Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 53



"Emir janji bunda,Emir nggak akan marah apalagi benci sama bunda!" jawab Emir sambil mengacungkan jari kelingkingnya sebagai tanda bahwa ia berjanji padaku.


"Baiklah,sekarang bunda akan ceritakan yang sebenarnya!" kataku.


Aku pun menghela napas panjang sebelum akhirnya aku menceritakan yang sebenarnya padanya.


"Dengarkan bunda Emir,sebenarnya om itu memang benar ayah kandung kamu,namanya Arsen!" kataku.


Emir terlihat sangat senang mendengar ucapanku tadi,matanya terlihat berbinar-binar.


"Jadi memang benar ya bunda om itu adalah ayahnya Emir,asik Emir sudah punya ayah!" teriak Emir kegirangan.


"Tapi kalau om itu memang ayahnya Emir terus kenapa om itu nggak tinggal sama kita bunda? kenapa baru sekarang om itu menemui emir?" tanya Emir dengan polosnya setelah ia tenang kembali.


"Jangan-jangan bunda sama ayah lagi berantem terus kalian musuhan ya bunda,kayak Riko sama Andi,temen Emir disekolah,mereka berdua lagi berantem terus musuhan dan nggak mau ngomong!" tanya Emir lagi.


"Udahan dong bunda berantemnya,kan nggak baik kalau kita musuhan terus!" kata Emir.


"Bukan begitu ceritanya Emir!" jawabku menepis semua dugaan Emir.


"Kalau bukan begitu terus kenapa bunda?" tanya Emir.


"Makanya Emir dengerin dulu penjelasan bunda!" kataku sambil tersenyum.


"Oh iya,maafin Emir ya bunda!" ujar Emir.


Aku pun tersenyum melihat Emir, kubelai rambutnya dengan penuh kelembutan,dan kucium keningnya dengan penuh kasih sayang.


Sejenak aku terdiam, memikirkan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan pada Emir.


"Emir,sebenarnya bunda dan ayah kamu tidak berantem,tapi ayah kamulah yang telah meninggalkan bunda!" kataku akhirnya.


"Maksud bunda?" tanya Emir.


"Kejadiannya bermula saat bunda akan melanjutkan studi ke Inggris menuruti keinginan kakekmu, bertepatan dengan itu ayahmu juga melamar bunda dan ingin segera menikahi bunda,tapi bunda menolak karena bunda tidak ingin mengecewakan hati kakekmu!" kataku panjang lebar.


Aku terdiam sejenak untuk mengambil nafas dan kemudian melanjutkan kembali ceritaku.


"Ayahmu sangat marah mendengar keputusan bunda,kemudian dia memperkosa bunda dengan cara menjebak bunda saat bunda sedang berlibur ke Indonesia dimusim liburan hingga membuat bunda hamil!"


"Dan saat ayahmu tahu kalau bunda hamil akibat kejadian itu dia malah berselingkuh dengan sekretarisnya,dan bukan hanya itu,dia bahkan tega mencampakkan bunda dan tak mau mengakui anak dalam kandungan bunda!" kataku lagi,air mataku mulai menetes saat mengingat kejadian buruk yang sudah menimpaku.


"Akhirnya bunda pun memutuskan untuk pulang kerumah,tapi saat kakekmu tahu kalau bunda sedang hamil,bunda pun diusir dari rumah hingga bunda semakin hancur dan melakukan kesalahan besar!" kataku sambil sesenggukan.


"Untunglah bunda bertemu dengan Tante Dinda,dialah yang selama ini sudah menolong bunda!"


"Kemudian bunda juga bertemu dengan Om Abhimana,dialah yang sudah menyadarkan bunda dari kesalahan bunda!" kataku sambil masih terisak-isak.


Emir pun menoleh kearahku,tangannya terulur menyentuh pipiku dan menyeka air mataku.


"Tenanglah bunda,bunda jangan sedih lagi,sekarang kan sudah ada Emir jadi bunda jangan sedih lagi ya,biar Emir yang jagain bunda,kan Emir jagoannya bunda!" kata Emir mencoba menghiburku.


Aku pun semakin terisak mendengar ucapan Emir,kubawa ia dalam dekapanku.


"Terimakasih Emir,bunda sangat beruntung memiliki anak seperti emir!" kataku.


Setelah beberapa saat aku pun mulai melepas pelukanku pada Emir.


"kalau begitu Emir nggak mau punya ayah seperti om Arsen,Emir benci dia,Emir lebih suka Om Abhi yang menjadi ayah emir!" kata Emir tiba-tiba,tampak ada kilatan amarah dari kedua matanya.


"Bunda mau kan menikah dengan Om Abhi?" tanya Emir padaku.


"Entahlah Emir,bunda belum siap untuk membuka hati bunda lagi,sekarang bunda hanya ingin fokus merawat Emir saja" jawabku.


"Baiklah kalau itu keputusan bunda,Emir nggak akan memaksa bunda lagi,tapi Emir sangat berharap bunda mau menikah dengan Om abhi!" kata Emir.


dan kami pun kembali terdiam,tenggelam dalam pikiran masing-masing.


...****************...


"Mau apa om kesini?" tanya Emir pada Arsen.


"Papa mau ketemu sama kamu,anak papa!" jawab Arsen.


"Om itu bukan ayah Emir,dan Emir nggak mau punya ayah kayak om Arsen!" teriak Emir marah.


"Kenapa kamu bicara seperti itu nak? papa ini memang ayah kandung kamu!" kata Arsen mencoba meyakinkan Emir.


"Om Arsen mungkin memang benar ayah kandungnya Emir,tapi Emir nggak mau punya ayah seperti om Arsen,mending om Abhi yang menjadi ayahnya Emir!" teriak Emir.


"Lagi pula bukankah dulu om Arsen nggak mau mengakui Emir sebagai anak om?kenapa baru sekarang om Arsen mau mengakui emir?"jawab Emir lagi.


"Bukan begitu Emir,tapi..."


belum selesai Arsen meneruskan ucapannya,Emir sudah memotong ucapannya.


"Udah deh om,om Arsen nggak usah bohong lagi sama Emir, Emir sudah tahu kok semuanya!" jawab Emir.


"Maksud kamu?" tanya Arsen tak mengerti.


"Emir sudah tahu siapa sebenarnya om Arsen, bunda sudah ceritain semuanya sama Emir!" jawab Emir.


Arsen pun terdiam mendengar ucapan Emir,ucapan Emir tadi seperti sebuah tamparan keras baginya.


"Maafin papa Emir,papa tahu Papa


sudah bersalah sama kalian, papa minta maaf,beri papa satu kali lagi kesempatan untuk memperbaiki semuanya nak" kata Arsen lirih


Arsen mencoba meraih tubuh Emir dan membawanya dalam pelukannya,tapi dengan segera Emir menepis tangan Arsen.


"Udah deh om,om Arsen nggak usah sok baik lagi,mending sekarang om Arsen pergi dari rumah kami!" usir Emir seraya mendorong tubuh Arsen keluar rumah.


Emir pun membanting pintu dengan keras,kemudian ia menguncinya rapat-rapat.Sementara itu Arsen terus berusaha memberi penjelasan pada Emir,ia terus menggedor pintu agar Emir mau membukakan pintu untuknya.


"Emir bukain pintunya nak, dengerin dulu penjelasan papa!" teriak Arsen dari balik pintu.


"Emir nggak mau mendengar penjelasan apapun dari om Arsen, semuanya sudah jelas om,sekarang mendingan om Arsen pergi dari sini!" jawab Emir.


"Tapi nak...."


"Pergi dari sini,Emir nggak mau melihat wajah om Arsen lagi!" teriak Emir.


akhirnya Arsen pun berhenti mengetuk pintu,ia memutuskan untuk pergi dari sini.


"Baiklah nak Papa akan turuti kemauan kamu,papa akan pergi sekarang,tapi papa nggak akan pernah menyerah,papa akan terus berusaha agar kamu sana bunda mau maafin papa!" ujar Arsen.


Setelah berkata begitu,Arsen pun pergi meninggalkan rumah kami.


"Sial,ini semua pasti ulahnya si Abhimana, dia pasti sudah mempengaruhi Emir agar ia membenciku!" teriak Arsen marah sambil menendang kerikil yang ada dihadapannya.


"Ini nggak boleh dibiarin,aku harus mencari cara lain untuk mendapatkan Kania kembali!" kata Arsen lagi.


Sementara itu,aku yang sejak tadi melihat kejadian itu dari balik pintu kamarku pun hanya bisa terdiam,aku tak menyangka Emir akan bersikap demikian,aku hanya bisa berharap semoga hal ini tidak mempengaruhi pikiran Emir.


*


*


*


Hay reader tersayang,terus dukung author ya biar author makin semangat up nya....


jangan lupa like koment vote dan favoritnya juga .....


makasih.....🤗🤗🤗