Say No To Drugs

Say No To Drugs
Bab 54



Semakin hari Arsen semakin menjadi,ia tak pernah lelah menemuiku dan memintaku untuk kembali,bahkan kali ini pun ia sampai membuat keributan lagi di toko bungaku.


"Kania kumohon maafkan aku, kembalilah padaku kania,aku janji aku nggak akan mengecewakanmu lagi" ujar Arsen.


"Maafkan aku Arsen,tapi aku nggak bisa!" jawabku.


"Tapi kenapa kania? apa kamu nggak percaya sama aku?" tanya Arsen.


"Aku bukannya nggak percaya sama kamu,tapi aku nggak mau kecewa untuk yang kedua kalinya" jawabku.


"Kumohon percayalah padaku..." kata Arsen.


"Hei pria brengsek,mau ngapain lagi sih kamu kesini? apa kamu nggak denger? kan Kania sudah bilang dia itu nggak mau kembali lagi sama kamu? apa kamu nggak capek gangguin Kania terus? " tanya Dinda ketus.


"Diam kamu,aku nggak punya urusan sama kamu, jadi kamu jangan pernah ikut campur urusanku sama kania!" bentak Arsen.


"Ya jelas aku harus ikut campur dong, karena semua urusan Kania itu urusanku juga!" jawab Dinda tak mau kalah.


"Dasar cewek sialan,aku kasih pelajaran baru tahu rasa kamu!" berang Arsen bertambah marah.


"Siapa takut,ayo sini kalau kamu berani!" tantang Dinda tanpa takut sedikitpun.


"Oh jadi kamu nantangin aku,sini kamu!" teriak Arsen marah.


Arsen pun bersiap hendak memukul Dinda,sedangkan aku hanya mampu menjerit karena ketakutan.


Tiba-tiba saja Abhimana datang,ia segera menangkap tangan Arsen dan mendorongnya menjauh dari Dinda sebelum tangannya sempat memukul Dinda.


Aku yang melihat kejadian itu pun kembali bernapas lega,segera kutarik lengan Dinda agar menjauh dari sana.


"Mau ngapain lagi kamu kesini ha?" teriak Abhimana.


"Kamu lagi,kenapa sih kamu ikut campur urusanku terus? memangnya kamu siapa?" kata Arsen sinis.


"Oh jadi kamu sudah lupa ya dengan apa yang kukatakan dulu,baik biar aku ingatkan kau kembali, AKU ADALAH CALON SUAMI KANIA,jadi jangan pernah gangguin Kania lagi,mengerti!" jawab Abhimana dengan penuh penekanan.


"Cih baru calon kan,belum sah jadi suaminya kan,jadi aku berhak buat deketin Kania lagi,dan kamu,kamu nggak berhak buat ngelarang aku ngedeketin Kania!" jawab Arsen dengan angkuhnya.


"Dasar laki-laki kurang ajar!" teriak Abhimana marah,ia mencengkeram kerah baju Arsen dan bersiap hendak menghajarnya.


Melihat situasi yang semakin memanas, aku pun berusaha menghentikan mereka berdua sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


"Cukup,hentikan semua ini!" teriakku.


"Tidak Nia,aku harus memberi pria ini pelajaran!" jawab Abhimana.


"Tidak Abhi, cukup,lepaskan arsen!" kataku.


Abhimana pun menuruti perkataan ku dan segera melepas Arsen.


Arsen pun mengibaskan bajunya yang tadi ditarik oleh Abhimana.


"Kau lihat sendiri kan,Kania lebih membelaku dari pada kau!" kata Arsen dengan angkuhnya.


"Diam kau Arsen,sekarang pergi dari sini!" teriakku seraya mengusirnya.


"Tapi Kania..."


"Aku bilang pergi,aku nggak mau lihat muka kamu lagi!" teriakku marah.


Arsen pun bergegas pergi meninggalkan toko bungaku,sementara aku sendiri segera masuk kedalam,aku sangat malu karena banyak orang yang berkerumun melihat kejadian tadi.


Melihat aku masuk kedalam,Dinda dan Abhimana pun segera mengikutiku.


"Kuharap kau mau mempertimbangkan lamaranku waktu itu Kania, ijinkan aku menjadi suamimu agar aku bisa menjagamu dan Emir" ucap Abhimana setelah kami sampai didalam.


"Kumohon pergilah dari sini Abhi,biarkan aku sendiri dulu" kataku lirih.


Abhimana pun menghela napas panjang mendengar jawabanku.


"Baiklah kalau itu maumu, aku akan pergi,tapi aku harap kau benar-benar mau mempertimbangkan lamaranku,aku akan terus menunggu jawaban darimu!" ujar Abhimana lirih.


dan dia pun segera meninggalkanku.


...****************...


Malam hari Dinda mendatangi rumahku,sepertinya ada hal penting yang ingin dia sampaikan.


"Kania sebelumnya aku mau minta maaf,aku bukannya mau ikut campur urusan pribadi kamu,tapi aku sangat berharap kamu mau menerima lamaran abhimana" ujar Dinda.


"Kenapa kamu jadi memaksaku begini?" tanyaku tak suka.


"Aku bukannya memaksamu,tapi aku hanya menginginkan yang terbaik untukmu!" jawab Dinda.


"Coba sekarang kau ingat-ingat, semakin hari Arsen itu semakin nekat, aku nggak mau Arsen menyakiti kamu lagi kayak dulu!".


"Dan mengenai kejadian tadi siang,coba Abhimana nggak datang tepat waktu,pasti si Arsen itu sudah memukulku tadi!" kata Dinda.


"Lagi pula apa sih yang kurang dari Abhimana? bukankah selama ini dia itu selalu ada buat kamu?" tanya Dinda.


Aku pun terdiam mendengar ucapan Dinda,sejenak aku berpikir mengenai ucapannya.


Apa yang dikatakan oleh Dinda memang ada benarnya, selama ini Abhimana selalu membantuku,dia juga selalu ada disaat aku butuhkan,kulihat dia begitu tulus mencintaiku.


Bukan hanya aku saja,Abhimana juga sangat menyayangi Emir,bahkan mereka berdua sangatlah dekat,waktu Emir masih bayi ia bahkan mau merawat Emir.


Ini bukan hanya keinginan Dinda semata,bahkan Emir pun menginginkan agar aku menikah dengan Abhimana.


Aku pun menghela napas panjang,dan akhirnya aku pun mengambil keputusan.


"Baiklah Dinda,aku akan menerima lamaran Abhimana!" jawabku akhirnya.


"Benarkah itu Nia? kau sungguh-sungguh kan dengan ucapanmu tadi?" tanya Dinda masih tak percaya dengan ucapanku tadi.


"Iya Din,aku bersungguh-sungguh!" jawabku sambil menganggukkan kepala meyakinkan Dinda dengan ucapanku tadi.


"Ini adalah kabar yang sangat menggembirakan,aku yakin Abhimana pasti sangat senang mendengar keputusanmu ini,dan bukan hanya Abhimana,Emir pun pasti sangat senang dengan keputusanmu ini!" ujar Dinda sambil menggenggam tanganku,sorot matanya tampak berbinar.


Aku pun menanggapi ucapan Dinda tadi dengan sebuah senyuman tipis.


"Kamu harus segera memberitahukan keputusanmu ini pada Abhimana nia" kata Dinda lagi.


"Iya Din,besok aku akan membicarakan hal ini pada Abhimana" jawabku.


"Ya sudah kalau begitu aku mau pulang dulu ya,udah malem juga!" pamit Dinda.


aku pun menanggapi ucapan Dinda dengan anggukan.


"Jangan lupa,besok kamu harus memberitahukan hal ini pada Abhimana!" kata Dinda lagi.


"Iya iya bawel banget sih,ya udah sana pulang!" kataku.


"Oh jadi sekarang kamu mau mengusirku?" kata Dinda berpura-pura marah.


"Bukannya begitu tapi tadi kan kamu sendiri yang bilang mau pulang,atau kamu sekarang berubah pikiran dan mau menginap disini" kataku meralat ucapanku tadi.


"ha ha ha iya iya aku bercanda,aku tahu kok kalau kamu nggak berniat mengusirku" kata Dinda sambil tertawa.


"Ya udah aku pulang dulu ya, besok-besok aja aku nginep disini,aku nggak mau mengganggu kamu lagi" kata Dinda lagi.


Dinda pun bangkit dari kursi dan berjalan menuju pintu,aku pun ikut berjalan mengantarkan kepergian Dinda sampai pintu depan.


"Aku pulang dulu ya,dah" ucap Dinda sambil melambaikan tangan,aku pun membalasnya dengan lambaian tangan juga.


Setelah Dinda berlalu pergi aku pun menutup pintu kembali dan masuk kedalam kamarku.


'Semoga keputusan yang kuambil ini adalah yang terbaik untuk semuanya' gumamku dalam hati.


Aku pun segera merebahkan tubuhku diatas kasur,dan tak butuh waktu lama aku pun sudah terlelap masuk ke alam mimpi.