
"Jangan harap aku akan bersikap lembut padamu setelah kita menikah!" peringat Mas Abhi.
"Aku mau menikah denganmu itu karena Kania. Dialah yang memaksaku untuk menikahimu. Jika bukan karena dia, aku tidak akan sudi menikah denganmu. Jadi, kau jangan pernah macam-macam!" lanjutnya.
"Aku merasa kasihan pada Kania. Aku tidak tega menjadi madunya. Kalau bukan karena anak ini, aku tidak akan membuatnya berada dalam posisi ini" ujar Tasya, berpura-pura simpati.
"Jangan berpura-pura lagi di depanku. Aku sudah muak melihat semua kebohongan mu. Bukankah ini yang kau inginkan selama ini?" ucap Mas Abhi meninggi.
Tasya tertawa terbahak-bahak menanggapi ucapan Mas Abhi. "Ha ha ha bukankah sudah kubilang, aku akan membuat Kania sendiri yang menikahkan kita. Aku bahkan berani bertaruh untuk itu. Sekarang kau lihat sendiri, kan. Akulah yang keluar sebagai pemenang dalam taruhan kita. Aku berhasil membuat Kania melakukan hal itu".
"Kau memang wanita licik, Tasya".
Tasya menyunggingkan senyuman sinis. "Aku tidak perduli apa tanggapan mu tentangku, yang penting aku mendapatkan apa yang kuinginkan".
"Jangan merasa senang dulu, Tasya. Aku akan pastikan kau menderita setelah kita menikah. Aku akan membuatmu meminta cerai dariku. Secepatnya!" ujar Mas Abhi dingin, auranya begitu mencekam.
"Kita lihat saja nanti! Siapa yang akan bertahan dalam hubungan ini" ujar Tasya tak mau kalah. "Satu hal yang perlu kau ingat!. Jika aku hancur, maka akan kupastikan Kania ikut hancur juga bersamaku!".
"Kau benar-benar licik, Tasya!" geram Mas Abhi.
"Aku tak perduli!" ucap Tasya santai.
Sesaat mereka sama-sama diam, tapi tak berselang lama Mas Abhi kembali angkat bicara. "Apa alasan sebenarnya sampai kau melakukan semua ini? kalau kau menginginkan uang, maka aku akan berikan, berapapun yang kau inginkan. Tapi tolong, sudahi permainan konyol ini. Ini lebih dari cukup!".
"Maafkan aku, Abhi. Aku harus mengecewakanmu. Sayangnya alasanku melakukan ini bukan hanya karena uang. Aku menginginkan lebih dari itu" ujar Tasya sambil melipat tangan didepan dada, tubuh ia sandarkan pada sandaran kursi, satu kaki ia angkat, bertumpu pada kaki yang lain.
"Apa maksudmu?" tanya Mas Abhi tak mengerti, mengerutkan dahi.
"Aku menginginkan dirimu!" ucap Tasya, telunjuknya me Farah pada Mas Abhi.
Mas Abhi terhenyak mendengar jawaban Tasya.
Tasya tertawa renyah melihat reaksi Mas Abhi. "Kau pasti sangat terkejut, kan, Abhi? tapi memang itulah kenyataannya. Kau sudah membuatku jatuh cinta, karena itu aku ingin membuatmu menjadi milikku".
"Ta... tapi..."ucap Mas Abhi terbata.
"Kau ingat pada pertemuan pertama kali kita?" tanya Tasya.
"Ingat! kenapa?" ujar Mas Abhi, bertanya balik.
"Kau tiba-tiba muncul dihadapanku saat aku menyerahkan laporan keuangan pada Kania. Sejak itulah aku jatuh cinta padamu. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan aku mutuskan untuk menjadikanmu sebagai milikku".
"Tapi aku suami temanmu sendiri?".
"Aku tak perduli. Aku hanya mewujudkan apa yang kuinginkan. Itu saja!".
"Kau memang gila, Tasya".
"Dirimu lah yang sudah membuatku tergila-gila".
"Itu bukan cinta namanya, tapi obsesi gila. Kalau kau memang cinta, maka kau tidak akan membuat orang yang kau cintai menderita. Karena sejatinya cinta itu memberi, bukan menuntut".
"Aku tidak perduli dengan teori mu tentang cinta. Yang kutahu, aku harus mendapatkan apa yang kuinginkan"
"Bicara denganmu hanya membuang-buang waktu. Kau tidak akan pernah berubah, karena kau memang tidak berubah!".
"Itu kamu tahu!" ujar Tasya, menjentikkan jari dihadapan wajah Mas Abhi.
Mas Abhi mencoba meredam emosi yang bergejolak dihatinya. Ia tak ingin menciptakan keributan disana.
"Silahkan!".
Mas Abhi hendak beranjak dari tempat duduknya, tapi terhenti karena Tasya kembali bicara.
"Aku harap kau segera membuka hatimu untukku. Karena setelah kita menikah, aku akan membuatmu bertekuk lutut dihadapanku".
"jangan harap aku akan melakukannya!" ucap Mas Abhi datar.
"Kita lihat saja nanti!" tantang Tasya.
Mas Abhi tak perduli lagi dengan ocehan Tasya. Ia lebih memilih meninggalkan tempat itu.
...****************...
Sementara itu, aku segera mempersiapkan pernikahan ini. Waktu yang tersisa tidak banyak, aku harus mempersiapkan semuanya.
Aku sudah memesan gaun pengantin untuk Tasya gunakan saat pernikahan nanti. Aku juga telah menyebar beberapa undangan untuk teman-teman terdekat
Rencananya acara ini akan digelar sesederhana mungkin. Bukan karena apa, tapi ini juga demi menjaga nama baik Mas Abhi. Apalagi dia seorang pengusaha. Banyak musuh yang ingin menjatuhkannya. Mereka tidak akan melewatkan kesempatan ini. Mereka pasti menggunakan masalah ini untuk menjatuhkannya.
Hari pernikahan hanya tersisa dua Minggu lagi. Aku mengajak Tasya untuk fitting baju, sekalian belanja beberapa barang untuk keperluan pernikahan nanti.
Setelah lama berputar-putar, akhirnya kami mendapat apa yang dicari. Hanya tinggal beberapa barang lagi. Aku memandang kearah Tasya, ia terlihat lelah. "kamu nggak pa pa, kan?" tanyaku memastikan.
Tasya menyunggingkan sebuah senyuman padaku. "Tidak apa, aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit lelah"
"Kalau begitu kita pulang saja sekarang. aku takut terjadi apa-apa pada kehamilanmu kalau kamu kecapekan" ucapku khawatir.
"Tenang, Kania. Aku tidak apa-apa. Kita lanjutkan saja mencari barang yang masih kurang" ucap Tasya menenangkan.
"Tidak, Tasya, jangan membantah. Kita pulang ke rumah sekarang. Biar aku sendiri yang mencari kekurangannya nanti" ucapku bersikukuh.
"Baiklah!" ucap Tasya. Akhirnya dia mengalah juga. Kami pun segera kembali ke rumah.
Sesampainya dirumah, aku meminta Tasya untuk segera beristirahat. "Tasya, kamu langsung istirahat saja di kamar. Biar aku yang merapikan ini semua".
"Baiklah. Aku ke kamar dulu, ya!" pamit Tasya.
Aku menjawab dengan mengangukkan kepala.
Tasya melangkah menuju kamarnya, sedang aku membenahi belanjaan kami tadi.
Setelah beberapa lama, akhirnya semua selesai juga. Aku menuju ke dapur, berniat membuatkan susu hamil untuk tasya.
Selama Tasya tinggal di rumahku, aku selalu memperhatikan asupan makanannya. Aku juga memantau kesehatannya. Aku tidak ingin dia mengalami kesulitan saat melahirkan nanti.
Setelah beberapa saat berkutat di dapur, akhirnya susu yang kubuat jadi juga. Aku meletakkan susu tersebut disebuah nampan. Aku juga menyertakan beberapa cemilan untuknya.
Aku segera melangkahkan kaki menuju kamarnya, sambil membawa nampan ditangan.
Saat aku sampai di dekat kamarnya, terlihat pintu sedikit terbuka. Aku hendak mengetuk pintu untuk meminta ijin masuk. Aku melangkah sedikit kedalam kamarnya.
Alangkah terkejutnya aku saat melihat ke dalam, sebuah pemandangan yang sangat mengejutkan terpampang dihadapanku. Tentu saja hal ini tak pernah aku duga sebelumnya.
Aku melihat Tasya membuka baju atasnya. Ia mengeluarkan sebuah bantal dari balik perutnya.