meluncur kesana setelah menghubunginya.
Tak butuh waktu lama Mas Abhi pun sampai juga. Ternyata Tasya sudah ada disana. Ia segera melangkah menghampirinya.
Melihat kedatangan Mas Abhi, Tasya segera berdiri, berniat untuk menyambutnya. Senyum manis tersungging di bibirnya. "Hai Abhi, akhirnya kau datang juga. Mari, silahkan duduk!".
Mas Abhi pun menghempaskan tubuh di salah satu kursi. Mereka duduk saling berhadap-hadapan. Tasya bersikap sok manis, ia beranggapan mas Abhi telah membuka hati untuknya karena telah mengajaknya bertemu. ia terus berceloteh tanpa henti.
Mas Abhi tetap diam, tak menanggapi celotehan Tasya. Wajahnya dingin tak bersahabat. Lama-lama ia pun merasa kesal dengan sikapnya. Bisa diam, tidak!" bentaknya.
Tasya diam seketika. Tapi beberapa saat kemudian ia kembali bicara. "Kamu mau pesan apa? atau mau aku yang pilihkan?" tawar Tasya.
"Tidak usah basa-basi. kita langsung saja pada inti pertemuan ini!".
"Baiklah!" jawab Tasya melengos.
"Ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu, jadi dengarkan baik-baik. Aku tidak akan mengulangi ucapanku untuk kedua kali" ucap Mas Abhi tegas.
"Ok, aku mengerti!".
Mas Abhi mengambil napas panjang sebelum ia berbicara. "Bulan depan kita akan menikah. kau tidak perlu melakukan apapun. Kania sudah menyiapkan semuanya".
"Benarkah?" tanya Tasya tak percaya.
"Bukankah aku sudah bilang, aku tidak akan mengulang kembali perkataanku!" ucap Mas Abhi tak suka.
"Maaf, maaf. Aku cuma nggak nyangka secepat itu kau akan menikahiku" ucap Tasya, binar matanya menunjukkan betapa ia bahagia mendengar ucapan Mas Abhi.
"Jangan harap aku akan bersikap lembut padamu setelah kita menikah!" peringat Mas Abhi.