
"Kurang ajar!" teriak Dinda semakin marah. Dia hendak melayangkan sebuah tamparan pada Tasya tapi terhenti karena suara sering telepon dari handphone Tasya.
Tasya mengambil handphonenya dari dalam saku. Dia melihat kearah layar handphone. Tertera namaku disana.
"Jangan ada yang bersuara dulu, ya. Ini Kania loh yang nelpon. Ntar dia makin marah kalo denger suara kalian!" ujar Tasya dengan senyum mengejek.
Dinda semakin marah melihat tingkahnya. Ia mengangkat tangannya hendak mencakar muka Tasya, tapi dengan segera Mas Abhi meraih tangannya untuk menghentikannya.
Mas Abhi memberi isyarat dengan menggelengkan kepala pada Dinda agar dia tidak berbuat nekat.
Tasya tersenyum sinis melihat gertakannya ternyata berhasil. Ia segera memencet tombol hijau untuk menerima panggilan dariku.
"Iya, halo Kania" ucap Tasya dari balik telepon dengan angkuhnya.
"Tasya, ternyata apa yang kamu katakan kemarin benar. Mas Abhi selingkuh dariku" ujarku dari seberang.
"Apa? Abhimana selingkuh? bagaimana kamu bisa seyakin ini?" ujar Tasya berpura-pura kaget.
"Semalam aku melihat ada bekas lipstik di baju Mas Abhi. Aku yakin itu pasti punya selingkuhannya" ujarku.
"Ya ampun, kok bisa sih Abhimana berbuat setega itu sama kamu. Kamu yang sabar ya, Nia" ujar Tasya berpura-pura simpati, tapi bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman mengejek.
"Kita bisa bertemu sebentar nggak? aku butuh kamu saat ini. Aku ingin menceritakan semuanya padamu!" ujarku.
"Baiklah, aku akan menemuimu, tapi kamu jangan sedih lagi, ya" ujar Tasya.
"Oh ya, kita mau ketemuan dimana?" lanjutnya.
Aku pun menyebutkan sebuah kafe sebagai tempat untuk bertemu.
"Baiklah, aku akan kesana sekarang!" ujar Tasya, mematikan sambungan telepon.
Tasya meletakkan kembali handphonenya kedalam saku.
"Aku permisi dulu, ya. Kania ngajakin aku ketemu tuh!" ujar Tasya pongah.
"Kamu itu memang wanita ular. Lidahmu lebih berbisa dari ular kobra!" maki Dinda.
"Peduli amat!" ujar Tasya memutar bola mata malas.
"Kamu itu...." geram Dinda. Ingin rasanya ia menampar mulut berbisa itu, tapi ia urungkan karena tidak ingin terpancing emosi.
"Kenapa nggak jadi? ayo sini tampar aku!" ujar Tasya memprovokasi.
"Aku tidak akan mengotori tanganku dengan menamparmu!" ujar Dinda.
"Yah, sayang banget!. Padahal kalau tadi kamu menamparku, aku bisa gunakan hal itu untuk membuat Kania marah juga sama kamu" ujar Tasya dengan raut wajah dibuat sok sedih.
"Kamu itu nggak bisa dikasih hati, ya!" teriak Dinda.
"Cukup, Dinda!. Hentikan semua ini. Aku tidak ingin membuat masalah semakin runyam" lerai Mas Abhi.
"Dan kamu, Tasya. kalau kamu ingin pergi, pergi sana! Tapi ingat, urusanku denganmu belum selesai. Aku akan terus mengawasimu" ujar Mas Abhi menatap tajam kearah Tasya.
"Hi hi hi pilihan yang bagus. Tapi aku tidak takut sama sekali dengan ancamanmu. Aku akan pastikan Kania semakin benci denganmu" ujar Tasya tertawa menyeringai.
"Ya sudah, aku pergi dulu, ya. Aku nggak ingin membuat Kania lama menunggu" ujarnya lagi.
Tasya segera mengambil tasnya dan melenggang pergi dengan angkuhnya.
Setelah Tasya tidak nampak lagi, Dinda mengajak Mas Abhi untuk duduk dulu. Banyak hal yang ingin dia tanyakan padanya.
"Kenapa bisa begini? apa sebenarnya yang sudah terjadi?" tanya Dinda setelah mereka berdua duduk.
"Seperti yang kubilang tadi, semalam Kania melihat ada bekas lipstik yang menempel di bajuku. Dia langsung marah dan menuduhku selingkuh. Aku sudah berusaha menjelaskan padanya kalau aku tidak tahu kenapa bisa ada noda lipstik disana, tapi sayangnya dia tidak mempercayaiku. Rupanya sebelum itu, Kania sudah menemukan sebuah jepit rambut didalam mobilku, dan dia pun mulai mencurigai ku, padahal aku sama sekali tidak tahu menahu soal jepit rambut itu. Karena itulah dia marah dan menuduhku selingkuh setelah melihat bekas lipstik di bajuku" ujar Mas Abhi.
"Aku yakin, pasti Tasya juga yang sudah menaruh jepit rambut itu disana!" ujar Dinda berargumen.
"Aku juga berpikiran sama denganmu. Aku sudah mengecek kamera cctc di kantorku tadi, tapi sayangnya aku tidak menemukan bukti apa-apa" ujar Mas Abhi lesu.
"Kau tenang saja, Abhi. Aku akan membantumu untuk bicara pada Kania. Aku yakin kalau aku yang bicara, Kania pasti mau mengerti" ujar Dinda
menepuk bahu Mas Abhi.
"Aku harap begitu!" jawab Mas Abhi lirih.
Sejenak mereka sama-sama terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Kalau begitu aku permisi dulu. Aku harus kembali lagi ke kantor" ujar Mas Abhi memecah kebisuan seraya bangkit dari duduknya.
"Iya, Bhi!" jawab Dinda singkat.
"Sebelumnya aku ucapkan terimakasih karena kamu sudah mau membantuku. Dan terimakasih juga karena sudah percaya denganku" ujar Mas Abhi tulus.
"Sama-sama, Abhi. Aku tahu kamu pria baik-baik. Kamu tidak mungkin menyakiti hati Kania. Lagipula kalian berdua adalah sahabatku, mana mungkin aku membiarkan kalian berdua menderita" jawab Dinda sambil tersenyum.
Mas Abhi menanggapi ucapan Dinda dengan mengulas sebuah senyuman tipis.
"Aku pergi dulu!" ucap Mas Abhi.
Mas Abhi segera masuk ke dalam mobilnya dan meluncur ke arah kantornya.
...****************...
Sementara itu disisi lain, aku tengah bertemu dengan Tasya di kafe yang kusebutkan ditelepon tadi. Aku sedang menangis sesenggukan setelah menceritakan kejadian semalam pada Tasya.
"Sudahlah,Kania. jangan sedih terus" ujar Tasya menenangkanku.
"Bagaimana aku tidak sedih, Sya? bahkan tadi pagi Mas Abhi pergi begitu saja tanpa berpamitan dulu denganku seperti biasa. Dia bahkan tidak mau meminta maaf padaku" ujarku menumpahkan keluh-kesahku.
"Tenanglah, Kania. Berhentilah menangis. Jangan tumpahkan air matamu untuk pria yang tega menyakitimu. Air matamu terlalu berharga untuk menangisi pria seperti itu!" ujar Tasya berpura-pura simpati.
"Lalu sekarang aku harus bagaimana? aku harus bersikap apa pada Mas Abhi?" tanyaku, mengusap air mata yang meleleh di pipiku.
"Kalau aku berada di posisi kamu, maka aku tidak akan pernah memaafkan pria seperti itu. Aku akan langsung menuntut cerai darinya. Bagiku, perselingkuhan tidak bisa termaafkan" ujar Tasya memprovokasi.
"Entahlah, Sya. Aku tidak tahu apakah aku akan memilih jalan itu. Aku tidak tega pada Naila jika kita berdua harus berpisah" ujarku lirih.
"Aku tahu perpisahan bukanlah perkara yang mudah untuk diterima oleh seorang anak, tapi kau juga harus memikirkan kebahagiaanmu sendiri. Apa kau masih bisa menerima berselingkuh yang dilakukan suamimu?" tanya Tasya terus memprovokasi.
"Lagipula, kau bisa memberi pengertian sedikit demi sedikit pada Naila. Aku yakin anakmu pasti bisa mengerti nantinya" lanjutnya.
"Entahlah, tapi aku akan mempertimbangkan saran darimu" jawabku lirih.
"Semua keputusan ada ditangan mu. Aku hanya menginginkan yang terbaik untukmu" ujar Tasya mengulas senyum manis sambil mengusap tanganku.
"Makasih banyak, Sya. Hatiku sedikit lega setelah menumpahkan semua keluh-kesahku padamu" ujarku tersenyum tipis.
"Sama-sama. Kapanpun kau membutuhkanku, aku akan selalu ada untuk membantu" jawab Tasya.
"Ya sudah, kita makan dulu, yuk. Masak dari tadi sedih mulu!" lanjutnya.
Aku tersenyum mendengar ucapan Tasya. Kami pun memesan makanan dan menikmatinya setelah pesanan kami dihidangkan.