Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 71



"Iya deh aku langsung bilang, dengerin ya! kabar bahagianya adalah.....".


Aku sengaja menjeda ucapanku agar Dinda semakin penasaran olehnya.


"Ish apaan sih,ayo cepetan ngomong, kabar bahagianya itu apa? bikin penasaran orang aja,aku udah nggak sabar nih pengen tahu kabar bahagianya itu apa" omel Dinda tak sabar.


Aku pun tertawa mendengar omelan Dinda.


"Kabar bahagianya adalah sekarang aku tengah hamil,dan usianya sudah empat Minggu," ujarku.


"Apa? kamu hamil?" teriak Dinda tak percaya.


"Heem!" sahutku.


"Wah, ini adalah kabar yang paling menggembirakan,aku ikut senang mendengar kabar kehamilanmu,selamat ya!" ujar Dinda memberiku ucapan selamat.


"Makasih banyak Din!" ujarku sambil tersenyum.


"Oh ya Din,ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu!" ujarku lagi.


"Hal penting apa?" tanya Dinda.


"Jadi gini,selama aku hamil Mas Abhi melarangku untuk bekerja,dia ingin aku istirahat total.Jadi aku mau minta tolong, untuk sementara kamu aja yang urus toko bunga ya!" pintaku.


"Nggak masalah,aku akan urus semuanya!" ujar Dinda.


"Kalau ada apa-apa atau sesuatu yang kamu nggak ngerti kamu kabari aku aja langsung!" lanjutku.


"Tenang saja,aku masih bisa mengatasi semuanya kok!" ujar Dinda.


"Makasih banyak ya atas pengertianmu," ucapku.


"Sama-sama!" balas Dinda.


"Kalau gitu, aku tutup dulu ya telponnya!" ujarku.


"Iya Nia,nanti aku akan kerumahku untuk menengokmu!" ujar Dinda.


"Iya Din,aku akan menunggu kedatanganmu!" jawabku.


dan telepon pun terputus.


Selesai menelpon Dinda, ternyata mas Abhi sudah ada di sampingku lagi.Aku pun segera meletakkan handphoneku.


"Mas Abhi, kok sudah ada disini!,sejak kapan Mas Abhi datang? tanyaku.


"Mas sudah ada disini dari tadi,kamunya aja yang asyik telponan, sampai nggak tahu kalau Mas sudah ada disini" ujar Mas Abhi.


"He he he maaf Mas,kebiasaan!, kalau udah ngobrol sama Dinda pasti lupa segalanya!" ujarku nyengir kuda.


"Diubah dikit ya kebiasaannya itu!" ujar Mas Abhi sambil mencubit kecil hidungku.


"Ya udah,sekarang kamu makan dulu ya!" ujarnya lagi sambil menyerahkan makanan yang sudah dibuatnya tadi.


"Nggak mau Mas,aku nggak mau makan!" tolakku.


"Loh,kenapa? kamu nggak suka ya sama makanannya? atau kamu pengen makan yang lain?" tanya Mas Abhi.


"Bukannya gitu Mas,aku nggak mau makan kalau tidak disuapin sama kamu!" ujarku menjelaskan maksudku.


"Manja nih ya kamunya," ujar Mas Abhi sambil tertawa kecil.


"Ini tuh bukan keinginanku Mas,tapi anak kamu nih yang minta disuapin ayahnya!" ujarku sambil menunjuk ke perutku.


"Iya iya nggak pa pa!,kalaupun itu kamu yang minta Mas akan lakukan dengan senang hati,karena Mas senang kalau kamu bergantung sama Mas!" ujar Mas Abhi sambil tersenyum.


"Ya udah sini Mas suapin!".


Aku pun bergeser sedikit dari posisi dudukku agar Mas Abhi bisa duduk di sampingku.


Mas Abhi pun duduk di sampingku dan mulai menyuapiku.


"Kamu makannya yang banyak,karena sekarang bukan cuma tubuh kamu aja yang perlu nutrisi,anak dalam kandunganmu pun membutuhkan nutrisi juga!" ujar Mas Abhi sambil menyuapiku.


"Iya Mas!" jawabku.


"Kamu juga harus jaga kesehatan,jangan sampai kamu kecapekan,itu nggak baik buat kandungan kamu!" ujar Mas Abhi lagi.


"Iya Mas,aku ngerti!,udah ah dari tadi ngomel terus,udah kayak dokter aja kamu!" ujarku sambil mengerucutkan bibir.


"Ya sudah,sekarang kamu makan lagi ya! ujar mash Abhi sambil mengarahkan sendok ke mulutku.


"Sudah mas, cukup!,aku sudah kekenyangan" tolakku.


"Sedikit lagi!" ujar Mas Abhi sedikit memaksa.


Aku pun membuka mulutku dan menerima suapan darinya.


"Satu kali lagi,ok!" ujar Mas Abhi membujukku.


"Nggak Mas, nggak mau!" ujarku sambil menutup mulutku dengan kedua telapak tanganku layaknya anak kecil yang menolak makan.


"Ya sudah kalau kamu nggak mau" ujar Mas Abhi sambil meletakkan piring diatas nakas.


"Sekarang kamu minum obat dulu ya!" ujar Mas Abhi lagi sambil menyodorkan beberapa obat padaku.


Aku pun menerima obat itu dan segera meminumnya.


"Nah gitu dong,sekarang kamu istirahat dulu ya!, Mas mau keluar dulu sebentar" ujar Mas Abhi.


Aku pun mengangguk dan merebahkan tubuhku diatas kasur, Mas Abhi pun menarik selimut dan menyelimuti tubuhku.


"Mas pergi dulu!" pamit Mas Abhi sambil mengecup keningku.


Aku pun menjawab dengan menganggukkan kepala dan Mas Abhi pun segera berlalu dari hadapanku.


...****************...


Hari ini Dinda datang kerumahku untuk menengokku,yang pastinya kalau sudah ada dia suasana akan berubah menjadi heboh.


"Kania!" teriak Dinda dari luar pintu saat Mbak Ana membukakan pintu untuknya.


Oh ya, mbak Ana adalah asisten rumah tanggaku yang baru, Mas Abhi yang mencarikannya untuk membantuku mengurus rumah.


Dinda pun segera berlari kearahku sambil merentangkan kedua tangannya hendak memelukku.


"Ish apaan sih,dateng-dateng main peluk istri orang aja!" protesku sambil mengibaskan tangannya.


"Iya iya yang udah punya suami,sekarang nggak mau kalau dipeluk sama sahabatnya," ujar Dinda sambil memanyunkan bibirnya.


"Nah itu kamu tahu!" jawabku asal.


"Nasib dah menjadi jomblo, nggak ada yang meluk!" ujar Dinda sedikit curhat.


"Idl!" jawabku tak peduli.


"Idl? apaan tuh?" tanya Dinda tak mengerti.


"Itu sih derita lo!" ujarku sambil tertawa terbahak-bahak.


"Sialan,kamu malah ngatain aku,sini kamu!" ujar Dinda sambil bersiap menyerang ku.


Aku pun hendak lari dan menghindar dari serangan Dinda,tapi ternyata Mas Abhi datang dan langsung menegurku.


"Honey,kamu mau ngapain?,kamu mau lari-larian ya?" ujar Mas Abhi menegurku.


"Eh maaf, Mas,nggak jadi!" ujarku sambil nyengir kuda.


"Kamu juga Dinda!,jangan suka mengejar-ngejar Kania,usia kandungannya itu masih rentan,bahaya kalau dibuat lari-larian!" ujar Mas Abhi,kali ini ia menegur Dinda.


"Iya Abhi,maaf!" ujar dinda.


"Ya sudah nggak pa pa,tapi tolong jangan ulangi ini lagi!" tegas Mas Abhi.


"Aku janji, Abhi,aku nggak akan ngulangin ini lagi!"ujar Dinda sambil mengacungkan jari tengah dan jari telunjuknya sebagai tanda bahwa ia berjanji.


"Ya sudah,kalau gitu aku masuk ke kamar dulu ya!,Kalina berdua lanjut aja lagi ngobrolnya" ujar Mas Abhi sambil berlalu menuju kamar.


Dinda pun mendekat ke arahku dan duduk di sampingku.


"Hai,apa kabar ponakan Tante? gimana keadaan kamu disana?" tanya Dinda mengajak bicara janin dalam kandunganku sambil mengelus perut rataku.


"Aku baik Tante!" ucapku menjawab pertanyaan Dinda sambil menirukan suara anak kecil.


""Kamu baik-baik disana ya,jangan bikin Bundamu susah!" ucap Dinda lagi.


"Nggak akan Tante,aku kan anak yang baik!" jawabku lagi.


Dinda pun tersenyum mendengar ucapanku,kemudian dia berbalik memandangku.


"Giman dengan kehamilanmu yang sekarang? apa kamu mengalami masalah?" tanya Dinda padaku.


"Sejauh ini semuanya baik-baik saja,hanya masih suka mual Ama muntah aja!" jawabku.


"Terus Abhimana gimana? apa dia selalu menjagamu?" tanya Dinda lagi.


"Seperti yang kau lihat tadi, Mas Abhi semakin protektif padaku semenjak aku hamil," jawabku.


Dinda pun tersenyum mendengar jawabanku


"Aku ikut senang mendengarnya, setidaknya pada kehamilanmu yang sekarang ada seseorang yang menjagamu" ujar Dinda.


"Sebenarnya Din,ada sedikit rasa sedih dihatiku" ujarku, wajahku seketika berubah sendu.