
Melihat perubahan yang ada pada diriku Abhimana dan Dinda pun merasa sangat bahagia.
"Kania aku merasa sangat bahagia melihat perubahanmu saat ini!" ujar Dinda sambil tersenyum bahagia dan merengkuhku.
Aku pun tersenyum tipis saat mendengar ucapan Dinda
"Aku sungguh minta maaf Kania kalau ucapanku tadi sudah menyinggung perasaanmu,aku tak bermaksud untuk melukai hatimu tadi!" lanjut Dinda.
"Tidak Dinda, akulah harusnya yang minta maaf sama kamu,akulah yang salah,maafkan aku ya" kataku tulus.
"Kita lupakan saja semua yang terjadi tadi ya!" ucap Dinda.
aku pun mengangguk mengiyakan lalu kami pun saling berangkulan.
"Kania aku boleh tanya sesuatu nggak?" tanya Abhimana setelah kami saling melepas pelukan.
"Katakan saja,apa yang ingin kamu tanyakan?" jawabku.
"Kenapa kau tadi tiba-tiba mau menyusui bayimu?" tanya Abhimana.
"Iya Nia katakan,aku juga penasaran ingin tahu kenapa tiba-tiba kamu mau menyusui bayimu!" Dinda ikut menimpali.
aku pun diam sejenak mencari jawaban apa yang harus aku katakan pada mereka karena sebenarnya aku juga tak tahu kenapa.
"Sejujurnya aku juga nggak tahu,tapi tadi saat aku mengusap rambut anak itu aku merasa seperti ada sebuah dorongan dalam diriku yang membuatku ingin memberikan Asiku pada bayi itu!" jawabku akhirnya.
mendengar jawabanku Abhimana pun tersenyum simpul.
"Itulah naluri seorang ibu" ujar Abhimana.
"Maksudmu?" tanyaku tak mengerti.
"Anak itu telah ada dalam kandunganmu selama sembilan bulan kan?" tanya Abhimana.
"Iya benar,lalu?" tanyaku masih tak mengerti.
"Selama ini anak itu tumbuh dan berkembang didalam rahimmu,entah kau sadari atau tidak tapi perlahan-lahan pasti ada sebuah ikatan yang tumbuh diantara kalian selama ia ada didalam sana,itulah yang dinamakan ikatan batin antara seorang ibu dan anak dan ikatan itulah yang membuatmu merasa ingin menyusuinya saat kau menyentuhnya" ujar Abhimana menjelaskan.
aku tertegun mendengar penjelasan Abhimana,aku ini ibunya tapi kenapa aku tidak pernah menyadari hal seperti itu.
"Kau tahu Kania,setiap anak yang terlahir ke dunia ini ia lahir dalam keadaan suci tanpa sebuah dosa, terlepas dari siapa dan bagaimana dia dilahirkan" ujar Abhimana lagi.
"Kamu memang benar Abhimana,dan kau tahu Kania kalau anak itu adalah sebuah karunia dari Tuhan dan setiap kelahirannya pasti membawa maksud tersendiri" ujar Dinda ikut menimpali.
"Coba kau pikir kembali,selama ini kau sering mengkonsumsi barang haram itu kan?" kata Abhimana.
aku pun mengangguk mengiyakan.
"Dan kau juga pasti tahu kan apa akibat mengkonsumsi barang haram itu bagi bayi dalam kandungan!" tanya Abhimana lagi.
aku pun kembali mengangguk mengiyakan sedang Abhimana tersenyum melihatku menganggukkan kepala.
"Sekarang lihatlah,walau kau sering mengkonsumsi barang haram itu tapi bayimu masih terlahir dengan selamat bukan!" ujar Abhimana.
"Itu karena Tuhan ingin kau berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi,apalagi sekarang kau sudah menjadi seorang ibu!" ujar Abhimana.
"Benar Kania,aku juga berharap kau bisa menjadi ibu yang baik bagi anakmu!" ujar Dinda ikut menimpali perkataan Abhimana.
Aku terdiam mendengar ucapan mereka berdua.Aku kembali teringat bagaimana dulu aku tidak pernah memperhatikan kesehatan bayi dalam kandunganku dan malah tenggelam dalam jerat narkoba.
Kini aku mulai sadar dengan semua kesalahanku,aku merasa sangat bersalah pada anakku sendiri,tak terasa air mataku pun jatuh membasahi kedua pipiku.
"Kalian berdua memang benar,aku sudah sangat bersalah pada anakku sendiri,mulai sekarang aku akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk anakku!" ujarku mantap sambil menyeka lelehan air mataku.
"Aku sangat senang mendengar hal ini Kania!" ucap Abhimana gembira.
"Aku ada satu permintaan untukmu Abhimana!" ucapku sambil memandang kearah Abhimana.
"Katakan apa yang ingin kau minta dariku, kalau aku bisa aku pasti akan memenuhi permintaanmu!" jawab Abhimana.
"Apa kau yakin?" tanya Abhimana dan Dinda bersamaan,mereka tampak terkejut dengan apa yang baru kukatakan.
"Iya, aku sangat yakin dengan keputusanku!" jawabku meyakinkan mereka.
"Tentu,aku pasti akan membantumu!" jawab Abhimana dengan muka berseri-seri.
"Sungguh Kania, aku sangat senang mendengar keputusanmu ini,ini adalah hal yang paling aku inginkan darimu dari dulu!" kata Dinda sambil memelukku.
aku pun ikut tersenyum mendengar ucapan Dinda.
"Aku ada satu permintaan lagi untukmu Abhimana!" kataku sambil melepas pelukan Dinda.
"Eh ada lagi,tadi katanya cuma minta satu" kata Abhimana dengan mimik muka lucu.
aku pun tersenyum melihat reaksi Abhimana.
"Maukah kau mengadzani anakku?" pintaku.
"Tentu,dengan senang hati" jawab Abhimana.
"Sini,kemarikan anak itu!" kata Abhimana lagi.
aku pun mengangkat kembali anakku yang tadi kubaringkan di box bayi dan menyerahkannya pada Abhimana.
Abhimana pun mulai mengumandangkan adzan ditelinga kanan anakku dan meneruskan dengan iqomat ditelinga kirinya.
"Ngomong-ngomong Kania kau belum memberi nama pada anak ini kan?" kata Abhimana setelah ia selesai mengadzani anakku dan menyerahkannya lagi padaku.
"Benar Kania kau belum memberinya nama,akan kau beri nama siapa anak ini?" Dinda ikut bertanya.
Aku terdiam, sejenak berpikir apa nama yang tepat yang akan kuberikan untuk anakku.Setelah beberapa saat akhirnya aku menemukan sebuah nama yang tepat untuk anakku.
"EMIR!" jawabku sambil memandangi wajah anakku yang tengah terlelap.
"Emir??" tanya mereka bersamaan sambil
mengerutkan dahi.
"Ya Emir, EMIR CHAIRIL ADNAN!" jawabku menyebut nama anakku.
"Kenapa kau ingin memberinya nama dengan nama itu?" tanya Dinda penasaran.
"Karena sesuai dengan wajahnya yang mampu memberi ketenangan hati padaku!" jawabku.
"EMIR CHAIRIL ADNAN memiliki makna pangeran mempesona yang dipenuhi dengan kebaikan dan mampu menenangkan jiwa,aku berharap anak ini akan membawa kebaikan dan terus memberi ketenangan pada siapapun yang memandangnya" terusku.
"Sebuah nama yang indah" ungkap Dinda sambil ikut memandang anakku dan membelai kepalanya.
"Jadi kita sepakat mulai saat ini nama anak ini adalah Emir, Emir Chairil Adnan!" kata Abhimana sambil tersenyum.
"Aku juga ada satu permintaan untukmu Dinda!"
"Kau ini banyak permintaan ya,tadi Abhimana sekarang aku?" kata Dinda pura-pura marah sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
"Ya sudah karena aku baik hati maka aku akan menuruti permintaanmu, cepat katakan apa permintaanmu sebelum aku berubah pikiran" lanjut Dinda.
aku pun tertawa melihat tingkah Dinda,aku tahu dia hanya bercanda.
"Dinda maukah kau membantu merawat anakku selama aku dalam proses penyembuhan nanti?" tanyaku pada Dinda.
"Tentu saja,dengan senang hati aku akan merawat anakmu!" jawab Dinda.
"Tapi bagaimana dengan biaya hidupnya nanti?" tanyaku lagi.
"Mengenai itu kau tidak perlu cemas,kau ingat waktu aku ingin mengatakan sesuatu padamu dirumah sakit tapi tidak jadi karena kedatangan perawat waktu itu?" tanya Dinda.