
Hari berganti hari. Tahun berganti tahun. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Naila kini mulai tumbuh besar. Ia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan cerdas. Ia juga menjadi anak yang baik hati dan ceria.
Kebahagiaan kini datang menyelimuti keluarga kecilku. Aku memiliki seorang suami yang sangat sayang dan mencintaiku. Aku punya seorang putri kecil yang lucu dan menggemaskan. Dan aku juga berkumpul kembali dengan Mama setelah sekian lama kami terpisah.
Tahun ini usia Naila sudah waktunya untuk bersekolah. Aku memasukkan Naila ke salah satu sekolah favorit dikota ini. Aku sengaja melakukannya untuk mempersiapkan dirinya sedini mungkin, agar kelak ia menjadi pemimpin perusahaan yang handal dan tangguh. Selain itu, aku juga menambahkan les kepribadian untuk menunjang masa depannya kelak.
Pagi ini selesai sarapan bersama seperti biasa, aku mempersiapkan Naila untuk berangkat sekolah. Aku mengantarnya ke sekolah bersamaan dengan aku pergi bekerja. Kebetulan letak sekolah Naila satu arah dengan kantorku, jadi lebih efisien. Setidaknya dengan cara ini aku masih bisa memantau perkembangannya ditengah kesibukanku.
Mas Abhi sendiri sudah berangkat dari tadi. Hari ini ia berangkat pagi-pagi sekali karena ada investor dari luar yang ingin bertemu dengannya secara langsung.
"Naila, ayo cepat, nak. Nanti kita terlambat" teriakku dari bawah.
"Tunggu bentar, Bun. Sedikit lagi" sahut Naila.
Tak berselang lama Naila muncul dihadapanku. Ia sudah rapi dengan setelan seragam sekolahnya.
"Kamu sudah siap, sayang?" tanyaku sambil tersenyum.
"Sudah, Bun!" jawab Naila ikut tersenyum.
"Ya sudah, pamit dulu sama Oma ya!" ucapku.
Naila pun berjalan menghampiri Omanya untuk berpamitan.
"Oma, Naila berangkat sekolah dulu, ya" ucap Naila mencium tangan Oma.
"Iya, nak. Sekolah yang pinter ya!" jawab Oma, mengusap kepala Naila dan tersenyum.
"Iya, Oma!" ucap Naila tersenyum manis.
Aku pun turut berpamitan dengan Mama. "Ma, Kania juga pamit dulu, ya!" ucapku, mencium tangan Mama.
"Iya, nak. Kamu hati-hati dijalan, ya" ujar Mama.
"Iya, Ma. Mama juga baik-baik dirumah ya. Nanti kalau ada apa-apa segera hubungi kania!" ujarku.
"Iya, nak!" jawab Mama.
"Ya sudah, kami berangkat dulu" ucapku.
"Ayo, nak, kita berangkat sekarang" ujarku pada Naila.
"Ayuk, Bun. Dah Oma...." ujar Naila melambaikan tangan kearah Omanya.
Mama membalas lambaian tangan Naila. Kami berjalan bergandengan tangan menuju mobil dan segera meluncur ke arah sekolah Naila.
Tak butuh waktu lama kami pun sampai di sekolahnya. Naila segera turun dari mobil.
"Bunda, Naila masuk dulu ya" ujar Naila mencium tanganku.
"Iya nak, belajar yang rajin ya" ucapku.
Naila masuk ke dalam sekolahan, sedang aku segera memacu mobil menuju kantor.
Selang beberapa meter dari sekolahan Naila, aku berhenti diperempatan jalan karena lampu merah. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada sosok wanita muda diseberang jalan. Ia tengah babak belur dihajar habis-habisan oleh wanita lain yang usianya lebih tua darinya.
Aku pun segera turun dan mendekat ke arah mereka untuk mencari tahu apa penyebabnya.
Alangkah terkejutnya saat aku sampai dihadapan wanita itu. Ternyata dia adalah Tasya, salah satu teman lamaku dulu.
Cepat-cepat aku menarik lengannya dan membawanya masuk ke dalam mobil. Sumpah serapah wanita paruh baya itu tak kuhiraukan lagi. Aku hanya ingin menyelamatkan Tasya dari amukan wanita tadi.
Sesampainya di mobil aku segera menyodorkan sebotol air mineral padanya.
"Minumlah air ini dulu agar kau sedikit lebih tenang" ujarku.
Tasya pun mengambil botol air mineral tersebut dari tanganku dan segera meminumnya.
"Terimakasih!" ujarnya setelah selesai minum.
Hening....
"Terimakasih banyak karena anda sudah menolong saya tadi".
"Ngomong-ngomong anda siapa ya?, dan kenapa anda menyelamatkan saya?" tanya Tasya memandang kearahku.
"Apa kau tidak mengenali siapa aku?" ujarku bertanya balik.
Aku pun menghembuskan napas dalam-dalam sebelum mengatakan siapa diriku.
"Aku Kania, teman lamamu dulu" ucapku pelan.
Dia sangat terkejut setelah tahu siapa aku.
"Kenapa kau masih mau menolongku. Padahal aku sudah sangat jahat padamu" ujar Tasya lirih.
"Sebenarnya hatiku masih sakit mengingat semua perlakuan mu padaku dulu. Tapi melihat kau dipukuli seperti tadi, aku menjadi tidak tega" ujarku.
"Kau memang tidak berubah, Nia. Kau memiliki hati yang sangat baik" ucap Tasya.
Aku tersenyum tipis menanggapi pujiannya.
Suasana kembali hening.....
"Kania, kau mau kan memaafkan semua kesalahanku dulu. Sungguh, aku sangat menyesal" ucap Tasya angkat bicara.
"Semuanya sudah berlalu. Sebaiknya kita lupakan saja semua yang pernah terjadi" jawabku ambigu.
"Kumohon, Nia. Maafkan semua kesalahanku. Aku sungguh menyesal" ujar Tasya sendu, memegangi lenganku.
Aku terdiam mendengar ucapannya. Kupandangi kedua matanya, mencari adanya kebohongan dari sinar matanya, tapi aku tidak bisa menemukannya disana. Sepertinya dia benar-benar tulus meminta maaf padaku.
Aku pun memalingkan wajahku dan menghembuskan nafas berat. "Baiklah, aku akan memaafkanmu!".
"Benarkah!!. Terimakasih banyak, kania" ujar Tasya tersenyum bahagia.
"Benar, aku akan memaafkanmu. Tapi dengan satu syarat!" ujarku serius.
"Apa syaratnya?" tanya Tasya.
"Kau benar-benar menyesali perbuatanmu dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi" ucapku.
"Tentu, Nia. Aku janji, aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi" ujar Tasya meyakinkanku.
Hening....
"Ngomong-ngomong, kenapa kau sampai dipukuli seperti tadi? dan siapa wanita yang memukuliku itu?" tanyaku setelah beberapa saat.
"Ceritanya panjang, Kania. Semua ini karena kesalahanku sendiri" ujar Tasya lirih.
"Ceritakanlah!" ucapku.
"Sebenarnya...".
Belum sempat Tasya bercerita, terdengar suara klakson mobil di belakangku saling bersahut-sahutan yang dibarengi dengan suara si pengendaranya yang menyuruhku agar segera melajukan mobilku karena lampu sudah menyala hijau.
Aku begitu terbawa dengan suasana hingga tak menyadari jika lampu sudah menyala hijau sedari tadi.
"Sebaiknya kita mencari tempat yang lebih nyaman dulu. Nanti kamu lanjutkan lagi ceritamu" ujarku, menyalakan mobil kembali dan segera meluncur.
Aku melajukan mobilku menuju salah satu cafe yang berada tidak jauh dari sana. Dan sesampainya disana, aku mengajak Tasya untuk masuk kesana.
Aku duduk disalah satu meja yang masih kosong dan memesan sebuah minuman. Kemudian aku menawari Tasya untuk memesan minuman juga. Dia pun memesan minuman yang sama denganku.
Tak berselang lama minuman kami pun datang. Pelayan menghidangkan diatas meja dan berlalu kembali.
"Jadi, bagaimana kelanjutan ceritamu tadi?" tanyaku setelah meminum sedikit minumanku.
"Emh...." gumam Tasya.
Sepertinya Tasya masih ragu untuk bercerita. Aku memegang lengannya untuk meyakinkan.
"Kau tidak usah ragu. Ceritakan saja semuanya padaku" ujarku.
"Tapi kau harus janji, kau tidak akan membenciku setelah aku memberitahumu semuanya" ucap Tasya.
"Baiklah, aku berjanji!" jawabku.
Tasya pun mulai bercerita.
"Sebenarnya aku adalah seorang wanita simpanan, dan wanita yang memukuliku tadi adalah istri sah dari lelaki yang aku kencani" ujar Tasya menundukkan kepala.
"Apa????" teriakku terkejut.