Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 112



Setelah semua persiapan matang, Tasya mulai menjalankan rencananya. Pagi-pagi sekali ia sudah mendatangi rumahku. Ia menggedor rumahku dengan kencang.


"Siapa sih pagi-pagi begini bertamu ke rumah orang? mana ngetuknya nggak sabaran banget" gerutu Mas Abhi.


"Bik, tolong bukain pintu. Lihat siapa yang datang" teriakku langsung, aku tak ingin membuat pagiku menjadi buruk dengan mendengar gerutuan Mas Abhi.


Bibik segera melakukan apa yang kuminta. Ia berjalan dengan tergopoh-gopoh, membukakan pintu dan melihat siapa yang datang. Setelah bibik membukakan pintu, Tasya langsung menerobos masuk sebelum dipersilahkan.


"Kania, Abhimana Diman kalian? keluarlah!, aku ingin bicara," berteriak sambil mencari keberadaan kami.


Kami yang saat itu sedang sarapan bareng pun terkejut mendengar suara teriakannya. " Itu kayak suaranya Tasya, Mas" ujarku.


"Ada apalagi sih? mau apa dia pagi-pagi kesini?" ujar Mas Abhi kesal.


Kami bergegas menghampirinya sebelum ada keributan. Dan benar saja, itu memang Tasya.


"Mau apa kau kesini? Apalagi yang ingin kau lakukan sekarang?" berang Mas Abhi.


"Tasya, tolong jangan buat keributan. Naila masih ada di rumah. Biarkan dia berangkat sekolah dulu" ujarku, mencoba menenangkan keadaan.


"Aku kesini bukan ingin membuat keributan, Nia. Aku hanya ingin meminta pertanggungjawaban dari Abhimana," jawab Tasya dengan suara yang lebih lunak.


"Maksud kamu apa? pertanggungjawaban apa?" tanyaku dengan wajah kebingungan. Aku tak mengerti apa yang dia maksudkan.


Tasya berjalan menghampiriku. Wajahnya berubah sendu. "Kania, ak...aku..." ujarnya terbata-bata, air mata mulai menggenang di matanya.


"Duduk dulu, Tasya. Katakan semua dengan jelas!" menarik lengannya dan mengajaknya duduk di sampingku.


"Katakanlah!" ujarku lagi setelah melihatnya sedikit tenang.


Sesaat Tasya masih terdiam, berpikir bagaimana ia akan memulai semua, tapi tak berselang lama ia mulai angkat bicara. "Aku hamil, Kania. Anak dari Abhimana".


jleger!!!!!


Bagai tersambar petir di siang bolong. Tubuhku lemas seketika mendengar pengakuannya.


Setelah peristiwa malam itu, aku sudah menduga bahwa hal seperti ini bisa saja terjadi, dan aku sudah mempersiapkan hatiku untuk menerima kemungkinan terburuknya. Tapi saat semuanya benar-benar terjadi, hatiku terasa sangat sakit. Aku tak sanggup menerima kenyataan bahwa suamiku akan mempunyai anak dari wanita lain.


Ku pejamkan mataku, menahan air mata yang ingin menerobos keluar. Aku menghela nafas berat untuk menetralisir gemuruh dalam dadaku. "Sudah berapa bulan?" tanyaku lirih.


"Dua bulan" jawabnya. Ia menundukkan kepala sambil mengusap perutnya.


Kupandangi perut Tasya yang memang terlihat sedikit buncit. Rasanya aku masih tak percaya dengan kenyataan ini. Tapi memang inilah yang terjadi.


"Maafkan aku, Kania. Sungguh, aku tidak ingin merusak kebahagiaanmu. Awalnya aku ingin merahasiakan kehamilanku ini darimu.Tapi tubuhku terlalu lemah untuk menanggung semua ini sendirian."


"Dokter mengatakan, kehamilanku ini sangat mempengaruhi kesehatanku. Dan setelah ini mungkin hidupku tidak akan lama lagi. Aku tidak bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhanku dalam keadaan seperti ini. Dengan terpaksa, aku pun mengatakan semua ini padamu. Aku hanya ingin ada yang membantu selama masa kehamilanku. Dan kelak anakku akan ada yang merawat setelah aku tiada" ujar Tasya lirih, air mata menetes di pipinya.


"Aku sudah menduga kau akan bereaksi seperti ini. Kau pasti akan mengira aku hanya berbohong. Tapi apakah perutku ini bisa berbohong?" ujar Tasya sambil mengusap air matanya, menjawab tudingan Mas Abhi tadi.


"Bisa saja kan, kamu memasukkan bantal dalam perutmu agar terlihat kalau kau sedang hamil" bantah Mas Abhi.


"Apa hasil testpack dan foto USG ini kau anggap kebohongan juga? apa ini belum cukup untuk membuktikan kalau aku benar-benar sedang hamil?" jawab Tasya, menunjukkan hasil testpack dan foto USG pada kami.


Kami sama-sama terdiam. Foto USG itu memang menjadi bukti terkuat, dan Mas Abhi tidak bisa lagi menyangkal.


Setelah lama terdiam, akhirnya mas Abhi mulai angkat bicara. " Ok, anggap saja kau memang sedang hamil. Tapi mengapa kau mengatakan kalau itu adalah anakku?".


"Apa kau lupa dengan kejadian malam itu? kau sudah menyentuhku. Kau telah memperkosaku" jawab Tasya tajam.


"Bohong!. Aku tidak pernah menyentuhmu. Itu pasti anak dari salah satu teman kencan mu, iya kan? ayo ngaku" teriak Mas Abhi tak terima.


"Dulu aku memang berhubungan dengan banyak pria, tapi setelah bertemu denganmu aku tak lagi melakukan hal itu. Dan kau pun tahu itu, kan, Kania!" ujar Tasya lirih, menatap ke arahku.


"Sekali ****** tetap saja ******. Mana ada maling yang ngaku. Kalau emang ada, bisa-bisa penjara penuh" cibir Mas Abhi, penuh penghinaan.


Tasya tertegun mendengar penghinaan yang dilontarkan Mas Abhi. Ia terlihat sakit hati dengan ucapannya. Air mata mengalir deras dari kedua matanya.


"Simpan saja air mata buaya mu itu. Itu nggak akan berpengaruh padaku" ujar Mas Abhi sinis.


"Masa lalu membuatku terlihat sangat buruk di matamu. Tapi percayalah, aku memang sudah berubah" ujar Tasya sendu.


"Mana mungkin aku bisa percaya begitu saja dengan ucapanmu. Wanita ular sepertimu tidak akan pernah bisa dipercaya" cibir Mas Abhi.


Tasya semakin sakit hati dengan ucapan Mas Abhi. "Baiklah kalau kamu tidak percaya padaku. Yang jelas, anak ini memang anakmu. Setelah anak ini lahir, kau bisa melakukan tes DNA jika kau mau. Kita akan sama-sama membuktikan kebenarannya" ujar Tasya lantang, bangkit dari duduknya.


"Sudahlah, Mas Abhi, jangan mengelak lagi. Akui saja kalau itu memang anakmu. Kau harus bertanggungjawab terhadap anak yang dikandungnya. Aku akan mencoba menerima kenyataan ini" ujarku, menghapus air mata.


"Aku akan mengalah dalam hubungan ini. Aku akan segera mengurus perceraian kita, secepatnya. Setelah itu kau bisa menikahi Tasya".


"Tidak, Kania.Jangan berkata seperti itu. Aku tidak akan pernah menceraikan mu" sarkas Mas Abhi, berlari menghampiriku dan menggenggam tanganku.


"Lepaskan, Mas, keputusanku sudah bulat. Aku tidak bisa bersama denganmu lagi. Saat ini Tasya lebih membutuhkanmu dibanding aku" ujarku, menghempaskan tangan Mas Abhi.


"Abhimana benar, Tasya. Kalian tidak boleh bercerai. Aku bisa menjadi yang kedua kalau kau mau" ujar Tasya ikut menimpali.


"Diam, kau!. Jangan berpura-pura baik di depan Kania. Bukankah ini yang kau inginkan selama ini!" bentak Mas Abhi.


"Cukup, Mas. jangan membentak Tasya lagi. Saat ini dia sedang mengandung anakmu".


"Keputusanku sudah bulat, Mas. Aku akan segera melayangkan gugatan cerai padamu".


Aku tak sanggup berlama-lama berada disana. Aku segera berlari ke kamar, menumpahkan semua air mata yang sedari tadi ku tahan. Meninggalkan mereka yang masih termangu.