
"Aku seperti pernah mengenal pria ini,inikan...."kataku ragu-ragu.
"Kau mengenal Papaku,benarkah?"
"Aku sih tidak terlalu yakin,tapi seingatku aku pernah melihatnya datang sekali kerumahku. Papa pernah cerita katanya ia sahabatnya waktu kuliah dulu,mereka pernah tinggal di kontrakan bersama-sama dan setelah lulus kuliah ia telah menjadi pebisnis yang sukses,ia juga salah satu inspirasi Papa dalam membangun perusahaannya,kalau tidak salah namanya pak Doni Irawan,benarkan!".
"Benar itu nama Papaku,ternyata dunia ini begitu sempit ya,aku tak menyangka kalau dulunya Papaku adalah sahabat papamu dan kini Tuhan mempertemukan kita berdua,anak-anaknya".
"Yang kau katakan itu sangat benar Din,dulu Papamu sering membantu Papaku dan sekarang pun kau datang untuk menolongku,kalian seperti malaikat penolong bagiku dan Papa".
"Kamu bisa aja,jangan terlalu memujiku nanti kepalaku bisa besar" kata Dinda sambil tertawa kecil.
"Aku nggak berlebihan kok,aku janji suatu saat nanti aku akan membalas semua kebaikanmu dan aku akan membantumu untuk mencari bukti-bukti itu!" kataku mantap.
"Benarkah kau akan membantuku?"
"Tentu saja!"
"Ngomong-ngomong aku minta maaf ya karena sudah memberikanmu barang haram itu,seandainya aku tahu kalau kau hamil aku tidak akan memberikan obat itu padamu!"
"Sudahlah semua sudah terjadi,kita lupakan saja ok!" kataku sambil tersenyum dan mengangkat jempolku.
"Ok!" Dinda pun ikut tersenyum dan mengangkat jempolnya sepertiku.
"Udah ah dari tadi ngobrol terus,aku mau ke pasar dulu ya,kamu mau ikutan nggak?" lanjut Dinda.
"Maunya sih ikut tapi aku belum ada uang"
"Udah ikut aja soal uang mah gampang kamu pakek aja dulu uangku nanti setelah kamu punya uang kamu ganti,daripada kamu suntuk dirumah sendirian!"
"Iya deh aku ikut tapi nggak pa pa kan aku pinjem dulu uang kamu!"
"Iya nggak pa pa,udah sana ganti baju dulu!"
"Siap Nona muda!"bkataku sambil menghormat layaknya seorang tentara pada atasannya.
Dinda pun tertawa melihat tingkah konyolku,sungguh aku sangat bahagia dalam kondisiku yang sekarang setidaknya masih ada orang yang perduli padaku,Kami pun segera bersiap-siap.
...****************...
"Aku mau beli beberapa perlengkapan mandi,kamu sendiri mau beli apa?"tanya Dinda sesampainya kami di pasar.
"Aku mau beli bahan makanan buat stok dirumah biar kita nggak beli makanan diluar terus,kan lumayan bisa ngirit"
"Kamu bisa masak?"
"Nggak terlalu jago sih,dulu aku pernah belajar masak sama Papa jadi sedikit-sedikit bisa lah"
"Kamu belajar masak sama Papamu?"
"Iya emang kenapa,Papaku tuh jago banget masaknya hasil masakannya juga nggak kalah sama masakan restoran bintang lima, kapan-kapan kamu harus nyobain masakan Papa kamu pasti suka!" kataku antusias.
Tiba-tiba aku teringat saat aku dan Papa masak bareng,wajahku pun seketika berubah sendu.
"Udah nggak usah sedih,berdoa saja mudah-mudahan Papamu dibukakan pintu hatinya dan kalian bisa berkumpul kembali"bkata Dinda sambil menyenggol lenganku saat melihatku kembali bersedih.
"Amin" jawabku mengaminkan perkataan Dinda.
Kami pun berjalan kearah lapak penjual bahan makanan,kami membeli beberapa sayur,buah ,telur dan bahan makanan lain yang diperlukan.Setelah itu kami beralih menuju lapak penjual perlengkapan mandi,setelah semua selesai kami pun kembali kerumah.
Sesampainya dirumah kami segera membawa barang belanjaan tadi kedalam dan menatanya didapur.
"Kamu tahu nggak baru kali ini loh aku pergi ke pasar tradisional dan belanja bahan makanan kayak tadi!"
"Masak?"
"Beneran,selama ini bibik yang membeli semua bahan makanan untuk kami,itu pun di supermarket bukan pasar tradisional"
Dinda tertawa kecil mendengar pengakuanku,"mulai sekarang kamu akan lebih sering pergi ke pasar tradisional daripada ke supermarket!".
"Iya kamu bener,kita bisa mendapatkan bahan makanan kualitas bagus dengan harga yang lebih murah di pasar tradisional,tau gitu dari dulu aja yah belanja di pasar tradisionalnya"kataku sambil tertawa kecil
"Oh ya Din,aku janji nanti kalau aku udah gajian aku akan kembalikan uang kamu"
"Nggak usah inikan buat kita bersama,tapi ada syaratnya!"
"Kamu harus masakin aku tiap hari,soalnya aku nggak bisa masak he he..."kata Dinda sambil cengengesan.
"Ia deh siap"kataku sambil memonyongkan bibirku berpura-pura marah.
"Ha ha...melihat bibirmu jadi gemes deh pengen nyubit" kata Dinda sambil tangannya terulur kearah bibirku.
secara refleks aku pun menghindar
"Ye nggak kena" kataku sambil menjulurkan lidah.
kami pun tertawa lepas bersama-sama.
"Udah selesai semua menatanya,kita istirahat dulu yuk capek nih udah siangan juga!" kata Dinda setelah kami puas tertawa.
aku pun mengangguk setuju dan kami segera masuk ke kamar masing-masing untuk mengistirahatkan tubuh kami.
...****************...
Sore hari aku terbangun,aku segera mandi bergantian dengan Dinda karena kamar mandi rumah ini hanya ada satu dan kemudian segera bersiap untuk pergi bekerja. Setelah semua selesai kami segera berangkat bersama menaiki mobil Dinda.
Tak butuh waktu lama kami telah sampai di bar tempat kami bekerja,kami segera masuk dan bersiap melayani pengunjung.Secara tak sengaja aku menabrak salah satu pengunjung saat kami saling berpapasan,dan untuk sesaat ia terbengong saat menatapku
"Eh maaf Tuan saya nggak sengaja" kataku membuyarkan lamunan pria paruh baya yang kutabrak tadi.
"Nggak pa pa Nona,sini duduk dulu temani saya kita minum-minum dulu" kata pria itu sambil tersenyum genit padaku dan meremas tanganku.
"Maaf Tuan saya tidak bisa" tolakku halus sambil menepis tangannya.
"Ayolah nggak usah sok jual mahal aku bisa memberimu banyak uang,berapapun yang kau minta pasti aku beri asal kau mau menemaniku malam ini" kata pria itu terus merayuku dan sambil tangannya mengelus pipiku.
Bayangan peristiwa kelam itu kembali berkelebat di mataku,segera kutepis tangannya dari pipiku dan berbalik menamparnya,aku tidak terima atas tindakan kurang ajar pria itu padaku.
plakkkk!!
"Berani kau menamparku!" teriak pria itu sambil memegangi pipinya yang terkena tamparanku,mukanya merah padam karena menahan amarah.
"Kau pantas mendapatkannya karena kau sudah bertindak kurang ajar padaku" jawabku tegas tanpa menunjukkan sedikitpun rasa takut.
"O...punya nyali juga ternyata kamu,baik kita lihat apa kau masih berani kalau kuadukan hal ini pada atasanmu"
pria itupun berteriak memanggil manager
"Manager..... manager,mana manager bar ini?"
mendengar adanya kegaduhan manager pun segera menghampiri kami
"Ada apa ini?" tanya sang manager.
"Apa kau manager bar ini?"
"Iya Tuan,apa ada yang bisa saya bantu?"
"Iya saya mau mengadukan pelayan ini,lihat kelakuannya dia sudah berani menampar saya!"
"Apa benar yang dikatakan Tuan ini Kania?"
"Iya pak benar!"
"Anda dengar sendiri kan jawabannya, sekarang saya mau dia dihukum!"
"Tapi pak dengar dulu penjelasan saya,saya menamparnya karena dia sudah bertindak kurang ajar sama saya" kataku mencoba membela diri.
"Sudah cukup,apapun alasanmu tidak sepantasnya kau menampar Tuan ini,sekarang kamu minta maaf!"
dengan terpaksa aku pun meminta maaf pada pria itu
"Saya minta maaf Tuan" kataku dengan setengah hati.
"Sekali lagi saya minta maaf Tuan,begini saja sebagai ganti atas ketidak nyamanan ini saya akan memberikan diskon khusus untuk Tuan"
"Baiklah saya terima permintaan maafnya,lain kali yang sopan sama pengunjung" kata pria itu sambil tersenyum angkuh mengejekku.
sungguh kalau bukan karena aku butuh pekerjaan ini tak sudi aku meminta maaf padanya,wajahnya membuatku sangat muak,aku pun segera pergi meninggalkan tempat ini.