
Kebahagiaan barulah seujung kuku, belum sebatas pintu, tapi kesedihan lebih dulu datang menghadang. Tawa ceria yang baru terukir kini telah berubah menjadi air mata kesedihan. Dalam sekejap pesta meriah telah berubah menjadi acara pemakaman.
Tubuh Papa dibaringkan ditengah-tengah ruangan. Ia terbujur kaku beralaskan tikar. Matanya terpejam tanpa mau terbuka lagi. Bibirnya terkatup erat tanpa mengeluarkan suara.
Isak tangis tak terbendung lagi, tumpah ruah tanpa permisi. Suara doa dan lantunan ayat suci Al-Qur'an menggema di seluruh ruangan. Aku bersimpuh disamping Papa menangisi jasadnya.
"Pa, kenapa Papa meninggalkan Kania secepat ini? kenapa Papa mengorbankan diri Papa untuk Kania? dan kenapa Papa harus meninggal dengan cara seperti ini?" ratapku.
"Tenangkan dirimu, Nia. Ini sudah menjadi kehendak-Nya" ucap Dinda.
"Kenapa Allah tidak adil padaku, Din. Kita baru saja berkumpul kembali setelah lama terpisah, tapi kenapa Allah tega memisahkan kami kembali. Papa bahkan belum sempat menimang cucu yang selama ini ia dambakan".
"Aku tahu itu, Nia. Tapi siapa yang bisa melawan takdir. Kita hanyalah hamba-Nya yang lemah, yang bisa kita lakukan hanya berpasrah diri dan menerima segala ketentuan-Nya, bukan!".
"Tapi kenapa harus dengan cara seperti ini?".
"Ini memang sudah digariskan oleh-Nya, Nia. Kita harus ikhlas menerimanya".
Mas Abhi datang menghampiriku dan ikut duduk di sampingku.
"Kania, kita harus memandikan jasad Papa sekarang. Semuanya sudah siap!" ucap Mas Abhi.
"Tidak bisakah menunggu sedikit lebih lama lagi, Mas. Aku masih ingin bersama Papa" ucapku lirih.
"Tidak bisa, Nia. Kita harus sesegera mungkin mengurus jenazahnya" jawab Mas Abhi.
"Baiklah, Mas. Lakukanlah!" ucapku pasrah.
Mas Abhi dibantu beberapa pelayat membawa tubuh Papa ke tempat pemandian untuk mensucikan jasadnya. Dan setelah semuanya usai, jasad Papa siap diberangkatkan menuju pemakaman.
"Mas Abhi. Izinkan aku ikut mengantar Papa menuju peristirahatan terakhirnya, Mas!" ujarku.
"Tidak, Nia. Lebih baik kau tetap dirumah saja" ujar Mas Abhi.
"Kumohon, Mas, biarkan aku ikut serta. Setidaknya aku bisa melihat Papa untuk yang terakhir kali" pintaku.
Mas Abhi diam sejenak menimbang permintaanku, dan akhirnya ia pun setuju.
"Baiklah, Nia. Kau boleh ikut. Tapi kau harus janji, kau tidak boleh histeris lagi saat nanti Papa dimakamkan" ujar Mas Abhi.
"Baik, Mas. Aku janji!" jawabku.
Dan kami pun berangkat menuju pemakaman.
...****************...
Subhanarobbika robbil ****Izzati**** ammaa yashifun. wasalaamun alal mursalin. walhamdulilla hi robbil aalamin.
Doa selesai dipanjatkan, dan para pelayat yang turut menghadiri pemakaman satu persatu kembali pulang.
Langit mendung sedari tadi. Gerimis turun membasahi bumi. Mereka seakan mengerti dan turut merasakan kesedihan yang kini kualami.
Hari ini Papa telah selesai dikebumikan, tapi rasanya aku enggan untuk beranjak dari sana. Aku terus menangis sambil memegangi batu nisan Papa. Rasanya baru kemarin aku berkumpul kembali dengannya, tapi sekarang dia sudah tidak ada lagi disini.
Mas Abhi dengan setia menemani disampingku. Ia pun turut merasakan kesedihan yang kualami, tapi sebisa mungkin ia menutupinya dariku.
Mas Abhi merengkuh tubuhku dan membawaku kedalam pelukannya, mencoba memberikan kekuatan padaku.
"Sudahlah, Nia. Jangan kau meratapi kepergian Papa terus. Ikhlaskan kepergiannya. Biarkan dia beristirahat dengan tenang" ucap Mas Abhi, menghapus air mata yang mengalir di pipiku.
"Bagaimana caraku untuk bisa mengikhlaskannya, Mas?. Semuanya terjadi begitu cepat!" ucapku lirih.
"Aku tahu itu, Nia. Aku pun sama sedihnya seperti dirimu. Tapi apakah kesedihan bisa mengembalikan seseorang yang sudah meninggal?" jawab Mas Abhi.
Aku terdiam mendengar pertanyaan Mas Abhi.
"Lebih baik sekarang kita pulang kerumah. Kasihan anak kita. Dia sudah kita tinggal dari tadi" ujar Mas Abhi.
"Baiklah, Mas. Ayo kita pulang" jawabku.
"Papa, Kania pulang dulu. Papa istirahatlah yang tenang. Besok Kania akan kesini lagi" ucapku, mengusap batu nisan Papa.
Dan kami pun berjalan meninggalkan area pemakaman, kembali pulang ke rumah.
...****************...
Sudah sepekan lamanya Papa meninggal dunia, tapi aku belum berhenti meratapi kepergiannya. Aku bahkan sampai lupa dengan anak yang baru kulahirkan karena begitu tenggelam dalam kesedihan.
Awalnya Mas Abhi membiarkan aku bersedih. ia faham jika aku masih terpukul dengan kepergian Papa. Tapi lama-kelamaan ia tak tega melihat anak kami yang kutelantarkan. ia mencoba mendekati dan memberiku pengertian.
"Honey, aku tahu kau sedih. Tapi janganlah kau terus tenggelam dalam kesedihanmu" ucap Mas Abhi lemah lembut.
"Aku belum bisa menerima kepergian Papa, Mas!" jawabku lirih.
"Aku tahu kau sangat terpukul dengan kematian Papa yang tragis, kita semua pun sama. Tapi kita harus bisa merelakan kepergiannya" jawab Mas Abhi.
"Aku tidak tahu apakah aku bisa melakukannya, Mas" ucapku sendu.
Sejenak Mas Abhi diam, tapi kemudian ia kembali bersuara.
"Kau tahu, Nia. Kalau ada seseorang yang meninggal, lalu keluarganya atau kerabatnya ada yang menangis dan tidak bisa merelakan kepergiannya, maka air mata itu akan menjadi siksaan bagi orang yang sudah meninggal" ujar Mas Abhi panjang lebar.
"Benarkah, Mas?" tanyaku lirih.
"Benar, honey. Itulah sebabnya kita harus bisa mengikhlaskan kepergiannya" jawab Mas Abhi.
"Aku akan mencobanya, Mas!" ucapku.
"Bagus, aku tahu kau pasti bisa!" ucap Mas Abhi, tersenyum dan mengusap kepalaku.
"Oh ya, apakah kau tak ingin menggendong anak kita?. Dia sangat rindu dengan Bundanya. Selama beberapa hari ini, dia tidak berjumpa dengan Bundanya" ucap Mas Abhi lagi.
Aku tersentak mendengar ucapan Mas Abhi. Aku baru sadar jika selama beberapa hari ini aku sudah menelantarkannya.
"Maafkan aku, Mas. Aku tidak sadar dengan apa yang aku perbuat" ujarku penuh penyesalan.
"Tidak apa, honey. Aku tahu tak tidak sengaja melakukannya" ujar Mas Abhi sambil tersenyum.
"Kemarikan dia, Mas. Aku akan menggendong dan menyusuinya" ucapku.
"Tunggu sebentar. Mas akan membawanya kesini!" tukas Mas Abhi.
Mas Abhi segera berlalu menuju
kamar Naila, tapi tak lama ia sudah kembali lagi dengan membawa Naila dalam gendongannya.
"Kemarikan dia, Mas!" pintaku, mengulurkan tanganku.
Mas Abhi menyerahkan Naila dalam pelukanku. Sejenak kupandangi wajahnya dan kuusap kepalanya.
"Maafkan Bunda, nak. Tanpa sadar Bunda sudah melupakan dirimu" ucapku lirih.
Naila menggeliat dan membuka matanya. Ia ikut memandangiku, seakan merespon perkataanku tadi.
Aku mendaratkan ciuman bertubi-tubi diseluruh wajahnya. Matanya meneduhkan hatiku, menghilangkan semua kesedihanku. Perlahan aku membuka kancing baju dan memberikannya ASI.
Naila menyambut ASI yang kuberikan. Ia terlihat sangat lahap, dan setelah puas, ia kembali tertidur. Aku meletakkan Naila di tempat tidurku.
"Tidurlah yang nyenyak, sayang. Bunda akan menemanimu. Bunda janji, setelah ini Bunda tidak akan bersedih lagi" bisikku lirih.
Aku pun turut merebahkan tubuhku disamping Naila, tanpa sadar aku ikut tertidur juga. Melihat hal itu, Mas Abhi tersenyum gembira.
" Aku senang melihatmu tidak lagi terpuruk, honey!".
Mas Abhi merebahkan tubuhnya disamping Naila disisi satunya lagi, dan ia pun turut memejamkan matanya.