
Malam hari saat di sepertiga malam terakhir aku pun terbangun dari tidurku.Aku bergegas mengambil air wudhu dan menghamparkan sajadahku diatas lantai untuk melakukan sholat istikharah seperti yang disarankan oleh Dinda.
Kuangkat kedua tanganku dan kulipat didepan dada,kubaca surat Al-fatihah lalu kulanjutkan dengan membaca surat pendek.
Kulakukan seluruh gerakan sholat dengan penuh kekhusyu'an, terakhir kutolehkan kepalaku ke kanan dan kiri bergantian sembari mengucap kata salam disetiap tolehan kepalaku.
Kutadahkan kedua tanganku dan berdo'a memohon petunjuk pada Allah, Sang pemilik seluruh kehidupan.
Keheningan malam semakin menambah kekhusyu'anku dalam bermunajat,hingga tak terasa pagi pun menjelang.
...****************...
Sementara disini aku tengah bimbang dalam mengambil keputusan,disudut lain seorang pria sedang marah besar dikantornya saat ia mendapati perusahaannya tengah mengalami kerugian yang sangat besar.
Dia hancurkan seluruh yang ada dihadapannya,hingga berkas-berkas pun berserakan dimana-mana,pria itu adalah Arsen.
"Mengapa perusahaan sampai mengalami kerugian sebesar ini? apa yang sudah terjadi?" teriak Arsen marah.
"Maaf tuan, perusahaan xx lah penyebab dari semua kerugian kita,mereka sudah menipu kita" jelas David, asistennya.
"Dasar kau tidak becus,apa aja sih pekerjaanmu? bagaimana bisa perusahaan xx sampai menipu kita, kita harus segera cari cara untuk membalasnya atau kau yang aku pecat!" teriak Arsen.
"Tuan tidak usah repot-repot buat mecat saya karena sekarang juga saya mengundurkan diri dari perusahaan ini, saya sudah capek menghadapi sikap arogan tuan,permisi!" jawab David tegas.
"Ya udah pergi sama,saya juga nggak butuh asisten seperti kamu!" usir Arsen.
David pun segera pergi meninggalkan ruangan Arsen,sementara Arsen langsung menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya sambil memijit kepalanya yang pening.
Tak berselang lama seorang karyawan pun datang dengan tergopoh-gopoh masuk kedalam ruangan Arsen.
"Dasar kau tidak sopan main masuk begitu aja,kenapa kau tidak ketuk pintu dulu?" teriak Arsen marah karena melihat pegawai itu yang langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
"Ma maafkan kecerobohan saya tuan,tapi dibawah sedang ada keributan,para pemegang saham sedang protes karena saham kita yang turun drastis" kata pegawai itu dengan gugup.
"Apa lagi ini sekarang,ya sudah kita samperin mereka sekarang!" kata Arsen seraya bangkit dari kursi kebesarannya.
Arsen pun segera turun kebawah dan menemui para pemegang saham yang sedang marah,diikuti oleh pegawai yang memberitahukannya hal ini tadi.
Sesampainya dibawah Arsen segera diserbu dengan berbagai pertanyaan dari para pemegang saham.
"Tuan Arsen,bagaiman ini? kenapa saham bisa tiba-tiba anjlok begini?" tanya para pemegang saham.
"Tenang dulu tuan-tuan, secepatnya saya akan mencari cara untuk mengatasi masalah ini!" jawab Arsen.
"Tidak bisa, saya tidak mau mendengar janji-janji dari anda lagi, saya mau uang ,saya dikembalikan!" tukas salah satu pemegang saham.
"Iya betul itu,saya juga mau uang saya dikembalikan!" sahut pemegang saham yang lain.
"Baik baik, saya akan mengembalikan uang kalian,puas kalian sekarang!" jawab Arsen dengan emosi.
Dia pun segera berbalik dan meninggalkan para pemegang saham kembali ke ruangannya.
Tak berselang lama setelah ia sampai di ruangannya,seorang karyawan lain pun masuk ke ruangannya.
"Maaf tuan,saya baru mendapatkan kabar kalau perusahaan AA memutuskan kesepakatan kerjasama dengan perusahaan kita!" kata pegawai itu.
"Argh kacau, semuanya kacau,padahal kontrak kerjasama itu adalah harapan saya satu-satunya untuk mengatasi masalah ini!" teriak Arsen semakin kalap,dia mengobrak-abrik semua yang ada diatas mejanya.
Setelah puas menghancurkan semua barang-barang,bdia pun mengangkat gagang telepon dan mulai memencet beberapa digit nomor untuk menghubungi seseorang.
"Fany, cepat ke ruangan saya!" kata Arsen setelah telepon tersambung.
"Baik tuan!" jawab seseorang diseberang.
dan telepon pun diputus secara sepihak olehnya.
Fany adalah nama sekretaris baru Arsen.Setelah ia resmi menikah dengan Dona, Dona tak lagi bekerja dikantornya dan posisinya digantikan oleh Fany.
Tak berselang lama terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk!" jawab Arsen.
"Permisi tuan, ada apa tuan memanggil saya?" tanya sekretaris Fany setelah ia sampai dihadapan Arsen.
"Siapkan ruangan rapat sekarang, saat ini juga saya mau mengadakan rapat dadakan dengan para dewan direksi untuk mengatasi masalah ini!" kata Arsen.
"Baik tuan,segera akan saya persiapkan semuanya" jawab Fany.
Tak butuh waktu lama rapat dadakan pun dimulai.Para dewan direksi banyak yang protes dengan dengan kinerja Arsen setelah mereka tahu dengan masalah yang dihadapi perusahaan saat ini.
Mereka menganggap Arsen tak becus dalam menangani masalah perusahaan,dan mereka ingin agar Arsen mengundurkan diri dari jabatannya.
Bertepatan dengan saat itu,para karyawan pun banyak yang berdemo,mereka menuntut pembayaran gaji mereka yang belum dibayarkan selama tiga bulan.
Seluruh aset Arsen pun disita oleh bank untuk menutupi seluruh hutang-hutang perusahaan,dan dalam waktu singkat perusahaan Arsen pun bangkrut.
Arsen pun terduduk lemas memandangi gedung perusahaannya yang dulu ia bangga-banggakan, tapi kini perusahaan itu telah dipasang palang oleh pihak bank.
Semua telah habis tak bersisa,hanya rumah yang ditempatinya sajalah yang tersisa saat ini.
akhirnya Arsen pun memutuskan untuk pulang kerumahnya,berharap Dona akan menghibur dan mendukung dirinya dalam keadaannya yang kini tengah terpuruk.
Arsen pun melangkah gontai memasuki rumahnya, penampilannya sangat berantakan.
Dona yang saat itu tengah menonton televisi diruang tengah pun terkejut melihat kedatangan Arsen.
"Sayang tumben jam segini kamu sudah pulang? dan kenapa pakaianmu berantakan begini?" tanya Dona.
"Semuanya telah hancur sayang,seluruh kekayaanku telah disita oleh bank untuk menutupi hutang perusahaan,sekarang aku tak punya apa-apa lagi!" kata Arsen sambil tertunduk lemas.
"Apa,jadi sekarang kamu sudah bangkrut?" teriak Dona.
"Iya sayang,aku harap kamu mau menemaniku dalam kondisiku sekarang" kata Arsen lirih sambil menggenggam tangan Dona.
"Tidak,aku tak sudi hidup miskin bersamamu!" tukas Dona sambil menarik tangannya dari genggaman Arsen.
"Saat ini juga aku mau kita bercerai!" ujar Dona lagi.
duarrr!
Arsen sangat terkejut mendengar ucapan Dona.
"Tapi kenapa sayang? bukankah kau mencintai aku? kenapa kau ingin kita bercerai?" tanya Arsen.
"Aku tuh mencintai harta kamu bukan mencintaimu, tapi sekarang kamu malah jatuh miskin!" jawab Dona enteng.
"Jadi selama ini..."
"Ya benar,aku mendekatimu dan mau menikah denganmu itu karena kamu pria kaya,aku ingin hidup mewah setelah aku menikah,tapi nyatanya kamu sekarang sudah miskin, jadi nggak ada gunanya lagi kita pertahanin hubungan ini!" sahut Dona cepat sambil menuding kearah Arsen.
"Dasar wanita matre,aku menyesal sudah meninggalkan Kania dulu hanya demi wanita sepertimu!" ujar Arsen.
"Cih itu sih kamunya aja yang bego!" jawab Dona sinis.
"Pergi kamu dari rumah ini!" usir Arsen marah.
"Hey kamu lupa ya,kamu kan membeli rumah ini atas namaku, jadi rumah ini sah menjadi milikku dong!" jawab Dona.
Arsen terdiam mendengar ucapan Dona,dia baru sadar kenapa dulu Dona tak mau ia temani saat mereka ingin membeli rumah baru dan malah meminta kartu kreditnya,ternyata inilah alasannya.
"Kau,kau sudah menipuku,lihat saja aku akan membalasmu nanti!" teriak Arsen marah.
"Ya ya aku akan menunggumu untuk membuktikan ancamanmu tadi,tapi sekarang angkat kaki dari rumah ini!" jawab Dona.
Arsen pun meninggalkan rumahnya dengan langkah gontai,ia tak mengira ia akan terusir dari rumahnya sendiri,bahkan orang yang dicintainya lah yang tega mengusirnya.
Kini ia baru sadar dengan kesalahan yang telah diperbuatnya dulu pada kania,ia menyesal telah mencampakkan Kania hanya demi wanita seperti Dona,ia merasa ini adalah karma untuknya.