
Sejenak Tasya masih menimbang untuk bicara, tapi tak berselang lama ia mulai angkat suara. "Boleh tidak, aku ikut tinggal disini?".
Deg...
Aku terkejut mendengar permintaan Tasya. Bagaiman bisa dia meminta untuk tinggal serumah denganku. Lalu bagaiman dengan reaksi Mas Abhi kalau dia mengetahui hal ini. Belum juga masalah kemarin selesai, muncul lagi masalah yang baru.
Sementara Dinda, ia langsung emosi saat mendengar permintaannya. "Apa kau sudah tidak waras? bagian bisa kau meminta untuk tinggal disini juga? apa belum cukup kau membuat masalah kemarin?".
"Diam, kau! aku tidak meminta pendapatmu. Lagipula ini bukan rumahmu. Jadi, kau tidak berhak untuk menentukan" hardik Tasya.
Dinda semakin geram dibuatnya. Ia berbalik menghadapku. "Kania, kau jangan mau menerima permintaan konyolnya. Dia pasti punya rencana jahat dibalik keinginannya ini" ujar Dinda memperingatkan.
"Jangan dengarkan dia, Nia. Aku tidak punya niat jahat apapun padamu. Kau tahu sendiri, kan!. Dari dulu Dinda tidak pernah suka padaku. Dia hanya memfitnahku dengan membuat namaku jelek dimatamu".
"Heh, wanita ular!, jangan memutar balik fakta. Bukankah selama ini kau yang suka membuat masalah?" bentak Dinda emosi.
Mereka terus berdebat dan saling berteriak, membuatku pusing melihatnya.
"Cukup!!!.Apa kalian tidak memberikan aku waktu untuk bicara? Ini rumahku, maka biarkan aku yang memutuskan!" teriakku.
"Tapi, Nia..." sela Dinda.
"Aku mohon, Din. Biarkan aku bicara dulu. Setidaknya, biarkan Tasya mengatakan dulu apa alasannya ingin tinggal disini" jawabku.
Dinda mendengus kesal, tapi aku tak perduli. Aku balik memandang Tasya untuk meminta penjelasan darinya. "Katakan, Sya. Apa alsan yang membuatmu ingin tinggal di sini?".
"Kania, Aku meminta hal ini bukan karena keinginanku sendiri, tapi keinginan dari bayi yang ku kandung. Tubuhku terus melemah selama aku hamil. Aku sudah memeriksakan diri ke dokter, dan dia bilang itu karena anakku ingin berada di dekat Ayahnya. Dia ingin merasakan sentuhan darinya" terang Tasya.
"Bohong!!!. Kau jangan percaya dengan ucapannya, Nia. Ini pasti cuma akal-akalan dia saja!" potong Dinda.
"Din....". Aku memandang ke arah Dinda. Memberi isyarat agar dia tenang dulu.
Aku balik memandang Tasya. "Aku tidak bisa mengambil keputusan sekarang, Sya. Aku harus membicarakan hal ini dengan Mas Abhi dulu. Bagaimanapun dia juga harus tahu" ujarku, mencoba menengahi.
"Aku mohon, Nia. Ijinkan aku untuk tinggal disini. Setidaknya sampai anak ini lahir" ucap Tasya, memohon dengan penuh harap.
"Apapun yang terjadi, jangan pernah biarkan dia tinggal disini!" ujar Dinda bersikukuh.
Aku berpikir keras menimbang permintaan Tasya. Sungguh, ini bukan perkara yang mudah. Aku tahu dengan pasti resiko apa yang akan ku tanggung jika aku mengizinkannya tinggal disini, tapi aku juga tidak bisa begitu saja mengabaikan dirinya.
Dengan sangat terpaksa, akhirnya aku menyetujuinya. "Baiklah, kau boleh tinggal disini!".
Tasya sangat senang mendengar keputusanku, matanya berbinar bahagia. "Terimakasih banyak, Nia. kau memang sangat baik".
Sementara Dinda sangat terkejut. Dia marah, tidak terima dengan keputusanku. "Apa kau sudah gila? Apa kau ingin menghancurkan rumah tanggamu sendiri dengan membiarkan wanita lain tinggal di rumahmu?".
"Rumah tanggaku memang sudah lama hancur. Sejak Mas Abhi mengkhianatiku, sejak itulah kehancuran dimulai" ucapku lirih.
"Tidak, Kania, Abhimana tidak pernah menghianatimu. Kau masih juga tidak percaya dengan suamimu sendiri?" ucap Dinda, menggelengkan kepala.
"Bagaiman bisa aku percaya dengannya?, sementara semua bukti menyatakan dia bersalah".
"Lalu, kau memilih untuk percaya pada perkataan wanita ular ini?" tanya Dinda, menuding ke arah Tasya.
Aku terdiam mendengar pertanyaan Dinda. "Sudahlah, Dinda. Ini sudah menjadi keputusanku. Ada anak Mas Abhi dalam kandungan Tasya. Saat ini dia lebih membutuhkannya" ucapku sendu, menghela napas berat.
"Pikirkan ini sekali lagi, Nia. Jangan sampai kau menyesal nantinya" ucap Dinda.
"Aku sudah memikirkan ini baik-baik, Din, dan inilah keputusanku" ujarku bersikukuh.
"Kau memang sangat naif, Nia. Mudah sekali kau ditipu".
Aku tersenyum tipis memdengar ucapan Dinda. "Rumah tanggaku memang tidak bisa diselamatkan lagi. Mungkin setelah ini, aku benar-benar akan mengajukan cerai dari Mas Abhi".
"Jangan lakukan ini, Nia. Aku tidak ingin kau bercerai dengan Abhimana hanya demi aku. Aku rela menjadi istri kedua" sergah Tasya.
"Jaga ucapanmu!, jangan memfitnahku lagi. Aku tidak seburuk yang kau kira" bentak Tasya, tidak terima dengan tuduhannya.
"Alah, mana ada maling yang ngaku!" cemooh Dinda.
Tasya tidak terima, wajahnya semakin merah padam karena menahan marah. "Berhenti menghinaku, atau aku akan..."
Belum sempat Tasya menyelesaikan ucapannya, Dinda sudah memotong. "Akan apa? ayo, cepat katakan!".
"Jangan memaksaku berbuat kasar padamu!" hardik Tasya, tangannya terkepal erat karena marah.
"Coba saja kalau kau berani!" tantang Dinda.
"Cukup!!! Hentikan semua ini" bentakku.
"Tapi dia yang memulai duluan!".
"Bukan aku, tapi kau!".
"Kau!".
"Kau!".
"Cukup!!! aku bilang, cukup!" bentakku lagi. kali ini mereka sama-sama terdiam.
"Tasya, seperti kataku tadi, kau boleh tinggal disini"
Tasya tersenyum sumringah mendengar keputusanku.
"Dan kau, Dinda" kali ini aku berbalik memandang Dinda. "Berhenti memfitnah Tasya!".
"Aku tidak memfitnahya. Ini memang rencananya" bantah Dinda.
"Aku tahu mana yang salah, dan mana yang benar. Dalam hal ini,Tasya tidak bersalah. Aku tahu bagaimana dia. Jadi jangan pernah berkata buruk tentangnya"
"Tapi, Nia. Aku hanya mencoba memperingatkanmu!" bantah Dinda.
"Kau sudah cukup memperingatkan. Kali ini,jangan lagi!".
Dinda tercengang mendengar perkataanku. "Aku tidak menyangka kau akan berkata seperti itu".
Sementara Tasya memandang Dinda dengan senyum mengejek. Ia bahagia karena aku lebih membelanya.
"Satu hal lagi!" lanjutku, tak perduli dengan keterkejutan nya. "Berhenti ikut campur dalam semua masalahku!".
Dinda semakin terkejut mendengarnya."Aku hanya ingin membantumu saja, Kania. Tidak lebih".
"Kau sudah cukup membantu, jadi jangan lakukan apapun lagi, mengerti!".
"Kau memang sudah berubah, Kania. Kau bukan lagi Kania yang dulu kukenal!" ujar Dinda kecewa, matanya nampak berkaca-kaca.
Aku memalingkan wajah darinya, tak sanggup melihat kesedihan di matanya. Sejujurnya hatiku pun merasakan sakit yang teramat sangat saat mengucapkan kata-kata menyakitkan itu padanya. Tapi mau bagaimana lagi, aku harus menjaga perasaan Tasya demi anak yang sedang dikandungnya. Aku tidak ingin dia merasa tertekan karena ucapan Dinda, apalagi dalam kondisinya yang sedang hamil.
Dinda menghapus air mata yang menggantung di pelupuk mata. Setelah ia bisa menguasai diri kembali, ia mulai angkat bicara. "Baiklah, kalau memang itu yang kau mau. Mulai sekarang, aku tidak akan pernah ikut campur lagi urusanmu. Aku minta maaf karena kebodohanku ini!.
Dinda mulai melangkahkan kaki. Sesaat ia berhenti ketika berhadapan dengan Tasya. Matanya menatap tajam ke arahnya, memandang seakan ingin memangsa.
Tasya tak gentar sedikitpun melihat Dinda. Ia bahkan balas menatap dengan pandangan mengancam.
Dinda tak menghiraukan Tasya lagi, gegas ia pergi meninggalkan rumahku.
Kupandangi kepergian Dinda dengan hati terluka. Hatiku bagai disayat dengan seribu belati.