Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 36



Hari ini aku mulai menyiapkan semua keperluanku selama aku menjalani pengobatan di pondok pesantren nanti.Kemarin Abhimana telah memberitahuku bahwa lusa aku akan memulai proses penyembuhanku.


Aku memasukkan beberapa bajuku kedalam sebuah tas besar dibantu oleh Dinda.Aku sudah memberi tahunya mengenai keputusanku untuk segera memulai proses penyembuhanku sekembali dari kafe waktu itu dan dia sangat senang mendengar hal itu.


Disaat kami tengah berkemas terdengar suara tangis anakku


oek....


oek...


oek...


"Itu seperti suara tangis anakmu!" kata Dinda sambil menyenggol lenganku.


"Iya,mungkin dia lapar" sahutku.


"Sana kamu samperin dulu anakmu,biar aku yang beresin ini semua" sahut Dinda.


"Ya sudah aku tinggal dulu ya!" kataku sambil beranjak menuju kamar Dinda,kebetulan tadi anakku kutidurkan disana agar tidak terganggu dengan kesibukanku.


Sesampainya dikamar Dinda aku segera menggendong anakku


"Sayang kenapa nangis?" kataku sambil menimang anakku.


"cup cup cup Emir lapar ya,sini Bunda susui" kataku lagi.


Aku pun membuka kancing atas bajuku dan mulai memberikan Asiku pada Emir anakku,dan dia pun segera menyedot Asiku dengan kuat.


"Emir Bunda harap kau akan tumbuh menjadi anak yang bisa menjadi kebanggaan Bunda!" kataku sambil mengelus kepala anakku.


"Bunda minta maaf karena Bunda belum bisa menjadi ibu yang baik untuk Emir, setelah ini Bunda akan segera menjalani rehabilitasi agar Bunda bisa lepas dari narkoba,setelah itu kita akan bersama-sama memulai hidup yang baru" kataku lagi.


Emir terlihat sudah kenyang dan dia telah kembali tertidur.Kuciumi wajah anakku dengan penuh kasih sayang,lalu kurebahkan kembali dia ditempat tidur dengan aku berada disampingnya.


...****************...


Hari ini adalah hari keberangkatanku ke pondok pesantren, Abhimana sudah datang menjemputku dari tadi.Kami pun segera memasukkan barang-barangku kedalam bagasi.


"Apa semua sudah beres?" tanya Abhimana setelah beberapa saat.


"sudah!" jawabku sambil menganggukkan kepala.


dan Abhimana pun segera menutup bagasi mobil.


Aku melangkah menuju Emir yang berada dalam gendongan Dinda,sejenak kupandangi wajah damainya


"Emir baik-baik kamu disini ya nak,jangan menyusahkan Tante Dinda" kataku sambil mengusap kepala anakku dan menciumi wajahnya.


Setelah puas menciumi wajah anakku aku balik memandang Dinda.


"Dinda terimakasih banyak ya karena kamu sudah mau menjaga dan merawat anakku selama aku menjalani rehabilitasi" kataku.


"Jalani semua proses penyembuhan dengan sungguh-sungguh dan segeralah kembali,aku dan anakmu akan terus menunggumu!" kata Dinda sambil tersenyum.


"Iya tentu, terimakasih juga karena kau terus mendukungku selama ini,aku sangat bersyukur karena Tuhan telah mempertemukanku dengan sahabat sebaik dirimu" kataku dengan mata berkaca-kaca.


kami pun saling berpelukan dalam keharuan.


"Udah ah sana berangkat nanti kemalaman dijalan loh!" kata Dinda sambil melepas pelukan kami.


aku pun mengangguk dan segera menuju ke mobil.


"Aku berangkat dulu Din!" kataku sambil melambaikan tangan dari kaca mobil.


Dinda pun membalas lambaian tanganku sambil tersenyum.


Mobil pun segera melesat membelah jalanan,sedangkan Dinda segera masuk kembali kedalam rumah setelah mobil kami hilang dari pandangannya.


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam akhirnya kami sampai juga ke pondok pesantren.


Kami segera turun dan menghampiri pak kyai yang berdiri menyambut kedatangan kami kemudian menyalaminya.


"Selamat datang mbak Kania,saya sangat senang dengan keputusan yang mbak ambil" kata pak kyai sambil tersenyum.


"Mari ikut saya,saya akan tunjukkan ruangan mbak kania!" kata pak kyai lagi.


kami pun berjalan mengikuti langkah pak kyai.


"Ini ruangan mbak kania,semoga mbak Kania betah disini" kata pak kyai sambil menunjukkan sebuah ruangan yang disini disebut dengan inaba.


"Zahra sini ning!" kata pak kyai memanggil seseorang.


seorang wanita dengan pakaian tertutup pun segera menghampiri kami setelah mendengar panggilan dari pak kyai.


"Iya Abah,ada apa?" kata wanita itu yang dipanggil pak kyai dengan panggilan Zahra.


"Ning kenalkan ini mbak Kania,orang yang waktu itu pernah Abah ceritakan ke kamu!" kata pak kyai memperkenalkanku.


"Mbak Kania kenalkan ini putri saya namanya Zahra disini biasa dipanggil Ning Zahra,dialah nantinya yang akan menjadi pembina mbak Kania!" kata pak kyai lagi balik memperkenalkan wanita itu padaku.


Kami pun saling berjabat tangan


"Kania" kataku sambil tersenyum.


"Zahra" katanya membalas jabat tanganku sambil tersenyum pula.


"Ning Abah titip mbak Kania sama kamu ya,tolong kamu bimbing dia!" kata Pak kyai.


"Baik Abah!" sahut Ning Zahra.


"Mbak Kania saya tinggal dulu ya!" kata Pak kyai lagi.


"Baik Pak kyai, terimakasih banyak!" sahutku.


dan Pak kyai pun segera berlalu dari hadapan kami.


"Mari masuk mbak Kania,biar saya tunjukkan tempat tidur mbak kania!" kata Ning Zahra setelah beberapa saat.


aku pun berjalan mengikuti langkah Ning Zahra.


"Ini tempat tidur mbak kania, mbak bisa beristirahat disini!" kata Ning Zahra sambil menunjuk sebuah tempat tidur berukuran kecil.


aku pun menaruh barangku didekat tempat tidur itu.


"Kalau begitu saya permisi dulu ya mbak!" kata Ning Zahra.


"Oh ya nanti bakda sholat magrib kebetulan ada tausiyah dari Abah kyai,mbak Kania bisa langsung ke masjid untuk ikut!" kata Ning Zahra lagi.


"Baik Ning terimakasih,nanti saya akan kesana!" jawabku.


dan Ning Zahra pun pergi meninggalkan kami.


Setelah Ning Zahra pergi aku segera memasukkan barang-barangku kedalam lemari kecil yang berada didekat tempat tidurku dan dibantu oleh Abhimana,setelah selesai aku menghempaskan pantatku diatas tempat tidur.


"Kania ini sudah sore aku balik pulang dulu ya,besok aku akan kesini lagi" kata Abhimana setelah beberapa saat.


"Iya Abhi, makasih banyak ya!" sahutku.


"Sama-sama!" balas Abhimana.


dan dia pun segera berlalu.


aku segera merebahkan tubuhku diatas kasur,sejenak melepas kepenatan yang menggelayuti tubuhku.


Setelah beberapa saat aku bangkit kembali dan mulai berbaur dan berkenalan dengan penghuni inaba lainnya yang berada satu ruangan denganku.


Inaba yang saat ini kutempati berisikan sepuluh orang yang semuanya adalah perempuan,mereka berasal dari berbagai daerah dengan bermacam masalah yang membuat mereka jatuh dalam jerat narkoba.


Ada Ani yang terjerat narkoba karena berawal dari coba-coba hingga menjadi ketagihan,ada Fanny yang terjerat karena masalah keluarga,dan ada juga Kanya yang memiliki masalah hampir sama denganku.


Tapi kini mereka telah sadar dengan kesalahannya dan memutuskan untuk lepas dari narkoba,mereka juga kini memakai pakaian seperti yang kini kukenakan.


Setelah beberapa lama berkenalan dan saling bercerita mengenai diri masing-masing aku pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan dan segera bersiap menuju masjid karena sebentar lagi akan masuk waktu shalat.


Aku berangkat bersama dengan penghuni inaba lainnya karena aku belum mengetahui dimana letak masjid.