
Dinda masih terbakar emosi, mukanya merah padam. "Dasar cewek nggak bener. Suka sekali membuat orang darah tinggi" umpatnya. Ia menghempaskan tubuhnya diatas sofa untuk menenangkan diri sejenak.
Mas Abhi memandang kearah Dinda. Setelah dirasa Dinda sudah cukup tenang, ia mulai angkat bicara. "Kau pasti tidak percaya kalau anak yang ada dalam kandungan Tasya adalah anakku, kan?"
"Tentu saja, mana mungkin aku percaya begitu saja dengan kata-katanya. Meskipun dia membawa bukti-bukti yang mengatakan kalau itu adalah anakmu, tetap saja aku tidak akan percaya dengannya. Karena aku tahu, dia pasti sudah memutar balikkan fakta. Dia akan menggunakan sejuta cara untuk membuatmu berpisah dengan kania" jawab Dinda cepat.
Mas Abhi tersenyum mendengar jawaban Dinda.
"Kamu tenang saja, apapun yang terjadi, aku akan selalu ada digaris terdepan untuk membelamu. Aku mengenalmu dengan sangat baik. Aku sangat yakin, kau tidak akan berbuat serendah itu" lanjut Dinda.
"Syukurlah, aku lega mendengarnya" ujar Mas Abhi. Ia terlihat sangat bahagia mendengar Dinda lebih percaya dengannya. Terbit sebuah harapan dalam hatinya untuk mempertahankan rumah tangga ini.
"Kalau begitu aku pergi dulu ya. Aku masih ada urusan lain lagi" ujar Dinda, bangkit dari duduknya.
"Kamu nggak ingin temuin Kania dulu?" cegah Mas Abhi.
"Mending nggak usah dulu, Bhi. Lagian Kania masih terbawa emosi, percuma juga ngejelasin masalah ini ke dia sekarang. Ntar kalau dia udah sedikit tenang, aku akan coba ngomongin ke dia baik-baik" jawab Dinda.
"Ya udah deh kalau menurutmu itu yang terbaik. Sekali lagi, aku ucapkan terimakasih karena sudah percaya padaku" ujar Mas Abhi.
"Sama-sama. Kamu nggak usah berlebihan gitu. Kalian berdua adalah sahabat baikku. Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada kalian. Lagipula kalian juga sudah banyak membantuku, jadi sudah sewajarnya aku membalas kebaikan kalian" ujar Dinda tersenyum kecil. "Kalau gitu, aku pergi dulu!".
Mas Abhi menganggukkan kepala sebagai jawaban. Dinda pun bergegas meninggalkan rumah. Sedang Mas Abhi segera berangkat ke kantor karena ada rapat penting.
...****************...
Sementara itu, Tasya terlihat tertawa puas di dalam mobil usai meninggalkan rumahku tadi. "Ha ha ha...Kania memang sangat bodoh. Mudah sekali dia untuk ditipu. Padahal, aku kan cuma menggunakan bantal ini untuk mengganjal perutku" mengeluarkan bantal dari balik bajunya.
"Oh ya, satu lagi. Hasil USG ini memang sangat meyakinkan. Untung kemarin aku bertemu wanita hamil yang sedang butuh uang, aku jadi mempunyai ide untuk membawa hasil USG ini sebagai bukti terkuat".
Ingatan Tasya melayang, kembali mengingat pertemuannya dengan wanita hamil tersebut kemarin.
TASYA FLASHBACK ON
Melihat kebersamaan yang terjalin antara Kania dan Abhimana, aku menjadi kesal. Aku takut semua rencana yang telah ku susun dengan matang hancur berantakan. Aku pun memutuskan untuk meninggalkan restoran tersebut karena tidak tahan melihatnya.
Aku meninggalkan restoran itu dengan muka merah padam sambil terus mengumpat dalam hati.Tiba-tiba langkahku terhenti saat melintas di sebuah toko perlengkapan bayi.
Timbul sebuah ide dalam pikiranku untuk berpura-pura hamil. Aku yakin dengan cara ini Kania dan Abhimana akan segera bercerai. Aku tahu benar bagaimana sifat kania. Dia tidak akan tega melihatku hamil tanpa seorang suami, apalagi kalau aku hamil karena suaminya.
Gegas aku masuk kedalam untuk membeli sesuatu. Aku membeli sebuah bantal khusus untuk mengganjal perut. Ini akan menciptakan kesan kalau aku memang benar-benar hamil.
Setelah mendapatkan apa yang kucari, aku pun memutuskan untuk segera kembali ke rumah. Wajahku sumringah. Aku sangat yakin, kali ini aku pasti bisa memisahkan Abhimana dari Kania.
Sebenarnya sih aku sedikit merasa kasihan dengan Kania. Dia sudah banyak membantuku, tapi aku malah ingin merebut suaminya.
Ini mungkin terdengar sangat gila, tapi memang itulah yang aku rasakan. Aku semakin terobsesi untuk memilikinya saat mengetahui bahwa Abhimana adalah seorang pengusaha muda yang sukses. Dengan mendapatkannya, maka hidupku akan terjamin. Aku tidak perlu lagi bersusah-payah mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Ditengah perjalanan, aku melihat seorang wanita muda yang terlihat sedang kebingungan dipinggir jalan. Aku pun berhenti dan berinisiatif mendekati wanita tersebut.
"Permisi, mbak, boleh ikutan duduk".
"Silahkan!" menepi, memberi ruang padaku untuk duduk.
Aku pun duduk di dekat wanita tersebut. Sejenak aku memandangi wajahnya, dan akhirnya aku mulai membuka suara. "Maaf, mbak, sepertinya sedang ada masalah, ya?".
"Iya, mbak!" tersenyum tipis, memandang kearahku.p1lne0l
"Kalau boleh tahu, ada masalah apa ya?".
"Saya sedang butuh uang banyak, mbak!".
"Untuk?".
Wanita tersebut menghela napas panjang, sebelum akhirnya ia menceritakan masalahnya. "Suami saya sedang terbaring koma di rumah sakit. Dia baru saja mengalami kecelakaan. Saya tidak punya uang sepeser pun untuk membayar biayanya. Dan sekarang saya bingung harus berbuat apa. Apalagi saya sedang hamil muda. Tidak mungkin saya bekerja dalam kondisi seperti ini" menundukkan kepala.
Mendengar bahwa wanita tersebut tengah hamil muda, muncul sebuah ide dalam pikiranku. "Saya akan membantu mbak, asal mbak mau membantu saya juga!".
"Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu mbak?" mendongakkan kepala, menatap ke arahku.
"Mudah saja. Mbak tinggal melakukan USG, tapi nanti namanya diubah menjadi nama saya. Dan hasilnya serahkan pada saya".
"Untuk apa, mbak?" mengernyitkan dahi tak mengerti.
"Mbak tidak usah banyak tanya, itu urusan saya. Kalau mbak mau melakukan apa yang saya minta, saya akan memberikan uang yang mbak butuhkan. Bagaimana? setuju?".
Setelah berpikir sebentar, akhirnya dia pun setuju dengan tawaran yang aku berikan. Lagipula, dia memang benar-benar sedang butuh uang. " Baik, mbak!. Saya setuju dengan tawaran yang mbak berikan".
Aku pun tersenyum mendengar persetujuan darinya. "Sekarang, mari kita ke rumah sakit. Kita akan melakukan USG saat ini juga. Mbak tidak usah khawatir, semua biar saya yang urus. Mbak tinggal melakukan apa yang saya suruh tadi".
Singkat cerita, kami pun menuju rumah sakit untuk melakukan USG. Setelah hasilnya keluar, dia memberikannya padaku. Disitu tertulis dengan jelas bahwa itu adalah hasil USG dariku.
Aku tersenyum puas. Apa yang kuinginkan sudah ada ditangan. Aku akan menggunakan hasil USG ini untuk memperkuat pernyataan ku dihadapan Abhimana dan Kania kalau aku sedang hamil.
Sesuai perjanjian kami, aku pun memberikan sejumlah uang pada wanita tersebut, dan dia pun menerimanya dengan gembira. Kami sama-sama diuntungkan dalam hal ini. Dia mendapatkan uang yang dia butuhkan, dan aku mendapatkan hasil USG untuk memuluskan rencana ku.
FLASHBACK OFF