
Sore ini aku sedang bersantai di taman belakang rumah ditemani secangkir coklat panas. Kebetulan kerjaan ku sudah selesai sedari tadi, jadi aku bisa pulang cepat hari ini.
Mas Abhi sendiri sedang pergi keluar kota untuk beberapa hari. Dia sedang memantau jalannya proyek baru disana. Sedang Naila belum pulang dari les kepribadiannya. Otomatis aku hanya sendirian saja sekarang.
Kunikmati kesendirianku saat ini, sambil memandang bunga-bunga yang tertata rapi disana. Tiba-tiba aku teringat pada Dinda. Sudah lama aku tidak menghabiskan waktu bersamanya. Aku pun menghubungi untuk memintanya ke rumahku, menemaniku.
Selang beberapa lama, Dinda pun datang. Ia langsung menghampiriku di taman belakang karena sudah tahu posisiku saat ini. Aku sudah memberitahunya tadi waktu di telpon.
"Hey, bengong aja dari tadi" suara Dinda mengagetkanku, membuyarkan lamunanku.
"Eh, kamu Din. sejak kapan kamu datang? kok aku nggak denger?".
"Aku tuh udah datang dari tadi. Kamu aja yang terus melamun, sampai nggak denger suaraku manggil-manggil kamu" jawab Dinda, memanyunkan bibirnya. Ia pun langsung duduk di sebelahku tanpa menunggu aku persilahkan. "Lagi mikirin apa sih? Serius amat!".
"Nggak, nggak lagi mikirin apa-apa kok. Aku cuma memandangi bunga-bunga itu aja" ujarku sambil tersenyum.
"Jangan kebanyakan melamun, ntar kesambet loh!. Apalagi sore-sore begini" ujar Dinda, tertawa kecil.
Aku hanya menanggapi gurauan Dinda dengan menyunggingkan senyuman. Kemudian kami pun mengobrol tentang banyak hal.
"Kamu sudah punya pacar belum? apa kamu nggak merasa kesepian ngejomblo terus? ntar jadi jomblo akut, loh!" tanyaku tiba-tiba.
"Emangnya penyakit?, pake istilah akut segala!. Jomblo itu suatu pilihan, tahu!. Lagi pula aku sangat menikmati kesendirianku" jawab Dinda manyun.
Aku tersenyum renyah melihat reaksi Dinda saat kutanya mengenai statusnya yang sampai saat ini masih betah dengan kesendiriannya.
"Lagipula, siapa bilang aku nggak punya pacar, Aku nggak jomblo lagi, tahu! kamu aja yang nggak tahu jalau aku udah punya pacar" lanjutnya.
Pengakuan Dinda barusan membuatku sangat terkejut. Ini diluar sepengetahuanku. "Benarkah? kamu nggak lagi bohong, kan? ngaku udah punya pacar cuma buat nutupin rasa malu, biar nggak dibilang jomblo akut".
"Ngapain juga aku bohongin kamu, nggak ada untungnya juga kan, buatku!".
Aku manggut-manggut, membenarkan ucapan Dinda. "Kok kamu nggak pernah bilang ke aku kalau udah punya pacar?".
"Gimana mau bilang ke kamu, kamunya aja sibuk terus. Sampai-sampai nggak ada waktu buat sahabatmu ini" jawab Dinda manyun.
Aku nyengir kuda mendengar protes Dinda. "Terus, pacar kamu namanya siapa? kok nggak pernah dikenalin sama aku? Aku kenal nggak sama orangnya? lalu, sejak kapan kalian pacaran".
"Hey, Non, kalau nanya itu satu-satu!" ujar Dinda sebal.
"Iya iya, makanya cepetan jawab, jangan bikin orang penasaran!".
"Kamu tuh bawel banget, ya, nyerocos mulu dari tadi!".
"Cepetan jawab!" teriakku agak keras. Lama-lama kesal juga aku dibuatnya.
Dinda malah tertawa lebar melihatku yang mulai marah, membuatku semakin kesal saja. Aku pun memalingkan wajah, berpura-pura marah. "Ya udah kalau nggak mau kasih tahu, nggak pa pa!".
"Ok, ok, aku kasih tahu sekarang!" ujar Dinda setelah puas tertawa.
"Nama dia, David. Aku bertemu dengannya secara tidak sengaja. Waktu itu mobilku sedang mogok di jalan, dan dia datang untuk membantu, kebetulan saat itu dia ada disana juga. Sejak itulah kami sering bertemu, dan akhirnya kami pun berpacaran. Kami pacaran udah sebulan yang lalu. Dan aku rasa kamu tidak mengenalnya" ujar Dinda panjang lebar.
"Apa jawabanku tadi sudah menjawab semua pertanyaan yang kamu ajukan?".
Aku mengerutkan dahi saat Dinda menyebut nama David. Nama itu seperti tidak asing bagiku. "Apa kamu yakin aku tidak mengenalnya?".
"Aku rasa begitu, memangnya ada apa?" tanya Dinda bingung.
"Aku merasa sangat familiar dengan nama itu. Tapi aku tidak ingat, dimana aku pernah mengenalnya" jawabku, masih mencoba mengingat-ingat tentangnya.
Dinda tertawa melihat hal itu. "Hey, orang dengan nama David itu banyak di dunia ini. Mungkin nama mereka memang sama, tapi bisa saja, kan mereka orang yang berbeda".
Aku manggut-manggut, membenarkan ucapan Dinda. "Iya ya, mungkin memang benar begitu!," tak ambil pusing lagi soal nama David.
"Ngomong-ngomong, kapan kamu mau kenalin dia ke aku?".
"Ntar deh, kalo kalian sama-sama nggak sibuk!".
"Janji, ya!".
"Janji!".
Kami pun sama-sama tersenyum.
"Entah!. Kita kesana yuk, cari tahu!".
Kami pun sama-sama bangkit, melangkah menuju sumber keributan. Ternyata ada Tasya disana. Dialah yang sudah membuat keributan. Dia memaksa untuk masuk saat satpam mencoba menghentikannya.
"Ada apa ini? kenapa ribut-ribut!" tanyaku, menghentikan keributan.
Sontak mereka pun menghentikan keributan. Mereka memandang kearahku.
"Lepasin!" ujar Tasya, menghempaskan tangan satpam yang sedari tadi terus menahan tubuhnya.
"Lihat satpam kamu, Nia. Dia nggak sopan banget sama aku. Masak aku mau ketemu kamu, tapi dilarang masuk!. Dia malah mengusirku dari sini " ujar Tasya, mengadukan tindakan satpam tadi padaku.
"Kamu tuh emang nggak diterima lagi di rumah ini. Kamu emang pantas diperlakukan seperti itu. Dasar benalu, perusak rumah tangga orang" cibir Dinda.
Tasya terlihat sangat kesal mendengar ucapan Dinda. Ia melototkan matanya ke arah Dinda. Dinda pun tak mau kalah, ia balas melotot ke arah Tasya. Perang dingin terjadi diantara mereka.
Aku pun memandang ke arah Dinda, mencoba mencairkan ketegangan. "Dinda, cukup ya. Jangan bicara seperti itu lagi pada Tasya. Dia kan juga temanku".
Dinda memutar bola matanya kesal. "Terus aja kamu belain dia. Ntar kalau kamu udah tahu kebusukannya, kamu pasti akan menyesal".
Aku menghela nafas berat mendengar ucapan Dinda. Aku sudah mengerti kalau dia memang tidak pernah suka dengan tasya, tapi bukan berarti dia bisa menghina Tasya sesuka hatinya. "Kumohon, Din, jangan memulainya lagi. Aku tidak ingin berdebat denganmu".
Dinda semakin kesal mendengar ucapanku, sedang Tasya terlihat sangat senang mendengar aku lebih membelanya. Ia menyunggingkan senyum mengejek ke arah Dinda. Membuat Dinda semakin marah karenanya. Ia pun pergi meninggalkan kami, lebih dulu masuk ke dalam.
Aku tak mau ambil pusing lagi dengan tingkah mereka berdua. Aku beralih pada satpam yang sedari tadi hanya diam memandang kami. "Pak satpam, biarkan Tasya masuk! dia teman saya".
"Tapi Nyonya, Tuan sudah memerintahkan saya untuk melarangnya masuk. Nanti tuan bisa marah kalau dia tahu" sarkas satpam.
"Kamu tenang saja. Nanti biar aku yang urus!" ujarku menenangkan.
"Baik, Nyonya. Kalau begitu saya permisi dulu!" melangkah kembali ke posnya.
"Ayo masuk!" ajakku pada Tasya.
Kami pun sama-sama masuk kedalam.
"Ada apa kamu kesini?" tanyaku, setelah kami sama-sama duduk.
"Ada sesuatu yang ingin aku omongin ke kamu" ucap Tasya.
"Apa?".
"Emh....". Ia terlihat ragu untuk mengatakannya.
"Katakan saja!" ujarku menenangkan.
Sejenak Tasya masih menimbang untuk bicara, tapi kemudian ia mulai angkat suara. "Boleh tidak, aku ikut tinggal disini?".
*
*
*
*
Hai reader tersayang, mampir juga yuk ke karya terbaruku 'Ketika Cinta Harus Menentukan'.
Sekadar informasi, kisah ini ditulis berdasarkan kisah nyata, jadi bukan hanya fiksi semata.
Berkisah tentang seorang gadis bernama Larissa, yang mencari tahu siapa ayah kandungnya yang sebenarnya.
Suatu hari ada seseorang secara tidak sengaja menanyakan tentang nama lengkapnya. Saat itu ia telah memiliki seorang bayi berusia enam bulan. dari situlah kebenaran mulai terungkap. Ia juga mengetahui alasan kenapa selama ini ibunya menyembunyikan hal ini darinya.
Ternyata sang ibu merasa sakit hati karena telah dibohongi oleh ayahnya yang mengaku sebagai seorang duda saat akan menikahinya dulu.
Akankah Larissa mampu menerima kenyataan ini? dan bagaimana dia mempertahankan biduk rumah tangganya sendiri saat badai datang menerpa.
Kepo kan....makanya jangan lupa mampir. simak cerita selengkapnya ya.... tinggalin jejak juga disana...