Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 127



Mas Abhi gegas membawaku masuk ke kamar dan mengunci pintu rapat-rapat agar tak ada yang menggangu kami saat memadu kasih. Dan akhirnya kami pun tenggelam dalam lautan asmara.


Memang benar kata orang, bercinta setelah bertengkar dengan pasangan memang lebih menggairahkan.


Sebuah studi mengatakan, jika kita bercinta setelah bertengkar, maka hal itu bisa meredam energi negatif dan mengembalikan romantisme kita dan pasangan. Studi lain juga mengatakan, jika hal ini bisa meningkatkan hormon adrenalin dalam diri kita.


Disaat kami sedang tenggelam dalam lautan asmara, Naila menghampiri Omanya untuk bertanya, "Oma, gimana sih caranya bikin adik bayi?".


Kali ini Mama yang dibuat garuk-garuk kepala oleh pertanyaan polos Naila. Ia bingung bagaimana cara untuk menjelaskan pada anak seusianya.


Setelah berpikir sejenak, Mama meraih tubuh Naila dan membawanya ke atas pangkuannya. "Sekarang Naila belum waktunya untuk tahu. Nanti kalau Naila sudah besar, Naila akan tahu sendiri gimana caranya" ujar Mama lembut.


Naila mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. Tapi kemudian ia bertanya kembali, "Naila boleh bantuin bikin adik bayinya nggak, Oma?".


"Nggak usah, sayang. Biar Ayah sama bunda kamu aja yang bikinin" jawab Mama.


"Sekarang Oma ke kamar dulu, ya. Oma mau istirahat!".


"Iya, Oma!" jawab Naila sambil menganggukkan kepala, kemudian ia turun dari pangkuan Mama. Sebenarnya masih banyak lagi pertanyaan yang ingin diajukan, tapi ia urungkan karena kasihan dengan Omanya yang lelah.


Mama gegas pergi ke kamarnya. Sebenarnya ia tidak benar-benar lelah. Ia hanya beralasan untuk menghindari Naila saja. Ini sengaja ia lakukan agar Naila tidak bertanya terus tentang hal-hal yang belum bisa ia pahami.


...****************...


Saat ini aku sudah berada di depan rumah Dinda. Tapi aku tak kunjung mengetuk pintu rumahnya. Aku ragu untuk melakukannya. Keringat dingin bahkan mengucur dari tubuhku.


Melihatku hanya terdiam, Mas Abhi pun bertanya, "Ada apa honey? kok malah diam?".


"Emh...aku ragu, Mas!"


"Ragu kenapa?".


"Aku takut Dinda tidak mau memaafkan ku. Apalagi yang kulakukan kemarin benar-benar keterlaluan. Aku sudah sangat menyakiti hatinya".


Mas Abhi tersenyum mendengar penyebab dari ketakutkan ku. Ia mengusap rambutku lembut untuk menenangkan diriku. "Tidak usah takut, honey. Dinda orang yang sangat baik. Dia pasti mau memaafkan mu. Apalagi kalian berdua bersahabat, iya kan".


"Justru karena persahabatan itulah yang membuat kesalahanku terasa lebih berat. Rasanya kesalahanku ini sulit untuk dimaafkan. Aku tidak percaya dengan Dinda, bahkan aku memintanya untuk tidak ikut campur lagi".


"Setidaknya cobalah dulu. Kalau kau tidak mau mencoba, maka kau tidak akan pernah tahu hasilnya. Itu sama halnya dengan menyerah sebelum berperang".


Aku terdiam, mencerna setiap kata-kata Mas Abhi. Apa yang dikatakannya memang benar. Aku tidak akan pernah tahu jika tidak mencoba.


Aku menghela napas untuk menetralisir debaran jantung. Dengan mengumpulkan segenap keberanian diri, aku mulai mengetuk pintu.


tok tok tok


Tidak ada jawaban, tapi aku tak patah semangat. Aku kembali mencoba setelah beberapa saat.


tok tok tok


Tetap tidak ada jawaban. Keyakinan ku mulai goyah. Aku takut Dinda tidak mau menerima kedatanganku. Tapi Mas Abhi kembali meyakinkanku untuk mencoba.


Aku menghela napas, mengetuk pintu kembali untuk yang ke tiga kali.


tok tok tok


Masih tidak ada jawaban. Semangatku luntur sudah. "Kayaknya Dinda tidak mau menerima kedatanganku, Mas. Atau mungkin dia memang tidak ada dirumah" ujarku berasumsi, tertunduk lesu.


"Kita coba sekali lagi, ya!" ucap Mas Abhi menyemangati.


"Tapi kalau tetap tidak dibuka gimana?".


"Kalau tidak juga dibuka, kita langsung pulang. Aku akan mencoba bicara dengan Dinda lain waktu".


"Baiklah!" jawabku pasrah.


Aku menghela napas, kembali mencoba untuk terakhir kali. Tapi belum sempat tanganku mengetuk, pintu lebih dulu dibuka. Tampak Dinda terkejut melihat kedatangan kami.


"Kania!!!".


"Mau apa lagi kau kesini?" tanya Dinda dingin.


Ada perasaan perih dalam hati melihat sikap dingin Dinda. Tapi biar bagaimanapun memang aku yang bersalah. Aku yang sudah membuatnya bersikap begini.


"Aku mau minta maaf padamu, Din!" ujarku memberanikan diri.


"Untuk apa kau minta maaf! kau tidak melakukan kesalahan apa-apa" jawab Dinda, tetap dengan sikapnya tadi.


"Tidak, Din, aku memang bersalah. Dan aku minta maaf. Aku sangat menyesal karenanya".


"Kau tidak perlu meminta maaf padaku. Justru akulah yang seharusnya minta maaf karena selalu ikut campur dalam setiap urusanmu. Tapi kau tenang saja, sekarang aku tidak akan pernah ikut campur lagi!" berkata dengan ketus.


"Jangan seperti ini, Din. Aku benar-benar menyesal. Aku minta maaf" ujarku memohon.


"Baik, aku memaafkan mu, kau puas!".


Aku terdiam saat mendengar kalau Dinda telah memaafkan ku. Nada bicaranya sangat dingin. Aku tidak tahu harus gembira atau tidak.


"Kalau tidak ada yang ingin kau katakan lagi, maka pulanglah. Aku capek, aku mau istirahat!" ujar Dinda, mengusirku secara halus.


"Tunggu dulu, Din. Biarkan aku bicara sebentar. Aku akan menjelaskan semua padamu" jawabku cepat.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Lebih baik sekarang kau pulang saja" ujar Dinda.


Dinda hendak menutup kembali pintu rumah. Dengan segera Mas Abhi menahan dengan menggunakan lengannya. "Tunggu dulu, Din. Beri kania sedikit waktu untuk menjelaskan!".


Mas Abhi yang sedari tadi hanya diam terpaksa ikut campur. Ia memang sengaja membiarkan kami menyelesaikan sendiri masalah kami. Tapi melihat sikap Dinda tadi, Mas Abhi memutuskan untuk ikut campur.


"Tolong, ijinkan kami masuk! Biarkan kania bicara. Setidaknya dengarkan dulu penjelasannya".


Dinda mengela napas. "Baiklah, kalian boleh masuk!" membuka kembali pintu.


Aku menghela napas lega. Setidaknya ia bersedia mendengarkan apa yang ingin aku katakan.


Dinda melangkah menuju ruang tamu dengan kami yang mengekor di belakangnya.


"Cepat katakan apa yang ingin kau sampaikan lagi padaku!" ucap Dinda setelah kami sampai di ruang tamu, masih dengan nada bicara yang dingin.


"Apa kau tak ingin mempersilahkan kami untuk duduk dulu?" Mas Abhi balik bertanya.


Dinda menghela napas kasar. "Silahkan duduk!" ucapnya kasar.


Kamu pun menghempaskan tubuh diatas kursi.


"Sekarang katakan, apa lagi yang ingin kau sampaikan padaku!".


Aku menghela napas sebelum mulai bicara. " Seperti kataku tadi, kedatanganku ke sini ingin minta maaf padamu".


Belum selesai aku bicara tapi Dinda sudah memotong pembicaraanku. "Tidak usah bertele-tele. Langsung saja pada intinya!".


Aku kembali menghela napas, menenangkan diri agar tidak terpancing emosi. "Tasya tidak lagi tinggal dirumah kami. Aku sudah mengusirnya tadi. Ternyata selama ini dia hanya berpura-pura hamil didepan kami".


"Apa???" teriak Dinda. Matanya membulat sempurna saking terkejutnya.


"Itu benar, Din. Tasya tidak benar-benar hamil. Dia sudah menipu kita habis-habisan" ujar Mas Abhi ikut menimpali.


"Kok bisa? lalu bagaimana dengan hasil USG itu?".


Aku sudah menduga jika Dinda akan bertanya seperti itu. Pertanyaan yang sama dengan yang dilontarkan Mas Abhi saat aku mengatakan hal ini padanya.


"Hasil USG itu tidak valid lagi, karena namanya sudah diganti dengan nama Tasya. Hasil USG itu sebenarnya milik wanita lain yang ia bayar untuk melakukan hal ini" terangku.


"Darimana kau tahu mengenai hal ini?" tanya Dinda lagi. Sepertinya dia belum percaya sepenuhnya dengan apa yang kukatakan.


"Aku mendengarnya sendiri dia berkata seperti itu" jawabku mantap.