Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 42



Selang beberapa hari setelah mobil Dinda laku terjual kami mulai mencari sebuah tempat yang stagetis untuk membuka usaha,tentu saja dengan harga yang sesuai dengan budget kita.


Setelah beberapa hari mencari akhirnya kami menemukan juga tempat yang bagus.Abhimana melihat ada sebuah ruko yang dijual dengan harga murah,karena pemiliknya akan pindah keluar kota dan mereka juga lagi butuh uang.


Tempatnya sangat strategis dan bangunannya juga masih bagus,hanya membutuhkan sedikit renovasi saja.


Setelah mendapatkan nomor kontak sang pemilik,aku pun segera menghubunginya untuk menanyakan perihal ruko itu dan mengajaknya untuk bertemu.Akhirnya kami pun sepakat bertemu disebuah kafe dijalan xx.


Aku sengaja mengajak Abhimana untuk menemui sang pemilik ruko karena Abhimana lebih pandai dalam hal bernegosiasi,sedangkan Dinda memilih untuk dirumah saja menemani Emir.


Tak butuh waktu lama kami pun sampai di kafe yang telah dijanjikan,kami segera mencari meja yang kosong dan memesan minuman sembari menunggu si pemilik ruko.


Tak berselang lama setelah minuman yang kami pesan tadi datang,orang yang kami tunggu pun datang juga.Aku segera melambaikan tangan untuk memberitahukan keberadaan kami.


Ternyata sang pemilik ruko itu usianya tidak terpaut jauh dari kami.Semula kami kira dia adalah orang yang sudah tua karena namanya seperti orang zaman dulu,tapi setelah bertemu ternyata dugaan kami salah besar,aku sampai tertawa dalam hati karena pikiran kami tadi.


Setelah lama berbincang dan bernegosiasi,akhirnya kami mendapatkan ruko itu dengan harga yang sedikit lebih murah dari harga yang semula ia tawarkan.


Setelah semua urusan selesai,kami pun memutuskan untuk segera kembali kerumah.Saat ditengah jalan aku sengaja berhenti dulu untuk membeli es krim kesukaan Emir sebagai oleh-oleh untuknya agar dia senang.


...****************...


Keesokan hari kami segera menata ruko itu,karena kami ingin segera membuka usaha kami,selain itu keuangan kami juga semakin menipis.


Ruko itu sendiri tidak memerlukan banyak perubahan, hanya perlu sedikit pengecatan disana sini untuk merubah suasana saja,karena sebelumnya ruko itu digunakan sebagai toko bunga juga.


Kami seperti hanya meneruskan usaha yang sudah ada saja, karena si pemilik ruko sebelumnya menjual ruko ini beserta isinya.


Kami merasa seperti ketiban durian runtuh karena berhasil mendapatkan ruko ini,karena kami mendapat ruko beserta isinya dengan harga yang relatif murah.Memang benar kata orang,dimana ada usaha maka disana akan ada jalan.


Kami sepakat untuk menamai toko bunga kami dengan nama AZALEA FLORIST.


Setelah semua persiapan selesai,kami pun mulai melakukan grand opening,Abhimana dan Dinda sengaja turun langsung ke jalanan untuk mempromosikan toko bunga kami.


Ternyata strategi yang Abhimana dan Dinda lakukan sangatlah efektif,terbukti dari banyaknya pengunjung yang mendatangi toko bunga kami.


Dengan gaya bicara yang enak didengar dan begitu meyakinkan dalam berpromosi, ditambah dengan wajahnya yang tampan,Abhimana mampu memikat banyak pengunjung untuk datang.


Aku segera melayani setiap pengunjung yang datang dengan ramah dan penuh senyuman.Kebanyakan mereka membeli buket bunga mawar merah untuk kekasih mereka, karena kebetulan hari ini bertepatan dengan hari valentine.


Oh ya selain menjual aneka tanaman,kami juga menerima pesanan buket bunga,papan bunga,dan juga standing bunga.


Melihatku yang semakin kewalahan melayani pembeli,Dinda pun segera menghampiriku untuk membantu.


Pengunjung banyak yang tersenyum puas dengan kualitas bunga yang kami jual,mereka juga sangat senang dengan pelayanan kami.


Setelah semua pengunjung telah pergi, kami duduk sejenak untuk melepas kepenatan.Kami sangat senang karena dihari pertama pembukaan, toko bunga kami sudah seramai ini dan kami mendapatkan banyak keuntungan hari ini.


Apa yang dikatakan oleh Abhimana memanglah benar,bekerja sesuai dengan hobi memanglah menyenangkan,selain itu aku juga tetap bisa menjaga Emir sembari bekerja.


Tak terasa hari sudah sore,kami pun segera menutup toko bunga kami dan kembali ke rumah.


...****************...


Tak terasa sudah sebulan kami memulai usaha kami.Selama ini toko bunga kami selalu ramai pembeli,tapi entah kenapa hari ini berbeda.


Hari ini toko bunga kami begitu sepi,sampai siang hari tak satupun nampak pembeli yang mendatangi toko bunga kami.


"Din,bagaimana ini? kenapa dari pagi tak satupun pembeli yang datang" kataku dengan wajah muram.


"Sabarlah Kania, namanya juga usaha,pasti ada pasang surutnya!" kata Dinda mencoba menenangkanku.


"Kita berdoa saja semoga akan segera ada pembeli yang datang kemari!" lanjut Dinda.


"Aminn" jawabku mengaminkan perkataan Dinda.


Tak berselang lama akhirnya doa kami pun terkabul,tampak sebuah mobil berwarna hitam berhenti didepan toko bunga kami.


Mobil pun terbuka dan keluarlah seorang lelaki dan perempuan dari dalam mobil.


Sedangkan si perempuan tampak mengenakan gaun berwarna merah yang sangat indah dan terkesan mahal,ia bergelayut manja dilengan si pria, sepertinya mereka adalah sepasang kekasih.


Melihat kedatangan mereka,Dinda pun segera menghampiri mereka untuk menyambutnya.


"Selamat datang di AZALEA FLORIST,apa ada yang bisa kami bantu?" kata Dinda menyambut kedatangan mereka dengan ramah.


"Saya mau pesan buket bunga untuk pernikahan,apa bisa?" kata si wanita.


"Bisa,silahkan tuan dan nona lihat-lihat dulu contoh buket bunga kami!" kata Dinda.


Dinda pun menyerahkan sebuah katalog pada mereka.


"Sayang kamu mau pilih yang mana?" tanya si wanita pada kekasihnya sembari menunjukkan katalog itu padanya.


"Pilihlah manapun yang kamu sukai!" jawab si pria sembari membuka kacamatanya.


deg!!!


Hatiku tiba-tiba bergetar hebat saat mendengar suara si pria tadi,aku merasa sangat familiar dengan suara itu.


Aku yang saat itu sedang membereskan barang dibelakang segera kedepan dan melihat siapa yang datang.


Tubuhku seakan terpaku tak berdaya setelah mengetahui siapa yang datang,mereka adalah Arsen dan Dona, sekretarisnya yang kini telah menjadi kekasihnya.


Arsen dan Dona pun nampak sama terkejutnya saat melihatku,tapi dengan segera mereka mengatasi keterkejutan mereka.


"Ngapain kamu ada disini? apa sekarang kamu kerja ditempat ini?" tanya Arsen dengan sinis.


"Ini toko bungaku!" jawabku singkat.


"Oh jadi toko bunga ini milik kamu,pantes!" kata Dona dengan senyum mengejek.


"Bunga apaan ini,jelek sekali!" hina Arsen sambil menunjuk ke salah satu pot berisikan bunga mawar putih yang berada didekatnya.


"Bunga jelek kayak gini tuh nggak pantes buat dijual,pantesnya tuh dibuang ketempat sampah!" kata Arsen lagi sambil menendang pot bunga tadi.


Pot bunga yang ditendang oleh Arsen pun kini hancur berantakan.


"Ini lagi,jelek banget!" kata Arsen sambil menghancurkan tanaman kami yang lain.


"Apa yang sudah kau lakukan tuan? kenapa kau menghancurkan tanaman kami?" kata Dinda mencoba menghentikan Arsen.


Arsen tak memperdulikan ucapan Dinda dan terus menghancurkan tanaman kami.


"Kania,siapa sebenarnya mereka?mengapa mereka melakukan ini pada kita?" kata Dinda bertanya padaku.


"Dia mantan kekasihku dulu dan sekretarisnya!" jawabku.


"Jadi dialah orang yang sudah menghancurkan hidupmu!" kata Dinda dengan muka merah padam menahan amarah setelah dia tahu siapa mereka.


"Sekarang juga pergi dari toko bunga kami!" usir Dinda pada mereka berdua.


"Cih, aku juga tak sudi berada ditempat ini!" kata Arsen sambil meludah.


"Sayang kenapa kamu marah-marah? dan kenapa kamu mengotori sepatumu dengan bunga jelek ini,lihat deh sekarang sepatu kamu jadi kena tanah kan!" kata Dona sambil mengusap lengan Arsen dengan genit.


"Kita cari toko bunga lain aja yuk,disini bunganya jelek-jelek!" kata Dona lagi.


"Ya udah cepetan sana pergi, ngapain masih ada disini!" kata Dinda dengan berapi-api.


"Ini juga mau pergi,saya juga tak sudi lama-lama berada ditempat seperti ini!" kata Dona sinis.


Mereka pun segera keluar dari toko bunga kami,tapi saat mereka tiba didekat mobil mereka Dona segera berbalik arah.


"Tunggu sebentar, aku ada sesuatu untuk kamu!" kata Dona sambil tangannya menunjuk kearahku.