Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 19



Aku memutuskan pergi ke taman kota untuk menenangkan diri lebih dulu, tak mungkin aku pulang kerumah dalam keadaan seperti ini.


Aku ingin menenangkan diri terlebih dahulu sambil memikirkan apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Hidupku kini telah hancur dan kekasihku sendirilah penyebab dari kehancuran itu.


Aku menangis sesenggukan menumpahkan semua amarahku,aku marah dengan diriku sendiri,aku marah dengan keadaanku saat ini,dan aku marah dengan takdir yang telah mempermainkan aku.Apa kesalahanku hingga harus mengalami semua ini.


Tak terasa matahari telah kembali ke peraduannya dan digantikan posisinya oleh sang bulan dan bintang,aku memutuskan untuk kembali kerumah dulu,aku ingin beristirahat dan mengganti pakaian,aku tadi pergi buru-buru hingga tak membawa apapun.


Aku memanggil taksi dan segera meluncur kerumah.Saat tiba dirumah kulihat mobil Papa telah terparkir di halaman rumah menandakan bahwa Papa sudah ada dirumah. Aku segera masuk kedalam dan tampaklah Papa tengah bersantai di ruang keluarga.


"Papa...."


Papa menoleh mendengar panggilanku.


"Kania,kok kamu bisa ada disini,dan kenapa kamu berantakan sekali?" tanya Papa.


Papa memandangiku dari atas ke bawah,dan pandangannya terhenti pada perutku yang mulai membuncit.


"Kania kamu hamil?" tanya Papa menegang.


"I iya Pa" jawabku gugup.


"Apa yang sudah kamu lakukan hingga kamu hamil?"


"Aku dijebak Pa lalu aku diperkosa" jawabku sambil menundukkan kepala.


"Jadi yang terjadi waktu itu...."


"iya Pa" air mataku mulai mengalir.


Papa menghela napas panjang


"Sudah berapa bulan usia kandunganmu?"


"Sudah memasuki usia lima bulan Pa"


"Sudah selama itu dan kamu tak pernah memberi tahu Papa,sekarang ikut Papa!" Kata Papa sambil menarik tanganku.


"Kita mau kemana Pa?"


"Kita kerumah sakit, kamu harus menggugurkan kandunganmu sekarang juga,Papa tak mau kau melahirkan tanpa seorang suami!"


aku segera menarik tanganku mendengar perkataan Papa.


"Tidak Pa,Kania tidak mau"


"Jangan keras kepala,Papa tak ingin aibmu diketahui oleh banyak orang, itu bisa mencoreng nama baik keluarga!" Papa terlihat sangat marah.


"Tapi Pa bagaimana pun ini darah daging Kania,cucu Papa!"


"Itu bukan cucu Papa,Papa tak ingin cucu yang lahir diluar nikah!"


aku terkejut mendengar perkataan Papa


"Maaf Pa, Kania tak ingin melakukannya" aku kekeh pada pendirianku.


"Sekarang kamu pilih,gugurkan kandunganmu atau pergi dari rumah ini?" kata Papa tiba-tiba.


sungguh aku tak bisa memilih,keduanya sangat sulit bagiku.


"Pa kumohon, jangan lakukan ini pada Kania" kataku mengiba.


"Oh jadi itu keputusan kamu, baiklah Papa kabulkan keinginanmu,sekarang juga angkat kaki dari rumah ini, Papa tak ingin mempunyai anak sepertimu!" Papa berteriak sangat marah dan mengusirku,belum pernah aku melihat Papa semarah ini padaku.


Aku melangkah gontai keluar rumah.


"Jangan pernah berani menginjakkan kakimu dirumah ini lagi,Papa akan menarik semua fasilitas mu dari Papa!" tukas Papa sambil membanting pintu saat aku telah sampai diluar rumah.


Semua telah hancur tak bersisa,awalnya aku mengira Papa akan mendukungku setelah tahu apa yang terjadi,tapi ternyata aku salah.Satu hal yang aku sesali kenapa semua harus berakhir seperti ini.


Dentuman suara musik memekakkan telinga saat aku sampai didalam,aku duduk didepan meja bartender dan meminum minuman keras.


Aku tak lagi memperdulikan kesehatanku,yang ku inginkan sekarang adalah melupakan semua masalahku saat ini. Seorang wanita yang berpenampilan sangat seksi datang menghampiriku saat aku mulai mabuk.


"Sepertinya kau sedang banyak masalah!" katanya saat tiba di dekatku.


"Siapa kau? jangan ikut campur masalahku!" aku menatapnya tak suka.


Dia tertawa kecil mendengar jawabanku.


"Perkenalkan namaku Dinda,aku bisa membantumu melupakan semua masalahmu kalau kau mau!"


aku mulai tertarik dengan yang ia katakan.


"Benarkah,cepat katakan bagaimana caranya?" tanyaku antusias.


"Ikuti aku!"


aku pun mengikuti langkahnya menuju tempat parkir


"Masuklah!" katanya kemudian sambil membukakan pintu mobil untukku.


Aku pun masuk kedalam mobil itu, sejurus kemudian ia mengemudikan mobilnya membelah jalanan.


Mobil berhenti disebuah rumah kontrakan kecil,kami segera turun dari mobil dan masuk kedalam rumah itu.


"Minumlah ini,maka kau akan melupakan semua masalahmu" katanya setelah masuk kedalam rumah itu.


Tanpa pikir panjang aku segera mengambil pil itu dan meminumnya.


Pil itu mulai bereaksi,tubuhku terasa ringan seperti kapas, pikiranku melayang terbang tinggi ke angkasa,semua yang kulihat terlihat sangat indah dan semua masalahku hilang dari pikiranku.


Aku begitu menikmati sensasi yang baru kurasakan.Dinda pun merebahkan tubuhku diatas lantai dan meninggalkanku di ruangan itu,membiarkanku menikmati sensasi yang kini kurasakan.


Pagi harinya aku mulai tersadar, kepalaku terasa sedikit pusing,aku pergi kearah dapur untuk mencari air minum dan setelah mendapatkannya aku segera meminumnya.


Selesai minum aku mencari keberadaan Dinda dan aku tak menemukannya di ruangan manapun,aku kembali ke ruang tamu, duduk termenung diatas lantai sambil menyandarkan kepalaku pada dinding. Aku kembali mengingat kejadian semalam.


Tak berselang lama Dinda pun datang,ia membawakan nasi bungkus untukku,dan kami pun makan bersama.Selesai makan Dinda bertanya padaku.


"Aku lihat kau adalah anak baik-baik,bagaimana kau bisa berada di tempat itu?"


Aku menghela nafas panjang dan kemudian mulai menceritakan semua kejadian yang sudah menimpaku,mulai dari Arsen yang memperkosaku hingga Papa yang tega mengusirku,semua aku ceritakan tanpa ada yang kututup-tutupi.


Dinda termangu mendengar ceritaku,sejurus kemudian ia mulai angkat bicara


"Lupakan semua masalahmu,kau bisa tinggal disini kalau kau mau"


"Benarkah?"


"Kau juga bisa ikut kerja denganku sebagai pelayan di bar itu kalau kau mau!"


Aku pun menolak tawarannya yang satu ini,aku tak pernah membayangkan bekerja ditempat seperti itu.


Dinda beranjak mengambil sesuatu di kamarnya


"Gantilah pakaianmu pakai ini,aku mau tidur dulu aku masih mengantuk,kau bisa istirahat dikamar itu,oh ya kalau kau berubah pikiran katakan padaku" katanya sambil menunjuk salah satu kamar.


"Baiklah terimakasih!" sahutku.


Dinda pun beranjak masuk ke kamarnya dan menutup pintu,aku pun masuk ke kamar yang telah ditunjukkan Dinda tadi dan merebahkan tubuhku diatas ranjang yang reot.


Aku kembali memikirkan tawaran Dinda untuk ikut bekerja sebagai pelayan di bar itu,aku tak memiliki banyak uang lagi dan aku malu kalau harus membebani Dinda.


Aku pun memutuskan untuk menerima tawarannya dan ikut bekerja nanti malam,aku akan mengatakannya nanti setelah Dinda bangun. Aku pun kembali memejamkan mataku karena lelah berpikir.


Sore hari aku mengatakan pada Dinda bahwa aku akan ikut bekerja dengannya malam ini.Dinda tersenyum kecil mendengar keputusanku,ia menyuruhku untuk segera bersiap-siap karena jam kerja dimulai pukul lima petang dan kami harus segera berangkat.Aku pun segera bersiap dan tak berselang lama kami pun berangkat.