Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 83



Sementara itu disisi lain


Aku sangat terkejut melihat Mas Abhi tiba-tiba ada dirumah Papa, padahal ini masih jam kerja. Aku pun menghampirinya dan bertanya padanya, dia pun menjawab jika tadi Papa menelponnya untuk meminta bantuan padanya.


Awalnya aku percaya dengan perkataannya, tapi melihat gerak-geriknya yang tidak biasa, aku pun menjadi curiga, ditambah lagi dia terlihat tergesa-gesa saat meninggalkanku tadi.


'Sepertinya ada sesuatu yang penting yang disembunyikan Mas Abhi dariku, aku harus mencari tahu apa itu' gumamku dalam hati.


Aku pun melangkah hendak mengikuti Mas Abhi, tapi tiba-tiba Dinda menghentikanku.


"Eh, kan, kamu mau kemana?" tegur Dinda menghentikan langkahku.


"Aku mau ke dapur dulu!, mau ambil air minum" jawabku sambil berlalu begitu saja tanpa menghiraukan tatapan aneh Dinda.


"Aneh!, padahal minumannya disini kan masih banyak" ujar Dinda bermonolog sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ah udahlah!, bumil mah emang suka rada aneh tingkahnya!".


Sesampainya didepan ruang kerja Papa, aku mendengar mereka tengah membicarakan hal yang sangat serius. Aku pun segera mengintip dari balik pintu dan memasang telingaku baik-baik.


Tiba-tiba Mas Abhi berteriak marah sambil memukul meja kaca yang ada dihadapannya setelah ia melihat video yang ditunjukkan oleh Papa.


Aku sangat terkejut mendengar suara teriakannya yang disertai dengan suara pecahan kaca, refleks aku pun menutup mulutku dengan kedua tanganku agar tak berteriak.


Kemudian Papa pun kembali menunjukkan video lain pada Mas Abhi, dan Mas Abhi pun kembali berteriak marah setelah melihat video tersebut, bahkan kali ini ia sampai memukul tembok rumah hingga membuat tembok tersebut bergetar saat ia melampiaskan kemarahannya.


Aku memang tidak bisa melihat apa isi dari video tersebut. Tapi dari percakapan mereka, aku tahu bahwa ini ada sangkut pautnya dengan kejadian yang menimpa Dinda.


Aku pun semakin mempertajam pendengaran ku agar aku bisa mengetahui kebenaran apa yang mereka sembunyikan dariku.


Aku begitu terkejut saat mendengar kebenaran yang kini telah terungkap. Ternyata apa yang dikatakan oleh karyawan salon waktu itu memang benar, Mas Abhi memang bukanlah orang sembarangan.


Mas Abhi sebenarnya adalah anak seorang pengusaha multi-nasional. Kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan tragis ketika ia masih kecil dulu, dan hanya dia saja yang selamat dalam kecelakaan itu.


Ia menduga bahwa kecelakaan itu bukanlah sesuatu yang kebetulan, melainkan ada seseorang yang memang menginginkan kematian mereka. Untuk itulah ia sengaja menyembunyikan jati dirinya yang sebenarnya untuk melindungi dirinya sebelum ia tahu penyebab sebenarnya dari kecelakaan yang menimpa kedua orangtuanya tersebut.


Sekarang aku baru mengerti kenapa ia begitu lihai saat mengajarkanku semua hal tentang bisnis ketika aku akan memulai usahaku dulu. Ternyata itu bukanlah kebetulan semata, kemampuan itu memang sudah melekat dalam dirinya, karena ia memang anak seorang pengusaha ternama.


Selama ini aku memang tidak tahu apa sebenarnya pekerjaan Mas Abhi. Aku hanya tahu kalau ia bekerja disalah satu perusahaan. Sekarang aku baru tahu jika sebenarnya perusahaan itu adalah miliknya sendiri, ia menggunakan nama orang lain untuk menutupi jati dirinya.


Sekarang Mas Abhi tahu bahwa kecelakaan itu adalah ulah dari pamannya Dinda, dan kini mereka pun mulai menyusun rencana untuk membalas perbuatannya.


Aku semakin merangsek maju untuk mendengarkan rencana mereka, aku sangat penasaran dengan apa yang akan mereka lakukan.


Setelah mendengar semua tentang rencana mereka, aku pun segera berbalik untuk meninggalkan tempat tersebut, tapi tanpa sengaja aku malah menyenggol vas bunga yang ada disana.


Prang.....


Vas bunga itu pun jatuh dan pecah.


Aku sangat panik saat itu,dan bertambah panik saat Mas Abhi dan Papa keluar dari ruang kerjanya.


"Kania!!!" pekik Mas Abhi terkejut karena kehadiranku.


aku pun menengok kearah mereka.


"Kenapa kau ada disini?, jangan-jangan kau tadi menguping pembicaraan kami, iya kan?" tanya Mas Abhi setengah berteriak.


"Ti...tidak Mas!. Aku tadi hanya kebetulan lewat sini saja, tapi tanpa sengaja aku malah menyenggol vas bunga" ujarku dengan terbata-bata.


"Bohong!, kau pasti bohong, iya kan! ayo ngaku!" teriak Mas Abhi berang.


"Berani sekali kau membentak Kania!. sementara aku, Papanya, ada di hadapanmu saat ini!" ujar Papa marah, ia tersulut emosinya melihat Mas Abhi membentakku.


Aku pun segera bertindak mencegah Papa agar tidak bertengkar dengan Mas Abhi. Lebih baik aku mengaku saja jika aku memang sudah mendengar semua pembicaraan mereka. Lagi pula kalau dipikir-pikir itu adalah hakku sebagai seorang istri untuk tahu semua hal tentang suamiku.


Aku pun mengatur nafasku untuk menghilangkan semua ketakutan dalam diriku.


"Sudahlah, Pa!, jangan bertengkar dengan Mas Abhi, karena aku memang mendengar semua pembicaraan kalian tadi" ujarku sambil menarik lengan Papa.


"Berani sekali kau menguping pembicaraan kami?" teriak Mas Abhi marah setelah mendengar pengakuanku.


"Memangnya kenapa, Mas? bukankah sebagai seorang istri aku juga berhak untuk tahu semua hal tentang suamiku!" ujarku memberanikan diri.


"Selama ini kau selalu menghindar jika aku bertanya tentang keluargamu!. Jadi, apa salahku dalam hal ini, Mas!".


"Papa juga!, kenapa Papa malah ikut-ikutan menyembunyikan hal ini dariku? bukankan aku sudah meminta Papa untuk segera memberitahuku jika Papa menemukan sesuatu yang penting!" ujarku sengit, kali ini aku balik menyalahkannya.


"Maafkan Papa,nak!. Papa juga baru mengetahui hal ini" jawab Papa lirih.


"Apapun alasannya, tidak seharusnya kau menguping pembicaraan kami" ujar Mas Abhi masih sedikit emosi.


"Lalu apa kau juga tidak bersalah dalam hal ini, Mas!. Padahal kunci sebuah hubungan adalah saling keterbukaan dan saling percaya. Tapi apa yang sudah kau lakukan!, kau malah menyembunyikan hal sebesar ini dariku" teriakku tak mau kalah.


Mas Abhi tertegun melihat keberanian ku, agaknya ia merasa bersalah karena sudah menyembunyikan hal sepenting ini dariku.


"Maafkan Mas, Kania!. Tapi Mas punya alasan kuat kenapa Mas menyembunyikan hal ini darimu" jawab Mas Abhi melunak.


"Mas tidak ingin kau ikut terseret dalam masalah ini. Mas tidak ingin kau celaka karenanya".


"Apapun itu, Mas!, Seharusnya kau memberitahuku semuanya sejak awal, setidaknya aku bisa lebih berhati-hati lagi" jawabku ikut melunak.


"Sudahlah, nak!, semuanya sudah terjadi. Sekarang tidak ada yang perlu ditutup-tutupi lagi" sahut Papa menengahi kami.


Saat itulah Dinda muncul, ia segera berlari menghampiriku saat ia mendengar suara vas pecah. Ia takut jika terjadi sesuatu padaku.


"Kania, kau tidak apa-apa kan? tadi aku mendengar ada suara barang yang pecah, itu sebabnya aku segera mencari mu, aku takut terjadi sesuatu padamu" ujar Dinda dengan muka penuh kecemasan.


"Tidak apa, Din! aku baik-baik saja. Tadi aku tidak sengaja menyenggol vas bunga hingga pecah" jawabku menenangkan Dinda.


"Syukurlah kalau begitu!" ujar Dinda bernapas lega.


kemudian Dinda pun melihat kearah Papa dan Mas Abhi, ia menyimpulkan jika ada sesuatu yang tidak beres.


"Kenapa kalian terlihat sangat tegang? apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Dinda kebingungan.


"Kebetulan kau ada disini,nak!. Kami ingin menunjukkan sesuatu yang penting padamu" jawab Papa.