Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 10



Setelah sidang terakhirku itu aku jarang pergi kekampus.Hanya sesekali saja aku kesana,itu pun hanya untuk mengurus administrasi dan hal-hal lain yang diperlukan untuk wisudaku nanti,rencananya akhir tahun nanti aku akan diwisuda.


Sambil menunggu wisuda aku mengikuti beberapa seminar tentang bisnis,aku ingin belajar sedikit tentang bisnis,aku juga lebih sering lagi datang kekantor Papa untuk membantunya.


Semenjak mendengar kabar tentang kelulusanku perlahan tapi pasti Papa mulai bangkit,ia tak lagi terpuruk dengan perceraiannya,ia juga lebih fokus lagi dengan pekerjaannya hingga perusahaan pun mulai stabil lagi.


Hal yang paling membuatku senang dari perubahan Papa adalah kehangatannya,dulunya Papa selalu dingin padaku dan hanya bicara bila itu perlu.Tapi itu sekarang tidak lagi,ia tak pernah lagi pulang larut malam,bahkan kami sering menghabiskan waktu bersama walau sekedar melakukan hal-hal kecil.


Seperti halnya hari ini,kami berniat untuk pergi nonton berdua,kebetulan sekarang sedang weekend dan Papa juga sedang tidak ada kerjaan.


"Kita mau nonton dimana nak?"


"Gimana kalau ke bioskop xx dekat mall aja Pa? disana lagi ada film baru yang seru!" tukasku memberi ide.


"Terserah kamu,Papa ngikut saja" jawab Papa sambil tersenyum.


Kami pun bergegas menuju basement dan menaiki mobil Tesla roadster warna merah kesayanganku,tapi kali ini Papa lah yang mengemudikannya.Mobil pun membelah jalanan kota yang ramai.


Sesampai didepan bioskop,Papa membeli tiket masuk.Kami memutuskan untuk menonton film yang berjudul NANTI KITA CERITA TENTANG HARI INI.Sedangkan aku membeli minuman dan beberapa makanan kecil,setelah selesai kami segera masuk kedalam.


Kuedarkan pandangan untuk mencari bangku kosong,dan kutemukan dua bangku ditengah.


Tak berselang lama film pun mulai diputar,nampak adegan demi adegan yang menguras air mata.


Film ini bercerita tentang sebuah keluarga yang harus menghadapi trauma masa lalu saat perseteruan antar generasi mengancam keutuhan keluarga mereka,jalan ceritanya sungguh menyentuh.


Sesekali aku meneteskan air mata saat ada adegan yang menyedihkan,Papa hanya tersenyum kecil sambil geleng-geleng kepala melihat tingkahku.


Tak terasa film telah selesai diputar,kami pun segera keluar dari ruangan.Saat diluar mulutku tak henti nyerocos mengomentari film tadi


"Film tadi seru banget ya pa!"


Papa hanya mengangguk kecil sambil tersenyum


"Apa lagi pas adegan pertengkaran mereka diruang tamu tadi itu, hmmmmm.... ngena banget,apa lagi endingnya!"


"Emang bener ya Pa,kita nggak bisa menilai kebahagiaan orang lain hanya dari apa yang terlihat aja,karena kita tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi dibelakang,apakah kebahagiaan itu memang nyata atau hanya sekedar kebahagiaan palsu" cerocosku tak henti-henti


"Oh ya satu lagi pelajaran yang bisa kita petik dari film ini,kita harus tetap bersyukur atas apa yang kita miliki dan berusaha untuk tidak iri dengan kebahagiaan orang lain,bener kan Pa?"


aku menghentikan langkahku dan menoleh kearah Papa meminta pembenaran atas pemikiran ku tadi.


Kulihat Papa menitikkan air mata,aku kebingungan melihatnya dan segera menyeka air mata Papa.


"Papa kenapa menangis? apa ucapanku tadi ada yang salah? ucapanku tadi melukai hati Papa ya?"


"Kamu nggak salah kok Nia apa yang kamu katakan tadi emang benar,Papa merasa selama ini Papa bukanlah Papa yang baik buat kamu,Papa sungguh minta maaf ya....!"


"Papa kenapa ngomong kayak gitu,aku nggak pernah nyalahin Papa kok" kataku.


"Aku juga minta maaf ke Papa karena belum bisa menjadi anak yang baik buat Papa" lanjutku.


"Kita mulai lagi semuanya dari awal ya" kataku lagi.


Papa pun mengangguk mengiyakan dan kami pun saling berangkulan.


"Udah ah acara sedih-sedihnya,malu tuh dilihatin banyak orang" ujarku sambil melepaskan rangkulan.


"Kita makan dulu yuk Pa,Kania udah laper banget nih"pintaku.


"Yuk, Papa juga udah laper,kita mau makan apa nih?"


"Gimana kalau sushi aja pa?


aku lagi pengen masakan Jepang nih!"


"Tapi Papa nggak suka masakan Jepang"


"Kalau gitu kita cari restoran yang menyediakan masakan Jepang dan masakan Indonesia aja Pa"


"Ok!"


Restoran itu tak hanya menyajikan sushi sebagai menu andalan,tapi ada juga beberapa menu Nusantara yang tersedia,sang pemilik sendiri adalah seorang keturunan Jepang yang telah lama menetap di Indonesia.


Kami segera masuk kedalam dan mencari meja yang kosong,kemudian aku memanggil waitres untuk memesan makanan.waitres pun datang dan menyerahkan buku menu.


"hmm....ternyata sushi banyak juga macamnya ya,aku pilih uramaki,chirashi,nigiri,sama gunkan ya mbak....aku mau cobain satu-satu"


"Baik Nona,lalu minumannya?"


"minumannya iced taro latte,kalo Papa mau makan apa?"


"Papa mau cobain ikan bakar Manokwari aja deh,Papa lagi pengen masakan Nusantara,sama minumannya Citrus squash".


Waitres pun mencatat semua pesanan kami dan berlalu pergi setelah mengatakan agar kami menunggu,tak berselang lama pesanan kami pun datang,kami segera menyantap hidangan kami.


"Sushinya enak banget Pa,cobain deh.."kataku sambil mencocolkan sushi pada kecap asin dan menyantapnya bersama wasabi.


"Nggak usah,Papa nggak suka sushi"


aku pun mengangguk-angguk sambil tetap menyantap hidangan ku


"Sekarang kamu cobain ikan bakar ini deh, sensasi rasanya beda banget dilidah"


"Masak sih Pa,sini aku cobain"


"Hmmmmm.... iya Pa bener banget,sensasi rasanya benar-benar beda"


"Itu karena ikan bakar Manokwari dimasak dengan bumbu khusus,makanya sensasi rasanya beda dengan ikan bakar yang lain"


"Masak sih Pa,kok Papa tau!"


"Ya iyalah Papa taugini-gini dulunya Papa pernah belajar masak waktu seumuran kamu,makanya Papa tau.Papa juga jago masak Loh"


"Oh ya,kok aku nggak pernah tau,kalau gitu lain kali aku mau nyicipin hasil masakan Papa,Papa harus sering-sering masakin aku,oke!"


"Siap tuan Putri"


kami pun tertawa bersama


"udah ayo dilanjut lagi makannya"


kami pun melanjutkan makan,tak berselang lama kami pun menyudahi acara makan kami.


"kamu nggak mau nambah lagi nak?" tanya Papa menawariku


"nggak deh Pa aku udah kenyang,nih liat perut Kania sampe buncit karena kekenyangan!"jawabku sambil menunjuk perutku yang kekenyangan.


Papa hanya tertawa kecil menanggapi,kemudian ia pun memanggil waitres untuk membayar makanan kami


"Semuanya berapa mbak?"


"Total xxx rupiah Tuan.."


Papa pun menyerahkan sebuah kartu pada waitres itu.Setelah menyelesaikan pembayaran Papa mengajakku pulang kerumah.


"Kita pulang sekarang ya"


"Yuk Pa,Kania juga udah capek!"


Kami pun berjalan menuju area parkir,didalam mobil aku sejenak memandangi wajah Papa


"Makasih ya Pa,Papa udah mau nemenin aku nonton plus makan-makan hari ini" kataku sambil menggenggam tangan Papa.


"Sama-sama nak,Papa juga seneng bisa nonton plus makan-makan sama kamu" jawab Papa sambil tersenyum Padaku.


"Aku senang dengan Papa yang sekarang,semoga kita bisa terus seperti ini ya Pa" harapku.


"Iya nak,semoga saja" Papa mengangguk mengiyakan.


tak berselang lama mobil pun berlalu meninggalkan area parkir dan melesat membelah jalanan kota kembali kerumah kami.